Selasa, 18 September 2012

Bukan Keledai


Aku berdiri memandangi poster calon pemimpin masa depan di kotaku ini. Senyumnya yang ceria seolah menyiratkan dirinya sangat percaya diri dapat mengelola semrawutnya tata kelola kota ini. Aku menyunggingkan senyum, senyum pahit yang merepresentasikan hatiku.
“Wis, kamu bakal milih Ndak?” tanya Kusno yang berdiri disampingku.
“Pasti milih, Kus. Masa depan kota ini ada di tangan para pemimpinnya. Dan jangan sampai semakin salah urus. Permasalahan udah banyak, kalau sampai dipimpin sama yang nggak becus, bisa makin salah urus. Makin susah kita nanti.”
“Kamu bakal pilih calon yang ini? Calon incumbent kita ini.” tanya Kusno menunjuk poster salah satu calon pemimpin yang aan dipilih seminggu yang akan mendatang.
“Gaya kamu, Kus, sok-sokan pake istilah incumbent. Kayak ngerti aja kamu. Tapi, sepertinya aku nggak milih dia, Kus.”
“Lha, kenapa? Dia kan putra daerah, satu daerah sama kamu. Seiman pula, udah gitu dia pengalaman pula di pemerintahan.”
“Pemimpin itu bukan masalah putra daerah atau satu iman, Kus. Percuma putra daerah kalau nggak tahu permasalahan yang dihadapi oleh daerahnya. Percuma satu iman kalau justru dzalim. Percuma juga berpengalaman kalau tetap nggak becus ngurusin pemerintahannya.”
“Kok kamu kayaknya nggak suka banget sama calon pemimpin kita yang satu ini, Wis.”
“Aku nggak suka sama calon yang satu ini bukan karena alasan subjektif dan yang dibuat-buat, Kus. Kamu liat aja sekarang. Ruang terbuka makin sedikit. Mall sama apartemen? Makin banyak, kayak jamur. Terus jalanan. Kemacetan nggak berkurang, justru makin macet. Pengelolaan angkutan umum aja berantakan,” ucapku sedikit menggebu-gebu.
“Ya, tapi kan ada positifnya juga Wis. Buktinya dampak bencana banjir berkurang. Itu proyek penanggulangan banjirnya kan pas masa kepemimpinan beliau?” ujar Kusno.
“Iya, tapi itu bukan proyek pemerintahannya dia. Itu proyek negara, biayanya juga ditanggung sama negara, bukan pemerintah daerah.”
“Jadi kamu bakal pilih calon pasangan yang satunya lagi, Wis?”
“Sepertinya begitu, Kus.”
“Kan belom ketauan dia bisa memimpin kota kita ini atau nggak.”
“Ya mending lebih baik aku pilih yang belum tentu bisa memimpin daripada pilih orang yang sudah jelas tidak bisa memimpin, Kus. Seenggaknya masih ada harapan untuk perubahan yang lebih baik.”
Kusno terdiam. Dia seperti memikirkan kata-kataku. “Wisnu… Wisnu, ya terserah kamu. Setiap orang punya penilaian sendiri-sendiri,” ucap Kusno, “Yasudahlah, lebih baik kita kembali kerja. Nanti keburu sore.”
“Kamu sendiri bakal pilih siapa, Kus?” tanyaku pada Kusno yang mulai berjalan.
“Aku nggak milih, Wis.”
Aku memasang raut wajah bingung. “Nggak milih? Kamu golput, Kus?” tanyaku seraya berjalan menyusul Kusno.
“Nggak.”
“Lalu?”
“Aku nggak masuk daftar pemilih Kus, perkampunganku nggak masuk dalam daftar pemilih. Hampir semua yang tinggal disana nggak punya hak pilih. Yah, pemulung kayak kita, nggak dianggap punya hak suara sepertinya, Wis.” Terdengar suara Kusno melirih. “Sudahlah, Wis. Kita ini cuma pemulung, nggak usah ketinggian bicarakan politik. Kita bukan siapa-siapa. Daripada kelamaan ngobrol, mending kita lanjut mulung. Isi punyaku masih belum penuh nih. Harus penuh sampai pulang nanti, kalau nggak duit yang didapat bakalan kurang.”
Aku terdiam mendengar ucapan Kusno. Segera kugendong kembali  keranjang sampah di punggungku. Mungkin benar kata-kata Kusno, sepertinya aku terlalu tinggi membicarakan politik. Sementara aku ada di lapisan terbawah. Tapi, demi masa depan yang lebih baik, aku akan mempergunakan hak milikku dengan baik saat pemilihan minggu depan. Sebab aku bukan keledai yang akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, mempercayakan masa depan kotaku ke orang yang sudah jelas tak bisa mengurusnya.

Ini masalah kuasa, alibimu berharga
Kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?

Ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya
Ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya           

Efek Rumah Kaca – Mosi Tidak Percaya

2 komentar:

  1. Aku suka bagian kesedihan di akhir paragraf, menuliskan dengan gamblang tentang kepasrahan dan tak berdayanya seorang manusia. Tapi masih tetap berjuang. Keren. berkarakter :)


    ikavuje

    BalasHapus