Jika ingin menjadi penulis. Menulislah, sebab tidak ada yang akan bisa menjadi penulis tanpa pernah menulis apa pun.
Selasa, 17 Juni 2014
Riana dan Buku Tua
Riana menutup buku tersebut, lalu mengelus sampul buku yang warna hitamnya sudah agar pudar. Waktu sudah melunturkan kepekatan warna sampul buku tersebut. Riana tak tahu buku itu milik siapa, dan juga tak menanyakan kepada kedua orangtuanya siapa pemilik buku tersebut. Buku tersebut adalah hasil pencarian dari membongkar gudang barang-barang lama untuk mencari buku lama miliknya, namun yang ditemukan adalah buku tua dengan sampul berwarna hitam pudar dan kertas kecoklatan. Waktu menunjukkan dengan jelas umur buku tersebut lebih tua dari umur remaja tanggung yang menemukannya.
Riana memperhatikan dengan seksama buku tersebut, lalu kembali membuka buku itu. Apakah kamu takut akan darah? Riana kembali membaca sebuah kalimat yang ada di halaman ketiga buku tersebut. Hanya ada satu kalimat yang tadi dibaca, tidak ada yang lain. Kalimat tersebut berada di tengah halaman, terlihat sangat mencolok dengan warna merah yang begitu pekat.
Tidak, ucap Riana sedikit ragu. Seketika bulu roman di tengkuknya meremang. Dengan enggan dia menyentuh tulisan tersebut. Tubuhnya menegang kala menyadari bahwa tulisan di halaman kedua masih basah, seolah baru saja dituliskan. Didekatkan jemarinya yang digunakan untuk menyentuh kalimat ke hidungnya, dan mendapati bau anyir di sana.
Riana menelan ludahnya sendiri dan menutup kembali buku tua itu secara refleks, lalu menoleh ke arah kiri dan kanan bergantian. Tanpa dia sadari pundak dan punggungnya sudah basah, juga nafasnya yang agak memburu. Dia menoleh ke arah dinding di dekat ruang tengah dan melihat jam yang dipasang oleh Ayahnya, waktu sudah menunjukkan pukul empat namun kedua orangtuanya belum juga pulang. Padahal, sebelum pergi mereka mengatakan akan pulang sebelum pukul empat sore.
Riana menunggu di ruang tengah, menatap ke arah pintu namun sesekali mengarahkan pandangannya kembali ke arah buku tua tersebut, berulang-ulang. Darah mudanya yang penuh dengan gejolak rasa penasaran berkali-kali mendorongnya untuk membuka kembali buku tersebut dan melihat halamannya selanjutnya.
Dari sofa di ruang tengah remaja tersebut perlahan bangkit dan berjalan ke arah buku tua yang tadi ditinggalkannya di atas rak televisi. Degup jantungnya makin kencang seiring makin dekat tangannya untuk menyentuh buku tua tersebut.
"Adeeekkk..." Suara Ibu terdengar dari halaman depan. Kedua orangtuanya baru saja tiba. Riana berbalik ke arah pintu, buku tua tersebut disembunyikannya di bagian belakang bajunya, diselipkan di pinggang celananya. "Adek, tolong bantu Ibu, Dek," ucap Ibu yang terlihat kepayahan membawa beberapa kantong belanjaan bulanan seperti sabun, shampo, deterjen dan benda-benda keperluan yang diperlukan selama satu bulan ke depan.
Riana berjalan pelan ke arah pintu agar tidak terlihat mencurigakan, diambilnya salah satu kantong belanjaan berisi peralatan mandi ke arah dapur dan meletakkannya sembarang di dekat wetafel. Kemudian kembali ke arah pintu dan melakukan hal yang sama sementara ayah dan ibunya menurunkan beberapa kantong belanjaan persediaan makanan dari dalam mobil.
"Adek mau es krim? Ini Ibu beliin es krim cokelat kesukaanmu nih." Ibu mengeluarkan sekotak es krim yang tidak pernah mampu ditolak oleh Riana. Kedua bola mata remaja tanggung tersebut membulat.
Mau, Bu. Remaja itu mengangguk kepada Ibu dan Ayahnya yang sudah duduk di dekat meja makan. Diambilnya sekotak es krim itu dan dibawanya pergi.
"Adek mau makan es krim di mana? Nggak di sini aja? Bareng Ayah sama Ibu?" tanya Ayah kepada putrinya yang baru saja masuk usia belasan.
Riana menggeleng lemah. Aku mau makan di dalam kamar saja, sekalian mau baca sesuatu.
Ayah menggangguk, paham akan kode tangan yang diberikan putri semata wayangnya itu. "Yaudah, nanti sampahnya diberesin yah."
***
Satu suapan es krim kembali masuk ke dalam mulut Riana saat dia duduk di atas kasurnya. Di hadapannya buku tua yang ditemukannya di gudang masih tergolek manis. Sejak tadi Riana berkali-kali menyendokkan es krim tanpa sekalipun membuka buku tersebut dan melihat halaman selanjutnya. Sejujurnya dia merasa takut, namun rasa penasarannya begitu kuat sehingga membuatnya tak sabar untuk membaca kalimat yang ada di halamannya selanjutnya.
Dipegangnya buku itu untuk kesekian kali. Lalu diletakkannya kembali di atas kasur. Berulang kali Riana lakukan itu. Hingga akhirnya tak ada lagi es krim yang bisa disuap ke dalam mulutnya, baru dibulatkan tekadnya untuk membuka halaman selanjutnya buku tersebut.
Apakah kamu takut gelap. Kalimat itu tertulis di halaman kelima. Tidak seperti dua kalimat sebelumnya, di halaman kelima ini posisi kalimatnya ada di pojok kanan buku, dan berwarna perak.
Riana mengerenyitkan dahinya. Dia menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan tadi. Seketika kamarnya menjadi gelap gulita. Nafasnya tercekat, jantungnya berdetak kencang, dan perasaan panik dengan cepat merambati dirinya. Diraih ponselnya yang berada tak jauh dari genggamannya. Cahaya dari layar ponselnya menjadi satu-satunya pelita yang dimilikinya. Dengan segera Riana berjalan ke arah pintu kamarnya, dan keluar.
Ibu berjalan dari ruang tengah ke arah Riana yang baru keluar dari dalam kamarnya. Ibu memegang sebuah lampu baterai di tangannya sebagai sumber cahaya. "Sepertinya lagi ada pemadaman listrik, Dek. Tadi Ayah cek keluar, dan tetangga yang lain juga pada mati lampu. Ayo adek duduk di ruang tengah aja sama Ayah dan Ibu," ucap Ibu yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Riana yang masih sibuk mengatur nafasnya.
Dalam diamnya Riana memikirkan buku tua tersebut, seketika bulu kuduknya kembali berdiri dan meremang. Riana yang memeluk lengan Ibu saat dituntun ke ruang tengah mempererat pelukannya.
"Adek kenapa? Nggak biasanya takut gelap," ujar Ibu yang tak mendapat tanggapan dari Riana.
Listrik baru hidup kembali satu jam kemudian. Riana kembali masuk ke dalam kamar dan matanya langsung tertuju pada buku yang masih terbuka di halaman kelima. Riana dengan segera ditutupnya buku tersebut dan memasukkannya ke dalam plastik lalu dimasukkan ke dalam tempat sampah.
Riana kemudian membawa tempat sampahnya ke luar rumah dan mengeluarkan isinya ke tempat sampah utama, agar besok pagi akan diambil oleh tukang sampah.
***
Riana terbangun dari tidurnya, saat Ibu membuka jendela kamarnya. Pagi sudah tiba, sinar matahari menyilaukan matanya dan memaksanya untuk bangkit dari tempat tidurnya. "Adek... bangun, mandi sekarang yah, biar nggak telat ke sekolahnya.
Dengan enggan Riana mengambil handuk yang tergantung di salah satu dinding kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melewati meja belajar.
Tubuh remaja tanggung itu bergetar saat melihat buku tua itu ada di atas meja belajarnya dengan kondisi terbuka di halaman kelima.
Rabu, 23 April 2014
Pertemuan yang Tak Pernah Kuinginkan Untuk Berakhir
Senin, 19 Agustus 2013
Menulis Takdir
Sore ini, seperti sore yang biasanya pada hari-hari sebelumnya. Matahari masih jingga, saat akan terbenam dan sinarnya redup seperti cahaya hati yang sedang berlayar lalu karam. Kecuali aku. Hanya aku yang merasa sore ini begitu berbeda.
"Tumben kamu ada disini? Sedang berjalan-jalan atau...?" tanyaku dengan nada menggantung. Dihadapanku berdiri seorang lelaki yang mengenakan kemeja biru gelap yang senada dengan celana jeans yang dikenakannya.
"Ehem," lelaki itu berdeham dan membenarkan posisi kacamata yang sedikit merosot dari letaknya. Hidungnya yang tidak mancung selalu membuat posisi kacamata lelaki ini turun. Sebuah hal yang menjadi kebiasaan untuknya. "Jadi gini, aku akan menikah," ucapnya tanpa berbasa-basi.
"Lalu?" tanyaku dengan nada biasa.
"Aku mau kamu datang," ucapnya menyerahkan sepucuk undangan dengan foto dirinya dengan calon istrinya.
"Mau atau harus?"
"Engg, terserah kamu menganggapnya gimana. Hanya saja, aku merasa harus mengundangmu dan aku pun ingin kamu datang." Lelaki itu duduk di sampingku, menatap dan tersenyum kepadaku.
"Calon istrimu cantik, Dim," ucapku seraya membalas senyumannya.
Dimas kembali membetulkan posisi kacamatanya yang kembali merosot. "Ya, kamu juga cantik. Dan pintar."
"Hey, jangan goda aku. Bulan depan kamu menikah." Aku melemparkan kartu undangan ke arahnya. Lelaki itu tertawa pelan, pun juga denganku.
"Tapi itu jujur. Andai saja dulu orangtua kita masing-masing tidak menentang hubungan kita..." Ucapan Dimas terhenti sejenak. "Mungkin nama kamu yang ada di dalam kartu undangan itu, bersanding di sebelah namaku."
Aku menatap lurus paras lelaki itu. Rambutnya sudah tertata rapi, tidak lagi gondrong saat masih bersamaku. Dan juga sikapnya lebih formal. "Sudahlah. Masa lalu," ucapku seraya mengibaskan tangan. "Dan sepertinya..." Aku melirik ke kartu undangan. "Sheila sukses membuat dirimu lebih baik. Kamu yang sekarang jauh lebih rapi."
"Ya terlihat baik secara formal, walau aku tidak terbiasa. Aku lebih senang..."
"Menggunakan celana selutut, dengan baju kaos serta gelang-gelang tali yang selalu kamu kenakan di pergelangan tangan kirimu," aku memotong ucapan Dimas. Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Hingga sekarang, aku tidak lupa selera berbusananya yang begitu biasa.
Dimas tesenyum lebar. "Ya, dan tak lupa ini." Lelaki itu memegang rambutnya. "Capek kalau tiap bulan pergi ke tukang cukur rambut."
"Ya, rambutmu memang cepat sekali memanjang."
Hening menengahi obrolanku dengan Dimas. Dimas diam, sepertinya dia sedang mencari topik yang bisa dibicarakan.
Bertemu kembali dengan seseorang yang dulu selalu ada di sampingmu, setelah pertidaktemuan yang cukup lama, bisa membuatmu seperti orang bodoh yang tidak tahu ingin membicarakan apa. Itulah yang terjadi denganku dan Dimas saat ini.
"Masih sibuk menulis?" tanya Dimas membuka topik obrolan lagi.
"Ya masih."
"Aku masih ingat percakapan pertama kita. Kira-kira suasananya seperti ini kan?" tanya Dimas kembali.
Aku mengarahkan pandanganku kepada lelaki itu lagi. Dan mengingat-ingat saat pertama berkenalan dengannya, lalu sadar bahwa yang dikatakan Dimas benar. "Ya, sore hari, dan di sebuah taman. Hanya saja, lokasinya saja yang berbeda, walau sama-sama sebuah taman."
"Masih ingat apa yang kamu ucapkan kepadaku saat aku bertanya, apa alasanmu menulis?" Dimas menatapku lekat.
"Menulis takdir. Aku menulis tentang sesuatu yang ada di dalam pikiranku. Semoga apa yang kutulis menjadi takdir yang akan kutemui nantinya. Sebabnya itu aku selalu menulis hal-hal yang manis," ucap kami bersamaan. Aku cukup terkejut bahwa dia masih mengingat jawaban itu. Jawaban yang aku ucapkan kepada siapapun yang menanyakan alasanku menulis.
Kami saling menatap. Lalu tiba-tiba saja aku dan Dimas tersenyum, kemudian tertawa bersama.
"Ya... Ya... Sayangnya tidak selalu seperti itu," ucapku seraya membereskan laptop ke dalam tas.
"Maksudnya?" tanya Dimas dengan mimik wajah heran.
"Aku selalu menulis sesuatu yang manis, berharap itu menjadi takdir yang manis juga. Ya, sayangnya tidak selalu seperti itu. Kamu akan menikah bulan depan, dengan perempuan lain," ucapku dengan nada penekanan di kalimat terakhir. "Dan itu bukan takdir yang aku inginkan, sebenarnya." Aku bangkit dari bangku taman yang sudah kududuki sejak tadi. "Selamat, semoga pernikahan kalian nanti bahagia. Dan sepertinya aku tidak akan datang. Terima kasih untuk undangannya." Aku menyerahkan kembali sepucuk kartu undangan pernikahan itu kepada Dimas.
Aku melambaikan tangan kepada mantan kekasihku itu. Lelaki yang menemaniku selama hampir sewindu lamanya. Lelaki yang awalnya kupikir takdirku. Kadang memang seperti itu, aku hanya dapat berharap dia takdir kepadaku. Takdir yang manis. Sayangnya, takdir tidak dapat kita tentukan sendiri.
Jumat, 16 Agustus 2013
Tiga Senjata
Aku dengan seksama mendengarkan penjelasan seorang motivator yang berdiri di depan panggung. Memakai jas hitam dan celana bahan dengan warna senada. Motivator itu berjalan bolak-balik dari sudut panggung satu ke sudut panggung yang lain. Materi kali ini adalah tentang masalah percintaan dan jodoh.
"Tidak ada orang yang tidak memiliki jodohnya. Tuhan menciptakan manusia untuk hidup berpasangan. Jadi tidak ada seorang pun yang tidak memiliki pasangan, kecuali dia tidak menginginkannya atau dia tidak berusaha mencarinya."
"Lho, katanya tadi tiap orang punya jodohnya masing-masing, Pak. Lalu untuk apa lagi jodoh itu dicari?" Tiba-tiba salah seorang peserta mengacungkan jari dan melontarkan pertanyaan.
Motivator itu berhenti mondar-mandir, dan kini berdiri tepat di bangku peserta yang tiba-tiba bertanya tadi. Motivator itu tersenyum. "Walau jodoh sudah disiapkan oleh Tuhan, jika kamu tidak mencarinya dan berkenalan dengannya, bagaimana kamu bisa tahu dia itu jodoh kamu atau bukan? Lagipula, kalau kamu diam saja, tidak mencari, bagaimana mungkin kamu bertemu jodoh kamu?"
"Pak, tadi bapak bilang, bisa saja lelaki yang tidak rupawan berjodoh dengan wanita cantik? Bagaimana caranya, Pak? Apa harus kaya raya dulu baru bisa berjodoh dengan wanita cantik?" tanya seorang peserta lain yang duduk di sisi kanan panggung.
"Kenapa tidak?" Motivator itu berdeham sesaat. "Harta bukan syarat mutlak untuk mendapatkan hati wanita. Harta penting tapi bukan segalanya. Ada tiga senjata yang harus dimiliki oleh seorang lelaki untuk memikat hati wanita. Wanita manapun, mau wanita yang cantik, pintar, baik, sederhana atau wanita yang memiliki semua karakter itu. Semuanya bisa."
"Apa itu, Pak?" tanya peserta lainnya.
"Sikap, Sayang dan Setia."
"Maksudnya?"
"Lelaki yang memiliki sikap, penyayang dan tentu saja setia akan selalu dicari oleh para wanita. Memiliki harta lebih dan rupawan adalah paket pelengkap yang dicari. Walau tanpa menjadi lelaki rupawan pun, dengan tiga senjata tadi dapat memikat hati wanita manapun. Wanita yang baik tentunya." Motivator itu melemparkan senyuman kepadaku.
Aku tersenyum dan berkedip kepada Motivator itu. Perawakan Motivator itu sebenarnya biasa saja. Tidak rupawan pun juga tidak memiliki tubuh yang tinggi dan atletis. Dan sepertinya dia tidak bergelimang harta Hanya saja, pesonanya terlihat kuat. Auranya seperti memancar terang. Membuatku terkesima tiap kali melihatnya.
"Sepertinya kamu lupa satu hal, Pak. Tiga senjata seperti itu tidak hanya membuat lelaki dapat memikat hati perempuan," ucapku seraya membenarkan posisi dudukku.
"Kamu apa sih, Rudi? Kok ngomong sendiri gitu?" ucap Laina, sahabat perempuanku yang juga ikut menjadi peserta.
Rabu, 14 Agustus 2013
Tombol Pengingat
Malam benderang, sinar rembulan menerangi salah satu sudut jalan. Aku sesekali melihat ke luar, menikmati pemandangan bulan yang memasuki masa purnama. Terasa menenangkan.
Aku memperhatikan jam, harusnya, cafe tempat aku datangi saat ini sudah memulai acaranya. Acara yang membuat aku sengaja datang ke cafe ini. Malam puisi. Itu acara yang akan diadakan oleh cafe ini.
Aku bukanlah penyair. Hanya saja, menikmati sajak, puisi, syair atau apapun itu yang berupa barisan kata-kata indah, selalu membuat diriku tenang. Selalu ada 'magis' tersendiri saat mendengar puisi dibacakan oleh orang yang tepat. Seperti malam ini dan malam puisi lain yang sering kudatangi.
Acara dimulai dan seorang lelaki maju dan membacakan puisi milik penyair senior. Orang-orang diam mendengarkan dengan seksama.
"Hujan turun semalaman, paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi. Mereka tak mengenal gurindam dan peribahasa, tapi menghayati adat kita yang purba."
Puisi yang dibacakan dengan penuh penghayatan terasa di dada. Puisi tentang alam yang menyentil kehidupan manusia.
Aku memandang ke sekeliling. Berharap menemukan seseorang yang kucari. Perempuan yang kadang diam-diam ikut menikmati pembacaan di malam puisi yang sering diadakan di tempat ini.
"Menurutmu, apa bagian terbaik dari pembacaan puisi?" Aku teringat ucapan perempuan itu kepadaku saat pertama kali kami bertemu di salah satu acara malam puisi yang sudah kulupakan kapan.
"Menikmati saat puisi dinyanyikan? Dan kata-kata dibacakan dengan mimik dan penghayatan yang tepat?" ucapku kepada perempuan yang tak kutahu siapa namanya itu.
"Bukan. Menurutku, bagian terbaik dari puisi yang dibacakan ialah saat merasa puisi itu dituliskan untuk kita atau saat merasa puisi itu ditulis untuk mengingatkan kita akan sesuatu."
"Bagaimana bisa?" tanyaku heran.
Perempuan itu tertawa pelan. "Puisi itu adalah tombol pengingat, yang ketika ditekan (baca: dibaca) akan membawa kita kepada hal-hal yang berkaitan dengan apa yang dimaksudkan dalam puisi. Mengingatkan kita pada hal-hal yang pernah terjadi."
"Contohnya?" tanyaku semakin tak mengerti. Perempuan ini sepertinya memiliki pikiran yang cukup kompleks. Ucapannya tadi cukup sulit dicerna.
"Nikmati lebih banyak puisi dan datang lebih sering ke malam puisi. Nanti kamu akan mengerti puisi sebagai tombol pengingat," ucap perempuan itu seraya bangkit dari kursinya.
"Lalu, menurutmu, puisi selalu mengingatkanmu tentang apa?"
"Kehilangan. Mendengar puisi akan selalu mengingatkanku pada suatu hal yang tak lagi dapat kumiliki."
Aku menyesap kopi yang sudah mendingin dengan sekali tegukan. Aku melemparkan pandangan ke luar lagi. Menikmati sinar bulan yang sedang purnama.
Penampilan puisi tadi sudah selesai, kemudian tak lama maju seorang perempuan untuk membacakan sebuah puisi karya orang yang sama dengan puisi sebelumnya.
"Bagaimana kau berkata bahwa kau bukan matahari, sedang panasmu menggugurkan daun-daun, memisahkannya dari ranting tempatnya bergantung."
Aku mendengarkan lirik puisi itu dan mulai menyadari, bagiku, puisi ialah tombol pengingat yang akan selalu mengingatkanku pada perempuan itu.
Dalam sebuah puisi akan selalu ada kenangan. Untuk diingat atau dilupakan, ialah hal kesekian. Sebab kenangan, adalah sebuah kepastian, yang akan dikekalkan.
Selasa, 13 Agustus 2013
Sepasang Sepatu Tua
Debu-debu beterbangan. Sore ini akan menjadi sore yang melelahkan bagiku. Beres-beres untuk pindah kosan bukanlah hal yang mudah.
Hari ini setelah sekian tahun lamanya tinggal menetap di kamar mungil ukuran 3x4 meter yang lokasinya tak jauh dari kampus, aku harus mengucapkan selamat tinggal. Kamar kosan ini adalah yang pertama dan terakhir aku tempati semenjak mulai berkuliah di kota ini.
Minggu yang lalu aku resmi di wisuda. Itu artinya, urusanku dengan kampus telah selesai, dan aku akan meninggalkan kamar kosan ini lalu kembali pulang ke rumah.
"Semua barang-barang lo mau diapain? Mau lo bawa pulang semua?" tanya Santy, sahabatku yang rela untuk ikut repot meembantuku pindahan.
Aku berhenti sejenak memasukkan novel dan buku-buku koleksiku ke dalam kardus. "Dijual-jualin aja, San. Repot kalau aku bawa pulang semua." Ya, rumahku yang berada di kota lain membuatku tidak mungkin untuk membawa semua benda yang aku beli sendiri, yang ada di kamar kosan saat ini.
"TV, DVD dan lemarinya mau dijual? Bisa aja sih. Mungkin beberapa junior ada yang mau bayarin. Kondisinya masih bagus kayaknya."
"Yaudah dijual aja," ucapku kembali memasukkan novel-novel koleksiku ke dalam kardus kedua. "Oh iya, San. Sekalian tolong lo pilih-pilih ya, barang-barang kecil yang menurut lo masih bagus dan nggak. Beberapa mungkin bakal gua buang."
"Siap, Bos!" ucap Santy memberikan salam hormat kepadaku.
"Isshh apa sih," desisku.
"Ya abis, lo daritadi ngasih perintah melulu. Kayak bos. Kayak Nino." Santy berceletuk seraya mengeluarkan beberapa benda yang aku taruh di kolong kasur.
Aku berhenti sejenak membereskan novel saat nama itu disebutkan. Nino, kekasihku. Lelaki yang menemaniku selama aku kuliah. Kami berkenalan dan menjalin hubungan saat masa awal kuliah dan mengakhirinya secara paksa tak lama sebelum mengenakan toga. Nino memang memiliki karakter yang cukup 'bossy', suka memberi perintah, walau tidak semenyebalkan kebayakan orang berkarakter seperti itu. Mungkin 4 tahun bersamanya membuat kebiasaannya itu menular ke diriku.
"Udah dong, jangan dibahas lagi." Kadang, setelah sekian lama bersama seseorang, akan ada beberapa kebiasaan orang tersebut yang akan melekat dan terbawa dalam diri kita.
"Iya deh, iya." Santy mengecek satu persatu benda yang dia keluarkan dari kolong tempat tidur. "Yang ini mau lo bawa nggak?" tanya sahabatku itu melemparkan sebuah kotak kardus kepadaku.
Aku tertegun memandangi kotak itu. Kotak itu adalah kotak berisi sepasang sepatu berwarna merah. Sepatu model klasik yang umurnya pun seklasik modelnya.
Sepatu merah adalah benda yang harus dibawa oleh mahasiswi baru saat masa 'perploncoan'. Sepatu itu bukan milikku. Aku tidak suka warna merah, maka itu aku tak pernah punya sepatu berwarna merah. Sepatu itu milik Nino, tepatnya, sepatu merah itu milik ibunya. Nino memberikannya kepadaku saat tahu aku tidak membawa sepatu merah. Dia melindungiku, dan mau menanggung hukuman untuk dikerjai senior karena dikira tak membawa sepatu merah.
Aku memandangi sepasang sepatu tua yang tersimpan rapi di dalam kotaknya. Sepatu yang menjadi awal aku mengenal Nino. Aku meletakkkan kotak sepatu itu di jajaran benda yang akan aku bawa pulang.
Akan selalu ada yang terbawa dari masa lalu. Dan aku kini merasakan rindu.
"Santy.... Nanti setelah beres-beres, kita ke Tanah Kusir dulu yuk, temani gue liat Nino."
Rona wajah Santy terlihat sendu saat menatapku. "Iya, Nayla." Santy mendekat dan memelukku. "Nino sudah tenang disana, Nay. Lo jangan sedih lagi yah."
Seketika, aku mengingat kembali kejadian malam itu, beberapa hari sebelum wisuda. Kabar yang datang tengah malam dari seorang polisi yang menghubungiku dari nomor Nino. Kecelakaan dan korban meninggal di tempat, begitulah yang dikabarkan kepadaku, nomor terakhir yang dihubungi Nino.
Aku mengambil sepasang sepatu tua berwarna merah itu, dan kupeluk erat. Selalu ada cerita pada sebuah benda, kenangan akan selalu bersemayam disana.
Kamis, 04 April 2013
Cinta Dari Balik Mata
Sore itu, seperti biasa, seperti sore di hari sebelumnya, aku sibuk memandangi langit yang menjadi jingga. Belasan layang-layang serupa bintik yang menghiasi langit yang hampir memerah seutuhnya.
Aku melihatmu berjalan pulang menuju rumahmu yang letaknya hanya beberapa pintu dari rumahku dan berseberangan, dipisahkan oleh sepetak gang kecil yang hanya muat dilalui oleh kendaraan bermotor.
Seperti biasa pula, aku memberikanmu sapaan terhangat dan senyuman terbaik yang kupunya. Dan harusnya, seperti biasa kamu pun akan mengangguk, membalas sapaanku dengan sungging senyumanmu. Seharusnya.
Sore ini, kamu diam saja saat kusapa. Wajahmu tertunduk, seolah enggan untuk menatapku. Langkahmu menjadi lebih cepat saat tubuhmu merapat ke arahku.
Senja terasa menjadi lebih sunyi dari malam yang ada di dalam pikiranku itu. Saat bibir kita diam membeku. Kata-kata mati dilesapkan diam. Hanya ada kamu, aku dan jejak-jejak kesedihan yang tertinggal di belakang.
Kirana, hari ini, aku merasakan cinta sedang sampai pada puncaknya. Dari rona wajahmu yang muram, aku melihat, ada cinta yang tertahan di balik airmata. Kamu, sedang membohongi dirimu sendiri. Dan aku, sedang berpura-pura bahwa luka hanyalah cara cinta menasbihkan dirinya, dalam ketidakrelaan.
Dalam pikiranku, aku masih jelas membayangkannya. Kata-kata menjadi serupa belati yang membunuh asa. Kau jejalkan kata-kata perpisahan yang diiringi oleh ciuman panjang; pengganti pelukan. Aku akan dijodohkan, katamu.
Kamu menerimanya? Tanyaku saat itu. Dan dalam memori pikiranku, kau menjawab dengan anggukan. Serupa ketuk palu hakim yang menjatuhkan vonis terberat dalam hidupku. Kamu sudah menjatuhkan pilihan, yang menjerumuskanku pada jeruji hati.
Dalam pikiranku pun, aku bertanya padamu. Dengan kedua tanganku mencengkeran pundak kecilmu aku memastikan, apakah kamu sudah tak mencintaiku? Dan sebuah anggukan darimu benar-benar mematikan harapanku, hanya harapan, bukan cinta.
Dari mataku, aku melihat cinta di bola matamu. Senyata senja sore ini, dari bening indera penglihatanmu, dirimu menyatakan cinta yang besar, menampakkan kekecewaan yang besar.
Nyatanya, semua yang ada dipikiranku, hanyalah ada dipikiranku saja. Aku tak pernah menjadi kekasihmu, dan malam perpisahan itu tak pernah ada. Hanya saja, kehilangan yang sebenar-benarnya nyata. Aku tahu kau menunggu. Dan kau tahu, bahwa aku tak akan pernah berani melangkah kesana. Hingga akhirnya sore ini aku sadar, bahwa cinta tak pernah cukup untuk membawamu pergi.
Malam itu, dari beranda rumahku aku melihat sebuah perayaan yang membahagiakan keluargamu. Seorang pria sempurna meminangmu, memintamu menjadi pendamping hidupnya. Aku melihat duka di matamu malam itu.
Kau bisa membohongi orang lain, tapi tidak denganku. Matamu adalh mataku. Kesedihanmu pasti terlihat olehku. Dan luka yang kau rasakan, tak pernah dapat kau sembunyikan dari penglihatanku.
Sore ini, akan menjadi sore yang lain dan tak akan pernah lagi sama. Kamu, tak dapat lagi kusapa. Dan senyumanmu tak akan pernah lagi kau berikan kepadaku.
"Semoga kamu bahagia Kirana." Aku berucap kepada perempuan yang sudah berjalan beberapa langkah melewatiku. Dan aku yakin dia tidak mendengarnya. Tak apa, itu lebih baik.
Langit sudah menggelap seutuhnya. Aku memutar roda, menggerakkannya ke dalam rumah. Melepas cinta tak pernah mudah, apalagi cinta yang disembunyikan tapi diketahui oleh orang kita cintai. Aku melepas nafas panjang. "Dek, bantu Abang dong," ucapku kepada adik lelakiku untuk membopongku pindah dari kursi roda ke kasur.
Rabu, 02 Januari 2013
Stranger
Jumat, 28 Desember 2012
Terlalu Fiksi
Malam ini sunyi memeluk hati jiwa-jiwa yang sedang cemas dan gelisah. Di sebuah beranda rumah, duduk sepasang anak Tuhan yang saling diam dalam keterasingan.
Secangkir kopi dan segelas teh yang sudah mendingin menjadi sepasang hiasan di atas meja bundar, yang membatasi jarak di antara dua insan tersebut. Dalam diam, sepasang kekasih itu diam-diam meriuhkan kecemasan yang ingin segera dicurahkan.
"Ketika kita memutuskan untuk memulai, bukankah kita sudah siap dengan keadaan yang seperti ini?" ucap kekasih perempuan kepada kekasih lelakinya. "Tama, aku yakin kita bisa."
Tama masih larut dalam keheningan. Lelaki itu tetal diam, sementara dalam benaknya sebuah debat sedang terjadi; antara dirinya dengan bagian dirinya yang lain.
"Bukankah kita saling mencintai?" tanya kekasih perempuan itu kepada Tama.
Tama membuka kelopak matanya, dia menghembuskan nafas sebelum mulai berkata. "Ya, benar. Aku dan kamu saling mencintai. Aku tidak pernah memungkiri hal itu. Bahkan hingga malam ini, rasa cinta kepadamu tak berubah. Masih sama seperti hari sebelumnya."
"Lalu kenapa?"
"Kirana, terkadang ada hal-hal yang tidak akan mampu kita sebrangi hanya dengan sebuah keyakinan saja," ucap Tama kepada kekasihnya. Dia mengamit jemari kekasihnya itu. "Aku sudah meyakini hatiku berkali-kali, berharap, sebuah perpisahan bukanlah jawaban dari permasalahan yang kita hadapi."
"Lalu kenapa?" tanya Kirana kembali. Suara terdengar lirih dan bergetar. Terlihat perempuan itu menggigit bibir bawahnya. Mencoba menahan getir di hatinya agar tak pecah menjadi air mata.
Malam semakin terasa sunyi. Padahal jarum jam masih menunjukkan pukul 8 malam. Waktu seolah melambatkan lajunya untuk memberi waktu yang lebih lama pada keheningan dalam pembicaraan Tama dan Kirana.
"Karena terkadang, kenyataan menjadi tembok tinggi yang tak akan pernah mampu kita panjat. Atau menjadi jurang pemisah yang tak akan bisa kita sebrangi. Terlalu sulit."
"Aku selalu percaya, selama kita yakin dan percaya, kita dapat melakukan hal apa saja, yang sulit sekalipun."
"Kirana, sadarkah kamu, kalau kisah kita terlalu dipaksakan. Dan sayangnya, kita hidup dalam kenyataan, yang tidak semua hal yang kita inginkan akan kita dapatkan," ucap Tama kepada Kirana yang mulai meneteskan airmata.
Kenyataan adalah musuh terberat dari semua impian, harapan dan keinginan. Kenyataan pun adalah pembunuh terhebat dari setiap cita-cita yang akhirnya mati dan tak terwujudkan, menjadi makam dari seluruh hal yang sering diidam-idamkan.
Dalam diam, benak Tama mengulang-ulang kejadian beberapa hari terakhir yang dialaminya. Penolakan-penolakan terus terjadi dan tak sanggup dia redakan. Di ujung perdebatan yang terjadi dalam beberapa hari itu, sebuah pilihan harus dia lakukan. Dan memilih tak selamanya mudah.
"Ayah nggak setuju. Kalau kamu tetap dengan keinginanmu. Pergilah, dan jangan ingat ini adalah rumahmu."
Masih terngiang jelas dalam kepala Tama, suara nyaring ayahnya yang membentak dirinya tersebut dua hari yang lalu. Perdebatan sengit dengan semua argumen yang dibawa oleh Tama tak berhasil, dan tak menjadi apa-apa.
"Tapi, aku cinta dengan Kirana."
"Tak ada cinta dalam hal seperti ini. Kalian berbeda. Tak sama. Ada batas-batas yang tak akan pernah bisa dilanggar, yaitu agama."
Tama memejamkan matanya. Ingatan-ingatan itu selaksa pisau yang mengiris jiwanya secara perlahan. Melumat keyakinan hubungannya dengan Kirana dengan pasti.
"Tama," ucap Kirana sesunggukkan. "Aku cinta sama kamu. Kamu tahu hal itu lebih baik dari siapa pun." Kirana mengusap airmata yang mengalir dari kedua bola matanya. Pipinya sudah dibanjiri oleh airmatanya sendiri. Airmata yang menandakan kesedihan dan ketidakberdayaan. Airmata yang menjadi penanda matinya sebuah harapan.
Tama memijat keningnya, kemudian ditangkupkan wajahnya dalam telapak tanagannya. Dia diam membisu. Sementara Kirana masih menangis dalam diam. Tangisan yang sungguh memilukan, tanpa suara tapi menciptakan kepiluan.
"Tam, bukannya lo udah sadar konsekuensinya?"
Teringat oleh Tama perkataan sahabatnya, Rudi. Tama teringat oleh celotehan-celotehan Rudi beberapa hari yang lalu saat dirinya menceritakan tentang masalah yang mendera hubungannya dengan Kirana.
Tama tertunduk saat malam itu, Rudi dengan gamblang menuturkan kata-kata yang membuatku tak berkutik. Saat itu Tama hanya dapat menelan liur yang mengering di tenggorokkanku. Sahabatnya itu memang selalu blak-blakkan dalam memberikan komentar.
"Lebih baik jujur walaupun pahit, daripada lo dapet komentar manis tapi menipu kenyataan."
Kata-kata itu selalu Rudi ucapkan kepada Tama setelah selesai menghujaninya dengan ucapan-ucapan pahit sepahit obat, tapi menyadarkan Tama pada kenyataan.
"Kirana," ucap Tama seraya memegang jemari kekasihnya itu. Sebelah tangannya yang lain mengusap pipi Kirana yang basah. Isaknya sudah mulai mereda, sepertinya Kirana sudah mulai dapat mengendalikan emosinya. "Inilah kenyataannya. Dan aku tidak dapat menolaknya. Semoga kita bahagia di masa depan kita masing-masing. Kamu akan selalu di hatiku."
Tama berdiri dari kursi, berjalan ke arah motor yang diparkir di halaman depan beranda. Tama melihat Kirana yang masih mengusap airmatanya agar tak mengalir lagi. Tama memantapkan langkahnya untuk segera pulang. Segera dihidupkan motor dan keluar dari rumah Kirana, agar kesedihannya tak semakin menjadi karena melihat Kirana yang seperti ini.
Hidup itu pilihan bukan? Tapi sayangnya tidak semua orang dapat memilih. Seperti Tama malam ini. Berpisah dengan Kirana bukanlah sebuah pilihan, tapi sesuatu yang harus terjadi. Jika ada pilihan lain, memutuskan hubungan dengan Kirana adalah pilihan terakhir yang akan dipilih Tama.
***
Tama duduk termenung di meja yang ada di dalam kamarnya. Kertas-kertas, buku dan pena berebut tempat menyesaki meja. Sebuah kertas penuh coretan aksara ada dalam genggamannya. Baru saja sebuah sajak dituliskannya, sajak yang akan digunakannya untuk acara pembacaan puisi yang diadakan seminggu lagi.
Tama membaca kembali coretan-coretan tangannya, menyalinnya kembali dengan tulisan yang lebih rapi di kertas yang lain. Lamat-lamat sesak mengisi rongga pernafasannya. Aksara yang dipilihnya hingga menjadi susunan kalimat dalam sajak ini begitu terasa ironi. Sajak yang ditulisnya seperti menceritakan kembali getir dan pedihnya sebuah cinta yang dipunyai oleh sepasang hati, tapi tak pernah dapat saling memiliki; seperti kisahnya dengan Kirana.
Malam terasa sunyi. Deru angin yang mengepakkan sayap dedaunan terasa nyaring di telinga Tama. Hening terasa mengental, Tama duduk di antara kertas, pena dan buku yang kini berserak di atas kasurnya. Dalam genggamannya terdapat sebuah buku puisi karya Agus Noor. Dilafalkannya pelan-pelan tiap baris kata dalam buku tersebut. Tama menyesapi tiap bulir kata yang Agus Noor tuliskan. Dada Tama bergemuruh setiap membaca isi buku yang seperti-dia-sekali, seolah Agus Noor menciptakan buku puisi tersebut untuknya; untuk merayakan kesedihannya.
Malam memberikan jeda pada lamunan panjang. Jiwa melolongkan kesedihan pada malam yang hening. Tama melewatkan malam dengan kenangan tentang Kirana yang tak pernah bosan dia kenang.
***
Kirana menjejerkan kertas-kertas yang sudah kumal di atas kasurnya. Di atas selimut tidurnya dia kumpulkan kembali semua kertas puisi yang sudah kumal karena sering dia baca.
Perlahan airmata menetes tanpa aba-aba. Kirana tak dapat membendung kesedihan yang ditanggungnya. Pertahanannya tak cukup kuat untuk menahan rasa kehilangan. Hatinya belum cukup belajar pada ketabahan. Hatinya belum dapat menerima sebuah perpisahan, yang sejak awal sudah dia ketahui.
Setabah apa pun hati, sebuah kehilangan tetaplah kehilangan, yang pasti meninggalkan celah pada sesuatu yang ditinggalkan. Kirana terisak saat menyadari dia tak sepenuhnya bisa merelakan Tama. Padahal sudah hampir seminggu waktu berjalan sejak malam itu. Malam yang tak pernah diinginkan oleh Tama dan Kirana, namun menjadi malam yang pasti akan datang; bahkan sejal mereka pertama kali memutuskan menjadi sepasang kekasih.
"Aku sayang kamu," ucap Tama kepada Kirana. Dia mengamit jemari perempuan dihadapannya dan mengusap lembut rambut-rambut kecil yang mencuat di samping telinga Kirana.
"Aku pun seperti itu. Tapi mungkinkah kita bisa bersama?" ujar Kirana ragu. "Ki-"
Ucapan Kirana terhenti saat sebuah telunjuk menempel di bibirnya. "Aku tahu, tapi hal itu tak menghentikan perasaanku padamu. Kita jalani saja, sampai dimana kita dapat menjalaninya." Tama tersenyum kepada Kirana. Kini wajah mereka saling berhadapan. Bola mata Kirana mencari lesungguhan di dalam bola mata lelaki yang menyatakan cintanya itu kepada dirinya.
"Sampai kapan?" tanya Kirana.
"Sampai tak ada restu yang kita dapat dari orang yang melahirkan kita," ucap Tama tegas.
Airmata semakin deras mengalir di pipi Kirana saat sekelebat ingatan saat mereka memutuskan untuk berpacaran hadir di benaknya. Kertas-kertas puisi buatan Tama kembali basah menampung airmata kesedihan Kirana.
***
"Buat ibu, nggak masalah kamu menikah dengan perempuan manapun, karena ibu percaya kamu dapat memilih perempuan yang baik untuk menjadi pasanganmu kelak. Ibu merestui," ucap Ibu kepada Tama. "Tapi, kalau perempuan itu tidak seagama dengan kamu, tidak ada restu untukmu," lanjutnya.
Tama diam terduduk di kursi. Dihadapannya ada ayah dan ibunya. Tama seperti seorang terdakwa yang dihujani fakta-fakta yang membuatnya terlihat salah; salah dalam memilih Kirana sebagai perempuan yang ingin dipinangnya.
"Kirana perempuan baik-baik dan aku mencintainya," ujar Tama kepada ayah dan ibunya.
"Jika dia tidak berbeda agama denganmu, restu dari ibu akan kamu dapatkan, 'Nak," ucap Ibu kepada Tama yang menutup wajahnya dengan telapak tangan. Kekecewan tergambar jelas di wajahnya. Tama sudah kalah. Tidak ada yang dapat dilakukannya untuk mempertahankan hubungannya dengan Kirana. Saat restu tak dapat dia dapatkan, saat itu akhir hubungannya dengan Kirana terputuskan.
Tama terbangun dari tidurnya. Bulir-bulit keringat sebesar biji jagung keluar dari pori-pori membasahi tubuhnya. Mimpi yang baru saja dialaminya sungguh menguras emosinya. Mimpi tentang kejadian beberapa minggu yang lalu itu membayangi Tama. Seolah tak lelah menghujamkan kesedihan pada dirinya.
Dilihatnya jam dinding baru menunjukkan pukul 2 pagi. Tama memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. Sebab dia harus cukup istirahat agar penampilannya di acara bacaan puisi jam 3 sore nanti bisa maksimal. Seraya berdoa agar mimpi buruk itu tak berulang, Tama merebahkan kembali tubuhnya.
***
Kirana berjalan cepat menuju tempat acara pembacaan puisi. Diliriknya jam yang melingkari tangannya. Dia sudah telah hampit 30 menit. Semoga Tama belum tampil, batin Kirana.
Tempat berlangsungnya acara pembacaan puisi di sebuah cafe di salah satu mall terbesar di kota ini. Cafe yang letaknya ada di lantai teratas membuat Kirana melajukan langkahnya dengan cepat; berkompetisi dengan waktu.
Saat baru memasuki cafe, Kirana mencari posisi untuk melihat stage yang disiapkan untuk para pembaca puisi. Dan ketika Kirana sudah mendapatkan posisi yang nyaman, ternyata penampilan Tama baru saja akan dimulai. "Syukurlah," ucap Kirana seraya menuliskan makanan yang akan dipesannya di notes yang diberikan oleh pelayan cafe.
"Berikutnya adalah pembacaan puisi dari Pratama Putra Perdana," ucap pembawa acara mempersilahkan Tama maju ke depan stage.
Karena Kita Terlalu Fiksi
Aksara ini adalah rangkuman kisah kehidupan kita
Cerita tentang cinta, yang selalu kita jaga, agar tetap bernyawa
Kamu akan abadi bersama sajak ini
Tak mati, juga tak akan hilang dalam terbatasnya ingatan diri
Sebut saja kita sepasang tokoh cerita di dalam dunia fiksi
Dimana, tiap kisah akan berakhir bahagia adanya
Tanpa airmata, hanya tawa selaksa bahagia yang abadi dalam senyum kita
Aku abadikan memori kita dalam aksara-aksara yang bernyawa
Nyawa yang lebih kekal dari waktu, nyawa yang lebih panjang dari kematian
Aku mencintaimu. Ya, mencintaimu.
Sayangnya, hutang kita di kehidupan tak cukup lunas terbayarkan dengan rasa cinta kepadamu
Selaksa tembok karang tak sanggup tanganku daki
Serupa itu dalamnya palung kenyataan yang tak mampu kuselami
Kekasihku, ketika kamu mendengar puisi ini
Yakini satu hal dalam sanubari
Kisah ini hanyalah bagian dari fiksi yang kita.jalani
Secuil fantasi yang susah payah kita jalin rapi, dan mati oleh sebab tak dapat kita pungkiri
Kekasihku, matamu adalah taman terindah yang permah kupandangi
Disana kumanjakan diri dalam ketenangan dan keindahan yang hanya sanubari mengerti
Maka kekasihku, kenanglah kisah fiksi kita ini dalam diri
Dan bila kau rindui lagi, bacalah puisi ini
Karena kisah kita memang terlalu fiksi.
Saat Tama selesaikan membacakan pembacaan puisinya, suasana yang tadi hening mendadak jadi ramai dan riuh oleh tepuk tangan. Hampir seluruh pengunjunf cafe bertepuk tangan. Kirana pun ikut bertepuk tangan setelah pembacaan puisi selesai. Pembacaan puisi tadi menggetarkan tubuhnya. Entah sebab puisinya yang teramat indah, atau sebab dirinya menggigil karena kesedihan.
Kirana meninggalkan kursinya, berjalan ke arah Tama. Saat berhadapan dengan lelaki itu, Kirana menghunuskan pandangannya ke jantung mata Tama. Mereka berdua terdiam seraya saling bertatapan.
"Puisi yang bagus," ucap Kirana memutus keheningan.
Tam tersenyum seraya menyodorkan kertas puisi yang dibacakan tadi. "Simpanlah ini. Anggap saja puisi terakhir dariku untukmu."
"Apa yang selanjutnya kamu cari Tama?" tanya Kirana saat Tama mulai berjalan meninggalkan Kirana.
"Tidak tahu, mungkin aku akan belajar dari kesedihan, bagaimana cara jatuh cinta lagi." Tama tersenyum simpul ke arah Kirana. Meyembunyikan kesedihan yang teramat dalam ditanggungnya. Tama ingin, Kirana tak tahu seberapa tak berdayanya dia.
"Andai kita bisa mengulangnya lagi. Aku ingin hidup di dunia dimana tak ada perbedaan penafsiran agama. Sehingga tak ada pembedaan dan pelabelan agama tertentu."
Tama membalikkan badannya. "Ya, andai saja bisa seperti itu. Sayangnya itu tak pernah terjadi. Lebih baik nikmati saja jalan di depan yang penuh dengan luka itu. Semoga kita akan bahagia." Tama meninggalkan Kirana di dalam cafe. Lelaki itu pergi ke pojok ruangan dan berkumpul dengan teman-temannya yang lain.
Kirana terdiam menatap Tama. Digenggemnya erat kalung simbol kepercayaannya yang melingkar di lehernya.