Senin, 16 Desember 2013

Sebatang Pohon dan Tukang Kayu

Aku mengingatmu sebagai sebatang pohon yang penuh goresan kala aku menemukanmu sore itu, di tengah belantara kota ini. Daunmu rindang, menawarkan teduh kala di dekatmu, namun, seperti ranting di musim kemarau, kau begitu rapuh kala angin menghempaskan dirinya ke arahmu.

Aku akan selalu mengingatmu sebagai sebatang pohon yang koyak oleh hujan. Hal yang seharusnya membahagiakan, justru menggoreskan satu per satu duka di dalam hatimu. Dan aku, laiknya tukang kayu yang tak rela melihat sebatang pohon hanya menjadi sebatang pohon yang sia-sia. Sebab itulah, aku berusaha membentukmu, dari sebatang pohon yang terluka menjadi hal lain yang lebih indah.

Aku pandai membuat, sayangnya tak dianugerahi kemampuan mempertahankan yang sama mumpuni.

Setiap hujan, aku selalu mengingatmu sebagai sebatang pohon yang kuyup oleh kesedihan, dan aku pelan-pelan menghilangkan bagian itu satu per satu dari tubuhmu. Lalu membuatnya menjadi sebuah pajangan yang menghiasi ruang tamuku, kursi yang menemaniku nenghabiskan waktu di sore hari untuk membaca dan ranjang yang setia menerima tubuhku tiap malam.

Hal-hal itu akan selalu kembali dalam pikiranku saat gerimis mulai turun dan menggemericikkan sunyi. Adakah kau mengalami hal seperti itu?

Aku selalu menjadi pemenang dalam hal membuat tapi selalu kalah dalam mempertahankan. Seperti malam itu, ketika hujan tiba, kau lebih memilih menempati ruang tamu yang lain, menemani orang lain duduk berlama-lama denganmu dan menerima rebah tubuhnya tiap malam, bukan aku.

Semoga, hanya aku yang menjadi tukang kayu yang jatuh cinta kepada sebatang kayu yang koyak oleh hujan, lalu membentuknya menjadi furniture yang lebih menginginkan menjadi pemanis di rumah yang lain.

Ditinggalkan Untuk Menyusul

Waktu berjalan, dan akan tetap seperti itu. Tak peduli aku, kamu atau pun kita berhenti sejenak atau berjalan pelan, waktu akan tetap berjalan dengan caranya dan jalurnya sendiri. Layaknya sebuah kereta yang  memiliki jalur sendiri, bedanya tak ada yang bisa menghentikannya.

Seperti yang sudah terjadi, kini, tahun akan segera berganti lagi. Dan aku pun akan selalu mengatakan, waktu yang berjalan terlalu cepat, sementara para sahabat berkata kepadaku bahwa aku yang terlalu lambat. Ya, kadang dalam beberapa hal segalanya perlu dinikmati, termasuk waktu. Bukan untuk terlalu bersantai dan bermalas-malasan, tapi untuk sekedar berhenti sejenak, mengambil nafas agar tak mati dalam rutinitas yang pasti akan membosankan bila tak diberi jeda.

Tahun ini aku ditinggalkan oleh banyak teman dan beberapa sahabat dalam hal pendidikan. Satu per satu mereka sudah menyelesaikan dan akan segera menyelesaikan studinya tahun ini. Sementara aku, baru saja akan memulainya. Ditinggalkan? Mungkin itu yang terasa, bila sisi melankolis dalam diriku muncul ke permukaan dan membuat pikiranku berpikir akan hal-hal yang terlalu mengedepankan perasaan.

"Kapan skripsi lo beres?" Kalimat itu adalah hal yang sering ditanyakan ketika bertemu kembali orang-orang yang meninggalkanku, dan biasanya aku hanya menjawab: "Tenang aja, gua akan baik-baik aja walau telat juga." Mungkin kalimat itu akan terdengar sebagai defense paling dasar yang dilakukan oleh orang dengan posisi terpojok, seperti aku.

Setiap orang memiliki alasan atas apa yang dilakukan, begitu pun aku. Bukan untuk bermalas-malasan dan membuang waktu saja, aku menikmati waktu. Mengendurkan pikiranku agar menjauh sejenak dari tumpukan buku, jurnal dan kajian-kajian teori.

Seorang sahabat yang paling paham dengan pola pikirku pernah berkata, "Tenang aja, lo ga sendirian, gua juga bakal telat kok," ucapnya dengan tawa meledek dan aroma tembakau yang menguar dari mulutnya.

Dia benar, dan memang faktanya dia memang akan telat, dengan alasan yang berbeda tentunya.

Banyak teman yang meninggalkanku, namun beruntung ada beberapa sahabat yang masih sudi berbalik dan sekedar menyatakan dukungannya: "Kalau butuh bantuan nyari data dan ngolahnya, kabarin aja." Dan bagiku, saat ini aku sedang ditinggalkan untuk menyusul mereka.

Rabu, 04 Desember 2013

Losing Family

Tahun berjalan cepat, atau aku yang terlalu menikmatinya hingga tak menghiraukan hari yang berganti, dan tahu-tahu saja, Desember dengan musim hujannya sudah kembali menyapaku.

Aku menggilai hujan, dan kurasa beberapa orang yang telah lama mengenalku sudah mengetahuinya tanpa perlu kusebut berulang kali. Tapi aku akan menyebutkan hal itu kepada orang-orang yang baru mengenalku, bahwa, hujan ialah moment dengan suasana paling romantis, selain moment saat senja tentunya.

Di tahun yang berjalan cepat namun terasa lambat ini aku tetap menjalani siklus kehidupan, bertemu dengan orang-orang baru, pun juga berpisah dengan beberapa orang yang sudah lama kukenal.

Tahun ini aku mengenal banyak orang baru, dan juga berpisah dengan beberapa orang lama. Berpisah bukan dalam arti benar-benar tak bertemu, tapi berpisah dalam arti tak lagi berkomunikasi seperti sebelumnya.

Salah satunya, ialah perempuan penggerutu berkacamata bingkai warna cokelat yang kukenal beberapa tahun terakhir. Dia adalah teman diskusi bacaan yang menarik. Walau kadang selera bacaan kita tak sama, tapi selalu ada yang bisa dibicarakan, apa saja, termasuk mengenai pertemuan dan perpisahan.

Dia pernah berkata, betapa dia begitu membenci sebuah perpisahan. "Apalah arti pertemuan bila hanya untuk sebuah perpisahan," ucapnya dulu kepadaku yang tak mampu berikan jawaban yang tepat.

Tahun ini, perempuan penggila lelaki berkacamata itu menemukan lelaki berkacamata yang menjadi kekasihnya lalu perlahan meninggalkan dan merenggangkan jarak denganku. Kini, aku tahu jawaban yang tepat untuk pertanyaannya: "Adanya pertemuan ialah untuk menciptakan kenangan sebelum akhirnya terjadi perpisahan."

Bagi banyak orang, keluarga ialah mereka yang bertalian darah. Ya, tapi bagiku, orang-orang yang tak bertalian darah denganku, namun bertalian emosi, juga keluarga bagiku. Dan, rasanya kini aku kehilangan salah satu anggota keluargaku.

"Kapan kita duduk bersama lagi setelah puas berkeliling melihat pameran buku, dan kita membahas buku apa saja yang kita inginkan, tapi tak bisa kita dapatkan, sambil sesekali mengagumi indahnya senja, dan magisnya aroma hujan?"

Kamis, 07 November 2013

Sebuah Puisi Untuk Bibirmu Yang Perawan



“Aku jatuh cinta.” Pernah aku mengucapkan kepadamu di suatu senja yang memesona.
“Pada siapa?” Kau mengucapkan kalimat tanya itu dengan sorot mata bahagia. Seperti seorang kekasih yang mendengar kabar kekasihnya akan kembali.
“Pada bibirmu yang perawan.” Lalu kulihat kau memandangku lesu.
“Sudahlah, jangan bercanda.” Kau berkata seolah aku pembual yang ulung. “Tolong, buatkan aku sebuah puisi. Aku ingin mendengarnya lagi.”
“Ya, andai saja ini adalah sebuah lelucon. Mungkin hal ini adalah lelucon yang akan aku tertawakan suatu hari nanti.”
“Kapan?”
“Nanti, ketika aku sudah lelah untuk menuliskan puisi untuk seorang perempuan yang tak lelah menanti kekasihnya yang tak pernah kembali.”



*Diikutsertakan dalam #FF100Kata di sini

Minggu, 27 Oktober 2013

Nasehat Ibu Kepada Anaknya

Suatu hari nanti, anakku
Jika tiada lagi tersisa masa kanakmu
Lalu menjadi dewasa dan tua ialah hukum yang tak dapat kau lawan
Ingatlah nasehat ibumu ini:

Kala kau memberikan cinta dan kesetiaan kepada seorang wanita
Dan dia mengkhianatinya
Janganlah kau jadi membenci rasa cinta dan tak setia

Kala kau memberi kepercayaan kepada sahabatmu
Dan ia merusaknya
Janganlah kau menjadi tak percaya kepada orang lainnya

Kala kau berbuat baik dan memberikan ketulusanmu kepada mereka yang membutuhkan
Dan mereka melupakanmu kelak
Janganlah kau menjadi pelit hati dan mengacuhkan orang yang membutuhkan lainnya

Anakku, suatu hari kelak
Kau akan menjadi dewasa lalu menua
Sepasang matamu akan melihat banyak noda
Sepasang tanganmu akan berlumuran kotoran
Sepasang telingamu akan mendengar cacian
Dan hatimu yang satu akan mendapat tikaman

Bila kelak nanti kamu menjadi dewasa lalu menua
Ingatlah anakku
Dulu, kau pernah merasakan masa kanak-kanak yang lepas

Sepasang sayap pernah ada di bahumu
Siap membawamu terbang tanpa takut terjatuh
Tanganmu begitu ringan untuk membantu teman-temanmu yang menangis karena terjatuh
Mulutmu tak pernah pelit mengeluarkan tawa

Kelak, ketika hal itu tiba
Ingatlah nasehat ibu
Tetaplah menjadi kanak-kanak

Sabtu, 19 Oktober 2013

Kepada Dia, Ingin Kusampaikan Hal, Yang Hanya Sanggup Tertuliskan Dalam Kata

Ada yang lebih tak sederhana dari kata-kata
Ialah pikiran yang menolak untuk digetarkan lidah

Aku bukan penyuara ulung
Dan selama ini jemariku lebih tau caranya bekerja daripada lidah
Sebab itu, aku lebih fasih berkata-kata daripada bersuara

Suatu hari di jelang petang yang entah kapan
Di sebuah perempatan lampu merah
Di antara deretan mobil mewah
Aku melihat dia, orang yang hidup dari belas kasihan

Dulu, saat aku masih setia menduduki bangku kayu usang yang enggan diganti
Guruku yang berkacamata dengan sebelah tangkainya yang patah berkata
Untuk apa kenyang apabila hati tak tenang

Aku mengingatnya dengan jelas dan terasa segar
Seperti segelas es jeruk yang kuminum saat ini

Ingin rasanya aku bersuara kepada dia
Orang yang saban hari menjilat ludah dan lidahnya
Bersuara, tak hanya berkata
Mengucapkan kalimat sederhana yang diucapkan guruku yang tak kalah sederhana
Kepada dia, orang yang selama ini menghidupiku, bahwa:
Buat apa kenyang apabila hati tak tenang.

Rabu, 28 Agustus 2013

Kepada Perempuan Pertamaku

Tahukah kamu, bahwa aku masih mengingatmu?
Senyummu, ialah hal yang tak akan pernah lenyap dan lesap di pikiranku.

Katamu dulu, setiap manusia memiliki memori yang terbatas
Apa yang terjadi di masa lalu akan terlupa pelan-pelan, dan kenangannya akan memudar perlahan
Dengan pasti, tanpa disadari

Kepada perempuan pertamaku
Mungkin kamu sudah lupa, pada senja di pinggir jalan tempo dulu
Ketika kita saling berdiri dalam diam
Menunggu datangnya bis umum yang akan mengantarmu pulang
Lalu sebuah kalimat terucapkan dari lidahku yang bergetar dan tubuhku yang keringatan

"Saya menyukaimu. Bukan oleh kecantikanmu, sebab kamu tidaklah cantik. Bukan oleh kebaikanmu, sebab ada yang lebih baik darimu. Hanya saja, saya menyukaimu, bukan kepada yang lain."

Mungkin kamu lupa, pada kata yang menjadi awal dari kita
Menjadi kait yang mengikat janji yang aku ucapkan
Untuk menjaga senyummu terus terkembang dan mengembang

Aku masih jelas mengingatmu
Sebab, kuletakkan ingatan itu di dadaku
Dalam sebuah ruang di salah satu bilik jantungku
Agar tiap kali aku menghirup udara, kau selalu terkenang

Maka itu, biarkan aku mengingatmu
Dalam sebuah ruang yang tak pernah ada tanda tanya atau celah untuk melupakanmu.

Jumat, 23 Agustus 2013

Puisi dan Doa Untuk Hujan di Sore Hari

"Masihkah kamu menulis puisi, dan berdoa setiap pagi, agar hujan turun sore hari?"
Aku masih ingat pertanyaan darimu tempo hari

Kemarin ilu terasa di gigi
Membelit lidah hingga tak mampu berkata
Pada akhirnya aku diam hingga kau pergi
Dan kulihat punggungmu dibayangi senja

Mungkin kau lupa, bahwa aku tak pernah lupa
Puisi ialah doa
Seperti yang dulu kau kata
Yang menggumamkan asa, dan menghapus dosa; yang kita buat dahulu kala.

Aku tak pernah berhenti menulis puisi
Pun juga doa agar hujan turun di sore hari

Di mana aku menulis puisi? Kamu tahu?
Di sini! (jemariku)
Di sini! (dadaku)
Di sini! (jantungku)
Di sini! (pikiranku)
Aku menulis puisi di manapun aku dapat menemui sepi, kamu tahu?

Lalu, tahukah kamu alasan aku berdoa tiap pagi?
Aku, berharap hujan turun di sore hari
Agar pilu, yang selalu hadir di tiap pagi
Dapat melarungkan sendu, bersama hujan dan senja di sore nanti

Senin, 19 Agustus 2013

Menulis Takdir

Pada akhirnya, merasa sendiri adalah hal yang pasti akan dirasakan oleh siapapun, tanpa terkecuali. Sore ini, kala matahari sudah ingin mengundurkan diri dan akan berganti. Aku diam menikmati angin yang bertiup semilir. Tenang. Waktu seperti berhenti saat semburat jingga yang hangat dapat dinikmati pelan-pelan.

Sore ini, seperti sore yang biasanya pada hari-hari sebelumnya. Matahari masih jingga, saat akan terbenam dan sinarnya redup seperti cahaya hati yang sedang berlayar lalu karam. Kecuali aku. Hanya aku yang merasa sore ini begitu berbeda.

"Tumben kamu ada disini? Sedang berjalan-jalan atau...?" tanyaku dengan nada menggantung. Dihadapanku berdiri seorang lelaki yang mengenakan kemeja biru gelap yang senada dengan celana jeans yang dikenakannya.

"Ehem," lelaki itu berdeham dan membenarkan posisi kacamata yang sedikit merosot dari letaknya. Hidungnya yang tidak mancung selalu membuat posisi kacamata lelaki ini turun. Sebuah hal yang menjadi kebiasaan untuknya. "Jadi gini, aku akan menikah," ucapnya tanpa berbasa-basi.

"Lalu?" tanyaku dengan nada biasa.

"Aku mau kamu datang," ucapnya menyerahkan sepucuk undangan dengan foto dirinya dengan calon istrinya.

"Mau atau harus?"

"Engg, terserah kamu menganggapnya gimana. Hanya saja, aku merasa harus mengundangmu dan aku pun ingin kamu datang." Lelaki itu duduk di sampingku, menatap dan tersenyum kepadaku.

"Calon istrimu cantik, Dim," ucapku seraya membalas senyumannya.

Dimas kembali membetulkan posisi kacamatanya yang kembali merosot. "Ya, kamu juga cantik. Dan pintar."

"Hey, jangan goda aku. Bulan depan kamu menikah." Aku melemparkan kartu undangan ke arahnya. Lelaki itu tertawa pelan, pun juga denganku.

"Tapi itu jujur. Andai saja dulu orangtua kita masing-masing tidak menentang hubungan kita..." Ucapan Dimas terhenti sejenak. "Mungkin nama kamu yang ada di dalam kartu undangan itu, bersanding di sebelah namaku."

Aku menatap lurus paras lelaki itu. Rambutnya sudah tertata rapi, tidak lagi gondrong saat masih bersamaku. Dan juga sikapnya lebih formal. "Sudahlah. Masa lalu," ucapku seraya mengibaskan tangan. "Dan sepertinya..." Aku melirik ke kartu undangan. "Sheila sukses membuat dirimu lebih baik. Kamu yang sekarang jauh lebih rapi."

"Ya terlihat baik secara formal, walau aku tidak terbiasa. Aku lebih senang..."

"Menggunakan celana selutut, dengan baju kaos serta gelang-gelang tali yang selalu kamu kenakan di pergelangan tangan kirimu," aku memotong ucapan Dimas. Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Hingga sekarang, aku tidak lupa selera berbusananya yang begitu biasa.

Dimas tesenyum lebar. "Ya, dan tak lupa ini." Lelaki itu memegang rambutnya. "Capek kalau tiap bulan pergi ke tukang cukur rambut."

"Ya, rambutmu memang cepat sekali memanjang."

Hening menengahi obrolanku dengan Dimas. Dimas diam, sepertinya dia sedang mencari topik yang bisa dibicarakan.

Bertemu kembali dengan seseorang yang dulu selalu ada di sampingmu, setelah pertidaktemuan yang cukup lama, bisa membuatmu seperti orang bodoh yang tidak tahu ingin membicarakan apa. Itulah yang terjadi denganku dan Dimas saat ini.

"Masih sibuk menulis?" tanya Dimas membuka topik obrolan lagi.

"Ya masih."

"Aku masih ingat percakapan pertama kita. Kira-kira suasananya seperti ini kan?" tanya Dimas kembali.

Aku mengarahkan pandanganku kepada lelaki itu lagi. Dan mengingat-ingat saat pertama berkenalan dengannya, lalu sadar bahwa yang dikatakan Dimas benar. "Ya, sore hari, dan di sebuah taman. Hanya saja, lokasinya saja yang berbeda, walau sama-sama sebuah taman."

"Masih ingat apa yang kamu ucapkan kepadaku saat aku bertanya, apa alasanmu menulis?" Dimas menatapku lekat.

"Menulis takdir. Aku menulis tentang sesuatu yang ada di dalam pikiranku. Semoga apa yang kutulis menjadi takdir yang akan kutemui nantinya. Sebabnya itu aku selalu menulis hal-hal yang manis," ucap kami bersamaan. Aku cukup terkejut bahwa dia masih mengingat jawaban itu. Jawaban yang aku ucapkan kepada siapapun yang menanyakan alasanku menulis.

Kami saling menatap. Lalu tiba-tiba saja aku dan Dimas tersenyum, kemudian tertawa bersama.

"Ya... Ya... Sayangnya tidak selalu seperti itu," ucapku seraya membereskan laptop ke dalam tas.

"Maksudnya?" tanya Dimas dengan mimik wajah heran.

"Aku selalu menulis sesuatu yang manis, berharap itu menjadi takdir yang manis juga. Ya, sayangnya tidak selalu seperti itu. Kamu akan menikah bulan depan, dengan perempuan lain," ucapku dengan nada penekanan di kalimat terakhir. "Dan itu bukan takdir yang aku inginkan, sebenarnya." Aku bangkit dari bangku taman yang sudah kududuki sejak tadi. "Selamat, semoga pernikahan kalian nanti bahagia. Dan sepertinya aku tidak akan datang. Terima kasih untuk undangannya." Aku menyerahkan kembali sepucuk kartu undangan pernikahan itu kepada Dimas.

Aku melambaikan tangan kepada mantan kekasihku itu. Lelaki yang menemaniku selama hampir sewindu lamanya. Lelaki yang awalnya kupikir takdirku. Kadang memang seperti itu, aku hanya dapat berharap dia takdir kepadaku. Takdir yang manis. Sayangnya, takdir tidak dapat kita tentukan sendiri.

Jumat, 16 Agustus 2013

Tiga Senjata

"Setiap orang punya jodohnya masing-masing. Dan tidak setiap wanita cantik akan mendapatkan jodoh lelaki rupawan. Pun sebaliknya, lelaki yang tidak rupawan bukan berarti tidak bisa mendapatkan pasangan seorang wanita yang cantik."

Aku dengan seksama mendengarkan penjelasan seorang motivator yang berdiri di depan panggung. Memakai jas hitam dan celana bahan dengan warna senada. Motivator itu berjalan bolak-balik dari sudut panggung satu ke sudut panggung yang lain. Materi kali ini adalah tentang masalah percintaan dan jodoh.

"Tidak ada orang yang tidak memiliki jodohnya. Tuhan menciptakan manusia untuk hidup berpasangan. Jadi tidak ada seorang pun yang tidak memiliki pasangan, kecuali dia tidak menginginkannya atau dia tidak berusaha mencarinya."

"Lho, katanya tadi tiap orang punya jodohnya masing-masing, Pak. Lalu untuk apa lagi jodoh itu dicari?" Tiba-tiba salah seorang peserta mengacungkan jari dan melontarkan pertanyaan.

Motivator itu berhenti mondar-mandir, dan kini berdiri tepat di bangku peserta yang tiba-tiba bertanya tadi. Motivator itu tersenyum. "Walau jodoh sudah disiapkan oleh Tuhan, jika kamu tidak mencarinya dan berkenalan dengannya, bagaimana kamu bisa tahu dia itu jodoh kamu atau bukan? Lagipula, kalau kamu diam saja, tidak mencari, bagaimana mungkin kamu bertemu jodoh kamu?"

"Pak, tadi bapak bilang, bisa saja lelaki yang tidak rupawan berjodoh dengan wanita cantik? Bagaimana caranya, Pak? Apa harus kaya raya dulu baru bisa berjodoh dengan wanita cantik?" tanya seorang peserta lain yang duduk di sisi kanan panggung.

"Kenapa tidak?" Motivator itu berdeham sesaat. "Harta bukan syarat mutlak untuk mendapatkan hati wanita. Harta penting tapi bukan segalanya. Ada tiga senjata yang harus dimiliki oleh seorang lelaki untuk memikat hati wanita. Wanita manapun, mau wanita yang cantik, pintar, baik, sederhana atau wanita yang memiliki semua karakter itu. Semuanya bisa."

"Apa itu, Pak?" tanya peserta lainnya.

"Sikap, Sayang dan Setia."

"Maksudnya?"

"Lelaki yang memiliki sikap, penyayang dan tentu saja setia akan selalu dicari oleh para wanita. Memiliki harta lebih dan rupawan adalah paket pelengkap yang dicari. Walau tanpa menjadi lelaki rupawan pun, dengan tiga senjata tadi dapat memikat hati wanita manapun. Wanita yang baik tentunya." Motivator itu melemparkan senyuman kepadaku.

Aku tersenyum dan berkedip kepada Motivator itu. Perawakan Motivator itu sebenarnya biasa saja. Tidak rupawan pun juga tidak memiliki tubuh yang tinggi dan atletis. Dan sepertinya dia tidak bergelimang harta Hanya saja, pesonanya terlihat kuat. Auranya seperti memancar terang. Membuatku terkesima tiap kali melihatnya.

"Sepertinya kamu lupa satu hal, Pak. Tiga senjata seperti itu tidak hanya membuat lelaki dapat memikat hati perempuan," ucapku seraya membenarkan posisi dudukku.

"Kamu apa sih, Rudi? Kok ngomong sendiri gitu?" ucap Laina, sahabat perempuanku yang juga ikut menjadi peserta.

Lima Menit Kemudian

Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Satu menit kemudian, lima menit, sepuluh menit, satu jam atau beberapa bilangan waktu kemudian. Selalu ada sesuatu yang terjadi di luar perkiraan. Selalu.

Perkenalkan, namaku Nino. Beberapa menit yang lalu aku baru saja menghubungi kekasihku, Nayla. Mengabarkannya aku baru akan bergegas pulang dari rumah seorang teman. Rencananya, sesampainya di rumah aku akan segera tidur dan bangun keesokan harinya. Sebab besok aku sudah menyusun beberapa jadwal kegiatan, pergi bersama Nayla ke kampus untuk mengambil baju toga untuk acara wisuda yang akan diadakan dua hari kemudian.

Begitulah rencana yang sudah kubuat untuk beberapa hari ke depan. Seharusnya, semuanya berjalan lancar sesuai dengan perkiraanku. Setelah menutup telepon aku menghidupkan motorku dan melajukannya dengan normal. Biasanya, dari rumah Sony-temanku-sampai ke rumahku hanya memakan waktu sekitar 10 menit jika kulajukan motor dengan kecepatan tinggi, atau sekitar 15 menit jika dengan kecepatan pelan.

"Hati-hati di jalan, Sayang." Begitulah ucapan terakhir Nayla kepadaku sebelum kuakhiri percakapan dan kututup sambungan telepon.

Seperti itulah kira-kira perencanaan yang sudah kubuat. Dan seharusnya semua perencanaanku akan berjalan dengan tepat andai saja ban motorku tidak kempes mendadak, membuat ban motor goyang dan tergelincir di jalanan yang masih basah sisa hujan beberapa jam yang lalu. Aku terjatuh, lebih tepatnya terlempar dari motor, dan helm yang kugunakan terlepas lalu kepalaku menghantam trotoar jalan. Tak lama kemudian mataku terpejam, seperti hilang kesadaran.

Lima menit kemudian aku tersadar. Aku melihat beberapa orang berkerumun, beberapa orang lainnya mengangkat sepeda motorku yang terlempar jauh ke sudut jalan yang lain. Kemudian tak berapa lama kemudian datang seorang berpakaian polisi. Dia menginstruksikan orang-orang yang berkerumun untuk mengangkat tubuh korban kecelakaan itu, dan itu aku. Lalu polisi tersebut merogoh beberapa kantung celana dan jaketku, mengambil ponselku. Kulihat polisi tersebut membuka kotak daftar panggilan terakhir dan menghubungi nomor terakhir yang aku hubungi. Nayla.

"Halo, selamat malam," ucap polisi tersebut dengan nada suara yang tegas.

"Halo, selamat malam? Ini siapa yah? Kenapa suaranya bukan suara Nino?" Terdengar suara Nayla yang sepertinya bingung.

"Halo, Mbak Nayla. Mbak Nayla ini siapanya pemilik ponsel ini ya? Apakah Mbak Nayla keluarganya?" tanya Polisi itu kembali.

"Bukan, Pak. Saya pacarnya. Ada apa dengan pacar saya yah, Pak?" Nada khawatir terdengar jelas dari balik speaker phone.

"Saya Bambang Cahyono dari kepolisian sektor Tanah Abang ingin mengabarkan bahwa pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan tunggal, dan meninggal di tempat. Jenasah akan dirujuk ke rumah sakit terdekat. Mohon diberitahukan kepada keluarga korban. Selamat malam." Panggilan ditutup, dan ponselku kembali dimasukkan ke dalam saku celana.

Tak lama kemudian mobil pengangkut jenasah datang dan mengangkut tubuhku ke rumah sakit yang sering kulewati setiap kali pulang dari rumah Sony. Bunyi sirine, angin malam dan bau jalanan yang masih basah oleh sisa hujan terasa begitu tegas. Aku berdiri menatap tak percaya atas apa yang terjadi kepadaku. Dalam lima menit segalanya berubah. Hanya dalam waktu lima menit, seluruh rencana yang sudah aku buat menjadi sia-sia.

Tidak ada yang pasti di dunia ini, segala yang diperkiraan tidak pernah bisa tepat seluruhnya. Akan selalu ada hal yang membuat perkiraan itu meleset. Aku menyadari makna kata-kata itu sekarang. Semua yang aku rencanakan meleset, bahkan perencanaan itu hanya akan menjadi sebuah rencana yang tidak akan pernah dapat aku lakukan. Hanya dalam lima menit kemudian, segala perencanaanku menjadi sia-sia.

Rabu, 14 Agustus 2013

Tombol Pengingat

Malam benderang, sinar rembulan menerangi salah satu sudut jalan. Aku sesekali melihat ke luar, menikmati pemandangan bulan yang memasuki masa purnama. Terasa menenangkan.

Aku memperhatikan jam, harusnya, cafe tempat aku datangi saat ini sudah memulai acaranya. Acara yang membuat aku sengaja datang ke cafe ini. Malam puisi. Itu acara yang akan diadakan oleh cafe ini.

Aku bukanlah penyair. Hanya saja, menikmati sajak, puisi, syair atau apapun itu yang berupa barisan kata-kata indah, selalu membuat diriku tenang. Selalu ada 'magis' tersendiri saat mendengar puisi dibacakan oleh orang yang tepat. Seperti malam ini dan malam puisi lain yang sering kudatangi.

Acara dimulai dan seorang lelaki maju dan membacakan puisi milik penyair senior. Orang-orang diam mendengarkan dengan seksama.

"Hujan turun semalaman, paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi. Mereka tak mengenal gurindam dan peribahasa, tapi menghayati adat kita yang purba."

Puisi yang dibacakan dengan penuh penghayatan terasa di dada. Puisi tentang alam yang menyentil kehidupan manusia.

Aku memandang ke sekeliling. Berharap menemukan seseorang yang kucari. Perempuan yang kadang diam-diam ikut menikmati pembacaan di malam puisi yang sering diadakan di tempat ini.

"Menurutmu, apa bagian terbaik dari pembacaan puisi?" Aku teringat ucapan perempuan itu kepadaku saat pertama kali kami bertemu di salah satu acara malam puisi yang sudah kulupakan kapan.

"Menikmati saat puisi dinyanyikan? Dan kata-kata dibacakan dengan mimik dan penghayatan yang tepat?" ucapku kepada perempuan yang tak kutahu siapa namanya itu.

"Bukan. Menurutku, bagian terbaik dari puisi yang dibacakan ialah saat merasa puisi itu dituliskan untuk kita atau saat merasa puisi itu ditulis untuk mengingatkan kita akan sesuatu."

"Bagaimana bisa?" tanyaku heran.

Perempuan itu tertawa pelan. "Puisi itu adalah tombol pengingat, yang ketika ditekan (baca: dibaca) akan membawa kita kepada hal-hal yang berkaitan dengan apa yang dimaksudkan dalam puisi. Mengingatkan kita pada hal-hal yang pernah terjadi."

"Contohnya?" tanyaku semakin tak mengerti. Perempuan ini sepertinya memiliki pikiran yang cukup kompleks. Ucapannya tadi cukup sulit dicerna.

"Nikmati lebih banyak puisi dan datang lebih sering ke malam puisi. Nanti kamu akan mengerti puisi sebagai tombol pengingat," ucap perempuan itu seraya bangkit dari kursinya.

"Lalu, menurutmu, puisi selalu mengingatkanmu tentang apa?"

"Kehilangan. Mendengar puisi akan selalu mengingatkanku pada suatu hal yang tak lagi dapat kumiliki."

Aku menyesap kopi yang sudah mendingin dengan sekali tegukan. Aku melemparkan pandangan ke luar lagi. Menikmati sinar bulan yang sedang purnama.

Penampilan puisi tadi sudah selesai, kemudian tak lama maju seorang perempuan untuk membacakan sebuah puisi karya orang yang sama dengan puisi sebelumnya.

"Bagaimana kau berkata bahwa kau bukan matahari, sedang panasmu menggugurkan daun-daun, memisahkannya dari ranting tempatnya bergantung."

Aku mendengarkan lirik puisi itu dan mulai menyadari, bagiku, puisi ialah tombol pengingat yang akan selalu mengingatkanku pada perempuan itu.

Dalam sebuah puisi akan selalu ada kenangan. Untuk diingat atau dilupakan, ialah hal kesekian. Sebab kenangan, adalah sebuah kepastian, yang akan dikekalkan.

Selasa, 13 Agustus 2013

Sepasang Sepatu Tua

Debu-debu beterbangan. Sore ini akan menjadi sore yang melelahkan bagiku. Beres-beres untuk pindah kosan bukanlah hal yang mudah.

Hari ini setelah sekian tahun lamanya tinggal menetap di kamar mungil ukuran 3x4 meter yang lokasinya tak jauh dari kampus, aku harus mengucapkan selamat tinggal. Kamar kosan ini adalah yang pertama dan terakhir aku tempati semenjak mulai berkuliah di kota ini.

Minggu yang lalu aku resmi di wisuda. Itu artinya, urusanku dengan kampus telah selesai, dan aku akan meninggalkan kamar kosan ini lalu kembali pulang ke rumah.

"Semua barang-barang lo mau diapain? Mau lo bawa pulang semua?" tanya Santy, sahabatku yang rela untuk ikut repot meembantuku pindahan.

Aku berhenti sejenak memasukkan novel dan buku-buku koleksiku ke dalam kardus. "Dijual-jualin aja, San. Repot kalau aku bawa pulang semua." Ya, rumahku yang berada di kota lain membuatku tidak mungkin untuk membawa semua benda yang aku beli sendiri, yang ada di kamar kosan saat ini.

"TV, DVD dan lemarinya mau dijual? Bisa aja sih. Mungkin beberapa junior ada yang mau bayarin. Kondisinya masih bagus kayaknya."

"Yaudah dijual aja," ucapku kembali memasukkan novel-novel koleksiku ke dalam kardus kedua. "Oh iya, San. Sekalian tolong lo pilih-pilih ya, barang-barang kecil yang menurut lo masih bagus dan nggak. Beberapa mungkin bakal gua buang."

"Siap, Bos!" ucap Santy memberikan salam hormat kepadaku.

"Isshh apa sih," desisku.

"Ya abis, lo daritadi ngasih perintah melulu. Kayak bos. Kayak Nino." Santy berceletuk seraya mengeluarkan beberapa benda yang aku taruh di kolong kasur.

Aku berhenti sejenak membereskan novel saat nama itu disebutkan. Nino, kekasihku. Lelaki yang menemaniku selama aku kuliah. Kami berkenalan dan menjalin hubungan saat masa awal kuliah dan mengakhirinya secara paksa tak lama sebelum mengenakan toga. Nino memang memiliki karakter yang cukup 'bossy', suka memberi perintah, walau tidak semenyebalkan kebayakan orang berkarakter seperti itu. Mungkin 4 tahun bersamanya membuat kebiasaannya itu menular ke diriku.

"Udah dong, jangan dibahas lagi." Kadang, setelah sekian lama bersama seseorang, akan ada beberapa kebiasaan orang tersebut yang akan melekat dan terbawa dalam diri kita.

"Iya deh, iya." Santy mengecek satu persatu benda yang dia keluarkan dari kolong tempat tidur. "Yang ini mau lo bawa nggak?" tanya sahabatku itu melemparkan sebuah kotak kardus kepadaku.

Aku tertegun memandangi kotak itu. Kotak itu adalah kotak berisi sepasang sepatu berwarna merah. Sepatu model klasik yang umurnya pun seklasik modelnya.

Sepatu merah adalah benda yang harus dibawa oleh mahasiswi baru saat masa 'perploncoan'. Sepatu itu bukan milikku. Aku tidak suka warna merah, maka itu aku tak pernah punya sepatu berwarna merah. Sepatu itu milik Nino, tepatnya, sepatu merah itu milik ibunya. Nino memberikannya kepadaku saat tahu aku tidak membawa sepatu merah. Dia melindungiku, dan mau menanggung hukuman untuk dikerjai senior karena dikira tak membawa sepatu merah.

Aku memandangi sepasang sepatu tua yang tersimpan rapi di dalam kotaknya. Sepatu yang menjadi awal aku mengenal Nino. Aku meletakkkan kotak sepatu itu di jajaran benda yang akan aku bawa pulang.

Akan selalu ada yang terbawa dari masa lalu. Dan aku kini merasakan rindu.

"Santy.... Nanti setelah beres-beres, kita ke Tanah Kusir dulu yuk, temani gue liat Nino."

Rona wajah Santy terlihat sendu saat menatapku. "Iya, Nayla." Santy mendekat dan memelukku. "Nino sudah tenang disana, Nay. Lo jangan sedih lagi yah."

Seketika, aku mengingat kembali kejadian malam itu, beberapa hari sebelum wisuda. Kabar yang datang tengah malam dari seorang polisi yang menghubungiku dari nomor Nino. Kecelakaan dan korban meninggal di tempat, begitulah yang dikabarkan kepadaku, nomor terakhir yang dihubungi Nino.

Aku mengambil sepasang sepatu tua berwarna merah itu, dan kupeluk erat. Selalu ada cerita pada sebuah benda, kenangan akan selalu bersemayam disana.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Apa Yang Tersisa Dari Rindu?

Apalah yang tersisa dari rindu?
Selain daripadanya ragu dan cemburu

Malam itu, sepasang serangga berkicau, riang terdengar syahdu
Dan aku, mendengarkan suaranya yang bertalu-talu; terasa pilu
Suaranya meriuhkan malam sendu
Sembunyikan jejak-jejak sunyi nan kelabu

Rindu, ialah kayu, ucapmu
Alasan agar pertemuan-pertemuan yang kita nantikan tidak menjadi sia-sia berlalu
Menjaga api agar tak cepat padam dan layu, seperti kelopak putri malu
Begitulah katamu selalu

Apa yang tersisa dari rindu?
Bilamana akhirnya kayu akan terbakar pilu dan tetap menjadi abu

Minggu, 21 Juli 2013

Purnama

Di jemarimu, kusematkan purnama
Dari aku, lelaki yang tak kau tahu nama

Pada bulir air mata yang tak miliki muara
Aku menawarkan geliat rasa
Bukan cinta, hanya setangkup duka yang terbungkus dalam canda

Lalu kau bertanya, "dimanakah cinta?"
Tawa, aku mendengarnya

Cinta, apalah yang kau harapkan dari rasa yang dapat membusuk seketika
Entah lusa, ataupun dasawarsa
Sama saja, sebab akhirnya, duka jua yang kan kau rasa

Wahai wanita, terimalah aku sebagai mempelai di bulan purnama
Cahaya, yang bermandikan lentera surga
Di antara isakan yang kau tunaikan di sela-sela
Malam yang selalu panjang terasa
Terimalah duka sebagai mahar paling berharga

Kelak kau akan terima
Bila takdir selalu berputar bagai purnama
Di sana, duka dan cinta
Memainkan peran dengan sempurna

Di sela-sela airmata
Wahai wanita, biarkan aku mengusap bulir-bulirnya
Yang kelak akan sangat berharga

Lalu isakmu mereda, dan kau lagi bertanya: "apa aku tak dapatkan cinta?"

Wahai wanita, cinta ialah buah yang belum ranum dari pohonnya
Pada waktunya, ia akan menjelma jadi duka
Rasa yang akan kau petik kala masanya tiba

Di jarimu, wahai wanita, kusematkan purnama
Agar nanti kau, bahagia, jadi mempelaiku yang tersenyum bahagia
Di surga

Sabtu, 15 Juni 2013

Hujan, Dan Juni Yang Terlampau Tabah

Disela derai rindu, kata-kata memainkan peran
Kepada hujan, kepada rintik yang merebahkan diri kepada bumi
Juni, dia terlalu tabah untuk menanggung beban

Katanya, tidak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni.
Dia bijak, dia arif, dan dia tabah.
Dan nyatanya, begitulah adanya.
Dia, Juni, adalah yang rela menanggung segala hujan disekujur tubuhnya

Rindu, ialah cinta yang terlampau sering dibiarkan bermandikan hujan
Ketabahan yang sudah terlampau bosan untuk menenangkan resah
Dan hujan di bulan Juni, ialah penghilang jejak-jejak sunyi
Di hati; jalan lapang yang telah lama tidak ditapaki.

***

"Apa yang terpikirkan olehmu saat mendengar kata 'Hujan' dan 'Juni'?" tanya seorang yang berdiri di samping tempat aku mendudukkan diri.

Hari ini adalah salah satu hati diantara hari-hari yang ada di bulan Juni, dan saat ini hujan sedang turun; deras. Aku menutup buku yang sedang aku baca, mendongakkan kepala, melihat siapa yang berbicara kepadaku. "Sapardi," jawabku singkat dengan nada yang sangat datar. "Lalu menurutmu?"

"Perempuan yang terlampau tabah."

Aku menaikkan alis mata sebelah kiri. Mencerna satu kata yang diucapkan seseorang yang bahkan tidak kukenal siapa dia. "Maksudmu?"

"Ya, Hujan di bulan Juni ialah perempuan yang begitu tabah. Dia menunggu Juni untuk melepaskan kesedihannya. Agar airmata tersamarkan oleh hujan."

Minggu, 09 Juni 2013

Hujan, Selimut dan Bantal Pelarian

Hujan. Hari ini dia kembali menyambangi hati. Mendung. Langit hati tak juga menampakkan sedikit cerah yang dinantikan sejak pagi. Kepada rindu, matahari enggan memunculkan kehadirannya. Mungkin, sebuah penantian adalah hal yang ditunggu oleh kecemasan agar sebuah kabar tentang penenang hati tiba secapatnya. Hal, yang terlalu dini untuk diharapkan terjadi.

Suasana sudah mendingin. Hujan tak juga reda. Masih terasa lembab. Sepertinya, kesedihan sudah betah tinggal disini. Hari ini. Sebab, kulit terasa mulai mengerutkan dirinya. Seolah, hawa dingin sudah mulai mengendurkan nyali. Kulit mulai menyelimuti dirinya dengan dirinya sendiri. Memeluk kesedihannya sendiri, menenangkan cemas dan takut dengan selimutnya sendiri. Hari ini, kesepian sedang mencari teman, yaitu hati orang-orang yang menanggung cemas sendirian

Hari ini, sejak pagi tak sedikitpun cahaya matahari tampak dari celah jendela yang tak pernah tertutup rapat. Hati yang cemas, langit yang mendung, hujan yang enggan menghentikan dirinya menetes, hati yang kesepian dan bantal-bantal yang berserakan di atas kasur seolah menjadi konspirasi mini yang sedang merayu tubuh untuk merebahkan dirinya, sesaat saja, agar kecemasan tak lagi merasa sepi sendiri. Bantal itu, menawarkan diri untuk berbagi kesedihan, berbagi kesepian dengan tubuhnya yang begitu pas untuk dipeluk; untuk dititipi sepenggal kesedihan yang begitu kekal sejak pagi tadi.

Hari ini, hujan begitu abadi, dan langit tak juga memudarkan kelam. Sementara, banyak hati yang sudah bergelut dengan dirinya sendiri, sedang memeluk kesedihannya sendiri, dengan kulit yang sudah mengkerut akibat dingin yang mulai memeluknya, menyelimuti dirinya dengan hawa yang penuh dengan suasana menakutkan; kecemasan yang mulai menggerogoti ketabahan. Dan bantal-bantal yang berserak, dengan pelapis kain yang sudah lecak akibat sibuk menenangkan hati yang gelisah, sedang menenangkan kesepian, agar hati kembali menghangat; melupakan kesedihan, melupakan hujan yang tak berhenti menetes sejak pagi tadi, melupakan kesedihan yang kekal serupa langit yang terus murung. Dari jendela yang tak pernah tertutup rapat, aku melihat, kesedihan adalah hal yang paling nyata di hari ini.

Kamis, 30 Mei 2013

Irina, Permata dan Kotak Perhiasan

Pesawat yang mendarat dengan tidak mulus menyebabkan terjadinya sedikit guncangan berhasil membangunkan tidurku. Aku bukanlah lelaki yang mudah tertidur di sembarang tempat. Hanya saja, sejak memulai perjalanan tadi mataku sangat lelah dan tak dapat menahan kantuk.

Satu persatu penumpang bangkit dari kursi mereka dan keluar dengan teratur. Sementara aku yang masih terkantuk masih terduduk. Menunggu semua penumpang turun agar tidak berdesakan dan juga menunggu kesadaranku pulih. Sekali tembak, dua burung tertangkap. Seperti itu mungkin bunyi pepatahnya. Dari tempatku duduk aku melihat seorang wanita cantik sedang marah-marah kepada pramugari yang tak kalah cantik dengannya. Aku tersenyum-menahan tawa. Sepertinya perempuan cantik itu sedang mengalami masa datang bulan yang tidak lancar.

Setelah hampir semua penumpang sudah turun, aku baru bangun, dengan enggan, seolah berat untuk beranjak. Harus diakui, ini adalah perjalanan pesawat yang paling nyaman-diluar pendaratan tadi. Baru kali ini aku bisa tertidur disepanjang perjalanan. Biasa, mataku tak pernah dapat terpejam lebih dari 10 menit apabila sedang berada di dalam pesawat. Entahlah. Aku tidak paham mengapa selalu seperti itu. Dan hanya kali ini saja aku dapat tertidur dengan nyenyak.

Aku berjalan keluar dengan santai. Kusunggingkan senyuman kepada pramugari yang tersenyum kepadaku. Senyum pramugari yang tadi kena omel perempuan aneh itu terlihat begitu manis.

"Excuse me," ucap perempuan muda dibelakangku. Perempuan itu terlihat sangat terburu-buru, dia menggenggam erat tas miliknya dan berusaha untuk bisa turun dengan segera. Sedangkan sebelah tangannya mengamit tangan seorang lelaki 'bule'-mungkin kekasihnya-yang berjalan dengan santai. "Come on, James. Cepat!" seru perempuan itu kepada lelaki dibelakangnya.

Tanpa sadar aku menaikkan alisku saat mendengar kalimat terakhir perempuan muda itu. Awalnya kupikir dia bukanlah seorang Indonesian. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kalau ternyata sepertinya dia adalah keturunan campuran. Aku yakin sekali hal itu, terlihat dari logatnya saat melafalkan kata sudah yang begitu lancar dan tidak patah. Pasti ayah atau ibunya yang masih keturunan negeri ini.

Aku meminggirkan tubuhku, membiarkan perempuan muda itu melewatiku. "Permisi," ucap lelaki bule itu dengan logat patah yang kubalas hanya dengan anggukan kecil dan senyum.

Dari arah belakang aku melihat sepasang kekasih itu berjalan terburu-buru seperti sedang mengejar atau dikejar sesuatu. Perhatianku lebih tertuju pada tas yang dikekap erat oleh si perempuan. Sepertinya di dalam tas itu berisi benda yang begitu berharga sebab sejak tadi dia sangat menjaga tas tersebut.

Suasana bising bandara selalu menjadi hal yang menarik bagiku. Banyak orang yang lalu lalang dalam berbagai ekspresi, santai, tegas, jutek, lelah dan semacamnya. Aku berjalan mengambil kereta dorong dan menuju lokasi pengambilan kopor milikku.

Saat di conveyor belt aku berpapasan dengan perempuan-cantik-yang-sepertinya-bermasalah-dengan-menstruasinya. Dia keluar saat aku baru saja masuk. Kuanggukkan kepala sedikit sebagai pengganti salam. Perempuan itu tidak menggubrisnya. Ekspresi wajahnya datar seolah tak peduli, dan langkahnya cepat saat mendorong trolley berisi barang-barangnya.

Kemudian aku melihat lagi perempuan muda tadi dengan kekasihnya. Dia tampak gelisah menunggu barang-barangnya keluar. Lalu kulihat, dia mengangkat telepon dan kemudian menjadi semakin panik. Seolah waktunya hampir habis.

Aku mengeluarkan novel kesukaanku dari tas. Membaca saat sambil menunggu adalah hal yang biasa bagiku. The Lost Symbol karya Dan Brown menjadi temanku menunggu saat ini. Karya-karya penulis ini sangat sesuai dengan seleraku yang memang memiliki basic keilmuan Antropologi dan minat di bidang Sejarah, Misteri dan Teka-Teki.

"Sabar... Sabar!" ucap lelaki bule bernama James itu kepada kekasihnya yanh terlihat sangat resah.

Aku menutup novel The Lost Symbol yang baru l kubaca satu halaman. Minatku untuk membaca surut. Kini, aku sibuk memperhatikan perempuan muda itu. Ekspresi wajahnya yang cemas dan resah terlihat begitu menarik.

Sesaat kulihat perempuan muda itu membuka tasnya dan mengambil sebuah kotak yang terlihat seperti kotak perhiasan, namun agak berbeda dengan kotak perhiasan yang biasa. Kotak beludru itu bermotif unik, seperti sebuah symbol gambar dan angka. Hanya sekilas aku melihatnya, sebab perempuan itu kembali memasukkan kotak tersebut ke dalam tasnya.

Aku meninggalkan trolleyku dan berjalan ke arah mereka untuk meminta agar diperlihatkan kembali kotak tersebut. Walau sekilas, kotak itu mampu mencuri perhatianku. Dan aku yakin, ada yang tidak biasa di kotak tersebut.

"Permisi," ucapku menyapa perempuan muda itu. Perempuan muda itu terlihat kaget dan mengekap erat tasnya yang berisi kotak perhiasan tersebut, dia langsung bersikap defensif dan berlindung dibelakang kekasihnya.

"Itu kopor kita!" ucap perempuan itu yang kemudian diambilnya dan dimasukkan ke dalam trolley. "Ayo kita pergi sekarang." Perempuan muda itu menarik kekasihnya dan segera berlalu keluar dengan terburu-buru, meninggalkanku yang tak digubrisnya.

Aku diam memperhatikan perempuan muda itu berlalu dengan pikiran-pikiran tentang perempuan muda itu dan motif kotak perhiasan yang tidak biasa tersebut. "Hey!" teriakku kepada perempuan muda itu yang sudah menjauh saat kusadari ada yang terjatuh dari tasnya yang tidak ditutup rapat akibat terburu-buru tadi. Sayangnya, perempuan muda itu sudah sangat jauh dan tidak mendengar aku memanggilnya.

Aku mengambil secarik kertas yang terlihat seperti corat coret-bagi orang biasa-yang aku sadari bahwa ini bukanlah corat coret biasa. Kertas ini berisi coretan sebuah 'plan' yang ditulis secara acak. Daru coretan di kertas itu aku mendapat beberapa nama dan informasi. Irina, James, Andrei, Brazil, Permata dan Kotak Kode.

Pikiranku langsung tertuju pada kotak perhiasan bermotif aneh tadi. Dan naluriku pada hal berbau misteri dan teka-teki membangkitkan gairahku.

Aku segera melipat, memasukkan kertas tadi dan menyimpannya ke dalam saku celana saat seseorang menepuk pundakku, menunjuk ke arah sebuah tas berwarna biru tua, menanyai apakah itu tas milikku. Aku mengangguk kecil dan memasukkannya ke dalam trolley dan berlalu keluar sambil berharap akan bertemu perempuan muda tadi diluar.

"Excuse me, Sir." Seorang lelaki berkulit hitam menghentikan lajuku. Kemudian lelaki itu mengeluarkan sebuah foto dan menanyakan apakah aku melihatnya.

Sejenak aku terkejut saat melihat foto yang dikeluarkan lelaki iti adalah foto perempuan tadi. Di foto itu ditulis nama Irina dengan pulpen berwarna merah. Aku menggeleng lemah kepada lelaki itu-berbohong.

Kemudian lelaki berkulit hitam itu berlalu dariku, lalu dia beranjak ke orang yang lain dan menanyakan hal yang sama. Asumsi-asumsi langsung beranak pinak dalam pikiranku mengenai perempuan muda bernama Irina itu, permata dan kotaknya yang aneh itu.

Jumat, 24 Mei 2013

Gelato Untukmu

"Kamu pernah dengar dan cicipin ice cream yang namanya gelato?" Aku menaikkan alis mata saat mendengar nama jenis ice cream yang disebut oleh Sofi.

"Tidak," jawabku singkat.

Sofi menoyor kepalaku, sahabat kecilku itu mengacak rambutku yang selalu kutata dengan rapi. "Kamu payah. Katanya pecinta ice cream, masa nggak tau apa itu gelato," ucapnya seraya mencibir. "Gelato itu ice cream khas Italy. Ice cream rendah lemak dengan tekstur yang lembut. Pengin deh nyicipin itu."

"Nanti aku akan belajar untuk membuatnya. Dan kamu harus mencicipi gelato buatanku." Aku mengumbar janji kepada Sofi yang juga maniak ice cream sepertiku.

Sekelebat ingatan percakapan dengan Sofi beberapa tahun yang lalu. Percakapan yang bisa dibilang merupakan percakapan terakhirku dengannya, obrolan tak penting yang hampir setiap malam kita lakukan. Obrolan malam itu adalah yang terakhir kami lakukan sebelum beberapa hari kemudian aku harus pergi meninggalkan Sofi untuk pindah ke kota lain untuk melanjutkan kuliah disana.

"Sof, aku udah bisa bikin gelato buat kamu. Gelato rasa cokelat mint dengan taburan almond. Ini favorit kamu kan?" Suaraku bergetar dan airmataku tak kuasa menahan diri untuk menetes.

Seminggu yang lalu aku menyelesaikan studiku, dan kembali ke kota ini. Selama aku kuliah diluar kota, hampir tak pernah aku berkomunikasi dengan Sofi. Sesekali, dan biasanya percakapan yang kami lakukan hanya basa-basi dan tak lama. Enam bulan yang lalu adalah yang terakhir aku mengobrol dengan sahabat kecilku itu, setelahnya tak ada lagi. Yang membuatku bingung adalah ucapan selamat tinggal yang dia ucapkan kepadaku diakhir percakapan itu. Seperti sebuah salam perpisahan.

Seminggu yang lalu aku kembali pulang ke rumah, dan mendapati kenyataan kalau aku tidak dapat lagi berbicara dengan Sofi, seperti masa sebelum empat tahun yang lalu, obrolan yang selalu kami lakukan hampir setiap malam.

"Sofi udah nggak ada, Nak Rangga. Selama ini Sofi mengidap kanker darah, dan menyembunyikan sakitnya ke semua orang selain keluarga, termasuk kamu. Enam bulan lalu dia meninggal, tak lama kalian ngobrol untuk terakhir kalinya.

Airmataku menderas. Sore ini, dihadapan makamnya, tanganku menggenggam dua buah gelas gelato yang susah payah kubuat. Hari ini adalah hari ulang tahun Sofi.

"Sof, selamat ulang tahun. Maaf baru bisa buatin gelato ini ke kamu hari ini." Aku meletakkan sebuah gelas di atas nisan bernama Sofiah Namira bin Abdul Ghaiswarna.

Rabu, 15 Mei 2013

Gara-Gara Kacamata

Aku melihatnya sore itu di sebuah stasiun kereta. Hanya sekelebat saja, namun dia mampu mencuri perhatianku. Di tengah keramaian orang-orang yang lalu lalang, dia terlihat begitu menarik walau pandanganku tidak terlalu jelas melihatnya.

Sore ini, di stasiun kereta, aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang, aku melihatnya untuk pertama kalinya. Siapa dia? tanyaku sendiri dengan senyuman yang hanya aku sendiri yang dapat mengartikannya.

"Don, belom dateng juga?" Tiba-tiba, Rio berdiri disampingku. "Gue pikir lo udah pulang duluan."

"Belom, tumben nih telat keretanya," ucapku kepada teman sekelasku di kampus ini. "Lo sendiri tumben naik kereta. Motor mana?"

"Di bengkel," jawab Rio singkat. "Eh, kacamata lo mana?"

"Pecah. Kemarin jatoh. Gua belom sempet ke optik," ucapku kepada Rio yang berdiri disampingku sambil memakan siomay yang dibeli sebelum masuk ke dalam stasiun. Aku kembali mengarahkan pandanganku ke sosok yang sejak tadi menarik perhatianku.

":Lo ngeliatin apaan sik? Senyum-senyum aja daritadi?"

Aku mengarahkan telunjukku ke arah seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatku berdiri. "Cantik yah," ucapku berkomentar.

Rio mengerenyitkan dahinya. "Nggak salah lo, Don?" tanyanya seolah tak percaya.

Aku mengangguk. "Lo kenal? Kenalin ke gue dong."

"Lo serius?" Kembali, Rio menanyakan hal itu kepadaku yang aku jawab dengan anggukan juga. "Lo udah kenal tauk!"

Aku membelalakkan mata. "Emang iya yah? Siapa? Kenal dimana? Kapan?" ucapku memberondongkan pertanyaan kepadanya yang merupakan salah satu teman satu kelas yang sering nongkrong bersamaku. Sehingga Rio hampir pasti tau dengan siapa-siapa saja aku berkenalan.

"Yaudah yuk kita samperin," ucap Rio disertai senyuman lebar, dia menyeringai seolah ingin meledekku.

"Boleh." Aku meng-iya-kan ajakan Rio dan berjalan di belakang Rio menuju sosok yang sejak tadi membuatku penasaran. Aku menyipitkan mataku agar pandanganku menjadi sedikit lebih jelas.

Rio yang berjalan lebih dulu sudah sampai ditempat seseorang itu dan terlihat bercakap-cakap dengannya. "Nih, temen gue mau kenalan sama lo." Sekilas aku mendengar perkataan itu dari mulut temanku itu.

Aku tersenyum kecil mendengarnya. Kakiku mendekatkan diriku ke arah Rio dan orang tersebut.

"Lho, bukannya kita udah kenal yah? Lo Rio anak jurusan Sastra Belanda kan?" ucap orang itu dengan nada suara yang aneh. "Gue Ray, masa lo lupa?" ucap orang itu dengan nada suara yang dibuat-buat seperti suara wanita.

Bangsat. Ternyata orang itu adalah Ray Lazuardi, lelaki setengah jadi-jadian yang merupakan anak jurusan Sastra Prancis. Tanpa basa-basi aku segera menjauh dari Rio dan Ray. Dari arah belakangku terdengar suara Rio yang tertawa terbahak-bahak. Aku terus mengumpat sepanjang jalan menjauhi tempat Ray menunggu kereta.

Selasa, 16 April 2013

Untuk Perempuanku

Kepada perempuanku.
Masihkah engkau risau disana?
Resah, menangguh segala cemas yang seharusnya tidak pernah ada.
Bahkan, cemas yang tidak kita pahami, apa, dan kapan akan terjadi.

Duduklah disini bersamaku, kekasih.
Kita lewatkan malam dengan secangkir kopi, bunyi jangkrik dan cahaya bulan yang bersinar terang.
Kita rayakan keheningan malam ini dengan diam, dengan pelukan yang tak terjeda, yang tak terlewati oleh hembusan angin.

Perempuanku, aku selalu senang menggenggam jemarimu.
Disana, kehanangatan menjalar di seluruh ruas jari yang tak pernah bosan untuk kutelusuri.
Karenanya, jemariku tak pernah kesepian; tak perlu lagi memeluk tubuhnya sendiri.

Aku tak pandai menghitung, perempuanku.
Ingatanku pun pendek, dan di dinding rumahku, kalender sudah enggan menggulirkan tanggal
Aku tak pernah merayakan usia. Sebab, waktu bagiku bukanlah sebuah bilangan.
Karenanya, perempuanku, aku tak akan ingat kapan kita bertemu, dan kapan aku jatuh cinta kepadamu.

Aku rindu kepadamu, perempuanku.
Bahkan, aku sudah rindu kembali saat perjumpaan kita ini belum selesai.
Perempuanku, genggamlah tanganku agar rindu tak semakin menggigilkan diriku.
Bila perlu, kencangkan pelukanmu, agar rindu ini ingat akan hangat rengkuhanmu.

Perempuanku.
Aku adalah seorang yang pelupa.
Bila nanti waktu sudah berjalan terlalu jauh.
Genggam jemariku, agar aku ingat bahwa kamu tidak berpaling dari hatiku.

Kamis, 04 April 2013

Cinta Dari Balik Mata

Sore itu, seperti biasa, seperti sore di hari sebelumnya, aku sibuk memandangi langit yang menjadi jingga. Belasan layang-layang serupa bintik yang menghiasi langit yang hampir memerah seutuhnya.

Aku melihatmu berjalan pulang menuju rumahmu yang letaknya hanya beberapa pintu dari rumahku dan berseberangan, dipisahkan oleh sepetak gang kecil yang hanya muat dilalui oleh kendaraan bermotor.

Seperti biasa pula, aku memberikanmu sapaan terhangat dan senyuman terbaik yang kupunya. Dan harusnya, seperti biasa kamu pun akan mengangguk, membalas sapaanku dengan sungging senyumanmu. Seharusnya.

Sore ini, kamu diam saja saat kusapa. Wajahmu tertunduk, seolah enggan untuk menatapku. Langkahmu menjadi lebih cepat saat tubuhmu merapat ke arahku.

Senja terasa menjadi lebih sunyi dari malam yang ada di dalam pikiranku itu. Saat bibir kita diam membeku. Kata-kata mati dilesapkan diam. Hanya ada kamu, aku dan jejak-jejak kesedihan yang tertinggal di belakang.

Kirana, hari ini, aku merasakan cinta sedang sampai pada puncaknya. Dari rona wajahmu yang muram, aku melihat, ada cinta yang tertahan di balik airmata. Kamu, sedang membohongi dirimu sendiri. Dan aku, sedang berpura-pura bahwa luka hanyalah cara cinta menasbihkan dirinya, dalam ketidakrelaan.

Dalam pikiranku, aku masih jelas membayangkannya. Kata-kata menjadi serupa belati yang membunuh asa. Kau jejalkan kata-kata perpisahan yang diiringi oleh ciuman panjang; pengganti pelukan. Aku akan dijodohkan, katamu.

Kamu menerimanya? Tanyaku saat itu. Dan dalam memori pikiranku, kau menjawab dengan anggukan. Serupa ketuk palu hakim yang menjatuhkan vonis terberat dalam hidupku. Kamu sudah menjatuhkan pilihan, yang menjerumuskanku pada jeruji hati.

Dalam pikiranku pun, aku bertanya padamu. Dengan kedua tanganku mencengkeran pundak kecilmu aku memastikan, apakah kamu sudah tak mencintaiku? Dan sebuah anggukan darimu benar-benar mematikan harapanku, hanya harapan, bukan cinta.

Dari mataku, aku melihat cinta di bola matamu. Senyata senja sore ini, dari bening indera penglihatanmu, dirimu menyatakan cinta yang besar, menampakkan kekecewaan yang besar.

Nyatanya, semua yang ada dipikiranku, hanyalah ada dipikiranku saja. Aku tak pernah menjadi kekasihmu, dan malam perpisahan itu tak pernah ada. Hanya saja, kehilangan yang sebenar-benarnya nyata. Aku tahu kau menunggu. Dan kau tahu, bahwa aku tak akan pernah berani melangkah kesana. Hingga akhirnya sore ini aku sadar, bahwa cinta tak pernah cukup untuk membawamu pergi.

Malam itu, dari beranda rumahku aku melihat sebuah perayaan yang membahagiakan keluargamu. Seorang pria sempurna meminangmu, memintamu menjadi pendamping hidupnya. Aku melihat duka di matamu malam itu.

Kau bisa membohongi orang lain, tapi tidak denganku. Matamu adalh mataku. Kesedihanmu pasti terlihat olehku. Dan luka yang kau rasakan, tak pernah dapat kau sembunyikan dari penglihatanku.

Sore ini, akan menjadi sore yang lain dan tak akan pernah lagi sama. Kamu, tak dapat lagi kusapa. Dan senyumanmu tak akan pernah lagi kau berikan kepadaku.

"Semoga kamu bahagia Kirana." Aku berucap kepada perempuan yang sudah berjalan beberapa langkah melewatiku. Dan aku yakin dia tidak mendengarnya. Tak apa, itu lebih baik.

Langit sudah menggelap seutuhnya. Aku memutar roda, menggerakkannya ke dalam rumah. Melepas cinta tak pernah mudah, apalagi cinta yang disembunyikan tapi diketahui oleh orang kita cintai. Aku melepas nafas panjang. "Dek, bantu Abang dong," ucapku kepada adik lelakiku untuk membopongku pindah dari kursi roda ke kasur.

Sabtu, 30 Maret 2013

Pulang

Aku menyapu pandang sekelilingku. Lalu lalang orang-orang dengan gembolan tas dan kardus yang terikat rapi menjejali pandangan mataku. Decit roda yang beradu dengan rel serta deru gemuruh mesin keret terdengar di telingaku. Di pojok selasar stasiun aku melihat beberapa penjual nasi bungkus yang menanti pembeli; penumpang kelaparan yang tak sempat membeli makan.

Aku menghela nafas. Stasiun ini beserta seluruh sensasinya sudah lama sekali tidak kurasakan, entah sudah berapa tahun terlewat.

Bukan artinya aku tidak pernah pergi ke stasiun dan merasakan keramaian orang-orang yang akan berangkat dan pergi ke kampung halaman. Hanya saja, stasiun ini begitu spesial bagiku, bagi masa laluku. Dulu aku pernah pergi dari sini, dan setelah sekian tahun berbilang, baru hari ini aku datang kembali kesini.

Kilas kenangan berkelebat satu per satu di kepalaku. Sore yang gelap, tanpa ada semburat senja yang mengantarkan kepergianku, lalu tangisan dari perempuan yang terkasih. Hanya sepasang duka dan airmata yang dihujankan oleh langit yang menemani langkahku saat memasuki gerbong kereta, yang membawaku pergi hingga tahun berbilang sepuluh.

Kini aku pulang. Hanya ingin pulang. Menemui orangtuaku di pemakaman; tanpa hal lain yang kuharapkan.

Di pintu keluar kulihat orang yang sama dengan orang yang melepaskanku dengan pelukan; yang tak pernah ingin kulepaskan. "Kinanthi?" ujarku saat melihat kekasihku yang dulu berdiri di pintu keluar. Ya, Kinanthi adalah kekasihku, dulu, sebelum keberangkatanku ke Jakarta menjadi tanda perpisahan yang menyakitkan. Tanpa kata-kata, tanpa aba-aba dan tanpa seremah tanda apapun, dia memutuskan untuk menikah dengan lelaki lain; dijodohkan. Dan kabar itu aku terima langsung darinya, melalui sepucuk surat berwarna merah jambu dan huruf-huruf lentik tulisannya menjadi pedang yang menguliti perasaanku. Setelah Kinanthi tidak ada lagi yang tersisa di kota kelahiranku itu. Kedua orangtuaku sudah tak ada dan aku tidak memiliki saudara kandung ataupun keluarga dekat lainnya. Sebab ayah dan ibu juga merupakan anak tunggal.

"Kenapa kau ada disini?" tanyaku tanpa dapat menyembunyikan keterkejutanku.

"Menunggumu." Kinanthi mengucapkannya dengan pelan namun tegas. Dia tidak sedang berbohong.

"Hahaha, kamu sedang bercanda?" ucapku dengan tawa yang kubuat-buat. Berharap dia memang sedang benar-benar bercanda. Dan aku pun tidak tahu dari mana dia tahu kalau aku akan pulang hari ini.

Kinanthi terdiam. Di sampingnya terdapat sebuah koper ukuran sedang. "Tidak."

"Lalu? Kenapa kamu membawa koper? Ingin berangkat kemana?"

"Bersamamu."

Aku mendelik. Kebingunganku semakin bertambah banyak. Kinanthi hanya berbicara sedikit. Hal yang selalu dilakukannya dulu saat dia sedang memendam banyak masalah. "Jangan bercanda. Kamu memiliki keluarga." Kinanthi kembali diam. Namun, jika Kinanthi masih seperti dulu, dia akan menjelaskan semua yang dirasakan dan dipikirkan olehnya; beserta airmata.

"Aku tidak bahagia. Maka dari itu, bawa aku bersamamu. Aku tidak memiliki anak dari lelaki bajingan itu. Aku tahu kamu akan pulang hari ini. Aku mengetahuinya dari Mas Joko. Aku menunggumu kembali. Maka itu, bawalah aku. Kemanapun. Tidak masalah," kata Kinanthi dengan terbata-bata. Seperti yang kuduga, isak airmata menyelingi ucapannya sesekali, dan membasahi pipinya yang dulu selalu kubelai.

Akhirnya kebingunganku terjawab. Mas Joko, tetangga kontrakkanku yang juga masih satu kampung denganku dan Kinanthi yang mengabarkan kepulanganku kepada perempuan yang ada dihadapanku ini. Dari Mas Joko pula aku sesekali mendengar kabar Kinanthi setiap dia mudik 6 bulan sekali.

Aku mendekatkan tubuh Kinanthi ke arahku. Kurasakan tubuhnya mengurus sejak terakhir aku memeluknya sepuluh tahun yang lalu. Sepertinya dia benar-benar tersiksa. Aku memeluknya dan Kinanthi menyambut pelukanku dengan erat. Hatiku menggetir; terasa pedih. "Maafkan aku Kinanthi," ucapku pelan di samping telinganya. "Aku tidak bisa membawamu. Aku pun sudah memiliki keluarga di Jakarta."

Tak ada kata-kata dari Kinanthi. Tangisnya berhenti walau airmata tak bosan mengalir dari sela mata dan membasahi pipinya. "Aku sudah tahu, Mas."

Aku diam memandangi wajah Kinanthi, mencoba menerka apa yang dipikirkannya melalui rona matanya yang menggelap. Kini, dia sudah melepaskan pelukannya. Dia mendesah pelan, jauh lebih tenang, seolah baru saja bebannya sudah ditumpahkan melalui pelukan tadi. "Maaf, Kinanthi." Suaraku melirih.

"Tidak apa, Mas. Itu sudah cukup. Aku pikir cinta itu masih ada, dan kamu masih seperti dulu, berani untuk melakukan apapun, asal bersamaku. Seperti yang kamu ucapkan dulu."

Hatiku memerih. Ucapan Kinanthi memaksaku mengingat kembali momen dimana aku berusaha memperjuangkan hubunganku dengannya. Aku, rakyat biasa yang bermimpi untuk mempersunting perempuan berdarah biru kental. "Ki...," ucapku tak selesai. Bahkan untuk menyebutkan namanya saja lidahku tidak sanggup menahan getir.

"Tidak apa, Mas Wirya. Aku tahu itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Kini aku akan kembali ke suamiku." Kinanthi terdiam sesaat, lalu mendekatkan tubuhnya lagi ke arahku. "Kini biarkan aku mengucapkan salam perpisahan yang tidak sempat aku ucapkan dulu. Kinanthi mengecup bibirku. "Aku mencintaimu, Wirya Gunawan."

Aku tertegun. Bibirku terkunci. Suaraku tertahan di kerongkongan dan lidahku kelu tak mampu menyilatkan kata-kata.

"Sekarang, aku pergi. Selamat tinggal." Kinanthi berbalik dan berjalan menjauhiku. Aku terdiam. Kali ini aku yang melihatnya pergi. Dan sepertinya akan sangat jauh. Mungkin ini adalah kesempatan terakhir aku bisa menemuinya.

Aku berjalan cepat setengah berlari ke arah Kinanthi. "Kinan!" seruku. Dia berhenti dan berbalik. Kali ini dia tersenyun ke arahku. Dadaku terasa sesak, sudah lama sekali aku merindukan senyuman itu. Kupeluk Kinanthi erat, seerat aku tidak ingin melepaskannya. Mataku memanas, dengan sekuat hati aku menahan diri agar tidak terisak.

"Terima kasih sudah dan masih mencintaiku, Mas. Itu sudah cukup bagiku." Kinanthi melepaskan tubuhnya dari pelukanku. Sekali lagi dia merekahkan senyumannya sebelum benar-benar pergi.

Sekali lagi terdengar decit suara roda kereta yang baru saja berhenti. Di riuhnya lalu lalang orang-orang di Stasiun Tugu, aku menjadi satu-satunya yang merasa sendiri. Baru saja, belahan hatiku yang lain, yang kukira sudah mati sejak lama hidup kembali. Namun sekarang dia meninggalkanku. Tidak mati, hanya saja pergi ke tempat yang tidak dapat kujangkau. Cinta saja kadang tidak cukup untuk bersama. Dan lebih menyakitkan saat mengetahui cinta itu masih ada, tapi tidak dapat dimiliki dan bersama kembali.

Kamis, 28 Maret 2013

Doa Dari Jemari Kesepian

Waktu berjalan, dan bilangan kembali terulang
Dalam langkah yang tak terasa semakin panjang
Dan kadang, tak disadari apa saja yang sudah dilewati oleh langkah-langkah yang garang
Begitu saja terlewat dan menjadi satu catatan tambahan di bilik kenangan yang semakin usang

Doa dan harapan yang terucapkan semoga menjadi prasasti, bukan buih
Terpahat, tertulis dan terangkai jelas dalam sanubari
Bukan hanya ucapan yang terlontar dan diaminkan. Lalu terlewat dan terhempas begitu saja
Kata adalah doa, dan doa adalah harapan, lalu, harapan adalah sebuah nyawa dalam kehidupan

Malam ini, jari-jari kurus ikut berdoa
Semoga, apa yang terlewat bukanlah hal sia-sia
Yang terlihat bukanlah kegelapan yang pernah terlewati beberapa waktu silam
Bukanlah jejak-jejak kumal yang kadang malu untuk terlihatkan oleh pasang mata ini

Aku pendosa ulung
Kadang lupa dimana 'akar' dimana aku bermula
Harapku;
Semoga Tuhan tak lupa akan diriku.


*PS: Selamat ulang tahun pemilik jari ini. Semoga yang tertuliskan adalah kebaikan
Jika pun bukan kebaikan. Setidaknya yang tertuliskan adalah hal yang membahagiakan dan tidak merugikan

Kamis, 21 Maret 2013

Taman

Di bawah langit senja dua pasang kaki kurus mengayun di ayunan yg berderak. Karat menguasai batang tubuh mainan itu. Usang. Nyaris tak ada lagi anak-anak yang menggunakannya. Benda itu sudah mulai dilupakan, kecuali oleh sepasang bocah yang mulai beranjak dewasa itu.

"Rasanya, sudah lama sekali kita melewatkan yang seperti ini," gumam Hera. Kakinya yang sebenarnya sudah dapat memijak tanah ditekuk, agar dia dapat mengayunkan tubuhnya. Pelan, dengan derak yang menyiratkan sebentar lagi robohnya tempat dia mengayunkan diri.

Gara tidak mengalihkan pandangannya dari arah matahari yang sudah tak lagi terlihat. Dalam pandangannya, mentari seolah melarilan diri dan tidak akan kembali lagi, di esok hari. Remaja lelaki yang sebentar lagi akan mengenakan seragam putih biru itu menelan ludahnya. Terasa pahit. Dia mencengkeram erat rantai ayunan, agar gelisah tidak membuatnya lepas kendali.

"Taman ini adalah kapsul waktu kita. Di sini, sejak 6 tahin lalu, kita banyak menghabiskan waktu untuk tertawa dan hanya tertawa. Seolah tidak asa ruang untuk bersedih." Hera berceloteh banyak saat Gara hanya diam. Perempuan yang lebih tua 2 tahun dari Gara itu seolah tidak ingin menghentikannya tentang celoteh masa lalu, saat mereka berdua sering menghabiskan tawa dan canda di taman ini; taman yang sebentar lagi mati.

Gara menggerakkan bibirnya pelan. Di wajahnya membayang jelas rona kesedihan. Dia adalah lelaki yang tak dapat menyembunyikan ekspresi, walaupun dia lelaki. "Sedih yah." Gara mendesah pelan. "Pertama-tama taman ini, terus nggak lama kemudian kamu."

Lelaki itu tidak melanjutkan ucapannya. Seolah tertiup oleh angin sore dan lenyap ditelan debu. Getar suaranya masih terasa jelas di telinga Hera. "Nggak usah bersedih. Bertemu dan berpisah adalah hal yang lumrah terjadi. Tapi yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita tidak bosan untuk menjaga kenangan yang sudah terjadi, dan kita tidak menjadi asing satu sama lain nantinya." Hera menghembuskan nafas berat sesaat setelah mengucapkan kata-kata itu. Dia menengadahkan kepalanya ke atas agar airmatanya tak tumpah. Bukankah baru saja dia berucap bahwa perpisahan dalah hal yang lumrah. Dilihatnya langit sudah menggelap dan bulan sudah mulai menampakkan wujudnya di sudut langit.

"Kapan kamu pindah?" tanya Gara dengan nada datar. "Mungkin aku bakal kangen suasana ini. Ngobrol berdua sampai suara adzan terdengar dan kita pulang ke rumah masing-masing." Sejenak Gara menjeda ucapannya. Hening menyusup sesaat sebelum dia mengehembuskan nafas kencang dan melanjutkan kata-kata. "Ah, tapi, mulai besok pun kita udah ga bisa lagi ngobrol disini." Suaranya terdengar getir.

Hera hanya mengangguk pelan. Dia beranjak dari bangku ayunannya. Berdiri dan membelai pelan rantai ayunan yang sudah berkarat penuh. "Udah adzan, waktunya pulang. Yuk." Hera berucap pelan. Dia menyulurkan tangan kepada Gara. Lelaki itu menyambutnya. "Aku berangkat lusa. Dan setelah itu aku nggak tahu akan kembali kesini atau nggak."

Gara dan Hera berjalan keluar dari taman dalam diam. Gara berjalan menunduk. Sepertinya kepala berat dipenuhi kesedihan. Saat keluar dari lingkup taman, Gara menolehkan pandangannya kembali ke arah taman. Matanya menatap sebuah papan pengumuman yang ditulis dengan huruf tebal dan jelas. TAMAN INI AKAN DIBONGKAR. Di papan tersebut tertera jelas tanggal pembongkarannya yang jatuh pada hari esok. Hatinya bergemuruh. Kehilangan dua hal yang selalu ada di kesehariannya selama 6 tahun terakhir membuatnya merasakan kesedihan yang besar. Satu kehilangan adalah biasa, bila dua adalah duka.

Sabtu, 16 Maret 2013

Orang Yang Terlupakan

Malam ini hujan turun kembali. Aku-seperti biasa-memeluk diriku sendiri. Saat dingin menyeruak, menggigit kulit tipisku dengan kesedihan. Untungnya aku sudah terbiasa sehingga tak merasa risih sekalipun.

Di beranda rumah seseorang-yang bahkan tidak kutahu siapa pemiliknya-aku sesekali menengadahkan tangan. Merasakan rintik hujan yang kadang hampir membuatku mati. Selembar kain usang bermotif kotak-yang mungkin kalian sebut sebagai sarung-menemaniku selalu di tiap malam. Kain ini adalah yang terbaik yang kupunya-aku enggan menyebutnya sebagai satu-satunya. Beberapa bagian sobek dan terlihat lusuh, tapi inilah yang aku miliki.

Aku tertawa sesekali, walau tak tahu pasti apa yang aku tertawai. Hanya saja, aku merasa bahagia saat tertawa. Apakah untuk tertawa perlu sebuah alasan? Aku rasa tidak. Orang-orang memandangku aneh sebab kebiasaanku tertawa di saat yang tidak tepat-menurut mereka. Aku tak peduli. Menurutku, malah orang-oranng yang terlihat aneh. Mereka, seperti lupa definisi bahagia, sehingga untuk tertawa pun susah; memerlukan sebuah alasan yang logis. Ah, mungkin mereka juga lupa bahwa tidak semua dapat dilogikakan. Bahagia itu mutlak urusan hati, bukan pikiran. Bila hati tidak bahagia, niscaya, pikiran pun tak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Malam ini hujan terlihat tidak akan berhenti dalam waktu yang sebentar. Itu artinya aku akan lebih lama menemani kesedihan sang malam. Dan waktu akan terasa lebih panjang. Saat merasakan kesedihan, waktu akan terasa melambat, dan saat merasa bahagia, waktu terasa lebih cepat. Selalu seperti itu, seolah, kita diharuskan belajar untuk lebih banyak merasakan kesedihan daripada kebahagiaan. Dahulu, dahulu sekali, aku sering mendengar wejangan 'bahagia itu mahal' dari beberapa motivator yang sering kudatangi acara. Mereka dengan menggebu menjelaskan konsep bahagia dari berbagai sudut pandang dan keadaan. Begitu rumit.

Konsep bahagia itu sederhana, yaitu nikmati apa yang kamu punya dan miliki. Tapi terkadang, apa yang sudah ada terasa tidaklah cukup. Ciri khas manusia pada umumnya.

Aku beranjak, dan berjalan menyusuri jalan yang lengang. Hanya ada lampu jalan yang bersinar redup seolah enggan untuk menyala, beberapa pasang lelaki yang sibuk memproduksi asap dari mulutnya dan wanita yang sibuk mempertebal wajahnya dengan bubuk penggoda, untuk menarik perhatian lelaki kesepian yang tak tahan digoda oleh dingin malam.

Aku tertawa lagi. Hanya tertawa tanpa memikirkan apa yang aku tertawai. Dan seperti biasa, berpasang mata menghujamkan pandangannya padaku; lelaki dengan kain sarung compang camping, baju lusuh dan rambut awut-awutan kering sebab tak pernah dikeramasi sibuk membawa beberapa potong kardus sebagai alas tidurku nanti. Mereka menutup hidung saat aku lewat, dan memandang jijik, seolah aku adalah kotoran berjalan. Aku kembali tertawa. Menertawakan dunia yang sudah mulai tak waras.

Sabtu, 23 Februari 2013

Dusta

1)
Kau pernah berjanji, untuk berjalan beriringan bersama melewati waktu sampai tak ada yang tersisa
Kau pernah berjanji untuk meniti waktu bersama dengan genggaman tangan yang saling mengamit erat; takut terlepas dan terhempas

2)
Tapi, mengapa hati mengingkari?
Mengapa bibir berdusta, menelan kembali ucapan yang serupa duri dan menusuk kerongkongan; menuliskan jejak luka yang terasa amis di lidah

3)
Bagaimana kau lupa, padahal, ingatanku tak pernah berdusta
Kau, dengan janji yang awalnya benih, yang kemudian mati dan membusuk
Menguarkan aroma duka yang tak kunjung hilang
Wewangian yang tak pernah aku lupa
Janjimu memabukkan, bagai sekuntum mawar berduri yang tanpa sadar akan menorehkan luka di hati

4)
Bagaimana aku lupa
Tentang kata-kata perpisahan yang kau hunuskan kepadaku di malam ini; menusuk langsung ke jantung hati, dan aku mati
Sementara, kau masih menebar benih di hati yang lain.

Jumat, 01 Februari 2013

Genggaman Yang Tak Pernah Ingin Dilepaskan

Akhirnya kita sampai juga dibatas terakhir yang kita ciptakan
Garis yang kita buat dan kita inginkan
Perjanjian yang diikrarkan dengan mengguratkannya dalam dada, menjadi janji yang enggan dielakkan

Genggaman kita mengeras
Seolah tak ingin kehilangan satu sama lainnya
Biasanya, kita berbagi rindu melaluinya

Mengapa, cinta lebih egois dari rasionalitas
Membuat kita lupa, bahwa janji sudah di garis tepi
Siap mendorong kita jatuh pada jurang yang tak ingin kita singgahi

Mengapa rindu membuat jantung jadi takut pada sebuah perpisahan
Padahal mati masih jauh dari rengkuhan
Mungkin, kehilangan lebih mengerikan daripada kematian

Kita tahu bahwa kita sudah terlanjur jatuh cinta
Kita sadar bahwa hati kita sudah saling mengaitkan diri
Sebab luka, cinta menjadi semakin erat menggenggam hati kita
Dan kini, kita dipaksa untuk kembali merobeknya

Kata-kata sudah terlanjur kita ucapkan
Janji sudah tertuliskan
Kita, adalah manusia bodoh yang belajar untuk menenangkan duka
Membiarkan luka kembali mengisi hati kita
Tanpa kita sadari, bahwa cinta itu sudah terlanjur ada
Dan kita melepaskan genggaman, hal yang kita sama-sama tak inginkan, tapi kita lakukan.

Rabu, 23 Januari 2013

Kisah Sederhana Kala Senja

Matahari sudah mulai beranjak dari titik kulminasinya. Kini, sinarnya sudah mulai meredup, meninggalkan jejak-jejak kehangatan. Dan semilir angin, menambah daftar alasan untuk duduk-duduk, bersantai atau bahkan saling berbicara dengan secangkir kopi sebagai tegukan.

Sore ini, akhir pekan, seperti biasa, taman akan selalu ramai dengan orang-orang; para ibu yang menemani anaknya bermain prosotan, bapak-bapak menjelang paruh baya yang duduk beralas koran sedang sibuk memikirkan langkah permainan catur selanjutnya, bocah yang lari dengan senyum merekah sebab balon yang diinginkan berhasil didapatkan dengan cara setengah merengek, dan muda-mudi yang duduk berdua menghabiskan kebersamaan.

Aku selalu tersenyum jika sedang mengunjungi taman ini. Aura bahagia tersebar di penjuru taman, menjadi satu tempat dimana orang-orang menanggalkan kepenatan menjalani keseharian; seperti yang sering kulakulan.

Di tanganku, sudah siap kanvas kosong, pensil gambar, kuas berserta macam-macam warna cat air yang kubiarkan bertumpuk di dalam ember yang kugenggam. Kususuri jalan di taman, mencari posisi dan objek yang tepat untuk kujadikan model dadakan tanpa bayaran.

Di pojok taman, di bawah lampu penerang yang belum menyala lampunya, aku melihat seorang wanita yang sedang bersandar pada tiang. Wajahnya terlihat cemas-menunggu seseorang, terbukti dari intensitasnya melirik ke jam tangan yang dikenakannya di pergelangan tangan kiri. Aku tersenyum melihat tingkah polahnya.

Aku memundurkan langkah, menjaga jarakku agar tak disadari oleh wanita itu bahwa sedang ada aku yang memperhatikannya; mengagumi dirinya.

Kuambil pensil yang tak lancip ujungnya dari dalam ember. Kugoreskan, dan kubuat sebuah sketsa siluet wanita tadi. Jemariku dengan lincah menggoreskan pensil dan menghasilkan garis-garis yang kemudian menjadi siluet tubuh wanita itu. Angle dan pencahayaannya begitu pas.

Jika aku bukan seorang pelukis, melainkan seorang fotografer, aku takkan melewatkan moment itu. Cahaya matahari yang sudah menjingga jatuh menimpa kepal wanita itu, dan menghasilkan sebuah bayangan panjang yang bercampur dengan bayangan tiang. Dalam benakku, image yang terbayang begitu indah dan sempurna. Tapi, bukankah yang indah dan sempurna hanya memang ada di dalam benak saja.

"Kamu kemana aja? Sudah disini dari kapan? Kenapa nggak bilang-bilang?" Wanita tadi berbicara. Nada suaranya terdengar cemas dan kesal pada saat yang sama. Wanita itu berjalan menuju tempat orang yang menjadi lawan bicaranya tadi.

Aku tersenyum mendengarnya. Jemariku masih asik menggoreskan mata pensil di kanvas, dan sesekali kusapu, untuk menimbulkan efek bayangan dan gradasi tertentu.

"Aku sudah bosan menunggu, aku kira kamu ga bakal jadi datang." Wanita itu mulai mengeluarkan isi kekesalannya.

Aku tersenyum lagi mendengar perkataan wanita tersebut. Saat sketsa gambar siluet sudah selesai kubuat, kugeser papan penyangga kanvas, agar wanita yang duduk di sampingku dapat melihatnya dengan jelas.

Bola mata wanita itu membulat, binar mata terlihat lebih hidup.

"Selamat ulang tahun, Sayang. Ini hadiah untukmu," ucapku kepada wanita yang sejak tadi menunggu kedatanganku di bawah tiang lampu penerangan taman.

Di tangan wanita tersebut, di kanvas yang dipegangnya, ada sebuah silet tubuhnya sendiri yang kubuat secara kilat.

Langit makin menggelap, di ujung cakrawala, matahari mulai menenggelamkan dirinya. Sore ini terasa begitu indah dan membahagiakan. Sesekali, tiupan angin sepoi menerbangkan rambut-rambut kecil di belakang telinga; menguarkan suasana yang begitu nyaman.

Wanita itu mengamit telapak tanganku, digenggamnya erat. Kekasihku itu menatap ke arahku, menantang kedua bola mataku. Lalu dia tersenyum. Hal yang membuatku ikut tersenyum sendiri. Hal yang selalu membuatku bahagia saat melihatnya tersenyum. Senyuman adalah cara paling mudah untuk menambah kebahagiaan.

Dan sebuah kecupan hangat yang singkat di bibir menjadi penutup sore yang indah. Sore yang terasa begitu hangat; di dada dan hati. Sore di kala senja yang selalu kusempatkan di tengah rutinitas sehari-hari.

Seperti itulah perayaan ulang tahun kekasihku. Sederhana. Hanya aku dan dia. Dia mengapit erat lenganku. Kami duduk di bangku taman, menghabiskan waktu, menatap senja, hingga benar-benar habis dan digantikan malam.

Rabu, 16 Januari 2013

Cuti Patah Hati

"Brengsek!"

Kejadian itu kembali berkelebat di kepalaku. Runutan kata-kata dan makian yang kulontarkan kepada Wira kembali mengiang. Jelas sekali.

"Siapa wanita itu? Kamu selingkuh?" ucapku seraya mengambil segelas Orang Juice di meja dan menumpahkan isinya ke tubuh Wira.

"Sayang, dia siapa?" tanya wanita yang duduk di samping Wira. Lelaki itu menunduk. "Eh!! Lo siapa? Kurang ajar banget. Gue pacarnya Wira!!" maki wanita itu. Tatapan liar mengarah kepadaku.

Aku lepas kendali. Baru saja ingin kuayunkan tanganku untuk menampar wanita itu, Irfan mencegahnya. Ditahannya tanganku dan dia menggiringku keluar dari restoran. Cacian dari wanita itu terdengar jelas di kepalaku.

Mataku memanas, pun juga dadaku. Terasa begitu sesak. Tanpa komando, bulir-bulir airmata menetes tak terkendali.

Irfan berjalan di sampingku, menggenggam tanganku, menenangkanku dengan kata-kata yang tak terdengar jelas olehku. Hanya satu kalimat yang terdengar jelas olehku, "tahan, tenangkan dirimu. Jangan permalukan dirimu di depan orang banyak."

Airmata kembali menetes di pipiku kala mengingat kembali kejadian kemarin. Kepalaku terasa berat, dadaku terasa sesak, untuk bernafas pun terasa berat.

Semalam, Irfan mengantarku pulang. Aku tak ingat apapun yang dibicarakan olehnya selama di mobil saat perjalanan pulang, yang aku ingat, tahu-tahu aku sudah sampai dirumah dan langsung tidur. Semalam, pikiranku kosong, aku terguncang oleh kejadian di restoran tersebut.

Wira, lelaki yang kupercaya ternyata sama saja dengan kekasihku sebelumnya; peselingkuh. Tangisku tak juga reda jika mengingat-ingatnya lagi. Aku terlanjut mencintainya begitu dalam.

Mencintai seseorang akan diri melayang dan terbang dalam balutan asmara, semakin kuat cinta, akan semakin tinggi terbangnya. Dan ketika jatuh, akan terasa semakin sakit.

Aku mengalaminya saat ini.

Pagi ini, langit terasa begitu gelap. Bukan karena memang sedang mendung dan akan turun hujan. Hanya saja, senyap terasa begitu dekat dengan kulitku. Hawa kesendirian begitu menyelimutiku.

Biasanya, Wira akan menenangkabku saat aku bersedih. Menjadi api yang hangatkan hatiku yang mendingin. Dan sekarang, aku kehilangan api untuk menghangatkan kesedihanku. Bahkan, api itu telah membakarku.

Ponselku bergetar, sebuah pesan dari Irfan. Selamat pagi. Sudah bangun?

Aku membalas pesannya dengan cepat. Mengabarkan diriku sudah bangun sejak pagi buta.

Ponselku bergetar kembali. Kali ini telepon masuk. Aku menimang ponselku, berusaha menetralkan suaraku yang serak karena banyak menangis.

"Halo," ucapku pelan-nyaris berbisik-agar Irfan tak menyadari suaraku yang terdengar tak biasa, "ada apa Pang?"

"Nanti siang mau ikut aku?"

"Kemana? Aku sedang malas pergi hari ini," ucapku berbohong. Bukan itu alasan sebenarnya. Aku hanya tak ingin Irfan melihatku dalan keadaan seperti ini; begitu berantakan.

"Ke bookfair. Sekarang sudah jam 9. Aku sudah menunggu di depan rumahmu. Bersiaplah. Dandan secukupnya saja. Kamu lebih cantik dengan riasan sederhana."

Aku melonjak dari kasur. Dari jendela kamar kulongokkan kepala dan kudapati Irfan sudah berdiri di depan pintu pagar, bersiap masuk.

Lelaki itu melambaikan tangannya ke arahku. Ponselnya masih ditempelkan ke telinganya.

"Pa- Pang... aku nggak bisa pergi seka..." Ucapanku tak selesai. Dia tersenyun ke arahku seraya mematikan dan memasukkan ponselnya ke saku. Dia melangkah pasti masuk ke dalam rumah

***

"Aku hanya ingin menghiburmu," ucap Irfan yang berjalan di sampingku. Aku yang sedari tadi diam sejak perjalanan dari rumah hingga sampai di Istora menengok ke arah Irfan. Dia tersenyum ke arahku.

Tidak ada kata-kata, suasana hatiku sedang enggan untuk berbicara. Kesedihan masih memeluk erat diriku. Membuatku tidak antusias untuk berkeliling pesta buku-hal yang tidak biasa bagiku.

Biasanya, ketika pesta buku diselenggarakan, aku akan jadi orang yang paling semangat untuk kesini. Semangat mencari novel-novel yang harganya didiskon gila-gilaan sehingga membuatku kalap dan meludeskan isi dompet. Tapi tidak saat ini. Rasanya, aku hanya ingin seharian di kamar, merayakan kesedihan dengan airmata.

"Kita pulang yah, Pang," ucapku pertama kalinya kepada Irfan yang sedang melihat-lihat novel di sebuah stand.

"Menurutmu, novel ini bagus nggak? Lumayan lho, diskon 20%." Dia menyodorkan novel itu kepadaku. Matanya membulat, dia terlihat begitu antusias.

Aku menggeleng lemah.

"Kenapa? Nggak bagus yah? Aku belum cek goodreads sih. Jadi nggak tahu juga novel ini bagus apa nggak."

"Bukan itu."

"Lalu?" tanya Irfan dengan mimik wajah bingung. Dibingung-bingungkan tepatnya.

"Aku mau pulang." Kuulangi sekali lagi permintaanku.

"Tidak," ucap Irfan tegas.

Aku bingung mendapatkan jawaban seperti itu. Dia yang mengajakku kesini, tapi dia tidak mau mengantarkanku pulang. Suasana hati yang tidak stabil membuat emosi meninggi dengan cepat. "Kalau kamu nggak mau antar aku pulang, aku bakal pulang sendiri!"

"Rani, tunggu!" Irfan menahanku. "Aku tahu kamu sedang sedih saat ini. Aku tahu kamu dalam keadaan patah hati."

Aku hanya diam mendengarkan penjelasan Irfan.

"Kata teman-teman yang lain, kamu itu paling senang diajak ke pesta buku. Maka itu, aku ajak kamu kesini. Biar kamu lupain sejenak kesedihan itu. Anggap saja kamu sedang cuti untuk patah hati. Setidaknya untuk hari ini."

Tanpa sadar aku tersenyum mendengar penjelasan Irfan. Bodoh, mana ada yang namanya cuti patah hati, ucapku di dalam hati

"Alhamdulillah, akhirnya tersenyum juga. Gitu dong. Kamu lebih menarik kalau tersenyum. Nggak seperti tadi." Irfan berucap dengan setengah tertawa kepadaku.

Aku mengambil kantong belanjaan novelnya, lalu kupukulkan kepadanya. Aku tertawa. Sejenak, kesedihanku menghilang. Tingkah Irfan ampuh mengusirnya.

"Ampun, Ran, ampun. Sakit."

"Biarin!" Aku tertawa lagi. Kupandangi diri Irfan. Lalu, senyum kembali muncul di bibirku. Tanpa bisa kucegah.