Kamis, 23 Februari 2012

Altar Seribu Jiwa

Aku melangkahkan kakiku, berpijak diantara rerumputan yang bercampur dengan tatanan batuan jalan. Mataku mengerjap menahan sinar matahari yang memaksa masuk ke dalam pupil mata. Aku terperangah saat mata memandang takjub keindahan yang terhamparkan disana.

Tanganku bergerak cekat mengambil kamera yang tersampir di pinggangku. Mengatur pencahayaan, jarak lensa serto fokus yang dimiliki oleh fitur-fitur yang terkandung di dalamnya. Kuarahkan pandanganku dari balik lensa kamera kepada gambaran indah yang terukir di hadapanku.

"Ini indah banget ya," ucapmu yang berdiri di sampingku. Sorot matamu berbinar cerah. Pertanda dirimu menyukai suasana ini. Kulihat kamu dengan antusias menyentuh dan membelai ukiran-ukiran klasik di bebatuan tua itu.

Aku mengarahkan kameraku ke arah kamu berdiri, dan masih terkagum-kagum dengan decak mengiringi tiap sentuhan lembut jemarimu di batuan itu. "Ya, bagus sekali. Terlalu sulit untuk melogikan keindahan dan kehebatan arsitektur candi ini. Semua tertata dengan baik." Aku memberikan sedikit komentar umum tentang candi yang kita pijak ini.

"Ornamennya keren. Begitu hidup. Tiap ukiran menggambarkan satu cerita." Kamu berkata tanpa mengalihkan pandanganmu. "Begitu hidup, seperti tiap ukiran gambar memiliki nyawanya sendiri-sendiri," lanjutmu yang kini mengalihkan tatapan ke arahku.

Aku tersenyum ceria, bukan hanya bisa menginjakkan kaki di candi ini. Candi terbesar yang dimiliki negeri ini, yang pernah menjadi salah satu bagian seven wonders. Melainkan juga ceria karena dirimu, yang berbinar bahagia bisa menikmati pemandangan ini.

"Aku seneng banget bisa kesini. Candi Borobudur memang sangat mengagumkan yah?" Senyum lebar merekah dari kedua bibir manismu. Bola matamu memancarkan energi positif dan semangat yang menghangatkan hatiku, mengalahkan panasnya sengatan mentari yang tak juga lelah bersinar terik.

"Ya, aku juga senang bisa kesini," ucapku kepada Raisa yang kembali hanyut tenggelam dalam decak-decak kagum. Kuarahkan pandangan lensaku kepadanya, untuk kesekian kalinya kuambil gambar natural Raisa. Rambut panjang bergelombang sebahu miliknya sedikit berkibar saat angin dengan nakal berlari di sisian helai rambutnya. "Dan aku lebih senang ada disini karena ada kamu yang menemani," ucapku pelan kepada kamera yang membisu.

Negeri Seribu Jiwa

Aku melangkahkan kakiku, berpijak diantara rerumputan yang bercampur dengan tatanan batuan jalan. Mataku mengerjap menahan sinar matahari yang memaksa masuk ke dalam pupil mata. Aku terperangah saat mata memandang takjub keindahan yang terhamparkan disana.

Tanganku bergerak cekat mengambil kamera yang tersampir di pinggangku. Mengatur pencahayaan, jarak lensa serto fokus yang dimiliki oleh fitur-fitur yang terkandung di dalamnya. Kuarahkan pandanganku dari balik lensa kamera kepada gambaran indah yang terukir di hadapanku.

"Ini indah banget ya," ucapmu yang berdiri di sampingku. Sorot matamu berbinar cerah. Pertanda dirimu menyukai suasana ini. Kulihat kamu dengan antusias menyentuh dan membelai ukiran-ukiran klasik di bebatuan tua itu.

Aku mengarahkan kameraku ke arah kamu berdiri, dan masih terkagum-kagum dengan decak mengiringi tiap sentuhan lembut jemarimu di batuan itu. "Ya, bagus sekali. Terlalu sulit untuk melogikan keindahan dan kehebatan arsitektur candi ini. Semua tertata dengan baik." Aku memberikan sedikit komentar umum tentang candi yang kita pijak ini.

"Ornamennya keren. Begitu hidup. Tiap ukiran menggambarkan satu cerita." Kamu berkata tanpa mengalihkan pandanganmu. "Begitu hidup, seperti tiap ukiran gambar memiliki nyawanya sendiri-sendiri," lanjutmu yang kini mengalihkan tatapan ke arahku.

Aku tersenyum ceria, bukan hanya bisa menginjakkan kaki di candi ini. Candi terbesar yang dimiliki negeri ini, yang pernah menjadi salah satu bagian seven wonders. Melainkan juga ceria karena dirimu, yang berbinar bahagia bisa menikmati pemandangan ini.

"Aku seneng banget bisa kesini. Candi Borobudur memang sangat mengagumkan yah?" Senyum lebar merekah dari kedua bibir manismu. Bola matamu memancarkan energi positif dan semangat yang menghangatkan hatiku, mengalahkan panasnya sengatan mentari yang tak juga lelah bersinar terik.

"Ya, aku juga senang bisa kesini," ucapku kepada Raisa yang kembali hanyut tenggelam dalam decak-decak kagum. Kuarahkan pandangan lensaku kepadanya, untuk kesekian kalinya kuambil gambar natural Raisa. Rambut panjang bergelombang sebahu miliknya sedikit berkibar saat angin dengan nakal berlari di sisian helai rambutnya. "Dan aku lebih senang ada disini karena ada kamu yang menemani," ucapku pelan kepada kamera yang membisu.

Senin, 20 Februari 2012

Hari Ini, Dan Seterusnya Akan Tetap Sama.

Mataku mengerjap, kilatan-kilatan cahaya lampu kamera membanjiri diriku yang berdiri di sampingmu. Senyum terkembang di wajah manismu, pekat sekali manis yang bibirmu hadirkan, saat terasa oleh jiwa saat melihatnya.

Hari ini adalah satu hari yang tidak biasa bagimu. Saat ketika kamu sekali lagi menuntaskan satu kewajibanmu, dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.

"Selamat ya, Di." Begitu selalu orang-orang ucapkan kepadamu seraya menggenggam erat jabatan tanganmu. Dan selalu pun kamu tersenyum lebar seraya menjawab ucapan selamat itu dengan ucapan "Terima Kasih" yang kau ucapkan hingga-mungkin-kamu bosan.

Kamu, sahabatku. Hari ini menjadisalah satu momen indah yang kumiliki. Hari ketika almamatermu mengucapkan selamat lulus kepadamu. Ketika toga dengan gagah kamu kenakan.

"Selamat lulus yah, Diara." Kembali aku ucapkan kata-kata yang terasa membosankan itu. "Akhirnya satu mimpimu kembali tercapai," lanjutku.

Diara mengarahkan tubuhnya ke arahku. Tatapannya lurus kepadaku, kedua bola matamu yang bulat berbinar menantang kedua mataku. "Terima kasih, Ram," ucapnya datar.

Kupandangi matanya, kini terlihat binarnya terlihat melemah. "Ada apa? Kenapa murung?" Perlahan Diara mengajakku menjauh dari hiruk pikuk keramaian. Meninggalkan bising dan kilatan kamera yang diarahkan kepadanya sejak tadi.

"Kamu tahu, apa-apa saja impianku, Ram?" Diara bertanya dengan nada lirih kepadaku.

Aku tersenyum kecil, kedua tanganku menepuk pelan kedua bahunya. Kuarahkan pandanganku kepadanya, mencoba menelusupi isi pikirannya lewat pandangan yang menghujam. "Tidak ada yang terlewat olehku tentang kamu." Suaraku terdengar pelan namun menghujam. Kulihat matanya sedikit membasah. Kusampirkan sapu tangan, yang selalu kubawa di saku celanaku, ke kedua matanya. Menyeka bulir-bulir yang teruntai dari sana. "Setelah ini kamu akan mengejar mimpimu berikutnya, melanjutkan studi berikutnya."

Diara mengangguk pelan, kepalanya masih menunduk menghindari tatapanku. "Kamu tahu?"

"Tadi udah kukatakan, kan? Tak ada yang terlewatkan olehku tentangmu." Suaraku masih terdengar pelan. "Setelah ini kamu akan ke Swiss, bukan? Kamu dapat beasiswa disana?"

"Iya."

"Lalu? Apa yang kamu ragukan?"

"Kamu," ucapnya pelan. Kini tangisannya sudah mereda. Hanya terdengar helaan nafas pelan darinya saat mengatur emosi.

Kudekatkan bahunya kepadaku, lalu kupeluk dekap dirinya. Kuusap lembut ujung kepalanya yang sudah tak memakai topi lagi. "Jangan khawatir. Tak akan ada yang berubah selama kamu disana nanti. Setelah empat tahun nanti pun, kita masih akan seperti ini. Kamu masih sahabatku, dan juga kekasihku."

Diara mengencangkan pelukannya. Perlahan kemejaku menghangat, saat butir-butir air mata menghujan dari pelupuk matanya. Membasahi bulu matanya yang lentik dan melunturkan sedikit make up yang dikenakannya.

Kuusapkan kembali sapu tanganku. Lalu kegenggam tangannya erat saat aku dan Diara kembali ke arah keramaian.

Dunia Itu Sempit

Dunia terlalu sempit. Berjuta-juta meter luas tempat yang ada di Bumi ini, namun terkadang selalu tercipta dimensi berbeda yang dihadapi. Dari beratus kemungkinan dan kesempatan yang ada, terkadang hanya perlu sebuah kebetulan yang membuat kita bertemu dengan orang yang tak terbayangkan untuk bertemu kembali.

Seperti yang aku alami. Beratus kilometer dari tempat kami pernah bertemu dan berkenalan. Berjuta jam yang terlewati, dan tanpa ada seutas tali kabar apapun yang mampir di telinga. Aku menemukan sosok itu berdiri dihadapan, yang tertinggal jauh dalam kenangan di masa lampau.

Baru saja kuketuk pintu kamar tempat aku dan sahabatku bermalam. Di sebuah kamar milik seorang pacar sahabatku, aku menemukan dia duduk tenang dengan sebuah novel dalam genggamannya. Sekilas ragu terlintas saat memandangnya, walau waktu telah bergeser jauh, namun parasnya tak jauh berbeda dengan saat terakhir kali bertemu. "Jerry?" ucapku tak percaya dengan penglihatanku. Mengira bahwa kedua mata ini mendustai kenyataan dan realitas dalam pandanganku.

"Eh? Hai Ren," ucapnya menjulurkan tangan kepadaku. Ditutupnya novel yang-sepertinya-baru dibaca setengah olehnya. "Apa kabar? Lo kenapa ada disini?"

Bodoh. Harusnya itu ucapanku. Kenapa kamu ada disini. Kenapa kamu bisa berada di kamar ini. Banyak pertanyaan yang menuntut jawaban yang tak kutahu. "Engg, gua kesini numpang doang. Soalnya ini kostannya si Firman, dan Firman itu pacarnya Gina, sahabat gua."

"Ooh lo berdua udah saling kenal yah?" Terdengar ucap Firman yang baru datang. Di tangannya terdapat nampan dengan beberapa gelas dan sebuah ketel air diatasnya. "Kenal dimana?"

"Ini, Fir. Si Anin ini temen gua di SMP, kita pernah sekelas selama dua tahun," ucap Firman menjelaskan.

Aku diam sejenak. Teman? Ya memang seperti itu sejak dulu Firman menganggapku. Tak kurang, tak lebih. Aku menghela nafas sejenak, lalu tersenyum kecil. "Iya, Firman temen SMP gua. Udah lama banget nggak ketemu, sejak lulus SMP dulu."

"Oh begitu, udah lama juga yah. Sekitar 6 tahun lalu yah." Firman berdecak pelan. "Dunia sempit yah. Lo sama-sama asal Jakarta, tapi baru ketemu lagi di Jogja." aku hanya tersenyum mengamini ucapan pacar sahabatku ini. Kualihkan arahku kepada Gina yang tersenyum setengah meledek kepadaku.

Ya benar, dunia terkadang terasa sangat sempit. Dan kamu membuktikannya lagi kepadaku.

Minggu, 19 Februari 2012

Tunggu Aku di Kotamu

Angin menderu kencang. Meniup penutup leher yang kukenakan. Kulihat orang berlalu-lalang dengan tas dan kardus-kardus kecil bawaan mereka. Terlihat beberapa pasang keluarga yang terlihat pucat dan lelah.

Dari arah gerbong kuperhatikan satu per satu pasang wajah yang keluar dari sana. Setelah melewati sebuah perjalanan panjang melelahkan. Perjalanan melintasi waktu, saat matahari datang dan pergi ketika orang-orang itu berada di tempat yang sama.

Aku tertegun sesaat, sebentar lagi aku akan seperti mereka. Duduk di tempat yang sama. Melakukan perjalanan lintas waktu. Menghabiskan waktu dengan diam, tidur atau mendengarkan lagu. "Sebentar lagi," ucapku pelan kepada diriku sendiri.

Terdengar decit rem yang beradu dengan rel. Hembusan gas penanda telah berhenti seutuhnya pun bisa tertangkap telingaku. Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kanan. Harusnya sebentar lagi aku harus segera duduk di tempatku.

Terdengar suara pemberitahuan bahwa keretaku sudah tiba, dan sudah siap untuk dinaiki. Kulangkahkan kakiku. Berkelit di antara berpuluh manusia lainnya yang menghambur di peron. Menembus dinginnya angin malam yang menembus lapisan bajuku. Tersengat kulitku oleh dinginnya suasana.

"Permisi," ucapku pelan kepada wanita setengah baya yang satu tempat duduk denganku. "Saya nomor 17 A, Bu." Kemudian kusampirkan tas kecil yang kubawa. Lalu kududuki bangku yang sesuai dengan nomor tiketku.

"Mau kemana, Dek?" tanya Ibu paruh baya itu kepadaku dengan senyum yang tersungging di bibirnya.

Aku diam sejenak. "Mau ke Surabaya, Bu," ucapku mantap. Senyum terkembang pula di wajahku. Sebentar lagi. Aku akan kesana, ke kotamu. Tunggu aku disana dengan senyummu, dengan dekap hangat rengkuhan bahu milikmu.

Jumat, 17 Februari 2012

One Decade

Bagaimana rasanya berada di ambang dunia? Tiga hari-seperti yang diceritakan mama-dalam keadaan tanpa pijakan. Mengawang di alam bawah sadar, menggurat nyawa yang bimbang ; ingin pergi atau kembali.

Alhamdulillah, sepuluh tahun sejak hari itu aku masih bisa beraktifitas normal, dapat berjalan, berlari dan berolahraga seperti sebelumnya. Tak terbayangkan bukan oleh kamu?

Ya, begitulah. Untuk aku sepuluh tahun yang lalu, ketika kamu baca ini hanya ada beberapa pesan dari dirimu ini. Jagalah kesehatan, aku yang sekarang terus berusaha menjaga kesehatan diriku-dirimu juga. Jangan sampai tiga hari tanpa kesadaran itu akan terulang. Terlalu banyak air mata yang mama, papa dan keluarga lainnya yang diciptakan di masa tiga hari koma itu karena kecerobohan tidak menjaga kesehatan.

Lalu yang terakhir, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Tetap berpijak dengan apa yang kamu yakini, namun tetap menjadi pendengar yang baik bagi siapapun.

Untukku sepuluh tahun yang lalu, terakhir pesanku, jaga terus senyum orang disekitarmu yang selalu menyayangimu,

tertanda dirimu di sepuluh tahun yang akan mendatang.

Rabu, 15 Februari 2012

Aku,Kamu dan Dia

Terbayang kenangan tentangmu. Saat kita bertemu, beberapa tahun yang lalu. Di bawah senja, menghadap ke arah matahari yang mulai tenggelam, dan bermandikan cahaya jingga. Aku dan kamu bertemu dengan cara yang sangat tidak sengaja, dengan perkenalan yang sangat biasa. Tak ada yang spesial, awalannya. Namun serupa embrio yang terus tumbuh dan membesar seiring berjalannya waktu. Hadirnya dirimu mampu mengisi kosong yang mengukungku. Seperti ada celah yang terisi dalam ceruk jiwa, yang membuat diriku menjadi lebih kuat.

Kamu, dengan senyummu yang mampu melelehkan keegoisanku, kini berada di depanku. Kubelai lembut rahangmu yang tegas, dengan sedikit bulu-bulu halus yang tumbuh di sana. Kupandangi dirimu yang terbaring dihadapanku. Mencintaimu membuatku ingin memilikimu seutuhnya . Tidak untuk yang lain. Aku tersenyum puas.

“Aku sayang banget sama kamu, Vit,” ucapku lirih pada Vito yang tak bergerak.
Seketika teringat perkataanmu dahulu kepadaku, “Sayangku itu cuma buat kamu.” Hal yang selalu kau ucapkan saat cemburu melanda hatiku, ketika kulihat kau dekat oleh beberapa teman wanitamu.

“Aku sayang kamu, harusnya kamu tahu itu.” Aku duduk disamping Vito. Kuusap kembali dagunya yang lancip dengan rahang tegas membingkai indah wajahnya. Kucium pelan pipinya yang lengket, tercium bau amis dari pinggir telinganya. Kupegang darah yang mengalir di sana, lalu kusesap dan kunikmati hal itu.

“Harusnya kamu tidak mencoba-coba melakukan ini dengan Vito-ku,” ucapku kepada wanita yang berada tak jauh dari tempatku dan Vito terduduk. Melihat wanita itu membuat emosiku kembali memanas.

Genggaman tanganku semakin erat. Aku menggeram kembali, “Wanita keparat!” umpatku seraya mengayunkan benda yang sejak tadi ada di tangaku, yaitu stick golf kesayangan Vito.

Satu pukulan, wanita itu masih sanggup bernafas. Ia meringis menahan sakit di bagian belakang kepalanya, “Aku wanita keparat, tapi dia mencintaiku,” sahutnya dengan senyuman sinis. Bangsat!

Aku semakin kalap, “Dia tidak pernah mencintaimu, tidak pernah!” teriakku tidak terima.

Wanita itu tertawa pelan, nyaris tanpa suara. Aku bisa melihat seringai tajamnya, “Kalau dia memang hanya mencintaimu, dia tidak akan berpaling, bukan?”

“Jalang!” aku memakinya dengan keras, lalu pukulan kedua pun melayang.

“Arrgghh!!” Ia mengerang kesakitan, tapi tidak bisa memberi perlawanan karena kedua tangannya terikat kuat.

“Dia tidak pernah mencintaimu!”

“Arrrgghh!” pukulan ketiga.

“Tidak… pernah!” pukulan keempat.

Aku terduduk di samping tubuh Vito yang mulai mengeluarkan bau amis, memandangi wanita jalang itu terbaring tidak berdaya sambil mengatur nafasku yang tidak beraturan.

Kini tidak ada lagi senyuman sinis, tidak ada lagi seringai dan kata-katanya yang tajam. Semuanya lenyap. Pikiranku kosong. “Aaaaa...,” teriakku menahan kegilaan yang sebentar lagi menyapa pikiranku. Kurengguk rambutku sendiri dan kututup telingaku erat. Aku diam.

Berganti dengan keheningan yang senyap.

Tapi ini semua belum selesai, selama masih ada detak jantung di ruangan ini. Maka aku meraih silet di atas meja, lalu membiarkan ia menari di atas nadiku. Menghentikan aliran darahnya, memecah sunyi.

Lalu semuanya pun menjadi gelap.

Aku pastikan, mereka tidak akan pernah bahagia. Di alam baka sekalipun.
Maka aku memutuskan menyusul langkah mereka, menggenapi untaian kisah kami.

Senin, 13 Februari 2012

Melepasmu (Takkan) Semudah Itu

Senja kelima belas tanpamu. Tak ada gurat jingga, juga merpati yang pulang ke kandangnya. Hanya pelangi yang menjelma dari rinai kecil meniti setiap titik di pipi. Bukan luka, bukan pula derita. Ini tentang bahagia.

“Besok aku berangkat. Kamu jaga diri baik-baik ya,” katamu saat itu padaku, datar.

“Pergilah! Aku tak akan mencegahmu. Pintu ini selalu terbuka untukmu,” jawabku saat itu.

Ah! Kamu memang paling bisa menenangkan gemuruh dadaku. Bahkan aku sendiri tak bisa mendengar detak jantungku yang berpacu dengan kecupanmu di keningku. Hanya dengan begitu aku bisa membuat ringan langkahmu. Entah berlalu selamanya ataukah hanya sementara.

:: Tulisan kolaborasi bersama @Momo_DM

Aku masih termangu di depan pintu, mengamati bekas jejakmu saat meninggalkanku. Meski aku tak tahu pasti apa alasanmu, tapi aku yakin hatiku tak pernah salah menilaimu. Kamu pasti akan kembali untukku; harapku.

***

Waktu terus berlalu, beribu-ribu senja sudah kulewati. Namun, tak jua kamu datang kehadapanku. Aku masih duduk manis di depan pintu. Menanti senyummu yang terkembang saat menginjakkan kaki kembali disini. Tempat yang kita sebut sebagai rumah.

Aku masih betah termangu di depan pintu. Berharap jejakmu kembali mengarah ke tempat aku berpijak ini. Kutekuri beberapa lembar kertas usang darimu. Sudah berbulan-bulan hari kujalani untuk membaca surat yang sama. Surat terakhir darimu yang mengabarkan bahwa kamu baik-baik saja, disana. Kota yang selalu terjaga dalam impian kita.

“Kamu masih nunggu dia, Nak?” terdengar suara Ibu di belakangku. Laksana jarum tipis yang menghujam kulit. Terasa perih yang menyengat pori-poriku. Aku mengerenyit pelan, mengigit bibir bawahku dengan rasa tertahan.

“Iya, Bu. Aku percaya dia akan pulang. Menjemput aku,” ucapku lirih. Bibirku gemetar, seolah menanggung ragu yang tertahan. Berharap itu tak terjadi, setengah berdoa, kekasihku itu akan datang untuk menjemputku. Seperti janjinya dulu.

“Nanti, kalau aku sudah sukses disana. Aku akan pulang buat menjemputmu.”

Teringat jelas dalam pikiranku kata-katamu dulu. Yang mampu tenangkan batinku yang meragu akan keputusanmu. Bukan. Bukan karena kamu menjadi jauh dariku. Namun cemas dan ragu atas kelanjutan hubungan kita nanti.

“Ga usah cemas. Aku bakal baik-baik aja disana. Dan nggak bakal macam-macam kok.”

Perlahan rasa takutku kembali membesar. Sebuah perasaan kehilangan yang wajar untuk dicemaskan. Aku takut kehilanganmu. Aku tak kuat membayangkan kerinduan ini tak berpulang ke hatimu.

***

Senja masih terlihat sama, dengan semburat jingga yang mewarnai ruas-ruas awan. Menyinari bumi yang sebentar lagi berganti warna. Sesaat lagi, matahari akan ditelan oleh langit malam.

Aku terduduk di beranda rumah. Kuperhatikan buku-buku awan yang beriringan dan berarak pelan ke arah timur. Kuhirup nafasku pelan, meredakan ledakan emosi yang mengguncang hatiku. Kunikmati segarnya udara yang memilin lembut di sekitarku. Kutangkap dan kualirkan kedalam paru-paru. Menentramkan nadi yang sempat menegang.

Kuremas kencang kertas surat yang kugenggam. Surat yang lama kutunggu. Surat darimu. Surat yang kunantikan datangnya kembali. Berharap senyum yang akan kamu berikan melalui surat tersebut, yang mengatakan kamu merindukanku, yang memberi kabar kamu akan secepatnya menjemputku.

Tangis tak dapat terbendung. Disaksikan oleh senja yang memerah ironi. Hujan membasahi tanah hatiku. Deras. Begitu deras. Seperti badai yang merontokkan setiap ketegaran dalam diriku. Seperti hari itu, ketika senja yang menjadi saksi kepergianmu. Dan kini, senja pula yang benar-benar mengantarkanmu pergi seutuhnya dalam hatiku.

Kuremas semakin keras suratmu yang tak lagi kuperlukan. Rangkaian kata yang kamu ucapkan begitu sederhana, namun sanggup memecahkan isi hatiku. Susunan kata yang begitu mudah untuk dijawab, oleh orang lain selain diriku.

Hai, apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja. Sudah berapa lama aku tidak mengirimkan surat kepadamu?

Oh ya, aku minta maaf. Aku tidak dapat memenuhi janjiku padamu. Aku telah jatuh cinta dengan seseorang lainnya, dan beberapa minggu lagi kami akan menikah.

Aku sangat-sangat minta maaf padamu.


Menunggu selalu tidak menyenangkan, aku tahu itu sejak awal. Kupikir dengan menunggumu, aku akan mendapatkan jawaban yang membahagiakanku. Namun ternyata tidak. Penantianku berjalan sia-sia. Ingin kumelupakanmu. Ingin kulepaskan dirimu, berharap bayangmu tidak terlalu lama menghinggapi diriku. Ingin kulakukan itu, andai saja semua itu mudah dilakukan.

Sabtu, 11 Februari 2012

Cerita Sahabat

Aku menyebutnya sebagai sebuah ikatan, tak terlihat, namun hanya bisa kami rasakan. Aku memanggil mereka dengan sebutan sahabat. Sesuatu yang terlalu bernilai untuk kami sia-siakan. Dia terlalu berharga untuk kami perlakukan seperti biasa.

Sahabat, sebuah ikatan maya yang tak terlihat oleh mata telanjang. Sebuah komitmen tidak tertulis yang terikat dalam hati masing-masing dari kami, termasuk aku. Dalam dekap hati terdekat, sahabat adalah jawaban tidak tertulis atas semua masalah yang datang. Menjadi pemecah kebuntuan dari setiap ketidakberdayaan. Satu ikatan tanpa perayaan. Tak terlihat nyata, namun mengikat jiwa, hati dan pikiran.

Aku menyebutnya sebagai sebuah ikatan, tak terlihat, namun hanya bisa kami eja setiap harinya melalui doa-doa dan harapan yang kami buat. Aku memanggil mereka dengan sebutan sahabatan. Sesuatu yang akan selalu aku jaga dan aku simpan erat. Ikatan yang kusebut ia, komitmen. Komitmen untuk selalu melakukan yang terbaik, di saat terburuk seperti apa pun terjadi di perjalanan kami bersama. Komitmen untuk selalu berada di sana, di samping mereka, di saat hidup menghempaskan mereka ke titik nadir terendah yang mereka dapat di saat mereka berusaha menerjang masa dan hidup setiap harinya.

Dalam dekap dada kujaga tiap hela kebersamaan yang tercipta. Mencuri segenap waktu yang tercipta saat raga bertemu. Saat mata saling memandang, dan saat ego serta pendapat bertarung dalam ocehan yang tak pernah usai. Sahabat, sebuah komitmen tanpa jeda yang mengisi relung hati yang terdalam. Menelusupi tiap gurat waktu yang pernah tercipta, dalam kebersamaan yang tak ternilai. Aku dan mereka, dalam sebuah ikatan sederhana. Tentang mimpi dari masing-masing kepala yang saling terjaga, saling mengingatkan, saling menguatkan dan saling meyakinkan. Sebut saja, itu adalah komitmen, tentang aku, dan mereka. Tentang kita yang menjaga untaian tali persahabatan. Komitmen tanpa pamrih yang terjaga dalam sadar yang meraga.


:: Tulisan duet bareng @teguhpuja

Rumah

Pernahkah kamu membayangkan rasanya menjadi seorang Ibu tapi kamu sendiri ragu untuk membesarkan anakmu dan bahkan kamu sendiri tidak tahu apasih enaknya menjadi seorang Ibu yang menjadi cita-cita seorang perempuan?

Aku, seorang ibu dari seorang bayi perempuan yang kulahirkan sendiri, tanpa suami yang aku beri nama Permata.

Aku memang tidak pernah menikah, dan laki-laki itu, yang seharusnya mempertanggungjawabkan perbuatannya, perbuatan kami, memilih untuk lari.

Kenapa tidak aku gugurkan saja kandunganku kalau aku sendiri belum siap? Karena aku tidak mau menambah kesalahanku lebih dari ini.

Dan Permata adalah bukti dari kesalahanku yang pertama dan terakhir kali.
Saat ini Permata sudah memasuki usia 1 tahun, usia yang sedang lucu-lucunya kata orang-orang. Tapi aku sama sekali tidak melihat rona kelucuan dari wajahnya. Wajahnya terlalu mirip dengan lelaki yang paling ingin paling kubenci.

Bahkan Ibu suka mengomel-ngomel saat aku sedang bersamanya.

“Aliya, itu kepalanya Permata dipegang dong kalo mau digendong…”

“Aliya, Permata daritadi menangis terus. Kapan kamu terakhir memberinya susu?”

Dan banyak sekali ocehan Ibu yang membuatku semakin sadar kalau aku tidak menyayangi Permata. Aku membencinya!

***

“Diam!!” bentakku kepada Permata yang ada di gendonganku. Sejak tadi dia tak juga berhenti menangis, padahal sudah kuberikan sebotol susu.

“Diam!! Anak sialan.” Aku memaki lebih kencang. Tangisannya semakin kencang. Aku dibuat frustasi oleh jeritan tangisnya yang memekakkan telinga. Kuhempaskan tubuh mungilnya itu ke kasur, lalu kutinggalkan Permata menangis sendiri, dan aku pergi keluar dari kamar.

“Astagfirullah, Aliya,” ucap Ibu saat mendengar tangisan Permata di dalam kamar.

“Aliya!! Kamu ini. Anakmu nangis kok ditinggal di dalam kamar?” Ibu mengomeliku karena kelakuanku. Apa yang Ibu ucapkan hanya masuk ke kuping kanan lalu dengan segera akan keluar dari kuping kiri. Terserah.
Aku diam memandangi televisi yang menampilkan acara gosip terhangat selebrita di negeri ini, sementara Ibu sibuk menimang Permata yang perlahan tangisnya mereda. Aku tetap tak peduli.

Kata orang, kehadiran anak dalam kehidupan seorang wanita akan menambah kebahagiaan yang dimiliki oleh wanita tersebut. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku bagiku.

***

“Aliya, Ibu ingin berbicara denganmu.” Ibu menghampiriku yang masih asik menonton TV. Tidak ada Permata dalam gendongannya, sepertinya dia berhasil menidurkannya. Paling tidak aku tidak akan mendengarkan tangisnya.

“Ada apa, Bu? Apakah soal Permata lagi?”

“Bisakah kamu mengurus Permata dengan baik? Dia masih kecil, Aliya, dia belum mengerti apa-apa.”

Aku justru membentak Ibu. “Aku benci dia karena dia mirip dengan lelaki itu. Jadi berhentilah Ibu menyalahkanku.”

PLAK!

Sebuah tamparan keras mengenai pipi kananku. Aku langsung memegang pipiku dengan sebelah tangan, dan menatapnya dalam-dalam. Seumur hidupku, Ibu tidak pernah menamparku.

“Kalau Ibu memang tidak mau membantuku mengurus Permata, aku titipkan saja di ke Panti yang memang bisa menjaganya.”

Ibu menatapku dengan tatapan gusar. “Aliya, jangan. Maafkan Ibu…”

“Terlambat, Bu!” Aku masuk ke dalam kamar, menimang Permata yang masih tertidur, dan menemui Ibu kembali. “Ibu, tau? Sampai kapanpun aku tidak akan pernah tulus merawat
Permata karena wajahnya mirip dengan lelaki itu.”

Aku mendobrak pintu dan keluar dari rumah. Air mataku tak terbendung…

***

Aku berjalan keluar rumah, bersama Permata dalam timanganku. Mencari panti asuhan yang tepat untuk tempat menitipkannya. Langit sudah menggulung semburat senja. Pelat-pelat warna jingga sudah mewarnai awan yang menggumpal. Sebentar lagi malam akan datang, bersama malam yang pekat.

Kakiku terus melangkah jauh dari rumah. Masih pantaskah tempat itu kusebut rumah? Menjalani kehidupan secara bertahun-tahun di sebuah kediaman tanpa cinta. Bukankah rumah adalah tempat berpulang yang penuh kasih sayang? Aku terdiam. Merenungi kembali makna rumah dan kasih sayang yang tak pernah ada di hidupku.

Aku memutuskan untuk singgah sementara waktu. Di depan sebuah bale-bale yang ada di pinggir jalan, di dekat perumahan warga. Kusekap bulir-bulir keringat yang bertumpuk di dahi. Kuedarkan pandanganku pada pejalan kaki yang berlalu lalang di depanku. Mataku tertumbuk pada sepasang ibu dan anak pemulung yang terduduk di pinggir trotoar. Mereka sedang terduduk menyantap nasi bungkus. Aku memperhatikannya bukan karena lapar. Tapi memperhatikan mereka yang terlihat begitu akrab, si Ibu sesekali mengomel ke si anak karena makannya berantakan. Terlihat kehangatan di antara mereka. Membuat hatiku terenyuh. Dalam kemiskinan pun mereka tidak kehilangan identitas mereka sebagai sebuah keluarga.

Aku mengalihkan pandanganku kepada Permata yang masih lelap tertidur dalam dekapanku. Kuperhatikan wajah mungilnya yang tertidur tenang, lucu dan polos. Dadaku mengembang, semilir kehangatan mengalir masuk dalam rongga dadaku. Aku terenyuh memperhatikan buah hatiku ini tertidur pulas dengan wajah tenang tanpa beban.

Aku berpikir. Merenungi kembali makna rumah, keluarga dan kasih sayang di dalam hidupku. Rumah selama ini bagiku hanya sebagai tempat tinggal. Tidak lebih.

Perlahan pelupuk mataku menghangat, bulir-bulir air mata mulai menyesak ingin keluar dari dalam bola mataku. Mungkin hidupku tidak pernah bermandikan kasih sayang, tapi bukan berarti Permata akan mengalami hal yang sama. Dia harus mendapatkan kasih sayang dan ketulusan dari orang tuanya, yaitu aku. Sesak menghimpit pernafasanku, air mata tak lagi dapat kubendung. Berbalut cahaya lampu jalan, aku tersadar, bahwa selama ini aku telah abai terhadap Permata.

“Maafkan, Ibu, Nak.” Aku mencium kening Permata yang masih tertidur. Terjejak airmataku yang menetes disana. Lalu kutimang pelan buah hatiku itu.

***

Sekelebat kisah masa kecilku perlahan-lahan mencuat kembali ke permukaan. Kisah Ibu, sama sepertiku. Dia melahirkanku tanpa Ayah. Dia berjuang sendirian tanpa keluarga yang enggan mengakui keberadaannya. Sehingga aku tidak benar-benar merasakan kehadirannya saat itu, karena Ibu yang sibuk bekerja.

Tapi setelah mengingatnya aku dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa selama ini yang Ibu lakukan hanyalah untuk kebahagiaanku, meski kebahagiaan dalam sudut pandang kami begitu berbeda.

Aku melihat Permata. Raut wajahnya membuatku menyadari satu hal. Aku bukannya tidak tulus memiliki Permata, aku hanya belum siap.

Dan Ibu yang pernah mengalami hal yang sama terlebih dahulu, menyadari ketidaksiapanku, sehingga dengan tulus dia merawat Permata ketika emosiku sedang meluap-luap karenanya. Mungkin Ibu juga tidak ingin aku melakukan hal yang sama sepertinya.

Ibu. Rumah. Keluarga. Ketiga kata-kata itu terus mengiang-ngiang dalam otakku.
Apa sebaiknya aku pulang? Tapi dimana harga diriku nanti? Aku malu bila kembali bertemu Ibu.

Aliya, seburuk-buruknya sikapmu, Ibu tetap akan menerimamu di sini. Di rumah kita. Jadi pulanglah, Nak. Kasian Permata kedinginan oleh udara malam.

Aku seakan-akan mendengar suara lembut Ibu menyuruhku untuk pulang, dan tanpa dikomandoi oleh apapun, kakiku melangkah sendiri. Kembali kepada jejak-jejak yang tadi aku lewati.

“Ibu, maafkan aku. Aku akan pulang saat ini…”

:: Tulisan duet bersama @Bellazoditama

Jumat, 10 Februari 2012

Terlambat

This is the last day of my life, i mean my single life. Sebelum akhirnya aku menjadi milik orang lain dan kehidupanku tidak lagi sama.

Am I happy or sad? I don't know

Di satu sisi aku merasa bahagia. Helloo, siapa yang tidak bahagia saat prince charming-nya melamar dengan berlian murni di Orchard Road? Siapapun yang mengalaminya pasti akan bahagia. Namun, kesedihan juga menyapaku malam ini meski penyebabnya, aku tidak terlalu tahu.

Sebentar lagi. Hanya dalam hitungan hari, aku akan menjadi istri dari lelaki yang sudah 4 tahun menjadi kekasihku. Dinikahi oleh kekasih tercinta adalah impian setiap wanita, termasuk aku. Pernikahan, pesta, gaun pengantin dan sumpah setia di depan Pastur menjadi bayangan terindah yang menghinggapi mimpiku beberapa hari terakhir.
Beberapa hari lagi. Ya, beberapa hari lagi aku akan melepas masa lajangku.

And here I am now. Menggasak kartu kreditku demi sebuah private party di Immigrant. Namanya saja yang private tapi acaranya tidak mengenal privasi sama sekali.

Bagaimana bisa mengharapkan privasi selama 500 tamu masih berkeliaran di sekitarku, menanyakan segala printilan terkait pesta pernikahanku?. Padahal, jika bisa, aku ingin pesta ini benar-benar privat, hanya terjadi antara aku dan Josh, sahabat terbaikku.

“Mana ada bachelorette party yang isinya cuma dua orang, Nina?” Josh menoyor kepalaku sewaktu mengutarakan keinginanku ini minggu lalu.

Well, he was right. Sepertinya pernikahan sudah membuat otakku lelah bekerja.
“Nyerah?” tanya Josh seraya menyentuh daguku hingga menatapnya.

Dia tersenyum jahil.

“Give me more.”

Josh tertawa. “Lo udah mabuk. Nyerah aja deh.”

“Shut up.” Menyerah kepada Josh? Sampai kiamat aku juga nggak mau.

"Nin," panggilnya. Jemarinya membelai lembut daguku. Dia mendekatkan wajahnya. Jarak antara hidungku dan hidungnya hanya tinggal beberapa senti, " lo cantik."
Dadaku berdetak kencang. "Lo yang mabuk, Josh," ucapku mengelak. Kupalingkan wajah menghindari tatapannya yang menusuk.

Josh kembali menolehkan wajahku ke arahnya. Pandangannya terasa menelanjangi hatiku. Gemuruh terbit perlahan di dalam dadaku. Jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Dadaku sesak. Seperti akan ada yang melesak dari dalamnya.

Aku tak bisa menghindar. Tatapan itu mngingatkanku kepada perasaanku dulu. Dulu sekali. Sebelum persahabatan ini muncul. Mungkinkah aku masih menginginkannya? Entahlah. Yang kutahu, aku malah mendekatkan wajah hingga hidung kami saling beradu. Tak lagi kupedulikan ratusan tamu lainnya.

“I think you need more Martini,” bisikku, tepat sebelum bibirnya menyentuh bibirku. Sebelum aku kehilangan akal sehat.

“I think I need you,” balasnya.
Sekuat tenaga kukais sisa-sisa kesadaran yang kupunya. Satu minggu lagi aku akan menjadi istri Panji, pria paling sempurna untukku. Bagaimana mungkin sekarang, di pesta lajangku, aku malah terjebak dalam pesona sahabatku sendiri?

Kucoba mendorong Joshua agar menjauh. Sia-sia saja. Selain karena pengaruh alkohol di tubuhku, juga karena sejumput perasaan aneh yang melandaku.

Bertahun-tahun aku mengangap Joshua sebagai sahabat, mengapa malam ini aku merasa enggan menganggapnya sebatas sahabat saja?

Dasar bodoh. Ingat Panji, calon suamimu, Nina.

Namun, saat mataku bersitatap dengan mata sayu Josh, akal sehatku kalah telak dengan kata hatiku.

Dalam sekejap bibir kami berpelukan. Entah siapa yang memulai, aku tak peduli. Pikiranku sudah berhenti bekerja. Tidak ada lagi yang kupikirkan, selain menikmati ciuman lelaki yang beberapa menit lalu masih kuanggap sebatas sahabat. Ditengah ratusan pasang mata, aku bercumbu dengan sahabatku. Tak kupikirkan lagi pernikahan yang akan kujalani beberapa hari lagi.

Josh merengkuh tubuhku ke arahnya.

“I think I need you, too, Josh,” ucapku lembut di belakang telinganya.

" Dan kemudian kesadaranku lenyap entah kemana. Hal terakhir yang kuingat, Jo membopongku keluar dari Immigrant saat bibir kami masih bercumbu mesra.
So, it’s gonna be private now.

***

I hate jazz. Musik itu hanya cocok sebagai lullaby, bukan sebagai nada dering. Namun Panji tidak pernah menggubrisku. Dia bahkan memasang sendiri musik jazz sebagai nada dering khusus untuknya.

Dan sekarang, musik itulah yang membangunkanku.

Aku mengerang seraya meregangkan ototku yang terasa sakit. Pusing masih menguasaili, efek bergelas-gelas Martini yang kutenggak semalam sebagai bagian dari wine-wine solution bersama Joshua.

Telepon sialan. Mengapa Panji selalu meneleponku di saat yang salah?
Seperti sekarang. Pertama, ini masih pagi, dan kedua, ada Joshua di sebelahku.
Shit! what I did last night? Sleeping with my bestfriend one week before my wedding? Gila. Dan jadi semakin gila saat Panji, tunanganku, tengah menungguku mengangkat teleponnya, sementara di sebelahku, Joshua tampak tenang membelai rambutku.

“Angkat gih.”

Terbata-bata aku mengangkat telepon itu. “Halo, Sayang?”

"Halo, Sayang."
Aku mengerjap pelan. "Iya,," balasku dengan nada malas. Aku masih ingin berbaring. Masih ingin memeluk dada Josh yang tertidur di sampingku. Masih ingin merasakan kehangatan yang dipancarkannya.

"Kamu dimana? Kata mama kamu nggak pulang?"

“Enggg, aku nginep di apartemennya Sar. Soalnya acaranya sampai pagi, dan aku nggak bisa nyetir sendiri," sahutku seraya mengambil ponsel Josh yang ada di meja, lali mengetik pesan singkat untuk Sari.

"Oh, yaudah. Cepet pulang yah. Masih ingat, kan, kalau ntar siang kita harus ke butik, buat ngepasin baju pengantin?"

"Iya aku ingat. Bentar lagi aku pulang. Udah dulu ya."

"Oke. Love you, Nin."

Belum sempat aku meletakkan handphone di atas nakas, Josh lebih dulu menyambar lenganku dan menarikku ke dekatnya. “Sorry,” bisiknya.

“For what?”

“Kamu tahulah.”

Aku berbaring menyamping dengan satu tangan menopang kepala. “Minta maaf karena baru menganggap kehadiranku sekarang atau karena telah meniduri sahabatmu yang akan menikah minggu depan?”

Pertanyaanku menyentaknya. Dia kelihatan semakin salah tingkah. “Dua-duanya.”

“You know what? I enjoy it last night.”

“Tapi kamu akan menikah. Tidak seharusnya…”

“Tidak seharusnya kamu memendam perasaanmu selama ini dan baru menyadarinya di saat aku akan menikah. Itulah yang harus kita sesali jika kita harus menyesal sekarang.”
Aku berhasil menarik atensinya. “Kita?”

“Ya, because I’m falling in love with my bestfriend since long time ago. But he never realize.”

“Nin, jangan bercanda.”

“Aku serius. Tapi sekarang kita bisa apa?”

Josh memelukku. “I’m sorry. Really sorry.”

Josh, andai maafmu bisa memutar kembali waktu, maka aku akan dengan senang hati memaafkanmu. Tapi, kita tidak bisa meminta itu bukan?

“We are still friend, right?” Apa kamu tahu, Josh, berat rasanya berkata begitu?
Tidak ada jawaban darinya. Alih-alih dia semakin mempererat pelukannya.

Is there any way for me to get out of this shit?

Bayangan Panji melintas di benakku, dan kuanggap itu sebagai jawaban. Jawaban mutlak.
There is no other way, Nina.

:: Tulisan duet bersama @iipche

Friendship

Awan putih beriringan di awan. Mengarak di langit yang cerah dengan warna biru mendominasi pandangan. Siang ini hawa sangat bersahabat, angin bersemilir lembut menerpa wajah. Menggelitik rambut-rambut kecil yang mencuat dari pinggir telinga. Menerbangkan pucuknya menari-nari
membelai udara. Gemerisik ranting yang bergoyang menambah syahdu suasana. Pepohonan di dalam pandangan mata bergerak perlahan, menimbulkan gesek yang menimbulkan riuh ketenangan. Di sebuah bangku taman, Tita duduk bersama sahabatnya menikmati ketenangan yang ditawarkan, menyesapi segarnya aroma pepohonan yang meneduhinya.

"Aku ingin seperti daun," ucap Tita, membuyarkan lamunan Rinto. "Setegar daun" lanjut Tita, dengan suara tegas. Rinto menatap bola mata Tita, helaian rambutnya yang diterbangkan angin melayang-layang pelan menutupi sebagian wajahya.

"Ahh kamu Ta, hidup itu enggak kayak puisi lagi", kata Rinto dengan gurau membalas ucapan Tita. Senyum sinis Tita, mengembang. Bahunya dinaikan beberapa senti, dan matanya membelalak memandangi Rinto.

“Emang Sapardi ajah yang bisa hidup dengan daun!" seloroh Tita, menyebutkan pengarang favoritnya. Membuat Rinto tersentak beberapa detik. Perkataan Tita terlalu cepat terontar.

"Apa sih Ta, asiknya baca puisi? dibaca puluhan kalipun aku tetep ajah enggak ngerti apa maksudnya. Mending baca Manusia Setengah Salmon, ceritanya kocak-konyol penulisnya ganteng, kayak gue...," ujar Rinto seraya menyibakan rambut klimisnya ke hingga ubun kepala.

Tita, tersenyum cekikikan yang ditahan-tahan. Ia memandang Rinto, sahabatnya sejak kuliah dua tahun lalu. "Aku tahu kamu itu ganteng Nto, tapi kok aku gak mau jadi pacar kamu yah," ucap Tita, dengan panggilan akrabnya kepada Rinto.

Rinto cuma bisa senyum asin, pikirannya mulai tidak setenang suasana taman. Dadanya bergetar lebih kencang dari sebelumnya. “Ah, Tita,” bisik Rinto mengangguk. Persahabatan adalah komitmen termahal yang mampu dimiliki oleh seseorang, persahabatan laiknya sebuah ikatan percintaan yang menuntut banyak pengorbanan. Banyak perihal ajaib yang bisa dimiliki oleh sepasang sahabat. Dan yang paling berharga adalah; cinta.

Cinta. Itulah sebenarnya yang dirasakan Rinto kepada Tita. Rinto tidak tahu bagaimana melukiskan perasaan lewat puisi, Rinto tidak tahu bagaimana puisi bisa disebut-sebut oleh Tita sebagai cinta sejati.
Persahabatan bisa dimulai dengan cara seperti apa pun dan dalam kondisi bagaimana pun. Tidak ada yang tahu pasti. Rinto dan Tita pun mengalami hal serupa. Pertemuan pertama yang menjadi awal dari kedekatan mereka. Kisah persahabatan tercipta bukan hanya karena banyak kesamaan dan sepaham saat berkomunikasi. Terkadang ada masalah dan perbedaaan pendapat yang berujung meruncingnya ego dalam diri masing pihak. Tita yang merupakan penggila puisi, dan mengagumi setiap keindahan bait yang terkandung dalam sajak-sajak tak bernama, sementara Rinto tidak menyukai puisi, lebih tepatnya lelaki itu tidak mengerti puisi. Baginya puisi hanya rangakaian kata indah. Ya, hanya indah saja. Tidak lebih.

Rinto masih terduduk di bangku taman, memperhatikan Tita yang masih berbaring menatap langit. Menikmati cerahnya warna biru yang ditawarkan awan kepada matanya. Kemudian dia beranjak ke arah Tita. Ikut berbaring di samping sahabatnya itu. Ikut memadang langit. Mencoba menerka apa yang dipikirkan Tita saat ini.
Tita menengok ke arah Rinto. "Nto, lihat awan itu," ucap Tita menunjuk ke arah kanan pandangann. "Awannya bagus yah. Tebal, putih dan terlihat lucu, walau aku gak tau, itu bentuknya apa." Tita tertawa kecih dan renyah.

Senyuman kecil terbit secara otomatis di bibir Rinto. Melihat Tita tertawa lepas seperti itu selalu berhasil membuat hatinya ikut tersenyum. Tanpa disadari, ada rasa yang tak biasa di hati Rinto. Mungkin lebih dari sekedar persahabatan.

“Puisi itu duka abadi, Nto” lirih Tita, membisik pelan di telinga Rinto yang telah berbaring disebelah Tita, di atas sepetak padang rumput taman.

Rinto, tertegun. Pandangannya melayang-layang ke langit dan derak awan putih, pikirannya sibuk dalam tatapan kosong. Rinto, pelan-pelan mengobrol dalam ramainya pengunjung taman pada awan. Obrolan sunyi, suaranya terpendam dalam hati.

Tita, memejamkan matanya. Tangannya memainkan rumput diujung jari-jari. Ia mulai merasakan kedamain yang bermisteri di samping Rinto. Aku, barangkali-iya-menyukai
Rinto, juga, bisik Tita, dalam hati.

“Nto, apa kabar pacar kamu?” tanya Tita, begitu tiba-tiba.

Rinto, terkaget dengan petanyaan Tita, yang selalu keluar secepat detik. “Baik” jawab Rinto refleks.

“Dia enggak marah kamu nemenin aku hari ini?”

“Mmm.... aku udah bilang sih, kalau aku mau jalan sama kamu. Tapi yaa... dia enggak bilang apa-apa tuh,” jawab Rinto apa adanya.

Rinto sudah memiliki pacar. Tita, juga. Rinto, jatuh cinta pada pandangan pertama, sedang Tita, terlambat. Ketika dia akan memilih Rinto, dan memberi jawaban ‘ya’ atas ungkapan perasaan Rinto beberapa bulan sebelumnya. Rinto, sudah menyerah atas perasaannya pada Tita, dan memilih Kemala, teman sekelasnya yang diam-diam menyukainya.

Rinto memilih Kemala, dengan banyak alasan salah satunya; Rinto mengerti bagaimana perasaan Kemala. Apa yang dirasakan Kemala padanya serupa dengan perasaannya pada Tita. Kemala, perempuan pendiam sebaliknya Tita, misterius dan menantang. Tita, bukan tipe perempuan kebanyakan yang akan menurut apa yang dikatakan kebanyakan orang. Tita, beda. Tita menjadi dirinya sendiri yang keras dan tak mau kalah. Dibalik kecuekan Tita, Rinto merasakan perasaan yang begitu lembut. Dan Tita, sulit tersentuh. Tita tidak akan mengaku, walau Rinto tahu Tita, merasakan perasaan yang sama.

“Nto, kenapa kamu enggak kenalin pacar kamu ke aku?” tanya Tita.

“Kamu juga enggak kenalin pacar kamu” jawab Rinto, begitu saja.

Tita diam. Perasaannya terburai ditengah cuaca yang menyenangkan. Tidak ada yang harus dia urai tentang perasaannya kepada Rinto. Sudah cukup bagi Tita, persahabatan adalah kado teristimewa yang dia dapat dari Rinto.

Ketika Rinto menyatakan perasaannya pada Tita, sebetulnya Tita senang. Hanya saja, waktunya belum pas ketika Rinto meminta jawaban dan kepastian hubungan. Tita perempuan bebas yang tidak terlalu memikirkan ikatan, bagi Tita, sikapnya adalah sebuah jawaban bahwa dia juga menyukai Rinto. Tapi bagi Rinto, kata-kata ‘Ya, aku pacar kamu’ dari Tita, harus ia dapatkan. Dan Tita, tidak mengatakan itu.

:: cerpen yang ditulis bersama Maliya (@malliyya)

Rabu, 08 Februari 2012

Sebatang Kenangan

Senggurat jingga merekah di awan
Memburai indah di kelopak mata
Menguntai bahagia melalui pandang
Merekah senyum dalam keindahan

Kita berdiri di bawah pohon kenangan yang mulai merapuh
Menggenggam erat tangan yang mulai merenggang
Menatap senja yang terlihat kelam dari bola mata kita

Dalam diam, hati berontak ingin bersuara
Namun diam menjadi emas yang kita pilih

Dalam ragu, cinta terkikis oleh gamang
Membiaskan tiap jengkal rasa yang pernah terjaga
Aku menyebut cinta
Dan kamu menyebutnya sebagai rindu

Kini, dalam batas jarak, bahu kita tak lagi berpagutan
Cinta memudar termakan jarak yang menebal
Mengikis perlahan dalam diam.
Tak ada lagi wajahmu yang menari di hatiku
Yang memerah-jambukan dindingnya dengan warna cinta
Dan kini aku harus menyebutnya sebagai kenangan.

Senin, 06 Februari 2012

Kepada Siapa Rindu Ini Berpulang?

Aku duduk termangu. Kusesap pelan batang rokok yang sudah terbakar setengahnya. Jariku menjetikkan pelan abu yang menggantung di bibir bara. Pikiranku melayang-layang, tak jelas akan bermuara kemana.

Malam semakin larut, hembusan angin makin terasa ngilu di dada. Menembus bebat kain yang ada di leherku, menerobos tebalnya baju hangat yang menyelimutiku. Kulirik layar ponselku, disana terinformasikan sebentar lagi hari akan berganti. Sebentar lagi.

Dari beranda kamar, kuperhatikan langit yang dihiasi warna yang beragam. Indah. Bunyi-bunyi letusan menggema di udara, menciptakan percikan kembang api raksasa di layar angkasa. Sebentar lagi hari berganti, dan tahun pun juga akan kembali ke titik awal dengan lembaran baru yang siap ditempuh.

Aku mendesah pelan, merasakan sedikit sesak yang menelusup ke dalam rongga pernafasanku. Ada perasaan rindu yang tak tahu diarahkan kepada siapa. Kepada Prisa kah? Aku juga tak tahu.

Waktu telah berjalan jauh. Tiga ratus enam puluh hari sudah terlewati begitu saja, namun kenangan itu seperti membeku dan terhenti di saat seperti ini. Saat kamu dan aku melihat kembang api yang dilontarkan ke langit. Saat kuusap lembut jemari mungilmu dan kugenggam erat agar kita tak terpencar di antara sesaknya ratusan manusia yang juga menonton perayaan tahun baru.

Aku menutup mataku, mencoba merasai kembali momen itu. Memutar kembali pendulum waktu ke masa satu tahun yang lalu. Mengimajinasikan dirimu masih ada di sampingku, menggenggam jemariku. Ketika aku membuka mata, aku tersadar. Kemudian pikiranku melontarkan pertanyaan spontan yang tak mampu kujawab ; ketika kamu tak ada lagi disampingku, kepada siapa rindu ini akan berpulang?

Kuhisap kembali rokok yang hampir habis nyalanya. Menikmati nikotin yang masuk ke dalam rongga pernafasanku dan merelakskan pikiranku sejenak. Ya, hanya sejenak, lalu semua akan kembali seperti semula. Aku dengan pikiranku yang selalu tentangmu. Entah sampai kapan. Mungkin hanya waktu yang bisa menngakhirinya, menunggu hari tempat hatiku akan berpulang ke rumah yang baru. Karena aku yakin, setiap hati mempunyai rumah tempat berpulangnya masing-masing. Hanya saja untuk menemukan rumah yang benar-benar tepat memerlukan waktu dan luka yang lebih banyak. Bukankah seseorang harus merasakan bagaimana luka dan sakit agar bisa mengetahui cara agar tidak kembali terluka?

Pikiranku masih mengembara bebas, mengolah kembali pikiran-pikiran spontan yang berlarian di dalam otakku. Ya, kini aku tahu bagaimana cara agar tidak lagi terluka. Namun biarkan kali ini, sejenak aku mengiris kembali luka itu dengan cara mengenangmu.

Minggu, 05 Februari 2012

After The Rain

Hujan turun lagi. Aku berdiri di beranda kelas, memandangi air yang terus menetes tanpa jeda. Suasana riuh dalam kelas tak tergubris olehku. Perhatianku tersita penuh memandangi arah keluar, memperhatikan langit yang mengandung awan hitam yang memburaikan mata air dari sana. Langit terlihat sangat kelam, padahal tadi siang suasana cerah masih menyelimutinya.

Kulirik jam tangan yang melngkar di pergelangan tangan kananku. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Sebentar lagi bel pertanda pulang sekolah akan berbunyi nyaring, yang akan disambut gembira oleh semua teman-temanku. "Gar, kok bengong? Kamu sakit?" Perhatianku teralihkan, mataku berpindah pandangan. Dari langit ke arah kananku, mendapati Sofia berdiri disana.

"Ah, nggak kok. Cuma seneng aja ngeliatin hujan turun. Teduh gimana gitu," ucapku seraya tersenyum kecil. "Lo udah siap-siap pulang aja, bel juga belom." Aku melihat Sofia sudah menyandangkan tas biru langitnya di punggung.

Sofia tersenyum. Manis. Lengkung bibirnya berelegi dengan kontur wajahnya yang mungil. Menciptakan sebuah ekspresi menyenangkan setiap melihat perempuan seperti Sofia tersenyum. "Sebentar lagi juga bel," ucap Sofia setelah melihat jam digital yang terdapat di ponselnya. Dan benar saja, bel berbunyi nyaring beberapa detik kemudian.

"Ah, pas banget. Hujannya udah mulai reda, tinggal gerimisnya doang. Jadi ga bakal basah-basah banget pas pulang nanti." Aku berkata kepada Sofia, yang dijawab dengan anggukan kecil olehnya. "Gua ambil tas dulu." Aku beranjak ke dalam kelas. Suasana masih riuh. Beberapa temanku masih asik berkumpul di satu meja dan bercerita dengan seru.

Aku melangkah keluar kelas dan berdiri di pintu kelas sebelah. Kuedarkan pandanganku. Mencari dimana dia, Sarah, teman seperjalananku saat pulang. Rumahku dan rumahnya satu arah pulang, jadi hampir setiap hari aku pulang bersamanya.

"Kamu pulang sama Sarah lagi yah?" ucap Sofia kepadaku yang berdiri di dekat pintu.

Sekali lagi perhatianku teralihkan kepada wanita berwajah manis itu. "Ah, iya nih. Tapi mana yah itu orang?" Mataku kembali mencari Sarah. "Hoy, Sar. Bareng nggak?" ucapku seketika saat menemukan perempuan itu masih asik bercengkerama dengan teman-teman perempuannya di bangku paling belakang kelas.

Sarah menengok ke arahku. Obrolannya yang -sepertinya- seru terhenti sejenak. "Eh, Gar. Kayaknya kamu pulang duluan aja deh yah. Soalnya abis ini aku mau main ke rumahnya Rani dulu."

"Oh oke," ucapku mengerti. Hampir dua tahun aku pulang bersama Sarah. Sejak pertama mengenalnya di kelas satu. Perkenalan biasa di tempat kita biasa menunggu angkutan umum pasca bubaran sekolah. "Oiya, kamu belum mau pulang, Sof?" ucapku kepada Sofia yang asik memencet gadgetnya.

"Aku nunggu di jemput papaku. Tapi papaku belum bisa jemput sekarang, jadi kayaknya aku nunggu dulu."

"Rumah lo dimana? Gua lupa."

"Di Benhil, Gar. Memangnya kenapa?" Pandangannya diarahkan kepadaku. Sejenak aku tertegun. Pertanyaan iseng tadi kini masuk ke dalam pikiranku dan sedang berevolusi.

"Hmmm, daripada kamu nunggu lama. Bareng gua aja, mau gak? Kebetulan gua lagi bawa motor, dan gua juga udah bawa helm dua," ucapku menawarkan bantuan. Entah kenapa aku mengucapkan hal seperti itu. "Gua tau kok daerah benhil, nanti lo arahin aja rumah lo di benhil sebelah mananya."

"Bener nih?" Bola mata Sofia membulat, sorotnya berbinar cerah. Aku tersenyum di dalam hati melihat ekspresi wajah teman baruku di kelas tiga ini. "Waah, makasih ya, Gar."

Aku mengangguk dan menyunggingkan senyum kepadanya. "Yaudah yuk, pulang. Udah reda total nih hujannya."

*

Hujan sudah berhenti, namun titik air masih sesekali menetes dari pucuk daun yang ranting-rantingnya tergoyangkan oleh hembusan angin. Menciptakan sensasi sejuk dan segar, saat titik air dan tiupan angin membelai lembut wajahku yang tidak mampu ditutupi oleh helm.

"Gar, nanti diperempatan belok ke kanan yah. Rumah aku deket rumah sakit," ucap Sofia. Tangannya lembut melingkari pinggangku, dan dia sandarkan tubuhnya kepunggungku. Hanya tas sekolahku yang menjadi pembatas antara aku dan dia.

Aku mengarahkan skuter matikku ke arah kanan jalan. Berhenti sejenak saat traffic line berwarna merah. " Kamu ga kedinginan kan yah? Maaf ya, aku ga bawa sweater. Soalnya sweater yang biasa aku pakai, kemarin dipinjam sama Sarah."

"Hemm, nggak apa-apa kok, Gar. Ga terlalu dingin, justru aku senang. Anginnya sejuk. Dan juga sebentar lagi nyampe rumah. Jadi bisa langsung mandi air hangat deh," ucap Sofia dengan nada bicara khasnya yang ceria.

Traffic line sudah berganti warna. Kupacu gas motorku saat kulihat warna hijau muncul disana. Setelah dekat dengan rumah sakit, Sofia berujar pelan dari balik punggungku memberikan arahan dimana rumahnya berada.

Hanya dalam waktu lima menit dari traffic line tadi, aku sudah sampai di depan rumah Sofia. Rumah bergaya simple dengan warna hitam dan putih mendominasi pandangan. "Mau masuk dulu, Gar?" tanya Sofia kepadaku.

Aku mengangkat kaca helm, dan memandang ke arah Sofia. "Hemm,makasi. Kapan-kapan aja aku mainnya. Soalnya udah kesorean juga," ucapku menolak halus.

"Oh yaudah, makasi yah udah nganterin aku."

"Iya nggak apa-apa kok. Gua cabut yah," ucapku melambaikan tangan kepada Sofia sebelum memacu kendaraanku menjauh dari rumahnya.

Kamis, 02 Februari 2012

Garis Start

"Gua mau, sejauh apapun waktu berlari. Tapi kita akan tetap berjabat seerat ini," ucapku kepada dua sahabatku. Radiv menoleh ke arah Azgar. Lalu ke arahku. Radiv mengangguk kecil pertanda sepaham.

Azgar tersenyum kecil, diulurkan telapak tangannya kearahku dan Radiv, secara beruntun aku dan Radiv juga melakukan hal yang sama. "Setelah hari ini, setahun, dua tahun atau beberapa tahun lagi. Sejauh apa pun kaki kita melangkah. Gua harap kita tetap berpijak berdampingan." Azgar merapalkan kalimat harapan. Hampir serupa dengan yang kuucapkan.

Radiv berdeham pelan, dirinya menyiapkan kata-kata yang ingin diucapkan untuk melengkapi momen malam ini. "Kita adalah sahabat. Sekarang atau pun di masa yang akan datang," ucap Radiv pelan. Sifatnya yang cenderung pendiam membuat dirinya selalu berucap dengan suara pelan.

"HAAAHH!!" ucapku, Radiv dan Azgar serempak. Lengan terjuntai ke atas. Menghamburkan telapak-telapak tangan yang tadi bertumpuk. Memburaikan harapan-harapan kita bertiga ke udara. Aku menyeringai, Azgar terkekeh pelan, sementara Radiv hanya tersenyum kecil.

"Yaudah, kita lanjutin lagi yuk," ucap Azgar mengambil kertas-kertas contoh ujian yang berserak di atas kasur.

Aku membereskan dan memisahkan kertas soal mana saja yang sudah dijawab dan mana yang belum, sementara Radiv menadai nomor soal yang masih belum dapat dijawab.

Hari terselenggaranya ujian masuk perguruan tinggi tinggal beberapa minggu lagi. Berarti tinggal beberapa minggu pula kita akan menjejakkan harapan baru untuk menjemput jalan keinginan kita masing-masing. Melangkahkan kaki ke perguruan tinggi favorit masing-masing.