Tampilkan postingan dengan label flashfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flashfiction. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Februari 2016

#Prompt 104: Secangkir Kopi dan Airmata Peri

Kebebasan selalu layak untuk dirayakan. Maka selepas keluar penjara, yang diinginkan ialah mengunjungi kedai kopi ini. Kebahagiaan akan semakin lengkap bila dinikmati dengan secangkir kopi. Hanya di kedai kopi ini ia bisa menikmati kopi terbaik yang disajikan dengan cara yang paling baik.

Aroma kopi menguar di penjuru ruangan. Lelaki itu tersenyum seraya menghirup dalam-dalam. Setelah berbulan-bulan menghirup udara pengap penjara, aroma kopi adalah penyelamat baginya. Lelaki itu mengacungkan jemari memanggil pramusaji yang hilir mudik melintasi mejanya. “Berikan saya daftar menu,” ucapnya pelan.

Sebelumnya ia tidak pernah membutuhkan daftar menu saat mampir ke kedai kopi ini. Pesanannya selalu sama dari waktu ke waktu.

Setelah datar menu berada di genggamannya, ia melihat-lihat deretan nama minuman kopi yang hampir sama. Nyaris tidak berubah, kecuali satu hal. Menu favoritnya sudah dihapus sejak kali terakhir ia berada di kedai kopi ini berbulan-bulan yang lalu. Sebelum sebuah kejadian mengantarkannya ke dalam pengapnya hotel prodeo.

“Hai, apa kabar?” tanya seorang kakek tua bermata gelap menyapa lelaki itu. “Lama tidak jumpa, ke mana saja?”

Lelaki itu tersenyum saat melihat siapa yang menyapanya. “Liburan,” ucapnya singkat. Kakek tua itu tidak ada saat kejadian malam itu. Hal yang membuatnya mendapatkan sebuah tiket liburan ke sel tahanan.

“Tumben memesan menu yang berbeda?” tanya kakek tua itu. “Ada apa dengan secangkir kopi dengan tujuh tetes airmata peri kesukaanmu?”

“Peri sudah tidak ada,” ucapnyaa singkat.

“Ke mana?”


“Mati. Aku yang membunuhnya setengah tahun yang lalu.”

Senin, 25 Januari 2016

Pesta Fiksi #25Januari - Sepasang Jarum Jam

"Sepasang jarum jam adalah tangan kita yang saling berpelukan."

Aku mengingat dengan jelas saat bait itu kamu ucapkan. Suaramu yang terdengar serak dan kering itu masih menggema di daun telinga; berulang-ulang membisiki telinga saat aku memejamkan mata. Waktu telah melompati bilangan bulan,sejak terakhir kamu membacakan sepenggal bait puisi dari penyair yang kamu kagumi itu kepadaku-dan ingatanku masih segar tentang hal tersebut.

Mataku mengerjap. Di hadapanku ada pulahan pasang orang berkemeja bagus dan bergaun cantik yang berdiri sambil mengobrol atau makan. Sebagian lain dari mereka berjalan mengular menyalamiku seraya membisikkan kalimat 'selamat ya'. Lalu kemudian mereka berdiri berjejer di sampingku untuk foto bersama. Aku hanya bisa membalas dengan senyuman kepada orang-orang yang sebagian besar tidak kukenal siapa.

Pada saat seperti ini, entah kenapa aku kembali mengingatmu. Mataku terasa panas. Mengingatmu adalah caraku menertawakan takdir. Setelah sekian lama akhirnya aku harus mengakui kata-kata dalang gila itu yang berkata dalam bukunya yang kurang lebih berbunyi; "jatuh cinta adalah takdir, menikah itu pilihan."

Waktu terus berjalan, orang-orang berubah namun kenangan akan selalu kekal. Begitu ucapmu dulu. Bahkan jika nanti jalan kita berseberangan, aku masih akan tetap mengingatmu dengan baik. Timpalmu kembali saat itu.

Lalu tak lama setelah kamu mengatakan hal itu kepadaku, kamu pergi meninggalkanku. Tidak pernah mau menemuiku saat aku menghampiri rumahmu.

Kita seperti sepasang jarum jam yang membentang jarak paling jauh dan bertolak sisi.

"Sajak ini adalah caraku mengingatmu, sebuah cinta yang tak lazim." Lamunanku buyar. Kesadaranku tersentak saat mendengar bait ini dibacakan. Perhatianku segera tertuju pada bagian pojok ruangan. Ada lelaki asing yang membacakan puisi tersebut.

"Jatuh cinta, pelajaran terbaik untuk tabah sebelum dan sesudah sakit. Dalam cinta kehilangan hanya soal mengingat dan melupakan." Airmataku merembas membasahi pipi.

Tak lama lelaki itu datang menghampiriku, dan berbisik. "Selamat untuk pernikahannya."

"Kamu siapa?" tanyaku dengan nada tertahan.

Lelaki asing itu tersenyum. "Aku adiknya. Aku datang mewakili dia. Dia meminta maaf tidak bisa menjawab undangan darimu yang datang ke rumah," ucapnya pelan.

"Di mana dia sekarang?"

"Surga."


----------------------------------------------------------------------------------------------------------
* FF 310 kata tanpa judul

Kamis, 25 Juni 2015

Sekotak Awan Hujan Untuk Dia

Bus mulai berjalan pelan saat memasuki kawasan terminal. Aku terbangun dari tidur yang cukup nyenyak untuk sebuah perjalanan yang tidak sebentar. Orang-orang mulai berdiri dan mengambil barang bawaannya. Kupandangi satu per satu wajah penumpang yang terlihat lelah karena tak bisa tidur pulas, sama seperti yang kualami. Aku mengeluarkan sapu tangan yang ada di saku celana sebelah kanan dan mengusapkannya ke wajahku. Memang tidak membuat wajahku terlihat segar, namun setidaknya lebih baik daripada sebelumnya yang terlihat begitu kuyu saat aku mengaca pada layar ponselku.

Aku sengaja menunggu dan turun paling akhir, membiarkan orang-orang yang membawa banyak barang bawaan turun terlebih dahulu. Hal paling menyebalkan saat turun dari bis antar kota adalah ketika turun, dan ada saja orang yang tidak sabar lalu mendorong-dorong penumpang yang ada di depannya.

Kurogoh bagian bawah bangku, dan kuangkat sebuah kotak kaca yang sengaja kubawa dari kotaku. Satu-satunya benda bawaanku. Benda yang sengaja kubawa untuk Dia.

Beberapa orang menghambur ke arahku dan  menawariku tumpangan saat baru saja menjejakkan kaki di Terminal yang sudah kuakrabi. Aku tersenyum tipis dan mengangkat sebelah tangan sebagai tanda penolakan halus dan mereka mengerti tanpa perlu memaksa lebih lanjut. Kesalahan yang sering dilakukan oleh banyak orang dalam menghadapi situasi seperti ini adalah dengan melenggang acuh sehingga orang-orang tersebut memaksa dan tak jarang mengumpat karena tak ditanggapi.
Langit terlihat mendung siang ini. Matahari tidak tampak, padahal seharusnya saat ini dia tengah berada di tengah putaran rotasinya. Aku berdiri tak jauh dari bagian luar terminal, menunggu mobil angkutan umum yang akan membawaku ke rumah Dia. Sambil sesekali kupandangi isi kotak kaca yang aku timang sejak tadi. Semoga Dia suka, gumamku di dalam hati.

***

Aku memanggil dan melambai kepada Dia yang duduk di beranda atas. Hari sudah sore saat aku sudah berada di depan pintu rumah kontrakannya. “Hai,” sapaku singkat saat wajahnya muncul dari balik pintu.

“Kamu telat,” ujarnya ketus. Aku tertawa saat melihat bibirnya mengerucut menahan sebal.

Kupencet hidungnya, dan Dia menepis tanganku lalu mencubit pinggangku. “Hei, hati-hati, nanti kotak kaca ini pecah,” ucapku sambil meliukkan tubuh, menghindari jemarinya yang menarik kulit–lemak–pinggangku.

“Oke, naik dulu gih, aku mau ambil minum.” Dia menunjuk ke arah tangga yang ada di beranda, sementara dia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya dari dalam.

“Sirup lemon yah,” ucapku sebelum menjejalkan kaki ke anak tangga.

Aku menyusuri tangga besi yang melingkar, lalu duduk di bangku rotan yang ada di dekat jendela. Lalu dari dalam ruangan terdengar bunyi pintu terbuka. Dia keluar dari pintu tersebut sembari membawa nampan berisi satu teko sirup lemon dan dua buah gelas.

Beranda atas kontrakan Dia adalah tempat terbaik untuk melihat pemandangan langit. Tidak ada bangunan tinggi atau rumah berlantai banyak yang menghalangi pemandangan. Dari tempatku duduk saat ini, aku dan Dia dapat melihat dengan jelas senja yang tinggal setengah, akibat dicuri oleh seorang lelaki gila untuk diberikan kepada perempuan yang dia cintai.

“Kenapa kamu tertawa?” tanya Dia saat aku tergelak bila memikirkan soal senja tersebut.  Dulu aku menertawakan Sukab[1], lelaki gila yang melakukan kekonyolan ini. Dia menggunting senja lalu mengirimkannya kepada kekasihnya melalui pos. Namun, kini aku bisa mengerti mengapa lelaki itu melakukan hal tersebut.

Cinta itu buta, tepatnya membutakan logika. Setinggi apa pun pendidikanmu, selincah apa pun akalmu, jika seseorang telah jatuh cinta dalam artian sebenar-benarnya cinta–bukan perasaan yang sesaat singgah lalu ditinggalkan saat rasa bosan datang–yang orang itu pikirkan hanyalah bagaimana cara untuk membahagiakan orang dia cintai.

“Tidak apa-apa,” ucapku pelan menanggapi pertanyaan Dia. “Oh iya, ini aku bawakan sesuatu untukmu.” Aku menyorongkan kotak kaca yang kuletakkan di sampingku. “Gantung di sini saja. Jadi jika kamu bosan melihat senja yang tinggal setengah itu, kamu bisa memandangi ini kapan pun kamu mau,” ucapku saat segumpal awan kelabu dikeluarkan Dia dari dalam kotak kaca.

Sementara Dia sibuk mengatur posisi awan kelabu, aku memainkan ponselku dan melihat perkembangan di sosial media. Saat ini, dunia maya sedang gempar oleh berita mengenai hilangnya secuil awan hujan di Kota Hujan. Aku membacanya sekilas dan tersenyum, lalu menutup ponselku kembali.

“Semoga kamu suka ya, Putri Hujan,” ucapku kepadanya. Nama panggilan itu kusematkan kepada Dia, karena perempuan yang ada di hadapanku ini begitu menyukai hujan. Aku membawakan sekotak awan hujan karena di kota ini hujan belum juga turun. Padahal bulan Juni sudah hampir selesai. Hal ini membuat Dia agak kecewa, dan aku tidak mau mengecewakan orang yang kucintai ini.

“Terima kasih, Lelaki Matahari.” Aku tersenyum saat dia memanggilku seperti itu. Kata Dia, selain namaku yang arti Matahari, aku pun memiliki sifat yang sama seperti matahari. Selalu semangat. Aku mengakuinya, jika tidak bagaimana mungkin aku bisa bertahan untuk tetap mencintainya walau aku tau, dia lebih menyukai senja dan juga laki-laki yang mengaguminya.




[1] Tokoh dalam cerita Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma

Kamis, 27 November 2014

Wake Me Up When September Ends

Aku memegang tangan kekasihku. Kami duduk di sebuah ruangan yang penuh dengan kaca. Begitu ada banyak kami di dalam ruangan ini, sehingga kami tak merasa kesepian.

“Tahukah kamu hal yang paling menyedihkan?” Aku mendongakkan kepala menatap sepasang mata kekasihku yang basah. “Sebuah perpisahan,” ucapnya lagi.

Tangannya memegang erat lenganku. Aku menepuknya pelan, lalu tersenyum. “Setidaknya tidak semenyedihkan perpisahan yang diam-diam. Perpisahan tanpa ada perayaan, tanpa ada perkataan.”

“Terkadang, aku ingin menggugat keadaan.” Kekasihku kembali berkata. Kulihat dia menggigit bagian bawah bibirnya yang sering kukecup. “Kenapa harus kamu, kenapa bukan orang lain?”

“Karena hanya aku yang bisa, Sayang.” Kubelai lembut helai rambutnya yang kekuningan, kusampirkan di daun telinganya yang selalu kubisiki kata cinta. Aku mendekatkan wajahku dan membisikkan kembali kalimat itu. “…sampai kapan pun. Bahkan jika nanti, ketika aku kembali, kau sudah menjalani kehidupanmu selama kebersamaan kita, dan kamu tak secantik saat ini.”

“Sudah waktunya,” sela seorang berpakaian perawat yang masuk diam-diam dari pintu yang berada di belakangku.

Aku bangkit dan bersiap, namun genggaman kekasihku begitu kuat. Isakan tangisnya perlahan terdengar lebih keras. Siapa pun dia, termasuk kekasihku, tidak ada yang pernah siap menghadapi perpisahan dengan orang dicintainya.

Aku tak tahu kapan lagi akan bertemu Arsailina. “Tunggu sebentar,” ucapku kepada perawat yang sudah berdiri beberapa langkah di depanku.

“Kami tunggu di depan,” ucapnya singkat tak berbasa-basi.

“Arsa,” bisikku kepadanya. Kupegang bahunya yang gemetar dan kupeluk tubuhnya yang sudah khatam kujamahi. “Jika nanti aku kembali, aku akan meminta kepada mereka untuk membangunkanku di bulan September. Agar nanti aku bisa merayakan ulang tahunmu yang entah ke berapa.” Sekali lagi kudaratkan sebuah kecupan untuknya di ubun-ubun kepalanya.

“Berjanjilah,” ucapnya lirih.

“Ya.” Kulepaskan pelukanku dan beranjak menuju pintu. Di sana perawat tadi sudah menungguku.

***

Arsailina berdiri memandangi Zei yang berjalan memunggunginya. Zei adalah seorang sebagai agen rahasia. Arsailina sudah terbiasa melihat punggung suaminya ketika berangkat menjalani misinya, namun kali ini punggung itu terlihat begitu jauh. Arsailina mengangkat lengannya, mencoba menggapai punggung semakin menjauh, ke tempat yang tak akan pernah bisa dia gapai.


Di tangannya digenggam sebuah surat dari sebuah organisasi rahasia milik pemerintah yang menyatakan suaminya menjadi salah satu dari beberapa orang yang akan ‘ditidurkan’

.
*Dikembangkan dari fiksimini Ahmad Abdul Mu'izzWAKE ME UP WHEN SEPTEMBER ENDS. Aku hanya tak ingin bertambah tua.

Silsilah Luka

Sumber: http://arzuhan.deviantart.com/art/Darkness-100010629
Rumi berdiri menatap cermin yang memantulkan separuh bayang tubuhnya. Dari sebelah kanan, cahaya lampu jalanan masuk sebagian melalui celah jendela yang tak tertutup rapat. Tak banyak cahaya yang dapat masuk ke dalam kamar yang lampunya entah telah mati sejak kapan.

Dia tersenyum menatap wajahnya sendiri, lalu kadang tertawa kecil. Dia mengambil lipstik berwarna semerah darah lalu dioleskan ke bibirnya secara serampangan. Kini, seputar bibir, mulut dan pipinya berwarna merah, dengan sedikit noda merah lainnya yang sudah ada di sana sejak tadi.

“Huahahaha.” Rumi tertawa terbahak saat melihat hasil riasannya sendiri.

Diletakannya lipstik tersebut dan kemudian dia mengambil bedak yang berada tak jauh dari tempat dia meletakkan lipstik. Dipoleskannya pelan-pelan ke pipinya. Tangannya gemetar saat melakukan hal tersebut. Jemarinya yang kemerahan sudah mulai terasa lengket dan sulit untuk digerak-gerakkan. Dengan telaten Rumi merias wajahnya sendiri dengan penerangan seadanya.

Peralatan di meja rias tersebut cukup lengkap, dan Rumi terus mencoba satu per satu dengan cara yang salah. Dirinya yang selama ini tak pernah belajar dan diajarkan cara merias wajah. Jemarinya tak fasih mengenal pelbagai peralatan kecantikan yang ada di hadapannya.

Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kebohongan. Karena di balik hitam kau akan menemukan terang.

“Aku cantik kan, Sayang?” ucap Rumi kepada lelaki yang tertidur di ranjang di belakangnya. Dia terlihat pulas berbaring tanpa busana.

Rumi bangkit dan berjalan ke arah ranjang, dan duduk di tepinya. Tangannya membelai lembut rambut kekasihnya yang kaku dan berbau amis.

“Cantikan mana, Sayang? Aku pakai make up atau aku yang tidak pakai make up?”

Jemari Rumi menyusuri lekuk wajah kekasihnya. Dia mendekatkan wajah dan mencium keningnya.

“Katamu, tanpa make up pun aku sudah cantik. Katamu, ‘tak perlu kamu berias, kamu sudah cantik. Aku cinta kamu.’”

Rumi bangkit dari tepi ranjang, lalu berjalan ke tepi ranjang yang lainnya. Saat melewati meja rias dia mengambil sebuah benda yang ada di atasnya.


“Tapi, kenapa kamu memilih dia!!” pekik Rumi. “Kalau aku lebih cantik, kamu mencintaiku, kenapa kamu berkencan dengannya!!” Dihantamkannya berkali-kali palu yang digenggamnya ke batok kepala perempuan yang tubuhnya telanjang. Dia tergolek di bawah ranjang. Paras wajahnya yang cantik sudah penuh dengan darah yang mengalir dari celah rongga kepalanya.

Rabu, 26 November 2014

Doa Untuk Kekasihku

Aku ingin menjadi cahaya, agar kamu tak tersesat, dan langkahmu aman tanpa takut tersandung, terjatuh atau bahkan terjerembab. Dulu katamu, hal yang paling mengerikan ialah terjebak dalam kegelapan, lalu kita tak tahu ke mana kaki melangkah, apa saja yang sudah kaki kita tapaki, dan tempat apa saja yang sudah kita singgahi.

Kekasih, aku ingin menjadi penerang bagimu, agar langkahmu lebih waspada dan kakimu tak terluka saat menapaki jalan kehidupan yang penuh dengan duri.

Suatu hari aku berdoa kepada Tuhan, Jadikan aku cahaya, agar kekasihku tak lagi berada di dalam kegelapan. Matanya telah menjadi cahaya bagiku, dan kini izinkan aku menjadi cahaya bagi matanya.

“Maaf selalu merepotkanmu,” ucap Gia suatu hari kepadaku.

Aku tersenyum dan mengetukkan jariku sebanyak dua kali ke telapak tangannya. Sesudah itu kami kembali berjalan tanpa peduli tatapan orang lain yang melihat kami. Sepanjang jalan aku menautkan jemariku di sela-sela jemarinya. Mengusir hawa dingin yang diam-diam memeluk sekujur tubuh kita masing-masing.

“Aku memang takut gelap, tapi setidaknya jika bersamamu, aku tidak sendirian saat menghadapinya.” Aku mendengar jelas kata-kata yang kamu ucapkan kepadaku di sore terakhir itu. Lagi-lagi aku tersenyum saat mendengarnya, lalu kuraba pipimu dan kusap pelan.

Sore itu adalah sore terakhirku bersamamu. Setelah sore itu, Tuhan memanggilku dan tidak memperpanjang kontrak roh yang menghuni tubuhku.

Entah selama beberapa hari atau beberapa minggu atau beberapa tahun aku hanyut dalam kegelapaan. Aku tidak bisa menghitung dengan pasti waktu yang sudah terlewati, sebab waktu adalah perihal yang paling tidak pernah dapat dipastikan dengan baik. Selama itu aku tak melihat apa-apa. Gelap. Akhirnya aku paham bagaimana rasanya menjadi kamu.

Kini, setelah sekian lama, aku rindu kekasihku. Tuhan, aku rindu kekasihku, izinkan aku untuk dapat melihatnya kembali. Untuk kedua kalinya aku berdoa.

Kesokan harinya, Tuhan menjawab kedua doaku secara bersamaan. Malam itu aku melihat kekasihku, Gia, baru pulang entah dari mana. Dia terlihat jauh lebih cantik dan juga dewasa. Aku melihat sekelilingku, dan mendapati diriku berada di ruang keluarga rumah kekasihku tersebut.

Tuhan mengabulkan doaku.  Aku kembali melihat kekasihku dengan cukup jelas, dan juga menjadi cahaya.


“Pa, itu chandelier kapan dibelinya? Kok aku baru lihat?” tanya Gia saat melihatku. Aku memekik girang, tubuhku bergoyang. Akhirnya kekasihku dapat melihat cahaya.

Selasa, 25 November 2014

Menunggu

Seorang lelaki muda duduk di sebuah bangku taman. Sejak tadi dia sibuk melihat pergelangan tangannya yang dilingkari oleh jam. Sudah hampir 1 jam dia menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang.

Malam ini adalah malam minggu, dan seperti layaknya pasangan kekasih pada umumnya, lelaki muda itu dan kekasihnya sudah mengatur janji untuk bertemu di taman ini.

Lelaki muda itu berdiri, dan berjalan mondar mandir mengitari bangku taman, kekasihnya tak kunjung datang. Bayang-bayang batal berkencan sudah mampir dibenaknya dan membuatnya semakin gelisah.

“Belum juga datang, Roy?” tanya seorang perempuan dengan make up tebal dengan sanggul tebal di belakang kepalanya.

Roy mendongak ke arah seberang. “Belum, Madame Marrie,” ucapnya lemah.

“Mungkin di ruang depan masih banyak tamu, dan tuan besar belum atau tidak pergi berkencan dengan nyonya besar malam ini.”

“Iya mungkin.”

“Kamu tidak ingin melihatnya?” tanya Madame Marrie.

“Ingin, tapi....” Roy mengerling ke arah samping.

Madame Marrie mengangguk paham saat melihat Tuan Leo sedang tertidur. Roy tidak bisa lewat, jika itu dilakukan, maka Tuan Roy yang pemarah akan terbangun. Ketika hal itu terjadi, hal yang tidak mengenakkan akan terjadi.

“Baiklah, biar aku saja yang melihatnya,” ucap Madame Marrie meninggalkan bingkai lukisannya dan berpindah dari satu bingkai ke bingkai lainnya hingga akhirnya dia sampai di beberapa bingkai foto yang dapat melihat ke ruang tengah.

“Lukisan yang bagus. Cantik,” gumam seorang lelaki saat memperhatikan dengan detail tubuh kekasih Roy tersebut. “Siapa dia?”


“Kekasih almarhum anakku,” ucap tuan besar kepada lelaki yang merupakan temannya sesama kolektor lukisan.

Senin, 24 November 2014

Tetanggaku Perempuan yang Paling Cantik


Tetanggaku adalah perempuan yang paling cantik. Meski dia jarang berbicara, dan tak pernah tersenyum, aku akan selalu senang memandanginya yang terlihat begitu menarik. Jika sedang tak ada pekerjaan, aku akan betah duduk berlama-lama di beranda rumahku, hanya untuk sekedar memandangi wajahnya.

Matanya. Sepasang bola matanya ialah yang membuatku rela menghamburkan waktu yang katanya begitu berharga. Aku selalu merasa senang dan tenang tiap memperhatikan sepasang mata tetanggaku itu, walau aku tahu ada begitu banyak duka yang merumah di sana.

Tetanggaku adalah perempuan yang memiliki mata paling cantik di seantero komplek perumahanku. Matanya adalah laut, tempat di mana segala kesedihan bermuara. Setiap ada orang yang memandangi matanya, maka segala kesedihannya akan terhisap ke sana. Sebab itu, aku selalu senang saat memandangi mata tetanggaku yang keruh, di sana, banyak pasang airmata yang merumah dan bermuara.

Konon katanya, tetanggaku adalah putri seorang nelayan. Setiap hari dia selalu memandangi perairan yang luas sehingga matanya yang awalnya berwarna hitam, berubah warna menjadi kebiru-biruan. Dulu, tetanggaku itu orang periang, selalu tersenyum dan boros dalam mengumbar tawa. Sepasang bibirnya tak pernah terkatup dan tertutup. Aku mendengar hal ini dari mamang penjual rokok di warung pinggir jalan yang ada di depan komplek.

“Lalu mengapa saat ini dia menjadi pemurung dan pendiam? Dan sepertinya warna bola matanya cokelat keruh.”

***

Tetanggaku adalah perempuan paling cantik. Tak ada yang menyangkal pengakuan tersebut. Dari pria muda sepertiku, hingga mamang penjual rokok yang rambutnya tak lagi ada yang berwarna hitam pun sepakat, bahwa tak ada yang menandingi kecantikan tetanggaku tersebut.
Malam ini, aku duduk asik di beranda dengan secangkir kopi dan buku kumpulan cerita karya Agus Noor yang baru saja kubeli sore tadi. Aku menunggu tetanggaku pulang.

Benar saja, ketika jarum pendek di jam tanganku menunjukkan pukul 11, tetanggaku pulang. Dia keluar dari mobil mewah yang mungkin baru bisa kubeli jika aku menabung selama 20 puluh tahun dengan gaji sesuai UMP di kota ini, atau jika aku jadi anggota dewan seperti pemilik mobil mewah tersebut.

Tetanggaku yang cantik keluar dari mobil tersebut. Malam ini dia memakai pakaian dengan punggung terbuka, belahan dada begitu rendah dan panjangnya hanya mampu menutup setengah bagian pahanya yang mulus. Aku tak tahu nama jeni pakaiannya apa, tapi yang aku tahu tetanggaku terlihat tambah cantik karenanya.

Tak lama, mobil mewah tersebut pergi meninggalkan tetanggaku yang terlihat mengumbar tersenyum palsu.  Dia duduk di beranda rumahnya, lalu menangis seperti biasa.


“Konon katanya dia terpaksa menjadi simpanan pejabat karena ayahnya mati di tengah laut karena tersapu badai saat sedang mencari ikan, dan keluarga terlilit hutang banyak. Sejak saat itu, perlahan, kedua matanya berubah warna, dari kebiruan menjadi kecokelatan.  Keruh, seperti air laut di tepi pantai atau seember airmata yang bercampur dengan make up yang luntur di wajah.”

Jodoh

sumber: http://hanyabloghanna.blogspot.com
Di sebuah persimpangan, seorang tua menemukan jodohnya. Langkahnya tertatih menyambangi perempuan yang begitu tabah menunggunya.

Cinta, ialah perkara paling bodoh yang digilai oleh banyak orang, termasuk perempuan yang sedang menunggu ini. Dia duduk di tepi jalan tempat orang-orang mati berlalu lalang, seorang diri.

Perempuan itu di sana, menunggu, terus menunggu jodohnya tiba. Seorang diri dengan puluhan pasang airmata.

"Maaf sudah menunggu lama. Terima kasih sudah menungguku," lelaki itu berkata dengan bibir yang gemetar, tak beda dengan lututnya.

Perempuan itu tersenyum, "Tak apa. Kamu terlihat lelah. Sejauh apa perjalananmu?" tanyanya sembari mengelus lengan jodohnya tersebut.

"Tak begitu jauh, hanya 7 kali putaran reinkarnasi."

Kamis, 13 November 2014

Air Manusia

Irwan tersenyum lega saat melihat bidan keluar dari dalam ruang bersalin. Bidan tersebut menggendong seorang bayi yang kulitnya masih putih kemerahan. Bayi itu tampak cantik dan kulitnya bersih.

Bayi terlahir dalam kondisi suci, dan bersih; seperti air. Air yang mengalir dari mata air selalu dalam kondisi murni dan bersih, pun begitu dengan manusia yang lahir dari mata air di rahim ibunya. Namun waktu dan proses kehidupan akan selalu dapat mencemari kemurnian tersebut.

Air mengalir dari bukit, lalu turun melalui anak-anak sungai, kemudian berjumpa dengan manusia, hewan dan tumbuhan. Lalu air tersebut bergaul dengan mereka dan tak lagi murni. Akan ada sampah yang mencemari air tersebut.

Pun juga dengan manusia. Kala bayi itu beranjak dewasa atau didewasakan waktu, ia akan bertemu dengan manusia lainnya. Kemudian kesedihan, duka, kesalahan, dosa dan dusta menjadi sampah yang senantiasa mengotori hati manusia; mencemari air yang tadinya bersih dan murni.

Seperti air, tiap manusia akan memiliki tempat perhentian terakhir. Setiap orang akan kembali kepada-Nya dalam keadaan yang tidak lagi suci, seperti air yang kembali ke laut; pulang ke tempat peristrahatan terakhirnya.

Irwan terdiam memandangi putri pertamanya, dan menggendong dengan tulus, dan berjanji agar kehidupan tak terlalu mencemari putrinya yang bersih seperti air ini.

Rabu, 12 Februari 2014

Aku Menyayangimu, Ibu.

Bagiku, ibu adalah segalanya. Matahari bagi duniaku; pusat dari segalanya. Ketika aku merasa sedih, hanya ibu yang sanggup meredakan kesedihanku dengan sekejap. Pelukannya begitu hangat, dan rengkuhan lengannya begitu pas melingkari punggungku.

Aku menyayangi ibu. Ibu selalu menenangkan gelisahku ketika aku bersedih. Ibu selalu menyemangati diriku. Acap  kali ibu memelukku, segala kesedihan menguap, berganti menjadi perasaan yang begitu hangat dan menenangkan. Bagiku, ibu adalah segalanya.

Aku menyayanginya.

***

Namun, semua itu perlahan berubah, sejak ibu mengenal lelaki tua itu.
Aku tak pernah menyukai lelaki itu. Lelaki tua yang sering mengantar ibu pulang. Lelaki paruh baya berusia hampir 50 tahun itu juga sering datang ke rumah dan mengajak ibu–dan aku–berpergian.

Aku tak menyukai lelaki tua itu.

***

Bagiku, ibu adalah segalanya. Saat ini dia sedang menangis dihadapanku, memeluk tubuh kaku lelaki tua itu. Tubuhnya sudah kaku. Aku tersenyum. Setelah ini, ibu tetap hanya milikku. Di tanganku, pisau kecilku baru saja berhasil memutus urat leher lelaki tua itu.

Aku menyayangi Ibu.

Rabu, 05 Februari 2014

Hikayat Hidup Dona


Di suatu malam yang senyap, terdengar sayup-sayup suara jangkrik dari lapangan kosong penuh semak-semak, di kejauhan, ada sepasang manusia yang duduk berhadapan dalam diam, namun saling menorehkan kesedihan.

“Itu keputusanmu?” ucap Landu memecahkan keheningan. Suara yang akhirnya memberikan bukti bahwa di sana masih ada manusia yang hidup.

Dona mengangguk mantap. Matanya dengan tegas menatap kekasihnya yang sudah menjadi mantan beberapa menit yang lalu.

“Kenapa?” tanya Landu kembali meminta penjelasan, hal yang sudah pernah diucapkan sebelumnya oleh Dona ketika mengutarakan niatnya untuk berpisah. “Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?”

Dona menggeleng.

“Lalu kenapa?”

Dona diam–menahan diri–tak menjawab satu pun pertanyaan Landu, pemuda desa yang paling keren.

“Aku sangat mencintaimu, Dona,” ucap Landu seraya memegang tangan kekasihnya yang sudah menjadi mantan itu. “Aku ingin menikahimu.”

Dona menarik tangannya dengan keras, sekeras raut wajahnya sekarang. “KALAU GITU KERJA!! HIDUP GA CUKUP DENGAN CINTA DOANG!”

Landu, pemuda pengangguran paling keren di desa ini diam menahan malu. Matanya hanya mampu menatap mantan kekasihnya itu meninggalkannya.

Rabu, 29 Januari 2014

Kirana

“Bahagiakah kamu sekarang, Kirana?” Aku bertanya kepada  seorang perempuan yang begitu aku cintai dan juga mencintaiku–kesedihanku. Malam ini, dengan sangat telaten aku menghitung waktu, mengukur rentang jarak yang berkali-kali dijalani oleh bulan untuk mengitari bumi, hingga aku bertemu denganya lagi tiap malam. Sudah empat ratus hari, bulan menyapaku tiap malam, dan menempuh jarak sejauh 2.414.050,84 km setiap harinya. Kira-kira sejauh itulah jarak yang ditempuhnya untuk menemaniku di beranda, berdiam diri memikirkanmu.

“Benarkah perhitunganku? Jika salah, beritahu aku, sebab kau lebih pintar berhitung,” kataku. Kirana adalah perempuan cerdas, berkali-kali aku salah dalam perhitungan, selalu ada selisih, dan aku ada di pihak yang salah. Seperti dahulu, satu tahun yang lalu, lagi-lagi aku kalah dalam perhitungan. Aku pikir, aku akan baik-baik saja tanpamu, tapi nyatanya tidak. “Perhitunganku meleset jauh, Kirana.”

Aku menatap bulan yang bersinar setengah, lalu beranjak ke kamar. Di bawah lemari, dengan baik aku simpan seluruh foto Kirana, termasuk foto saat dia memakai gaun pengantin dan bersanding dengan lelaki lain.

Kamis, 07 November 2013

Sebuah Puisi Untuk Bibirmu Yang Perawan



“Aku jatuh cinta.” Pernah aku mengucapkan kepadamu di suatu senja yang memesona.
“Pada siapa?” Kau mengucapkan kalimat tanya itu dengan sorot mata bahagia. Seperti seorang kekasih yang mendengar kabar kekasihnya akan kembali.
“Pada bibirmu yang perawan.” Lalu kulihat kau memandangku lesu.
“Sudahlah, jangan bercanda.” Kau berkata seolah aku pembual yang ulung. “Tolong, buatkan aku sebuah puisi. Aku ingin mendengarnya lagi.”
“Ya, andai saja ini adalah sebuah lelucon. Mungkin hal ini adalah lelucon yang akan aku tertawakan suatu hari nanti.”
“Kapan?”
“Nanti, ketika aku sudah lelah untuk menuliskan puisi untuk seorang perempuan yang tak lelah menanti kekasihnya yang tak pernah kembali.”



*Diikutsertakan dalam #FF100Kata di sini

Kamis, 30 Mei 2013

Irina, Permata dan Kotak Perhiasan

Pesawat yang mendarat dengan tidak mulus menyebabkan terjadinya sedikit guncangan berhasil membangunkan tidurku. Aku bukanlah lelaki yang mudah tertidur di sembarang tempat. Hanya saja, sejak memulai perjalanan tadi mataku sangat lelah dan tak dapat menahan kantuk.

Satu persatu penumpang bangkit dari kursi mereka dan keluar dengan teratur. Sementara aku yang masih terkantuk masih terduduk. Menunggu semua penumpang turun agar tidak berdesakan dan juga menunggu kesadaranku pulih. Sekali tembak, dua burung tertangkap. Seperti itu mungkin bunyi pepatahnya. Dari tempatku duduk aku melihat seorang wanita cantik sedang marah-marah kepada pramugari yang tak kalah cantik dengannya. Aku tersenyum-menahan tawa. Sepertinya perempuan cantik itu sedang mengalami masa datang bulan yang tidak lancar.

Setelah hampir semua penumpang sudah turun, aku baru bangun, dengan enggan, seolah berat untuk beranjak. Harus diakui, ini adalah perjalanan pesawat yang paling nyaman-diluar pendaratan tadi. Baru kali ini aku bisa tertidur disepanjang perjalanan. Biasa, mataku tak pernah dapat terpejam lebih dari 10 menit apabila sedang berada di dalam pesawat. Entahlah. Aku tidak paham mengapa selalu seperti itu. Dan hanya kali ini saja aku dapat tertidur dengan nyenyak.

Aku berjalan keluar dengan santai. Kusunggingkan senyuman kepada pramugari yang tersenyum kepadaku. Senyum pramugari yang tadi kena omel perempuan aneh itu terlihat begitu manis.

"Excuse me," ucap perempuan muda dibelakangku. Perempuan itu terlihat sangat terburu-buru, dia menggenggam erat tas miliknya dan berusaha untuk bisa turun dengan segera. Sedangkan sebelah tangannya mengamit tangan seorang lelaki 'bule'-mungkin kekasihnya-yang berjalan dengan santai. "Come on, James. Cepat!" seru perempuan itu kepada lelaki dibelakangnya.

Tanpa sadar aku menaikkan alisku saat mendengar kalimat terakhir perempuan muda itu. Awalnya kupikir dia bukanlah seorang Indonesian. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kalau ternyata sepertinya dia adalah keturunan campuran. Aku yakin sekali hal itu, terlihat dari logatnya saat melafalkan kata sudah yang begitu lancar dan tidak patah. Pasti ayah atau ibunya yang masih keturunan negeri ini.

Aku meminggirkan tubuhku, membiarkan perempuan muda itu melewatiku. "Permisi," ucap lelaki bule itu dengan logat patah yang kubalas hanya dengan anggukan kecil dan senyum.

Dari arah belakang aku melihat sepasang kekasih itu berjalan terburu-buru seperti sedang mengejar atau dikejar sesuatu. Perhatianku lebih tertuju pada tas yang dikekap erat oleh si perempuan. Sepertinya di dalam tas itu berisi benda yang begitu berharga sebab sejak tadi dia sangat menjaga tas tersebut.

Suasana bising bandara selalu menjadi hal yang menarik bagiku. Banyak orang yang lalu lalang dalam berbagai ekspresi, santai, tegas, jutek, lelah dan semacamnya. Aku berjalan mengambil kereta dorong dan menuju lokasi pengambilan kopor milikku.

Saat di conveyor belt aku berpapasan dengan perempuan-cantik-yang-sepertinya-bermasalah-dengan-menstruasinya. Dia keluar saat aku baru saja masuk. Kuanggukkan kepala sedikit sebagai pengganti salam. Perempuan itu tidak menggubrisnya. Ekspresi wajahnya datar seolah tak peduli, dan langkahnya cepat saat mendorong trolley berisi barang-barangnya.

Kemudian aku melihat lagi perempuan muda tadi dengan kekasihnya. Dia tampak gelisah menunggu barang-barangnya keluar. Lalu kulihat, dia mengangkat telepon dan kemudian menjadi semakin panik. Seolah waktunya hampir habis.

Aku mengeluarkan novel kesukaanku dari tas. Membaca saat sambil menunggu adalah hal yang biasa bagiku. The Lost Symbol karya Dan Brown menjadi temanku menunggu saat ini. Karya-karya penulis ini sangat sesuai dengan seleraku yang memang memiliki basic keilmuan Antropologi dan minat di bidang Sejarah, Misteri dan Teka-Teki.

"Sabar... Sabar!" ucap lelaki bule bernama James itu kepada kekasihnya yanh terlihat sangat resah.

Aku menutup novel The Lost Symbol yang baru l kubaca satu halaman. Minatku untuk membaca surut. Kini, aku sibuk memperhatikan perempuan muda itu. Ekspresi wajahnya yang cemas dan resah terlihat begitu menarik.

Sesaat kulihat perempuan muda itu membuka tasnya dan mengambil sebuah kotak yang terlihat seperti kotak perhiasan, namun agak berbeda dengan kotak perhiasan yang biasa. Kotak beludru itu bermotif unik, seperti sebuah symbol gambar dan angka. Hanya sekilas aku melihatnya, sebab perempuan itu kembali memasukkan kotak tersebut ke dalam tasnya.

Aku meninggalkan trolleyku dan berjalan ke arah mereka untuk meminta agar diperlihatkan kembali kotak tersebut. Walau sekilas, kotak itu mampu mencuri perhatianku. Dan aku yakin, ada yang tidak biasa di kotak tersebut.

"Permisi," ucapku menyapa perempuan muda itu. Perempuan muda itu terlihat kaget dan mengekap erat tasnya yang berisi kotak perhiasan tersebut, dia langsung bersikap defensif dan berlindung dibelakang kekasihnya.

"Itu kopor kita!" ucap perempuan itu yang kemudian diambilnya dan dimasukkan ke dalam trolley. "Ayo kita pergi sekarang." Perempuan muda itu menarik kekasihnya dan segera berlalu keluar dengan terburu-buru, meninggalkanku yang tak digubrisnya.

Aku diam memperhatikan perempuan muda itu berlalu dengan pikiran-pikiran tentang perempuan muda itu dan motif kotak perhiasan yang tidak biasa tersebut. "Hey!" teriakku kepada perempuan muda itu yang sudah menjauh saat kusadari ada yang terjatuh dari tasnya yang tidak ditutup rapat akibat terburu-buru tadi. Sayangnya, perempuan muda itu sudah sangat jauh dan tidak mendengar aku memanggilnya.

Aku mengambil secarik kertas yang terlihat seperti corat coret-bagi orang biasa-yang aku sadari bahwa ini bukanlah corat coret biasa. Kertas ini berisi coretan sebuah 'plan' yang ditulis secara acak. Daru coretan di kertas itu aku mendapat beberapa nama dan informasi. Irina, James, Andrei, Brazil, Permata dan Kotak Kode.

Pikiranku langsung tertuju pada kotak perhiasan bermotif aneh tadi. Dan naluriku pada hal berbau misteri dan teka-teki membangkitkan gairahku.

Aku segera melipat, memasukkan kertas tadi dan menyimpannya ke dalam saku celana saat seseorang menepuk pundakku, menunjuk ke arah sebuah tas berwarna biru tua, menanyai apakah itu tas milikku. Aku mengangguk kecil dan memasukkannya ke dalam trolley dan berlalu keluar sambil berharap akan bertemu perempuan muda tadi diluar.

"Excuse me, Sir." Seorang lelaki berkulit hitam menghentikan lajuku. Kemudian lelaki itu mengeluarkan sebuah foto dan menanyakan apakah aku melihatnya.

Sejenak aku terkejut saat melihat foto yang dikeluarkan lelaki iti adalah foto perempuan tadi. Di foto itu ditulis nama Irina dengan pulpen berwarna merah. Aku menggeleng lemah kepada lelaki itu-berbohong.

Kemudian lelaki berkulit hitam itu berlalu dariku, lalu dia beranjak ke orang yang lain dan menanyakan hal yang sama. Asumsi-asumsi langsung beranak pinak dalam pikiranku mengenai perempuan muda bernama Irina itu, permata dan kotaknya yang aneh itu.

Jumat, 24 Mei 2013

Gelato Untukmu

"Kamu pernah dengar dan cicipin ice cream yang namanya gelato?" Aku menaikkan alis mata saat mendengar nama jenis ice cream yang disebut oleh Sofi.

"Tidak," jawabku singkat.

Sofi menoyor kepalaku, sahabat kecilku itu mengacak rambutku yang selalu kutata dengan rapi. "Kamu payah. Katanya pecinta ice cream, masa nggak tau apa itu gelato," ucapnya seraya mencibir. "Gelato itu ice cream khas Italy. Ice cream rendah lemak dengan tekstur yang lembut. Pengin deh nyicipin itu."

"Nanti aku akan belajar untuk membuatnya. Dan kamu harus mencicipi gelato buatanku." Aku mengumbar janji kepada Sofi yang juga maniak ice cream sepertiku.

Sekelebat ingatan percakapan dengan Sofi beberapa tahun yang lalu. Percakapan yang bisa dibilang merupakan percakapan terakhirku dengannya, obrolan tak penting yang hampir setiap malam kita lakukan. Obrolan malam itu adalah yang terakhir kami lakukan sebelum beberapa hari kemudian aku harus pergi meninggalkan Sofi untuk pindah ke kota lain untuk melanjutkan kuliah disana.

"Sof, aku udah bisa bikin gelato buat kamu. Gelato rasa cokelat mint dengan taburan almond. Ini favorit kamu kan?" Suaraku bergetar dan airmataku tak kuasa menahan diri untuk menetes.

Seminggu yang lalu aku menyelesaikan studiku, dan kembali ke kota ini. Selama aku kuliah diluar kota, hampir tak pernah aku berkomunikasi dengan Sofi. Sesekali, dan biasanya percakapan yang kami lakukan hanya basa-basi dan tak lama. Enam bulan yang lalu adalah yang terakhir aku mengobrol dengan sahabat kecilku itu, setelahnya tak ada lagi. Yang membuatku bingung adalah ucapan selamat tinggal yang dia ucapkan kepadaku diakhir percakapan itu. Seperti sebuah salam perpisahan.

Seminggu yang lalu aku kembali pulang ke rumah, dan mendapati kenyataan kalau aku tidak dapat lagi berbicara dengan Sofi, seperti masa sebelum empat tahun yang lalu, obrolan yang selalu kami lakukan hampir setiap malam.

"Sofi udah nggak ada, Nak Rangga. Selama ini Sofi mengidap kanker darah, dan menyembunyikan sakitnya ke semua orang selain keluarga, termasuk kamu. Enam bulan lalu dia meninggal, tak lama kalian ngobrol untuk terakhir kalinya.

Airmataku menderas. Sore ini, dihadapan makamnya, tanganku menggenggam dua buah gelas gelato yang susah payah kubuat. Hari ini adalah hari ulang tahun Sofi.

"Sof, selamat ulang tahun. Maaf baru bisa buatin gelato ini ke kamu hari ini." Aku meletakkan sebuah gelas di atas nisan bernama Sofiah Namira bin Abdul Ghaiswarna.

Rabu, 15 Mei 2013

Gara-Gara Kacamata

Aku melihatnya sore itu di sebuah stasiun kereta. Hanya sekelebat saja, namun dia mampu mencuri perhatianku. Di tengah keramaian orang-orang yang lalu lalang, dia terlihat begitu menarik walau pandanganku tidak terlalu jelas melihatnya.

Sore ini, di stasiun kereta, aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang, aku melihatnya untuk pertama kalinya. Siapa dia? tanyaku sendiri dengan senyuman yang hanya aku sendiri yang dapat mengartikannya.

"Don, belom dateng juga?" Tiba-tiba, Rio berdiri disampingku. "Gue pikir lo udah pulang duluan."

"Belom, tumben nih telat keretanya," ucapku kepada teman sekelasku di kampus ini. "Lo sendiri tumben naik kereta. Motor mana?"

"Di bengkel," jawab Rio singkat. "Eh, kacamata lo mana?"

"Pecah. Kemarin jatoh. Gua belom sempet ke optik," ucapku kepada Rio yang berdiri disampingku sambil memakan siomay yang dibeli sebelum masuk ke dalam stasiun. Aku kembali mengarahkan pandanganku ke sosok yang sejak tadi menarik perhatianku.

":Lo ngeliatin apaan sik? Senyum-senyum aja daritadi?"

Aku mengarahkan telunjukku ke arah seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatku berdiri. "Cantik yah," ucapku berkomentar.

Rio mengerenyitkan dahinya. "Nggak salah lo, Don?" tanyanya seolah tak percaya.

Aku mengangguk. "Lo kenal? Kenalin ke gue dong."

"Lo serius?" Kembali, Rio menanyakan hal itu kepadaku yang aku jawab dengan anggukan juga. "Lo udah kenal tauk!"

Aku membelalakkan mata. "Emang iya yah? Siapa? Kenal dimana? Kapan?" ucapku memberondongkan pertanyaan kepadanya yang merupakan salah satu teman satu kelas yang sering nongkrong bersamaku. Sehingga Rio hampir pasti tau dengan siapa-siapa saja aku berkenalan.

"Yaudah yuk kita samperin," ucap Rio disertai senyuman lebar, dia menyeringai seolah ingin meledekku.

"Boleh." Aku meng-iya-kan ajakan Rio dan berjalan di belakang Rio menuju sosok yang sejak tadi membuatku penasaran. Aku menyipitkan mataku agar pandanganku menjadi sedikit lebih jelas.

Rio yang berjalan lebih dulu sudah sampai ditempat seseorang itu dan terlihat bercakap-cakap dengannya. "Nih, temen gue mau kenalan sama lo." Sekilas aku mendengar perkataan itu dari mulut temanku itu.

Aku tersenyum kecil mendengarnya. Kakiku mendekatkan diriku ke arah Rio dan orang tersebut.

"Lho, bukannya kita udah kenal yah? Lo Rio anak jurusan Sastra Belanda kan?" ucap orang itu dengan nada suara yang aneh. "Gue Ray, masa lo lupa?" ucap orang itu dengan nada suara yang dibuat-buat seperti suara wanita.

Bangsat. Ternyata orang itu adalah Ray Lazuardi, lelaki setengah jadi-jadian yang merupakan anak jurusan Sastra Prancis. Tanpa basa-basi aku segera menjauh dari Rio dan Ray. Dari arah belakangku terdengar suara Rio yang tertawa terbahak-bahak. Aku terus mengumpat sepanjang jalan menjauhi tempat Ray menunggu kereta.

Sabtu, 16 Maret 2013

Orang Yang Terlupakan

Malam ini hujan turun kembali. Aku-seperti biasa-memeluk diriku sendiri. Saat dingin menyeruak, menggigit kulit tipisku dengan kesedihan. Untungnya aku sudah terbiasa sehingga tak merasa risih sekalipun.

Di beranda rumah seseorang-yang bahkan tidak kutahu siapa pemiliknya-aku sesekali menengadahkan tangan. Merasakan rintik hujan yang kadang hampir membuatku mati. Selembar kain usang bermotif kotak-yang mungkin kalian sebut sebagai sarung-menemaniku selalu di tiap malam. Kain ini adalah yang terbaik yang kupunya-aku enggan menyebutnya sebagai satu-satunya. Beberapa bagian sobek dan terlihat lusuh, tapi inilah yang aku miliki.

Aku tertawa sesekali, walau tak tahu pasti apa yang aku tertawai. Hanya saja, aku merasa bahagia saat tertawa. Apakah untuk tertawa perlu sebuah alasan? Aku rasa tidak. Orang-orang memandangku aneh sebab kebiasaanku tertawa di saat yang tidak tepat-menurut mereka. Aku tak peduli. Menurutku, malah orang-oranng yang terlihat aneh. Mereka, seperti lupa definisi bahagia, sehingga untuk tertawa pun susah; memerlukan sebuah alasan yang logis. Ah, mungkin mereka juga lupa bahwa tidak semua dapat dilogikakan. Bahagia itu mutlak urusan hati, bukan pikiran. Bila hati tidak bahagia, niscaya, pikiran pun tak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Malam ini hujan terlihat tidak akan berhenti dalam waktu yang sebentar. Itu artinya aku akan lebih lama menemani kesedihan sang malam. Dan waktu akan terasa lebih panjang. Saat merasakan kesedihan, waktu akan terasa melambat, dan saat merasa bahagia, waktu terasa lebih cepat. Selalu seperti itu, seolah, kita diharuskan belajar untuk lebih banyak merasakan kesedihan daripada kebahagiaan. Dahulu, dahulu sekali, aku sering mendengar wejangan 'bahagia itu mahal' dari beberapa motivator yang sering kudatangi acara. Mereka dengan menggebu menjelaskan konsep bahagia dari berbagai sudut pandang dan keadaan. Begitu rumit.

Konsep bahagia itu sederhana, yaitu nikmati apa yang kamu punya dan miliki. Tapi terkadang, apa yang sudah ada terasa tidaklah cukup. Ciri khas manusia pada umumnya.

Aku beranjak, dan berjalan menyusuri jalan yang lengang. Hanya ada lampu jalan yang bersinar redup seolah enggan untuk menyala, beberapa pasang lelaki yang sibuk memproduksi asap dari mulutnya dan wanita yang sibuk mempertebal wajahnya dengan bubuk penggoda, untuk menarik perhatian lelaki kesepian yang tak tahan digoda oleh dingin malam.

Aku tertawa lagi. Hanya tertawa tanpa memikirkan apa yang aku tertawai. Dan seperti biasa, berpasang mata menghujamkan pandangannya padaku; lelaki dengan kain sarung compang camping, baju lusuh dan rambut awut-awutan kering sebab tak pernah dikeramasi sibuk membawa beberapa potong kardus sebagai alas tidurku nanti. Mereka menutup hidung saat aku lewat, dan memandang jijik, seolah aku adalah kotoran berjalan. Aku kembali tertawa. Menertawakan dunia yang sudah mulai tak waras.

Rabu, 23 Januari 2013

Kisah Sederhana Kala Senja

Matahari sudah mulai beranjak dari titik kulminasinya. Kini, sinarnya sudah mulai meredup, meninggalkan jejak-jejak kehangatan. Dan semilir angin, menambah daftar alasan untuk duduk-duduk, bersantai atau bahkan saling berbicara dengan secangkir kopi sebagai tegukan.

Sore ini, akhir pekan, seperti biasa, taman akan selalu ramai dengan orang-orang; para ibu yang menemani anaknya bermain prosotan, bapak-bapak menjelang paruh baya yang duduk beralas koran sedang sibuk memikirkan langkah permainan catur selanjutnya, bocah yang lari dengan senyum merekah sebab balon yang diinginkan berhasil didapatkan dengan cara setengah merengek, dan muda-mudi yang duduk berdua menghabiskan kebersamaan.

Aku selalu tersenyum jika sedang mengunjungi taman ini. Aura bahagia tersebar di penjuru taman, menjadi satu tempat dimana orang-orang menanggalkan kepenatan menjalani keseharian; seperti yang sering kulakulan.

Di tanganku, sudah siap kanvas kosong, pensil gambar, kuas berserta macam-macam warna cat air yang kubiarkan bertumpuk di dalam ember yang kugenggam. Kususuri jalan di taman, mencari posisi dan objek yang tepat untuk kujadikan model dadakan tanpa bayaran.

Di pojok taman, di bawah lampu penerang yang belum menyala lampunya, aku melihat seorang wanita yang sedang bersandar pada tiang. Wajahnya terlihat cemas-menunggu seseorang, terbukti dari intensitasnya melirik ke jam tangan yang dikenakannya di pergelangan tangan kiri. Aku tersenyum melihat tingkah polahnya.

Aku memundurkan langkah, menjaga jarakku agar tak disadari oleh wanita itu bahwa sedang ada aku yang memperhatikannya; mengagumi dirinya.

Kuambil pensil yang tak lancip ujungnya dari dalam ember. Kugoreskan, dan kubuat sebuah sketsa siluet wanita tadi. Jemariku dengan lincah menggoreskan pensil dan menghasilkan garis-garis yang kemudian menjadi siluet tubuh wanita itu. Angle dan pencahayaannya begitu pas.

Jika aku bukan seorang pelukis, melainkan seorang fotografer, aku takkan melewatkan moment itu. Cahaya matahari yang sudah menjingga jatuh menimpa kepal wanita itu, dan menghasilkan sebuah bayangan panjang yang bercampur dengan bayangan tiang. Dalam benakku, image yang terbayang begitu indah dan sempurna. Tapi, bukankah yang indah dan sempurna hanya memang ada di dalam benak saja.

"Kamu kemana aja? Sudah disini dari kapan? Kenapa nggak bilang-bilang?" Wanita tadi berbicara. Nada suaranya terdengar cemas dan kesal pada saat yang sama. Wanita itu berjalan menuju tempat orang yang menjadi lawan bicaranya tadi.

Aku tersenyum mendengarnya. Jemariku masih asik menggoreskan mata pensil di kanvas, dan sesekali kusapu, untuk menimbulkan efek bayangan dan gradasi tertentu.

"Aku sudah bosan menunggu, aku kira kamu ga bakal jadi datang." Wanita itu mulai mengeluarkan isi kekesalannya.

Aku tersenyum lagi mendengar perkataan wanita tersebut. Saat sketsa gambar siluet sudah selesai kubuat, kugeser papan penyangga kanvas, agar wanita yang duduk di sampingku dapat melihatnya dengan jelas.

Bola mata wanita itu membulat, binar mata terlihat lebih hidup.

"Selamat ulang tahun, Sayang. Ini hadiah untukmu," ucapku kepada wanita yang sejak tadi menunggu kedatanganku di bawah tiang lampu penerangan taman.

Di tangan wanita tersebut, di kanvas yang dipegangnya, ada sebuah silet tubuhnya sendiri yang kubuat secara kilat.

Langit makin menggelap, di ujung cakrawala, matahari mulai menenggelamkan dirinya. Sore ini terasa begitu indah dan membahagiakan. Sesekali, tiupan angin sepoi menerbangkan rambut-rambut kecil di belakang telinga; menguarkan suasana yang begitu nyaman.

Wanita itu mengamit telapak tanganku, digenggamnya erat. Kekasihku itu menatap ke arahku, menantang kedua bola mataku. Lalu dia tersenyum. Hal yang membuatku ikut tersenyum sendiri. Hal yang selalu membuatku bahagia saat melihatnya tersenyum. Senyuman adalah cara paling mudah untuk menambah kebahagiaan.

Dan sebuah kecupan hangat yang singkat di bibir menjadi penutup sore yang indah. Sore yang terasa begitu hangat; di dada dan hati. Sore di kala senja yang selalu kusempatkan di tengah rutinitas sehari-hari.

Seperti itulah perayaan ulang tahun kekasihku. Sederhana. Hanya aku dan dia. Dia mengapit erat lenganku. Kami duduk di bangku taman, menghabiskan waktu, menatap senja, hingga benar-benar habis dan digantikan malam.