Sabtu, 21 Mei 2016

Kata, Kota dan Kita

Apa yang sedang kau tulis hari ini?
Pertanyaan itu selalu menyambangiku setiap senja dan kau duduk di sampingku sepulang bekerja.

Aku merajut kata yang menjalin diri jadi kota yang seandainya kita

Lalu datang seorang lelaki; yang bukan aku.


Kata, kota dan kita perlahan-lahan terhapus keberadaannya dari kau

Selasa, 17 Mei 2016

Kau dan Gelas Kopi Ketujuh

Senyaman pagi
Sepanas siang
Seteduh sore
Sedingin malam
Kau ialah waktu yang tak perlu disebutkan

Gelas ketujuh dan aroma kenangan masih menguar di udara; sekental kopi yang menagih disesap berkali-kali
Pernah suatu kali aku bertanya, lebih kental manakah; secangkir kopi atau kenangan yang keduanya pahit?
Rindu, jawabmu.

Sementara rindu seperti matahari yang terbit di timur dan aku menunggumu di kejauhan barat.
Selalu telat waktu dan datang ketika gelap menyergap.

Sabtu, 14 Mei 2016

Review Buku: Cinta Tak Ada Mati - Eka Kurniawan

sumber foto: dari sini


Judul: Cinta Tak Ada Mati
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun Terbit: April, 2005 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. – (lupa)
Jumlah halaman: 169
ISBN: 979-22-1257-4

Blurb:

- (tidak ada blurb)

Review:

Setelah sekian lama mempunyai buku ini hasil dari hunting di toko buku bekas langganan (karena buku ini sudah tidak akan mungkin didapatkan jika main ke toko buku Gramedia dan sejenisnya) dan teronggok begitu saja di pojokan lemari baca. Bahkan saya sempat lupa bahwa saya punya buku sebagus ini jika saja tidak membongkar isi lemari baca untuk mencari buku Antologi yang tepat dibaca untuk memenuhi tantangan membaca bacaisme dan Reight Book Club.

Setelah selesai membaca buku Cinta Tak Ada Mati ini saya merasa beruntung dan tidak salah memilih bacaan. Saya menyelesaikan bacaan ini dengan perasaaan senang dan sumringah.

Jika kamu sudah pernah membaca novel-novel Eka Kurniawan (Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, Corat Coret di Toilet, dan O!), kamu pasti akan terlena dengan gaya penulisannya yang lincah dan sangat mengalir. Cara bertutur Eka Kurniawan yang khas dalam menulis novel tetap terlihat tegas dan jelas dalam cerpen-cerpennya yang ada di buku Cinta Tak Ada Mati ini. Minim percakapan dengan deskripsi dan narasi yang sangat mengalir.

Awal membaca buku ini saya agak kaget karena langsung disambut oleh cerpen yang dipakai untuk judul buku: Cinta Tak Ada Mati. Cerpen ini panjangnya sekitar 40 halaman. Cerita pendek yang panjang ini membuat saya harus membacanya perlahan dan beberapa kali menjeda bacaaan agar dapat menikmatinya sebab sudah lama sejak terakhir kalinya saya membaca cerpen yang panjangnya setara hampir 3 cerpen. Ending yang dihadirkan Eka Kurniawan di cerpen Cinta Tak Ada Mati membuat saya refleks mengucap: bangke bener ini endingnya. Kejutan yang kurang ajar pada paragraf akhir membuat saja geleng-geleng kepala setelah apa yang dituliskannya di bagian awal hingga menjelang akhir cerita.

Secara keseluruhan dalam buku kumpulan cerpen Cinta Tak Ada Mati ini termuat 13 cerpen yang pernah terbit di berbagai media dengan beberapa perubahan judul. Berikut daftar isinya:

1. Cinta Tak Ada Mati
2. Kutukan Dapur
3. Lesung Pipit
4. Jumat ini Tak Ada Khotbah
5. Surau
6. Mata Gelap
7. Ajal Sang Bayangan
8. Penjaga Malam
9. Caronang
10. Bau Busuk
11. Pendekar Mabuk
12. Pengakoean Seorang Pemadat Indis
13. Para Musuh

Saya menyukai cara Eka Kurniawan bercerita. Walau tidak jarang, saya harus membaca berkali-kali di beberapa bagian untuk mendapatkan maksud apa yang hendak disampaikan dalam tiap cerita.

Oh iya, di setiap cerita Eka Kurniawan selalu menyiapkan ledakan twist di paragraf akhir. Sebuah ledakan yang benar-benar meruntuhkan persepsi terhadap isi cerita yang sudah dibangun sejak awal hingga menjelang paragraf terakhir.


1. First Impression

Sejak awal saya berharap besar terhadap buku ini, dan harapan saya terbayar lunas setelah menyelesaikan bacaan. :)

2. How did you experience the book?

Ada banyak hal menarik yang saya dapatkan setelah membaca buku ini. Banyak dan saya tidak bisa menjelaskannya. Kamu harus membacanya sendiri dengan persepsimu sendiri.

3. Character

Tiap tokoh dalam cerpen tidak teralalu dieksplore (kecuali di cerpen berjudul Cinta Tak Ada Mati). Eka Kurniawan lebih fokus terhadap permasalahan yang sedang dialami dan dirasakan oleh tokoh-tokoh yang ada di masing-masing cerita.

4. Plot

Tiap cerita disusun dengan sangat rapi dan tidak menyisakan kejanggalan. Plot-plot dalam tiap cerita seperti sudah diperhitungkan dengan baik.

5. POV

Dari 13 cerpen, Eka Kurniawan lebih sering menggunakan PoV 3 walau ada beberapa cerpen yang menggunakan PoV 1 (Penjaga Malam, Surau, dan Caronang).

6. Main Idea / Theme

Dalam buku Cinta Tak Ada Mati tidak terdapat tema khusus yang menjalin keseluruhan cerita. Tiap cerita memiliki permasalahan dan jalan ceritanya sendiri. Dapat berdiri sendiri tanpa harus terikat dengan cerita lainnya.

7. Quotes

Saya tidak pandai menandai sebuah kutipan atau memang seluruh cerita di buku Cinta Tak Ada Mati ini tidak cukup untuk dipenggal-penggal kalimatnya hanya untuk sebuah kutipan?


8. Ending

Setiap ending pada cerita yang ada di buku ini luar biasa kurang ajar. Hahaha!

9. Question

Tidak ada pertanyaan

10. Benefits

Saya belajar banyak dari buku ini dan juga karya Eka Kurnawan lainnya. Cara Eka Kurniawan bercerita dalam tiap karyanya adalah buku pelajaran bagi semua orang yang sedang belajar menulis cerita yang bagus (termasuk saya).








Ditulis untuk  posting Baca Buku Bareng Reight Book Club bulan April 2016, tema Antologi.

Minggu, 08 Mei 2016

Review Film: Ada Apa Dengan Cinta 2

Dimulai dengan dikumpulkannya kembali para pemain Ada Apa Dengan Cinta untuk iklan dari salah satu aplikasi chat, para penonton film tersebut seperti diberi harapan dengan adanya lanjutan film tersebut.
Dan, voila! Setelah ratusan purnama, penantian adanya lanjutan film Ada Apa Dengan Cinta akhirnya terkabulkan. Mira Lesmana dan Riri Riza akhirnya tergerak untuk membuat sekuel film yang menjadi ikon perfilman Indonesia di awal tahun 2000an.

Sebelum kalian membaca review ini, dapat saya pastikan akan ada spoiler yang secara tidak sengaja saya tuliskan.





Garis besar cerita:

Film Ada Apa Dengan Cinta 2 diawali dengan berkumpulnya lagi geng Cinta (Cinta, Maura, Karmen, Milly) lengkap dengan adanya Mamet, tapi minus kehadiran Alya yang sudah meninggal akibat kecelakaan. Kemudian mereka berencana untuk liburan bersama ke Yogyakarta.

Sementara di belahan bumi lainnya Rangga yang sudah menjalani kehidupan di New York didatangi oleh seorang perempuan yang mengaku sebagai adik tirinya, dan meminta Rangga untuk pulang ke Indonesia dan mengunjungi Ibu mereka yang sudah mulai sakit-sakitan. Perempuan tersebut meninggalkan foto Ibu mereka sebelum kembali pulang ke Indonesia. Sebuah foto yang di belakangnya tertulis alamat Ibu mereka tinggal, di Yogyakarta.

Singkat cerita, Rangga yang kembali pulang ke Indonesia untuk bertemu dengan Ibunya di Yogyakarta secara tidak sengaja ditemukan Carmen dan Milly saat mereka sedang membeli roti. Oleh Carmen, Rangga dipertemukan dengan Cinta.

Pertemuan yang diawali dengan perasaan marah dan kecewa yang menggunung akhirnya reda saat keduanya mencoba untuk berdamai dengan masa lalu.

Rangga memberanikan diri untuk mengajak Cinta berkeliling Yogyakarta saat pertemuan mereka itu. Mereka menciptakan momen sebanyak mungkin yang dapat mereka ciptakan di hari itu.

Pertemuan singkat yang membekas di perasaan masing-masing.


Plot dan Alur :

Film ini menggunakan alur maju pada keseluruhan bagian film. Cerita pada film berjalan dengan alur yang sangat cepat di bagian awal hingga 2/3 menjelang ending. Perjalanan Cinta dan Rangga ke banyak tempat di Yogyakarta selama seharian penuh membuat saya bertanya-tanya ketika menonton: apakah mereka ga capek? Ga tidur-tidur?

Jalinan cerita dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 ini disusun cukup rapi dan secara umum ceritanya tidak seburuk trailernya. Iya, saya harus mengatakan bahwa trailer film Ada Apa Dengan Cinta 2 cukup membuat ekspektasi saya turun. Tapi untunglah filmnya jauh lebih bagus dari trailernya.

Walau secara keseluruhan cerita yang disajikan runut dann logis, tetap terasa ada beberapa bagian plot cerita yang bolong dan dibiarkan begitu saja. Yang paling terasa adalah bagian 1/3 akhir film. Alur yang sangat cepat dan plotnya sangat terlihat bolongnya.


Karakter:

Saya selalu percaya pepatah: Waktu berlalu, orang-orang berubah namun tidak dengan cinta.
Film Ada Apa Dengan Cinta 2 sepertinya merupakan medium untuk membuat lebih banyak orang percaya pada pepatah tersebut.

Setelah 14 tahun ada terjadi beberapa perubahan sifat dalam diri masing-masing tokoh. Cinta yang tidak lagi sangat bossy, Carmen yang jauh lebih bijak, Maura yang mulai jadi mamah-mamah hot yang rempong, Rangga yang tidak sependiam dulu.

Mungkin hanya karakter Milly yang tidak mengalami perubahan berarti antara Milly yang sekarang dengan Milly 14 tahun lalu: tetap suka out of topic. Karakter Milly yang seperti ini membuat hubungan antar tokoh jadi lebih hidup dan menyenangkan.

Waktu berlalu, orang-orang berubah namun tidak dengan cinta. Ya, sekali lagi film ini akan memaksa beberapa orang yang menonton film ini untuk setuju dengan pepatah tersebut. Rangga dan Cinta sudah membuktikannya.

Kesan:

Kehadiran puisi-puisi dari Aan Mansyur membuat karakter Rangga semakin hidup. Walau harus diakui, agak disayangkan tidak ada bagian cerita di mana Rangga membacakan langsung puisi tersebut.
Saya merasa, puisi-puisi yang ada di dalam film ini menjadi kekuatan tersendiri yang menggerakkan cerita dan bersinergi dengan karakter Rangga itu sendiri. Puisi-puisi itu terasa begitu hidup dan sangat Rangga sekali.
Puisi-puisi yang dimuat dalam buku Tidak Ada New York Hari ini seolah-olah betul-betul ditulis oleh Rangga sendiri, bukan oleh Aan Mansyur.



Singkat cerita, saya terpuaskan dengan keseluruhan cerita film Ada Apa Dengan Cinta 2 ini.


Oh iya, satu lagi pesan dari saya: hati-hati baper saat dan setelah tonton film ini. :p



Minggu, 01 Mei 2016

Surat Untukmu

Aku menyulam rahasia di lipatan kata pada surat yang kutitipkan pada tukang pos sore kemarin
Surat yang ditakdirkan untuk datang ke alamatmu yang jarang kedatangan tamu.



Bacalah pelan-pelan
dan kamu tidak akan menemukan apa-apa;
selain namamu di sana.