Senin, 24 November 2014

Tetanggaku Perempuan yang Paling Cantik


Tetanggaku adalah perempuan yang paling cantik. Meski dia jarang berbicara, dan tak pernah tersenyum, aku akan selalu senang memandanginya yang terlihat begitu menarik. Jika sedang tak ada pekerjaan, aku akan betah duduk berlama-lama di beranda rumahku, hanya untuk sekedar memandangi wajahnya.

Matanya. Sepasang bola matanya ialah yang membuatku rela menghamburkan waktu yang katanya begitu berharga. Aku selalu merasa senang dan tenang tiap memperhatikan sepasang mata tetanggaku itu, walau aku tahu ada begitu banyak duka yang merumah di sana.

Tetanggaku adalah perempuan yang memiliki mata paling cantik di seantero komplek perumahanku. Matanya adalah laut, tempat di mana segala kesedihan bermuara. Setiap ada orang yang memandangi matanya, maka segala kesedihannya akan terhisap ke sana. Sebab itu, aku selalu senang saat memandangi mata tetanggaku yang keruh, di sana, banyak pasang airmata yang merumah dan bermuara.

Konon katanya, tetanggaku adalah putri seorang nelayan. Setiap hari dia selalu memandangi perairan yang luas sehingga matanya yang awalnya berwarna hitam, berubah warna menjadi kebiru-biruan. Dulu, tetanggaku itu orang periang, selalu tersenyum dan boros dalam mengumbar tawa. Sepasang bibirnya tak pernah terkatup dan tertutup. Aku mendengar hal ini dari mamang penjual rokok di warung pinggir jalan yang ada di depan komplek.

“Lalu mengapa saat ini dia menjadi pemurung dan pendiam? Dan sepertinya warna bola matanya cokelat keruh.”

***

Tetanggaku adalah perempuan paling cantik. Tak ada yang menyangkal pengakuan tersebut. Dari pria muda sepertiku, hingga mamang penjual rokok yang rambutnya tak lagi ada yang berwarna hitam pun sepakat, bahwa tak ada yang menandingi kecantikan tetanggaku tersebut.
Malam ini, aku duduk asik di beranda dengan secangkir kopi dan buku kumpulan cerita karya Agus Noor yang baru saja kubeli sore tadi. Aku menunggu tetanggaku pulang.

Benar saja, ketika jarum pendek di jam tanganku menunjukkan pukul 11, tetanggaku pulang. Dia keluar dari mobil mewah yang mungkin baru bisa kubeli jika aku menabung selama 20 puluh tahun dengan gaji sesuai UMP di kota ini, atau jika aku jadi anggota dewan seperti pemilik mobil mewah tersebut.

Tetanggaku yang cantik keluar dari mobil tersebut. Malam ini dia memakai pakaian dengan punggung terbuka, belahan dada begitu rendah dan panjangnya hanya mampu menutup setengah bagian pahanya yang mulus. Aku tak tahu nama jeni pakaiannya apa, tapi yang aku tahu tetanggaku terlihat tambah cantik karenanya.

Tak lama, mobil mewah tersebut pergi meninggalkan tetanggaku yang terlihat mengumbar tersenyum palsu.  Dia duduk di beranda rumahnya, lalu menangis seperti biasa.


“Konon katanya dia terpaksa menjadi simpanan pejabat karena ayahnya mati di tengah laut karena tersapu badai saat sedang mencari ikan, dan keluarga terlilit hutang banyak. Sejak saat itu, perlahan, kedua matanya berubah warna, dari kebiruan menjadi kecokelatan.  Keruh, seperti air laut di tepi pantai atau seember airmata yang bercampur dengan make up yang luntur di wajah.”

4 komentar:

  1. Danis, masih kurang padet untuk FF :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. kurang padet? Beklah... masih nyari cara nulis yang pas buat ff. :D

      Hapus
  2. terlalu banyak deskripsi, Danis. way to go! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terlalu banyak deskripsi ya Kak Vanda? :| Okelah... *catat di notes*

      Hapus