Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Juni 2014

Riana dan Buku Tua

Apa hal yang paling kamu takutkan? Riana membaca kalimat pertama dari halaman paling awal pada buku yang dipegangnya saat ini. Kalimat tersebut dituliskan dengan warna hitam dengan corak tulisan yang miring dan ditulis dengan huruf sambung. Sesekali dia meniup debu yang menempel pada sekujur buku yang baru saja ditemukan olehnya beberapa menit yang lalu.

Riana menutup buku tersebut, lalu mengelus sampul buku yang warna hitamnya sudah agar pudar. Waktu sudah melunturkan kepekatan warna sampul buku tersebut. Riana tak tahu buku itu milik siapa, dan juga tak menanyakan kepada kedua orangtuanya siapa pemilik buku tersebut. Buku tersebut adalah hasil pencarian dari membongkar gudang barang-barang lama untuk mencari buku lama miliknya, namun yang ditemukan adalah buku tua dengan sampul berwarna hitam pudar dan kertas kecoklatan. Waktu menunjukkan dengan jelas umur buku tersebut lebih tua dari umur remaja tanggung yang menemukannya.

Riana memperhatikan dengan seksama buku tersebut, lalu kembali membuka buku itu. Apakah kamu takut akan darah? Riana kembali membaca sebuah kalimat yang ada di halaman ketiga buku tersebut. Hanya ada satu kalimat yang tadi dibaca, tidak ada yang lain. Kalimat tersebut berada di tengah halaman, terlihat sangat mencolok dengan warna merah yang begitu pekat.

Tidak, ucap Riana sedikit ragu. Seketika bulu roman di tengkuknya meremang. Dengan enggan dia menyentuh tulisan tersebut. Tubuhnya menegang kala menyadari bahwa tulisan di halaman kedua masih basah, seolah baru saja dituliskan. Didekatkan jemarinya yang digunakan untuk menyentuh kalimat ke hidungnya, dan mendapati bau anyir di sana.

Riana menelan ludahnya sendiri dan menutup kembali buku tua itu secara refleks, lalu menoleh ke arah kiri dan kanan bergantian. Tanpa dia sadari pundak dan punggungnya sudah basah, juga nafasnya yang agak memburu. Dia menoleh ke arah dinding di dekat ruang tengah dan melihat jam yang dipasang oleh Ayahnya, waktu sudah menunjukkan pukul empat namun kedua orangtuanya belum juga pulang. Padahal, sebelum pergi mereka mengatakan akan pulang sebelum pukul empat sore.

Riana menunggu di ruang tengah, menatap ke arah pintu namun sesekali mengarahkan pandangannya kembali ke arah buku tua tersebut, berulang-ulang. Darah mudanya yang penuh dengan gejolak rasa penasaran berkali-kali mendorongnya untuk membuka kembali buku tersebut dan melihat halamannya selanjutnya.

Dari sofa di ruang tengah remaja tersebut perlahan bangkit dan berjalan ke arah buku tua yang tadi ditinggalkannya di atas rak televisi. Degup jantungnya makin kencang seiring makin dekat tangannya untuk menyentuh buku tua tersebut.

"Adeeekkk..." Suara Ibu terdengar dari halaman depan. Kedua orangtuanya baru saja tiba. Riana berbalik ke arah pintu, buku tua tersebut disembunyikannya di bagian belakang bajunya, diselipkan di pinggang celananya. "Adek, tolong bantu Ibu, Dek," ucap Ibu yang terlihat kepayahan membawa beberapa kantong belanjaan bulanan seperti sabun, shampo, deterjen dan benda-benda keperluan yang diperlukan selama satu bulan ke depan.

Riana berjalan pelan ke arah pintu agar tidak terlihat mencurigakan, diambilnya salah satu kantong belanjaan berisi peralatan mandi ke arah dapur dan meletakkannya sembarang di dekat wetafel. Kemudian kembali ke arah pintu dan melakukan hal yang sama sementara ayah dan ibunya menurunkan beberapa kantong belanjaan persediaan makanan dari dalam mobil.

"Adek mau es krim? Ini Ibu beliin es krim cokelat kesukaanmu nih." Ibu mengeluarkan sekotak es krim yang tidak pernah mampu ditolak oleh Riana. Kedua bola mata remaja tanggung tersebut membulat.

Mau, Bu. Remaja itu mengangguk kepada Ibu dan Ayahnya yang sudah duduk di dekat meja makan. Diambilnya sekotak es krim itu dan dibawanya pergi.

"Adek mau makan es krim di mana? Nggak di sini aja? Bareng Ayah sama Ibu?" tanya Ayah kepada putrinya yang baru saja masuk usia belasan.

Riana menggeleng lemah. Aku mau makan di dalam kamar saja, sekalian mau baca sesuatu.

Ayah menggangguk, paham akan kode tangan yang diberikan putri semata wayangnya itu. "Yaudah, nanti sampahnya diberesin yah."

***

Satu suapan es krim kembali masuk ke dalam mulut Riana saat dia duduk di atas kasurnya. Di hadapannya buku tua yang ditemukannya di gudang masih tergolek manis. Sejak tadi Riana berkali-kali menyendokkan es krim tanpa sekalipun membuka buku tersebut dan melihat halaman selanjutnya. Sejujurnya dia merasa takut, namun rasa penasarannya begitu kuat sehingga membuatnya tak sabar untuk membaca kalimat yang ada di halamannya selanjutnya.

Dipegangnya buku itu untuk kesekian kali. Lalu diletakkannya kembali di atas kasur. Berulang kali Riana lakukan itu. Hingga akhirnya tak ada lagi es krim yang bisa disuap ke dalam mulutnya, baru dibulatkan tekadnya untuk membuka halaman selanjutnya buku tersebut.

Apakah kamu takut gelap. Kalimat itu tertulis di halaman kelima. Tidak seperti dua kalimat sebelumnya, di halaman kelima ini posisi kalimatnya ada di pojok kanan buku, dan berwarna perak.

Riana mengerenyitkan dahinya. Dia menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan tadi. Seketika kamarnya menjadi gelap gulita. Nafasnya tercekat, jantungnya berdetak kencang, dan perasaan panik dengan cepat merambati dirinya. Diraih ponselnya yang berada tak jauh dari genggamannya. Cahaya dari layar ponselnya menjadi satu-satunya pelita yang dimilikinya. Dengan segera Riana berjalan ke arah pintu kamarnya, dan keluar.

Ibu berjalan dari ruang tengah ke arah Riana yang baru keluar dari dalam kamarnya. Ibu memegang sebuah lampu baterai di tangannya sebagai sumber cahaya. "Sepertinya lagi ada pemadaman listrik, Dek. Tadi Ayah cek keluar, dan tetangga yang lain juga pada mati lampu. Ayo adek duduk di ruang tengah aja sama Ayah dan Ibu," ucap Ibu yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Riana yang masih sibuk mengatur nafasnya.

Dalam diamnya Riana memikirkan buku tua tersebut, seketika bulu kuduknya kembali berdiri dan meremang. Riana yang memeluk lengan Ibu saat dituntun ke ruang tengah mempererat pelukannya.

"Adek kenapa? Nggak biasanya takut gelap," ujar Ibu yang tak mendapat tanggapan dari Riana.

Listrik baru hidup kembali satu jam kemudian. Riana kembali masuk ke dalam kamar dan matanya langsung tertuju pada buku yang masih terbuka di halaman kelima. Riana dengan segera ditutupnya buku tersebut dan memasukkannya ke dalam plastik lalu dimasukkan ke dalam tempat sampah.

Riana kemudian membawa tempat sampahnya ke luar rumah dan mengeluarkan isinya ke tempat sampah utama, agar besok pagi akan diambil oleh tukang sampah.

***

Riana terbangun dari tidurnya, saat Ibu membuka jendela kamarnya. Pagi sudah tiba, sinar matahari menyilaukan matanya dan memaksanya untuk bangkit dari tempat tidurnya. "Adek... bangun, mandi sekarang yah, biar nggak telat ke sekolahnya.

Dengan enggan Riana mengambil handuk yang tergantung di salah satu dinding kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melewati meja belajar.

Tubuh remaja tanggung itu bergetar saat melihat buku tua itu ada di atas meja belajarnya dengan kondisi terbuka di halaman kelima.

Rabu, 23 April 2014

Pertemuan yang Tak Pernah Kuinginkan Untuk Berakhir

Pertemuan dan perpisahan adalah jodoh abadi yang tak akan mungkin muncul tanpa disertai satu sama lain. Tak akan pernah ada sebuah awal pertemuan yang tidak diakhiri dengan perpisahan. Siapapun dia, dalam keadaan apapun, sebuah awal perkenalan pasti akan diakhiri dengan perpisahan. Yang membedakannya hanya waktu yang ada di antara keduanya; kenangan yang tercipta di antara jeda tersebut.

Tak selalu, sebuah awal pertemuan akan menimbulkan kesan baik dan menyenangkan. Umumnya sebuah pertemuan–yang biasanya–tidak sengaja akan menimbulkan kesan seperti itu. Seperti yang terjadi pada Zuan, di tengah terik matahari yang menyapanya, sebuah pertemuan yang–cukup–tidak menyenangkan dihadapinya.

“Jangan dorong,” terdengar suara seseorang dari belakang Zuan saat dirinya bersama mahasiswa baru lainnya sedang mengantri masuk ke dalam gedung kesehatan. Tes kesehatan yang harus dilakukan seluruh mahasiswa baru dalam waktu bersamaan ini menimbulkan antrian yang tidak sedikit. Satu angkatan mahasiswa baru berbaris rapi sejak pagi di depan gedung kesehatan. Prosedur tes kesehatan yang–cukup–tidak efektif membuat banyak mahasiswa baru belum menjalani tes, padahal hari sudah siang.

Antrian di belakang Zuan makin tidak karuan, dorongan dari beberapa orang yang tidak sabar membuat antrian menjadi tidak kondusif. “Pak, sudah siang nih,” teriak salah seorang mahasiswa berbadan besar yang berdiri tak jauh dari belakang Zuan. Seorang panitia–yang sepertinya dosen–tidak mampu menenangkan ketidak-sabaran para mahasiswa baru.

Sebuah dorongan keras dari arah belakang dirasakan lagi oleh Zuan, dirinya yang tidak siap, langsung oleng dan jatuh menubruk seseorang di depannya; mahasiswi. "Ah, maaf, ga sengaja," ucap Zuan seraya menangkupkan kedua tanganya di depan dada.

Perempuan berwajah khas bumi parahiyangan dihadapan Zuan hanya tersenyum masam pertanda maklum. Dia memegang sikunya, sedikit terluka sepertinya.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Zuan saat melihat ekpresi kesakitan di wajah perempuan itu.

"Nggak apa-apa," ucap perempuan tersebut, kemudian dia beranjak saat gilirannya tes kesehatan tiba. Dia segera masuk ke dalam gedung dan diperiksa oleh petugas medis.

Zuan memandangi perempuan tersebut, sampai gilirannya tiba. Pertemuan yang sangat tidak sengaja, dengan cara yangcukup–tidak menyenangkan. "Cukup manis," gumam Zuan seraya tersenyum mengomentari paras mahasiswi tersebut.

***

Pernahkan kamu berpikir dan menyadari, bahwa tidak pernah ada yang bernama kebetulan. Tuhan melalui pertanda alam sering bermain-main dengan rekaan yang tak pernah bisa diduga. Sebuah pertemuan yang tidak sengaja bisa menjadi sebuah awal yang bahagia, walau terkadang menimbulkan luka di dada.
“Kamu masih ingat semua hal itu?” tanya Zuan pada kekasihnya, Zahra.

Suasana kafe cangkir cukup lengang, hanya ada beberapa mahasiswa–termasuk Zuan dan Zahra. Zahra menganggup pelan seraya menyesap ice mocchacino kesukaannya. “Bagaimana aku bisa melupakan pertemuan pertama denganmu. Pertama kalinya aku ke kampus ini, langsung sebuah luka yang kamu berikan,” ucap Zahra seraya tertawa kecil.“

Zuan ikut tertawa mendengar ucapan Zahra, perempuan berwajah khas bumi parahiyangan itu mengingatkannya kembali pada awal pertemuannya dengan dia. Insiden dorong mendorong yang membuat kesan pertama mereka bertemu tidak menyenangkan. “Haha, aku percaya tidak ada yang namanya kebetulan. Setiap kejadian selalu berkaitan, sebelum atau sesudahnya. Seperti saat ini, mungkin saja, kejadian tersebutlah yang membuatmu tetap mengingat pertemuan pertama denganku.”

Zahra menatap lekat kedua bola mata Zuan, di sana dia menemukan kelembutan dan kehangatan lelaki yang menjadi kekasihnya sejak empat tahun yang lalu itu. Dia tersenyum, dadanya menghangat. “Ya, aku pun demikian. Begitu banyak pertemuan dengan lelaki, dan pertemuan denganmu menjadi sesuatu yang memiliki ingatan tersendiri, di sini,” ucapnya menunjuk ke arah dadanya.

“Lalu, apa lagi yang kamu ingat tentang pertemuan kita?” tanya Zuan.

Zahra memejamkan matanya, seolah mencari cerita yang tersesak di dalam kepalanya untuk dibacakan kembali kepada Zuan. “Apa perlu kuceritakan semuanya padamu?” Zahra balik bertanya.

“Ceritakanlah, aku ingin mendengarnya, walau aku pun tak pernah melupakan setiap pertemuan kita.” Zuan menggenggam jemari Zahra, dan tatapannya membalas tatapan perempuan yang dicintainya itu. Seolah berbicara, kedua mata mereka berkomunikasi, dan senyuman hangat bermekaran di bibir mereka masing-masing.

Terkadang ada hal-hal yang tak perlu diucapkan agar kita mengerti. Cukup dengan sebuah anggukan, mimik wajah, kedipan mata atau bahkan sebuah ekspresi diam, mampu membuat kita mengerti dan memahami apa yang ingin disampaikan.

Zuan dan Zahra masih beradu pandang dalam diam. Serupa itulah cara mereka membicarakan kenangan. Tak perlu suara, sebab mata mereka dapat membaca cerita tentang kenangan mereka melalui tatapan. Seolah barisan aksara menjelma di kedua bola mata, dan mereka saling membacanya masing-masing.

Suasana di cafe cangkir mulai ramai, saat semakin banyak mahasiswa yang berpakaian sama dengan Zuan dan Zahra memasuki ruangan. Beberapa di antaranya memberikan lambaian tangan dan sapaan kepada Zuan dan Zahra, yang juga dibalas dengan lambaian tangan dan senyum oleh keduanya.

“Ah, ternyata mereka di sini.” Tetiba suara khas yang sangat familiar terdengar dari arah pintu masuk. “Hey, pasangan romantis, kalian tuh hobi banget yah menghilang dan ninggalin kita,” ucap Prita dengan suara melengkingnya yang khas. Dia datang bersama Rudi, Fathya dan Wira yang muncul di belakang Prita.

Zuan melepaskan tautan jemarinya di jemari lembut milik Zahra.  Bertautan tangan dihadapan orang lain merupakan hal yang tidak biasa di universitas islam ini. “Biarkan kami menikmati privasi ini,” ucap Zuan yang kemudian dilanjutkan dengan tawa kecil.

“Nggak terasa yah,” ucap Fathya yang sudah duduk di samping Zahra. Rudi dan Wira memilih duduk di samping Zuan.

“Ya, kadang waktu terasa begitu cepat terlewat.” Wira menjawab ucapan Fathya.

“Ah, aku bakal kengen kalian nih. Kangen kumpul di sini setiap jam makan siang,” ujar Prita dengan mimik wajah yang menyiratkan kesedihan. Prita yang selalu terlihat senang dan ceria merupakan perempuan yang sangat ekspresif, dia selalu mengekspresikan apa yang dirasakannya, baik saat senang dan sedih.

“Sudahlah, jangan merusak suasana bahagia saat ini. Kamu nggak kasihan dengan Rudi apa? Dia tuh sekarang lagi senang sebab bisa lulus tepat waktu, masa kamu bahas sesuatu yang mellow sih,” ucap Zahra sembari meledek Rudi.

Gelak tawa pecah di antara mereka semua. Pertemuan, pembicaraan dan gelak tawa seperti ini akan menjadi hal yang akan dirindukan oleh mereka berenam.

“Semoga kedekatan kita nggak menghilang setelah ini. Toga ini bukan sebuah tanda akhir kebersamaan kita lho.” Rudi menunjuk Toga yang dikenakannya. Hari ini menjadi hari yang membahagiakan bagi mereka dan teman-teman satu angkatan lainnya.

“Ya benar, setiap pertemuan dengan kalian selalu menyisakan cerita yang dengan senang hati akan kukenang. Terutama setiap pertemuan dengan kamu,” ucap Zuan khusus pada Zahra. “Tiap pertemuan denganmu adalah hal tak pernah kuinginkan untuk berakhir.”

“Hey, sudahlah, jangan juga merayu di saat seperti ini,” ucap Wira kepada Zuan dan Zahra, dan gelak tawa kembali pecah.

Setiap pertemuan memiliki kisahnya masing-masing. Selalu ada cerita yang tercipta, dan menjelma menjadi kenangan, entah bahagia ataupun duka. Dan bagi Zuan, setiap pertemuan dengan kawan-kawan dekatnya ini merupakan pertemuan yang tak pernah diinginkannya untuk berakhir selepas masa kuliah ini, dan khusus dengan Zahra, dia tak pernah terpikirkan untuk berhenti bertemu dengannya.

Senin, 19 Agustus 2013

Menulis Takdir

Pada akhirnya, merasa sendiri adalah hal yang pasti akan dirasakan oleh siapapun, tanpa terkecuali. Sore ini, kala matahari sudah ingin mengundurkan diri dan akan berganti. Aku diam menikmati angin yang bertiup semilir. Tenang. Waktu seperti berhenti saat semburat jingga yang hangat dapat dinikmati pelan-pelan.

Sore ini, seperti sore yang biasanya pada hari-hari sebelumnya. Matahari masih jingga, saat akan terbenam dan sinarnya redup seperti cahaya hati yang sedang berlayar lalu karam. Kecuali aku. Hanya aku yang merasa sore ini begitu berbeda.

"Tumben kamu ada disini? Sedang berjalan-jalan atau...?" tanyaku dengan nada menggantung. Dihadapanku berdiri seorang lelaki yang mengenakan kemeja biru gelap yang senada dengan celana jeans yang dikenakannya.

"Ehem," lelaki itu berdeham dan membenarkan posisi kacamata yang sedikit merosot dari letaknya. Hidungnya yang tidak mancung selalu membuat posisi kacamata lelaki ini turun. Sebuah hal yang menjadi kebiasaan untuknya. "Jadi gini, aku akan menikah," ucapnya tanpa berbasa-basi.

"Lalu?" tanyaku dengan nada biasa.

"Aku mau kamu datang," ucapnya menyerahkan sepucuk undangan dengan foto dirinya dengan calon istrinya.

"Mau atau harus?"

"Engg, terserah kamu menganggapnya gimana. Hanya saja, aku merasa harus mengundangmu dan aku pun ingin kamu datang." Lelaki itu duduk di sampingku, menatap dan tersenyum kepadaku.

"Calon istrimu cantik, Dim," ucapku seraya membalas senyumannya.

Dimas kembali membetulkan posisi kacamatanya yang kembali merosot. "Ya, kamu juga cantik. Dan pintar."

"Hey, jangan goda aku. Bulan depan kamu menikah." Aku melemparkan kartu undangan ke arahnya. Lelaki itu tertawa pelan, pun juga denganku.

"Tapi itu jujur. Andai saja dulu orangtua kita masing-masing tidak menentang hubungan kita..." Ucapan Dimas terhenti sejenak. "Mungkin nama kamu yang ada di dalam kartu undangan itu, bersanding di sebelah namaku."

Aku menatap lurus paras lelaki itu. Rambutnya sudah tertata rapi, tidak lagi gondrong saat masih bersamaku. Dan juga sikapnya lebih formal. "Sudahlah. Masa lalu," ucapku seraya mengibaskan tangan. "Dan sepertinya..." Aku melirik ke kartu undangan. "Sheila sukses membuat dirimu lebih baik. Kamu yang sekarang jauh lebih rapi."

"Ya terlihat baik secara formal, walau aku tidak terbiasa. Aku lebih senang..."

"Menggunakan celana selutut, dengan baju kaos serta gelang-gelang tali yang selalu kamu kenakan di pergelangan tangan kirimu," aku memotong ucapan Dimas. Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Hingga sekarang, aku tidak lupa selera berbusananya yang begitu biasa.

Dimas tesenyum lebar. "Ya, dan tak lupa ini." Lelaki itu memegang rambutnya. "Capek kalau tiap bulan pergi ke tukang cukur rambut."

"Ya, rambutmu memang cepat sekali memanjang."

Hening menengahi obrolanku dengan Dimas. Dimas diam, sepertinya dia sedang mencari topik yang bisa dibicarakan.

Bertemu kembali dengan seseorang yang dulu selalu ada di sampingmu, setelah pertidaktemuan yang cukup lama, bisa membuatmu seperti orang bodoh yang tidak tahu ingin membicarakan apa. Itulah yang terjadi denganku dan Dimas saat ini.

"Masih sibuk menulis?" tanya Dimas membuka topik obrolan lagi.

"Ya masih."

"Aku masih ingat percakapan pertama kita. Kira-kira suasananya seperti ini kan?" tanya Dimas kembali.

Aku mengarahkan pandanganku kepada lelaki itu lagi. Dan mengingat-ingat saat pertama berkenalan dengannya, lalu sadar bahwa yang dikatakan Dimas benar. "Ya, sore hari, dan di sebuah taman. Hanya saja, lokasinya saja yang berbeda, walau sama-sama sebuah taman."

"Masih ingat apa yang kamu ucapkan kepadaku saat aku bertanya, apa alasanmu menulis?" Dimas menatapku lekat.

"Menulis takdir. Aku menulis tentang sesuatu yang ada di dalam pikiranku. Semoga apa yang kutulis menjadi takdir yang akan kutemui nantinya. Sebabnya itu aku selalu menulis hal-hal yang manis," ucap kami bersamaan. Aku cukup terkejut bahwa dia masih mengingat jawaban itu. Jawaban yang aku ucapkan kepada siapapun yang menanyakan alasanku menulis.

Kami saling menatap. Lalu tiba-tiba saja aku dan Dimas tersenyum, kemudian tertawa bersama.

"Ya... Ya... Sayangnya tidak selalu seperti itu," ucapku seraya membereskan laptop ke dalam tas.

"Maksudnya?" tanya Dimas dengan mimik wajah heran.

"Aku selalu menulis sesuatu yang manis, berharap itu menjadi takdir yang manis juga. Ya, sayangnya tidak selalu seperti itu. Kamu akan menikah bulan depan, dengan perempuan lain," ucapku dengan nada penekanan di kalimat terakhir. "Dan itu bukan takdir yang aku inginkan, sebenarnya." Aku bangkit dari bangku taman yang sudah kududuki sejak tadi. "Selamat, semoga pernikahan kalian nanti bahagia. Dan sepertinya aku tidak akan datang. Terima kasih untuk undangannya." Aku menyerahkan kembali sepucuk kartu undangan pernikahan itu kepada Dimas.

Aku melambaikan tangan kepada mantan kekasihku itu. Lelaki yang menemaniku selama hampir sewindu lamanya. Lelaki yang awalnya kupikir takdirku. Kadang memang seperti itu, aku hanya dapat berharap dia takdir kepadaku. Takdir yang manis. Sayangnya, takdir tidak dapat kita tentukan sendiri.

Jumat, 16 Agustus 2013

Tiga Senjata

"Setiap orang punya jodohnya masing-masing. Dan tidak setiap wanita cantik akan mendapatkan jodoh lelaki rupawan. Pun sebaliknya, lelaki yang tidak rupawan bukan berarti tidak bisa mendapatkan pasangan seorang wanita yang cantik."

Aku dengan seksama mendengarkan penjelasan seorang motivator yang berdiri di depan panggung. Memakai jas hitam dan celana bahan dengan warna senada. Motivator itu berjalan bolak-balik dari sudut panggung satu ke sudut panggung yang lain. Materi kali ini adalah tentang masalah percintaan dan jodoh.

"Tidak ada orang yang tidak memiliki jodohnya. Tuhan menciptakan manusia untuk hidup berpasangan. Jadi tidak ada seorang pun yang tidak memiliki pasangan, kecuali dia tidak menginginkannya atau dia tidak berusaha mencarinya."

"Lho, katanya tadi tiap orang punya jodohnya masing-masing, Pak. Lalu untuk apa lagi jodoh itu dicari?" Tiba-tiba salah seorang peserta mengacungkan jari dan melontarkan pertanyaan.

Motivator itu berhenti mondar-mandir, dan kini berdiri tepat di bangku peserta yang tiba-tiba bertanya tadi. Motivator itu tersenyum. "Walau jodoh sudah disiapkan oleh Tuhan, jika kamu tidak mencarinya dan berkenalan dengannya, bagaimana kamu bisa tahu dia itu jodoh kamu atau bukan? Lagipula, kalau kamu diam saja, tidak mencari, bagaimana mungkin kamu bertemu jodoh kamu?"

"Pak, tadi bapak bilang, bisa saja lelaki yang tidak rupawan berjodoh dengan wanita cantik? Bagaimana caranya, Pak? Apa harus kaya raya dulu baru bisa berjodoh dengan wanita cantik?" tanya seorang peserta lain yang duduk di sisi kanan panggung.

"Kenapa tidak?" Motivator itu berdeham sesaat. "Harta bukan syarat mutlak untuk mendapatkan hati wanita. Harta penting tapi bukan segalanya. Ada tiga senjata yang harus dimiliki oleh seorang lelaki untuk memikat hati wanita. Wanita manapun, mau wanita yang cantik, pintar, baik, sederhana atau wanita yang memiliki semua karakter itu. Semuanya bisa."

"Apa itu, Pak?" tanya peserta lainnya.

"Sikap, Sayang dan Setia."

"Maksudnya?"

"Lelaki yang memiliki sikap, penyayang dan tentu saja setia akan selalu dicari oleh para wanita. Memiliki harta lebih dan rupawan adalah paket pelengkap yang dicari. Walau tanpa menjadi lelaki rupawan pun, dengan tiga senjata tadi dapat memikat hati wanita manapun. Wanita yang baik tentunya." Motivator itu melemparkan senyuman kepadaku.

Aku tersenyum dan berkedip kepada Motivator itu. Perawakan Motivator itu sebenarnya biasa saja. Tidak rupawan pun juga tidak memiliki tubuh yang tinggi dan atletis. Dan sepertinya dia tidak bergelimang harta Hanya saja, pesonanya terlihat kuat. Auranya seperti memancar terang. Membuatku terkesima tiap kali melihatnya.

"Sepertinya kamu lupa satu hal, Pak. Tiga senjata seperti itu tidak hanya membuat lelaki dapat memikat hati perempuan," ucapku seraya membenarkan posisi dudukku.

"Kamu apa sih, Rudi? Kok ngomong sendiri gitu?" ucap Laina, sahabat perempuanku yang juga ikut menjadi peserta.

Rabu, 14 Agustus 2013

Tombol Pengingat

Malam benderang, sinar rembulan menerangi salah satu sudut jalan. Aku sesekali melihat ke luar, menikmati pemandangan bulan yang memasuki masa purnama. Terasa menenangkan.

Aku memperhatikan jam, harusnya, cafe tempat aku datangi saat ini sudah memulai acaranya. Acara yang membuat aku sengaja datang ke cafe ini. Malam puisi. Itu acara yang akan diadakan oleh cafe ini.

Aku bukanlah penyair. Hanya saja, menikmati sajak, puisi, syair atau apapun itu yang berupa barisan kata-kata indah, selalu membuat diriku tenang. Selalu ada 'magis' tersendiri saat mendengar puisi dibacakan oleh orang yang tepat. Seperti malam ini dan malam puisi lain yang sering kudatangi.

Acara dimulai dan seorang lelaki maju dan membacakan puisi milik penyair senior. Orang-orang diam mendengarkan dengan seksama.

"Hujan turun semalaman, paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi. Mereka tak mengenal gurindam dan peribahasa, tapi menghayati adat kita yang purba."

Puisi yang dibacakan dengan penuh penghayatan terasa di dada. Puisi tentang alam yang menyentil kehidupan manusia.

Aku memandang ke sekeliling. Berharap menemukan seseorang yang kucari. Perempuan yang kadang diam-diam ikut menikmati pembacaan di malam puisi yang sering diadakan di tempat ini.

"Menurutmu, apa bagian terbaik dari pembacaan puisi?" Aku teringat ucapan perempuan itu kepadaku saat pertama kali kami bertemu di salah satu acara malam puisi yang sudah kulupakan kapan.

"Menikmati saat puisi dinyanyikan? Dan kata-kata dibacakan dengan mimik dan penghayatan yang tepat?" ucapku kepada perempuan yang tak kutahu siapa namanya itu.

"Bukan. Menurutku, bagian terbaik dari puisi yang dibacakan ialah saat merasa puisi itu dituliskan untuk kita atau saat merasa puisi itu ditulis untuk mengingatkan kita akan sesuatu."

"Bagaimana bisa?" tanyaku heran.

Perempuan itu tertawa pelan. "Puisi itu adalah tombol pengingat, yang ketika ditekan (baca: dibaca) akan membawa kita kepada hal-hal yang berkaitan dengan apa yang dimaksudkan dalam puisi. Mengingatkan kita pada hal-hal yang pernah terjadi."

"Contohnya?" tanyaku semakin tak mengerti. Perempuan ini sepertinya memiliki pikiran yang cukup kompleks. Ucapannya tadi cukup sulit dicerna.

"Nikmati lebih banyak puisi dan datang lebih sering ke malam puisi. Nanti kamu akan mengerti puisi sebagai tombol pengingat," ucap perempuan itu seraya bangkit dari kursinya.

"Lalu, menurutmu, puisi selalu mengingatkanmu tentang apa?"

"Kehilangan. Mendengar puisi akan selalu mengingatkanku pada suatu hal yang tak lagi dapat kumiliki."

Aku menyesap kopi yang sudah mendingin dengan sekali tegukan. Aku melemparkan pandangan ke luar lagi. Menikmati sinar bulan yang sedang purnama.

Penampilan puisi tadi sudah selesai, kemudian tak lama maju seorang perempuan untuk membacakan sebuah puisi karya orang yang sama dengan puisi sebelumnya.

"Bagaimana kau berkata bahwa kau bukan matahari, sedang panasmu menggugurkan daun-daun, memisahkannya dari ranting tempatnya bergantung."

Aku mendengarkan lirik puisi itu dan mulai menyadari, bagiku, puisi ialah tombol pengingat yang akan selalu mengingatkanku pada perempuan itu.

Dalam sebuah puisi akan selalu ada kenangan. Untuk diingat atau dilupakan, ialah hal kesekian. Sebab kenangan, adalah sebuah kepastian, yang akan dikekalkan.

Selasa, 13 Agustus 2013

Sepasang Sepatu Tua

Debu-debu beterbangan. Sore ini akan menjadi sore yang melelahkan bagiku. Beres-beres untuk pindah kosan bukanlah hal yang mudah.

Hari ini setelah sekian tahun lamanya tinggal menetap di kamar mungil ukuran 3x4 meter yang lokasinya tak jauh dari kampus, aku harus mengucapkan selamat tinggal. Kamar kosan ini adalah yang pertama dan terakhir aku tempati semenjak mulai berkuliah di kota ini.

Minggu yang lalu aku resmi di wisuda. Itu artinya, urusanku dengan kampus telah selesai, dan aku akan meninggalkan kamar kosan ini lalu kembali pulang ke rumah.

"Semua barang-barang lo mau diapain? Mau lo bawa pulang semua?" tanya Santy, sahabatku yang rela untuk ikut repot meembantuku pindahan.

Aku berhenti sejenak memasukkan novel dan buku-buku koleksiku ke dalam kardus. "Dijual-jualin aja, San. Repot kalau aku bawa pulang semua." Ya, rumahku yang berada di kota lain membuatku tidak mungkin untuk membawa semua benda yang aku beli sendiri, yang ada di kamar kosan saat ini.

"TV, DVD dan lemarinya mau dijual? Bisa aja sih. Mungkin beberapa junior ada yang mau bayarin. Kondisinya masih bagus kayaknya."

"Yaudah dijual aja," ucapku kembali memasukkan novel-novel koleksiku ke dalam kardus kedua. "Oh iya, San. Sekalian tolong lo pilih-pilih ya, barang-barang kecil yang menurut lo masih bagus dan nggak. Beberapa mungkin bakal gua buang."

"Siap, Bos!" ucap Santy memberikan salam hormat kepadaku.

"Isshh apa sih," desisku.

"Ya abis, lo daritadi ngasih perintah melulu. Kayak bos. Kayak Nino." Santy berceletuk seraya mengeluarkan beberapa benda yang aku taruh di kolong kasur.

Aku berhenti sejenak membereskan novel saat nama itu disebutkan. Nino, kekasihku. Lelaki yang menemaniku selama aku kuliah. Kami berkenalan dan menjalin hubungan saat masa awal kuliah dan mengakhirinya secara paksa tak lama sebelum mengenakan toga. Nino memang memiliki karakter yang cukup 'bossy', suka memberi perintah, walau tidak semenyebalkan kebayakan orang berkarakter seperti itu. Mungkin 4 tahun bersamanya membuat kebiasaannya itu menular ke diriku.

"Udah dong, jangan dibahas lagi." Kadang, setelah sekian lama bersama seseorang, akan ada beberapa kebiasaan orang tersebut yang akan melekat dan terbawa dalam diri kita.

"Iya deh, iya." Santy mengecek satu persatu benda yang dia keluarkan dari kolong tempat tidur. "Yang ini mau lo bawa nggak?" tanya sahabatku itu melemparkan sebuah kotak kardus kepadaku.

Aku tertegun memandangi kotak itu. Kotak itu adalah kotak berisi sepasang sepatu berwarna merah. Sepatu model klasik yang umurnya pun seklasik modelnya.

Sepatu merah adalah benda yang harus dibawa oleh mahasiswi baru saat masa 'perploncoan'. Sepatu itu bukan milikku. Aku tidak suka warna merah, maka itu aku tak pernah punya sepatu berwarna merah. Sepatu itu milik Nino, tepatnya, sepatu merah itu milik ibunya. Nino memberikannya kepadaku saat tahu aku tidak membawa sepatu merah. Dia melindungiku, dan mau menanggung hukuman untuk dikerjai senior karena dikira tak membawa sepatu merah.

Aku memandangi sepasang sepatu tua yang tersimpan rapi di dalam kotaknya. Sepatu yang menjadi awal aku mengenal Nino. Aku meletakkkan kotak sepatu itu di jajaran benda yang akan aku bawa pulang.

Akan selalu ada yang terbawa dari masa lalu. Dan aku kini merasakan rindu.

"Santy.... Nanti setelah beres-beres, kita ke Tanah Kusir dulu yuk, temani gue liat Nino."

Rona wajah Santy terlihat sendu saat menatapku. "Iya, Nayla." Santy mendekat dan memelukku. "Nino sudah tenang disana, Nay. Lo jangan sedih lagi yah."

Seketika, aku mengingat kembali kejadian malam itu, beberapa hari sebelum wisuda. Kabar yang datang tengah malam dari seorang polisi yang menghubungiku dari nomor Nino. Kecelakaan dan korban meninggal di tempat, begitulah yang dikabarkan kepadaku, nomor terakhir yang dihubungi Nino.

Aku mengambil sepasang sepatu tua berwarna merah itu, dan kupeluk erat. Selalu ada cerita pada sebuah benda, kenangan akan selalu bersemayam disana.

Kamis, 04 April 2013

Cinta Dari Balik Mata

Sore itu, seperti biasa, seperti sore di hari sebelumnya, aku sibuk memandangi langit yang menjadi jingga. Belasan layang-layang serupa bintik yang menghiasi langit yang hampir memerah seutuhnya.

Aku melihatmu berjalan pulang menuju rumahmu yang letaknya hanya beberapa pintu dari rumahku dan berseberangan, dipisahkan oleh sepetak gang kecil yang hanya muat dilalui oleh kendaraan bermotor.

Seperti biasa pula, aku memberikanmu sapaan terhangat dan senyuman terbaik yang kupunya. Dan harusnya, seperti biasa kamu pun akan mengangguk, membalas sapaanku dengan sungging senyumanmu. Seharusnya.

Sore ini, kamu diam saja saat kusapa. Wajahmu tertunduk, seolah enggan untuk menatapku. Langkahmu menjadi lebih cepat saat tubuhmu merapat ke arahku.

Senja terasa menjadi lebih sunyi dari malam yang ada di dalam pikiranku itu. Saat bibir kita diam membeku. Kata-kata mati dilesapkan diam. Hanya ada kamu, aku dan jejak-jejak kesedihan yang tertinggal di belakang.

Kirana, hari ini, aku merasakan cinta sedang sampai pada puncaknya. Dari rona wajahmu yang muram, aku melihat, ada cinta yang tertahan di balik airmata. Kamu, sedang membohongi dirimu sendiri. Dan aku, sedang berpura-pura bahwa luka hanyalah cara cinta menasbihkan dirinya, dalam ketidakrelaan.

Dalam pikiranku, aku masih jelas membayangkannya. Kata-kata menjadi serupa belati yang membunuh asa. Kau jejalkan kata-kata perpisahan yang diiringi oleh ciuman panjang; pengganti pelukan. Aku akan dijodohkan, katamu.

Kamu menerimanya? Tanyaku saat itu. Dan dalam memori pikiranku, kau menjawab dengan anggukan. Serupa ketuk palu hakim yang menjatuhkan vonis terberat dalam hidupku. Kamu sudah menjatuhkan pilihan, yang menjerumuskanku pada jeruji hati.

Dalam pikiranku pun, aku bertanya padamu. Dengan kedua tanganku mencengkeran pundak kecilmu aku memastikan, apakah kamu sudah tak mencintaiku? Dan sebuah anggukan darimu benar-benar mematikan harapanku, hanya harapan, bukan cinta.

Dari mataku, aku melihat cinta di bola matamu. Senyata senja sore ini, dari bening indera penglihatanmu, dirimu menyatakan cinta yang besar, menampakkan kekecewaan yang besar.

Nyatanya, semua yang ada dipikiranku, hanyalah ada dipikiranku saja. Aku tak pernah menjadi kekasihmu, dan malam perpisahan itu tak pernah ada. Hanya saja, kehilangan yang sebenar-benarnya nyata. Aku tahu kau menunggu. Dan kau tahu, bahwa aku tak akan pernah berani melangkah kesana. Hingga akhirnya sore ini aku sadar, bahwa cinta tak pernah cukup untuk membawamu pergi.

Malam itu, dari beranda rumahku aku melihat sebuah perayaan yang membahagiakan keluargamu. Seorang pria sempurna meminangmu, memintamu menjadi pendamping hidupnya. Aku melihat duka di matamu malam itu.

Kau bisa membohongi orang lain, tapi tidak denganku. Matamu adalh mataku. Kesedihanmu pasti terlihat olehku. Dan luka yang kau rasakan, tak pernah dapat kau sembunyikan dari penglihatanku.

Sore ini, akan menjadi sore yang lain dan tak akan pernah lagi sama. Kamu, tak dapat lagi kusapa. Dan senyumanmu tak akan pernah lagi kau berikan kepadaku.

"Semoga kamu bahagia Kirana." Aku berucap kepada perempuan yang sudah berjalan beberapa langkah melewatiku. Dan aku yakin dia tidak mendengarnya. Tak apa, itu lebih baik.

Langit sudah menggelap seutuhnya. Aku memutar roda, menggerakkannya ke dalam rumah. Melepas cinta tak pernah mudah, apalagi cinta yang disembunyikan tapi diketahui oleh orang kita cintai. Aku melepas nafas panjang. "Dek, bantu Abang dong," ucapku kepada adik lelakiku untuk membopongku pindah dari kursi roda ke kasur.

Rabu, 02 Januari 2013

Stranger


Sebab kita tak tahu,apa yang akan ditawarkan saat kita memulai pagi. Bisa keceriaan, tak jarang kekecewaan.
Segelas teh hangat dan setangkup roti dilapisi selai kacang selalu menjadi pengawal pagi yang menyenangkan. Terpaan mentari yang hangat ditambah kicauan burung pipit di halaman kosan menambah semangat untuk memulai aktifitas pagi ini. Pagi ini suasana terasa sangat ceria dan menyenangkan bagiku. Apakah merupakan pertanda akan terjadi hal yang menyenangkan di hari ini? Semoga saja memang seperti itu.
Dering panggilan telepon berbunyi. "Hallo, Di? Oh iya jadi kok, sore nanti kita jadi ke bookfair. Ketemu di kampus, gedung A yah. Depan perpustakaan aja seperti biasa. Oke," ucapku terakhir seraya menutup telepon masuk dari Diara
Hampir saja aku lupa telah berjanji menemani Diara pergi ke Jakarta Bookfair nanti sore. Untung saja dia mengingatkanku yang pelupa ini. Segera kutandaskan sarapanku dan berangkat menuju kampus. "Semoga hari ini berjalan menyenangkan, Tuhan," ucapku berdoa sebelum keluar dari dalam kamar kosan.
"Rama, paper gimana?" tanya Rudi saat aku baru akan memasuki gedung fakultas. Teman sekelompokku di mata kuliah perpajakan itu langsung memberondongku dengan pertanyaan mengenai perkembangan paper yang sedang dikerjakan bersama.
"Wah iya yah. Waduh maaf, Rud. Beberapa hari terakhir ini gua banyak kerjaan lain, dan gua juga lupa kalau bagian paper gua belum selesai," ucapku seraya menepuk dahi. Penyakit lupa yang kuderita seperti semakin menjadi-jadi.
Kulihat ekspresi wajah Rudi yang terlihat kecewa. "Yah gimana dah lo, kan udah gue sms kalo kita mau selesain semuanya hari ini, biar besok tinggal print."
"Waduh maaf banget. Gua beneran lupa," ucapku pada Rudi yang memasang ekspresi kecewa, "gini deh Rud. Hari ini gua kerjain materinya, nanti malem gua kirim lewat gmail. Gimana?" ujarku menawarkan solusi.
"Jam berapa lo mau kirim? Oke gue tungguin. Jangan sampai nggak dikirim ya," ujar Rudi dengan nada mengingatkan.
Aku mengangguk seraya mengacungkan jempol pada Rudi. "Yaudah gua duluan ya, ada jam kuliah nih."
"Oke. Gue baru ada kuliah jam kedua nanti," ucap Rudi sebelum kita berpisah di persimpangan gedung A dan kantin. Aku masuk ke dalam gedung A dan Rudi belok ke kantin.
***
Sebuah pertemuan selalu diawali dengan ketidaksengajaan.
Langit terlihat berawan gelap. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun, sementara aku dan Diara baru saja akan berangkat ke Bookfair di Senayan.
"Yah, mau hujan nih Di. Gimana?"
"Lanjut aja, Ram. Hari terakhir nih. Banyak novel-novel yang mau gue beli. Mumpung lagi diskon banyak," ucap Diana yang membujukku agar tetap mau menemani dan mengantarnya ke Bookfair.
"Yaudah, kita jalan sekarang. Jangan protes kalau gua ngebut yah, biar nggak kehujanan." Terlihat Diana mengangguk, walau wajahnta sedikit ditekuk saat aku bilang akan membawa motor dengan kecepatan tinggi. Sahabat dekatku itu termasuk golongan orang yang takut naik kendaraan dengab kecepatan tinggi.
Setengah jam kemudian kami sampai di bookfair. Untung, hujan turun saat kami sudah berada di dalam gedung Istora. "Untung aku ngebut. Kalau nggak, udah keujanan kita," ucapku kepada Diana.
"Tapi kamu bawa motornya jangan kenceng-kenceng kayak gitu. Serem tau," kata Diana seraya menyubit perutku.
Istora sore ini ramai pengunjung. Dari penglihatanku, hampir setiap booth dipenuhi oleh para pengunjung bookfair. Aku dan Diana berjalan mengelilingi dan mengunjungi semua booth penerbit dan distributor buku yang ambil bagian dalam bookfair kali ini.
"Rama, kita kesana dulu yuk. Lagi banyak novel yang baru rilis." Aku ditarik menuju stand salah satu penerbit novel romance. Diana melihat-lihat novel-novel yang baru diterbitkan dan menanyakannya padaku mengenai bagus atau tidaknya isi novel tersebut. Beberapa novel yang ditunjuk oleh Diana, ada yang sudah pernah aku baca.
Selesai memborong beberapa novel, Diana kembali menarikku untuk mengikuti langkahnya. Saat Diana sibuk melihat-lihat koleksi novel di sebuah booth distributor buku, aku memilih masuk ke dalam booth toko buku bekas. “Kamu liat-liat aja dulu, aku mau kesana,” ucapku kepada Diana hanya menjawab dengan anggukan.
Di dalam booth toko buku bekas aku melihat-lihat beberapa koleksi novel dan puisi sastra yang sudah sulit dicari. “Mas, ada koleksi novel-novelnya Seno Gumira Ajidarma? Atau novel-novelnya Remy Sylado?” tanyaku pada penjaga booth.
“Oh, ada di sana, Mas,” jawab penjaga ke arah rak buku di pojok ruangan.
“Oh, oke. Makasi,” ucapku seraya menuju rak buku yang ditunjukkan. Di sana berdiri seorang perempuan yang juga sedang melihat-lihat koleksi yang ada di rak novel dan puisi sastra. Kulihat, perempuan berambut hitam kecoklatan itu sudah menggenggam buku Dunia Sukab, Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma dan buku Parijs van Java karya Remy Sylado yang sedang kucari.
“Suka sama koleksi SGA dan Remy juga, Mbak?” ucapku mengajak bicara. Kini aku sudah berdiri bersisian dengan perempuan berambut hitam kecoklatan tersebut.
Perempuan itu menoleh ke arahku. “Iya, buat ngelengkapin koleksiku di rumah,” ucapnya. Kemudian dia kembali menekuri rak buku, mencari buku lainnya.
Aku pun mencari-cari buku lain yang belum kumiliki namun masih ada stoknya di dalam rak. Ternyata, dari beberapa koleksi novel dan puisi yang ada di rak ini hanya sebuah novel yang menarik perhatianku, yaitu buku puisi Mati Mati Mati karya Seno Gumira Ajidarma. Buku itu terselip dan tertutup oleh beberapa buku lainnya. Segera aku menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Saat di kasir, aku berdiri di belakang perempuan berambut coklat yang memborong  5 buku, dan 3 di antaranya adalah buku-buku yang kuinginkan. Andai saja aku datang ke tempat ini lebih cepat, pasti aku yang akan mendapatkannya, ucapku menyesal dalam hati.
“Satu ini aja, Mas?” tanya kasir kepadaku.
“Iya, Mbak, satu ini aja,” ucapku.
“Wah, ini buku puisi Mati Mati Mati karyanya SGA yah?” Tetiba dari belakangku terdengar pekik suara perempuan. Ternyata itu adalah suara perempuan berambut coklat tadi.
“I–Iya, Mbak,” ucapku dengan mimik wajah sedikit bingung, “memangnya kenapa yah?” tanyaku.
“Aku mau buku itu.”
“Eh?”
“Iya, aku mau buku itu. Buku itu sudah lama aku cari-cari, dan ternyata terlewat saat aku liat koleksi di rak tadi.”
“Maaf, Mas, antriannya penuh,” ucap petugas kasir kepadaku.
“Oh, oke, aku bayar ini dulu yah,” ucapku kepada perempuan berambut coklat itu dan menyerahkan uang pembayara kepada petugas kasir.
Setelah selesai melakukan pembayaran, aku segera berjalan ke pinggir untuk berbicara dengan perempuan berambut coklat tersebut. “Well, ada apa?” tanyaku.
“Buku puisi itu, aku udah nyari sejak lama. Boleh nggak kalau aku bayarin?” ucap perempuan itu kepadaku.
“Buku ini?” ucapku seraya menunjukkan buku puisi Mati Mati Mati. “Aku juga nyari-nyari buku ini dari lama. Beruntung banget bias nemuin buku ini disini.”
Please, dong. Aku bayarin yah. Mau yah?” bujuk perempuan itu kepadaku. Kupandangi paras wajah perempuan itu. Biasa saja, tidak cantik, dan tidak juga manis, tapi wajahnya yang oval perempuan itu terlihat sangat natural. Mimik wajahnya yang sedang membujukku terlihat seperti wajah anak-anak yang sangat menginginkan mainan kesukaannya.
Aku menimang-nimang buku puisi yang ada di tanganku. “Yaudah deh, ini bukunya,” ucapku seraya menyerahkan buku tersebut. “Ga usah dibayar, barter dengan salah satu dari buku yang sudah kamu beli aja. Gimana?” ujarku memberikan penawaran.
Perempuan itu merubah raut wajahnya, dalam kepalanya seperti sedang terjadi transaksi antara dirinya sendiri. “Oke, kamu mau yang mana?” tanya perempuan itu.
Aku tersenyum simpul. “Aku mau buku Negeri Senja.” Aku menyodorkan buku Mati Mati Mati kepada perempuan itu.
“Terima kasih–” ucapku menggantung seraya menyodorkan jabatan tangan kepada perempuan itu setelah kuterima buku Negeri Senja dari tangannya.
“Raisa,” ucap perempuan tersebut menerima jabatan tanganku. “Kamu?”
“Ah, oke, makasi Raisa. Aku Rama,” ucapku mengenalkan namaku. Kulihat, perempuan bernama Raisa itu tersenyum kecil. Sungguh menarik.
“Aku yang harusnya bilang terima kasih ke kamu. Makasi ya Rama.” Cara Raisa memanggil namaku membuat senyumku kembali mengembang, begitu khas di telingaku.
“Ram, udah selesai belanjanya?” ucap Diara yang tetiba berdiri di sampingku.
“Oh, udah kok udah. Lo sendiri udah selesai?”
“Nggak jadi, nggak ada yang bagus. Jadi gue nggak beli apa-apa di tempat tadi. Lanjut keliling nggak?”
“Oh oke,” ucapku, “oh iya, Di. Kenalin, ini Raisa. Berkat dia gua dapet buku ini,” ucapku memperkenalkan Raisa dan memperlihatkan buku Dunia Senja kepada Diara.
Kulihat Diara memperhatikan Raisa dari atas ke bawah. Seperti sedang menyelidikinya. “Raisa? Raisa yang penulis novel itu bukan?” tanya Diara kepada Raisa.
“Iya, salam kenal. Aku Raisa,” ucap Raisa ramah kepada Diara.
 “Kamu penulis novel?” ucapku kaget tak percaya saat mengetahui hal tersebut. “Ah maaf, aku nggak ngenalin kamu.”
“Nggak apa-apa. Kamu bukan pembaca novel romance kekinian, ‘kan? Wajar aja kalau kamu nggak tau,” ucap Raisa yang membuatku tidak enak kepada diriku sendiri. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Raisa seraya menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.
“Ngg, Raisa, kita duluan yah. Sukses buat novel kamu yang baru diterbitin minggu kemarin.”
Raisa mengembangkan senyumannya kembali seraya melambaikan tangan saat aku dan Diara mulai berkeliling lagi. Dari kejauhan kulihat Raisa berjalan ke arah seorang lelaki dan menggandeng tangannya. “Raisa itu udah punya pacar?” tanyaku pada Diara. Diara hanya mengganggukkan kepalanya tanpa bersuara. Dia asik mengupdate tweet di ponselnya.
***
Ketika waktu berjalan, kita tak pernah sadar, kemana arah langkah kita. Salah dan benar hanya akan diketahui saat kaki merasakan, bahagia atau luka yang akan kita temui.
Sesampai dirumah, segera aku membuka laptop dan mengerjakan paper mata kuliah perpajakan yang sudah kujanjikan kepada Rudi. Segelas kopi, dan beberapa buku rujukan menjadi temanku mengetik berlembar-lembar halaman paper. Koneksi modem yang sedang lancar sesekali menginterupsi pengerjaan paperku. Tanganku sering kali gatal untuk memantau timeline twitter dan mengupdate tweet sajak dari akun anonimku.
@penarihujan: Segelas kopi, dan buku tebal dalam gelap malam menemani riuhnya tugasku malam ini. Dan sekelebat ingatan tentangmu hadir di jeda penatku.
Sesekali juga aku mencari-cari akun milik Raisa. Berkat kemampuanku yang seperti detektif, berhasil kutemukan akun twitter milik Raisa. Kubaca isi timeline, ternyata Raisa pun sering mengupdate tweet berisi sajak dan puisi. Segera aku follow akun tersebut dengan akun asli milikku.
Saat tugas paper sudah selesai kukerjakan, segera kukirim kepada Rudi melalui gmail. Aku melirik ke jam dinding yang menggantung, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Berarti hampir selama 3 jam aku menghabiskan waktu mengerjakan tugas.
Rud, udah gua kirim di gmail yah tugasnya. Maaf kemaleman, ketikku di ponsel dan segera mengirimkan pesan pendek itu ke nomor Rudi yang kemudian hanya dibalas dengan jawaban ‘oke.’
Berkeliling di dalam Istora, ditambah mengerjakan tugas dengan keadaan dikejar waktu membuatku merasa sangat lelah. Padahal jarum jam baru menunjukkan pukul 11 malam lewat beberapa menit. Biasanya di jam-jam seperti ini aku akan menceburkan diriku di jejaring sosial, khususnya twitter.
Saat aku akan menutup laman akun twitter, perhatianku tersita dengan pemberitahuan di tab mention. Raissa followed you. Seketika rasa lelah dan keinginanku untuk merebahkan badan di kasur langsung mendadak hilang. Kemudian, sepanjang malam aku sibuk saling bermention ria dengan Raisa hingga aku terlelap tidur di depan laptop.
Sejak saat itu, tanpa disadari, aku dan Raisa semakin akrab dan dekat. Hampir setiap malam, walau tida setiap hari, aku bermention ria dengannya. Tak jarang kami berbalas sajak dan syair saat malam hampir berganti hari.
***
Ketika kedekatan membuat sebuah kenyamanan. Rasa suka yang menjadi ibu dari perasaan cinta biasanya akan menjadi hal yang biasa.
“Raisa,” ucapku pada Raisa yang sudah duduk di hadapanku. Kami duduk saling berhadapan dengan meja yang membatasi jarak di antara kita. “Jujur, setelah sekian lama kenal dan dekat denganmu. Tidak menyukai dirimu adalah dusta bagiku.”
Raisa terdiam tak menanggapi ucapanku.
“Dengan jujur aku mengakui, sepertinya aku jatuh hati kepadamu.”
“Jangan, Ram. Jangan jatuh hati kepadaku. Kamu sudah salah menjatuhkan hatimu, jika aku yang menjadi tempatmu meletakkan perasaanmu.”
“Kenapa?”
“Karena kamu jatuh cinta di saat yang salah, dan memiliki cinta yang salah,” ucap Raisa dengan suara pelan kepadaku.
“Tidak ada cinta yang salah,” sergahku dengan nada yang mencekat.
Raisa menundukkan kepalanya sejenak. Di tengah keriuhan kafe, kami berdua menjadi sosok manusia yang menenggelamkan diri dalam keheningan. Raisa menghempaskan nafas, mengeluarkan sesak yang sepertinya menggumpal di dadanya.
“Apa alasan utama kamu bisa jatuh cinta kepadaku?” tanyanya dengan nada yang masih pelan.
“Apakah ada alasan untuk jatuh cinta? Jika memang ya, aku tak tahu apa alasannya itu. Aku hanyalah orang asing, yang tiba-tiba muncul di kehidupanmu, lalu jatuh cinta kepadamu. Itu saja.”
“Kalau begitu, kamu mencintaiku di waktu yang salah.”
“Kenapa? Karena kamu sudah memiliki kekasih? Aku tidak peduli. Aku akan menunggu saat perpisahan kalian.”
“Pertama, aku hanya menganggapmu teman sejak awal kita dekat. Kedua, baru minggu lalu, kekasihku melamar diriku. Dan aku akan menikah bulan depan.”
Seketika kakiku lemas saat mendengar pernyataan Raisa. Seolah tak ada daya lagi di dalam diriku. Kata-kata yang diucapkannya sukses membunuh harapanku. Mematikan pengharapanku.
“Seperti ucapanmu. Awalnya kita hanyalah sepasang orang asing yang tak pernah tahu akan dipertemukan dengan cara yang sangat tidak sengaja dan diluar kuasa kita. Menjadi dekat karena kesukaan yang sama terhadap suatu hal. Mungkin kita cocok dan saling melengkapi dalam beberapa hal, tapi tidak dengan cinta,” ucap Raisa panjang lebar kepadaku yang masih terduduk lemas. “Ketika kamu jatuh hati kepadaku, kamu tetaplah orang asing yang tak bisa masuk ke dalam hatiku.”
“Tapi–”
“Jika kamu dapat membuat kita yang tadinya asing menjadi dekat. Kenapa tidak dengan mengubahnya menjadi asing kembali? Senang dapat mengenalmu. Jika memang kamu tetap berkenan menjadi temanku, datanglah ke pesta pernikahanku,” ucap Raisa kepadaku seraya menyerah sepucuk undangan pernikahannya. Tercetak jelas namanya dan nama kekasihnya dengan huruf berwarna emas. “Aku harus pergi sekarang, Rama.” Raisa bangkit dari kursi dan pergi meninggalkan diriku. Kulihat, separuh perasaanku tercecer di jalan, saat langkah perempuan berambut hitam kecokelatan itu semakin menjauh dariku.
Ketika saatnya tiba, kita akan sadar, bahwa luka adalah cara kita menyadari bahwa kita telah berhasil untuk jatuh cinta.

Jumat, 28 Desember 2012

Terlalu Fiksi


Malam ini sunyi memeluk hati jiwa-jiwa yang sedang cemas dan gelisah. Di sebuah beranda rumah, duduk sepasang anak Tuhan yang saling diam dalam keterasingan.

Secangkir kopi dan segelas teh yang sudah mendingin menjadi sepasang hiasan di atas meja bundar, yang membatasi jarak di antara dua insan tersebut. Dalam diam, sepasang kekasih itu diam-diam meriuhkan kecemasan yang ingin segera dicurahkan.

"Ketika kita memutuskan untuk memulai, bukankah kita sudah siap dengan keadaan yang seperti ini?" ucap kekasih perempuan kepada kekasih lelakinya. "Tama, aku yakin kita bisa."

Tama masih larut dalam keheningan. Lelaki itu tetal diam, sementara dalam benaknya sebuah debat sedang terjadi; antara dirinya dengan bagian dirinya yang lain.

"Bukankah kita saling mencintai?" tanya kekasih perempuan itu kepada Tama.

Tama membuka kelopak matanya, dia menghembuskan nafas sebelum mulai berkata. "Ya, benar. Aku dan kamu saling mencintai. Aku tidak pernah memungkiri hal itu. Bahkan hingga malam ini, rasa cinta kepadamu tak berubah. Masih sama seperti hari sebelumnya."

"Lalu kenapa?"

"Kirana, terkadang ada hal-hal yang tidak akan mampu kita sebrangi hanya dengan sebuah keyakinan saja," ucap Tama kepada kekasihnya. Dia mengamit jemari kekasihnya itu. "Aku sudah meyakini hatiku berkali-kali, berharap, sebuah perpisahan bukanlah jawaban dari permasalahan yang kita hadapi."

"Lalu kenapa?" tanya Kirana kembali. Suara terdengar lirih dan bergetar. Terlihat perempuan itu menggigit bibir bawahnya. Mencoba menahan getir di hatinya agar tak pecah menjadi air mata.

Malam semakin terasa sunyi. Padahal jarum jam masih menunjukkan pukul 8 malam. Waktu seolah melambatkan lajunya untuk memberi waktu yang lebih lama pada keheningan dalam pembicaraan Tama dan Kirana.

"Karena terkadang, kenyataan menjadi tembok tinggi yang tak akan pernah mampu kita panjat. Atau menjadi jurang pemisah yang tak akan bisa kita sebrangi. Terlalu sulit."

"Aku selalu percaya, selama kita yakin dan percaya, kita dapat melakukan hal apa saja, yang sulit sekalipun."

"Kirana, sadarkah kamu, kalau kisah kita terlalu dipaksakan. Dan sayangnya, kita hidup dalam kenyataan, yang tidak semua hal yang kita inginkan akan kita dapatkan," ucap Tama kepada Kirana yang mulai meneteskan airmata.

Kenyataan adalah musuh terberat dari semua impian, harapan dan keinginan. Kenyataan pun adalah pembunuh terhebat dari setiap cita-cita yang akhirnya mati dan tak terwujudkan, menjadi makam dari seluruh hal yang sering diidam-idamkan.

Dalam diam, benak Tama mengulang-ulang kejadian beberapa hari terakhir yang dialaminya. Penolakan-penolakan terus terjadi dan tak sanggup dia redakan. Di ujung perdebatan yang terjadi dalam beberapa hari itu, sebuah pilihan harus dia lakukan. Dan memilih tak selamanya mudah.

"Ayah nggak setuju. Kalau kamu tetap dengan keinginanmu. Pergilah, dan jangan ingat ini adalah rumahmu."

Masih terngiang jelas dalam kepala Tama, suara nyaring ayahnya yang membentak dirinya tersebut dua hari yang lalu. Perdebatan sengit dengan semua argumen yang dibawa oleh Tama tak berhasil, dan tak menjadi apa-apa.

"Tapi, aku cinta dengan Kirana."

"Tak ada cinta dalam hal seperti ini. Kalian berbeda. Tak sama. Ada batas-batas yang tak akan pernah bisa dilanggar, yaitu agama."

Tama memejamkan matanya. Ingatan-ingatan itu selaksa pisau yang mengiris jiwanya secara perlahan. Melumat keyakinan hubungannya dengan Kirana dengan pasti.

"Tama," ucap Kirana sesunggukkan. "Aku cinta sama kamu. Kamu tahu hal itu lebih baik dari siapa pun." Kirana mengusap airmata yang mengalir dari kedua bola matanya. Pipinya sudah dibanjiri oleh airmatanya sendiri. Airmata yang menandakan kesedihan dan ketidakberdayaan. Airmata yang menjadi penanda matinya sebuah harapan.

Tama memijat keningnya, kemudian ditangkupkan wajahnya dalam telapak tanagannya. Dia diam membisu. Sementara Kirana masih menangis dalam diam. Tangisan yang sungguh memilukan, tanpa suara tapi menciptakan kepiluan.

"Tam, bukannya lo udah sadar konsekuensinya?"

Teringat oleh Tama perkataan sahabatnya, Rudi. Tama teringat oleh celotehan-celotehan Rudi beberapa hari yang lalu saat dirinya menceritakan tentang masalah yang mendera hubungannya dengan Kirana.

Tama tertunduk saat malam itu, Rudi dengan gamblang menuturkan kata-kata yang membuatku tak berkutik. Saat itu Tama hanya dapat menelan liur yang mengering di tenggorokkanku. Sahabatnya itu memang selalu blak-blakkan dalam memberikan komentar.

"Lebih baik jujur walaupun pahit, daripada lo dapet komentar manis tapi menipu kenyataan."

Kata-kata itu selalu Rudi ucapkan kepada Tama setelah selesai menghujaninya dengan ucapan-ucapan pahit sepahit obat, tapi menyadarkan Tama pada kenyataan.

"Kirana," ucap Tama seraya memegang jemari kekasihnya itu. Sebelah tangannya yang lain mengusap pipi Kirana yang basah. Isaknya sudah mulai mereda, sepertinya Kirana sudah mulai dapat mengendalikan emosinya. "Inilah kenyataannya. Dan aku tidak dapat menolaknya. Semoga kita bahagia di masa depan kita masing-masing. Kamu akan selalu di hatiku."

Tama berdiri dari kursi, berjalan ke arah motor yang diparkir di halaman depan beranda. Tama melihat Kirana yang masih mengusap airmatanya agar tak mengalir lagi. Tama memantapkan langkahnya untuk segera pulang. Segera dihidupkan motor dan keluar dari rumah Kirana, agar kesedihannya tak semakin menjadi karena melihat Kirana yang seperti ini.

Hidup itu pilihan bukan? Tapi sayangnya tidak semua orang dapat memilih. Seperti Tama malam ini. Berpisah dengan Kirana bukanlah sebuah pilihan, tapi sesuatu yang harus terjadi. Jika ada pilihan lain, memutuskan hubungan dengan Kirana adalah pilihan terakhir yang akan dipilih Tama.

***

Tama duduk termenung di meja yang ada di dalam kamarnya. Kertas-kertas, buku dan pena berebut tempat menyesaki meja. Sebuah kertas penuh coretan aksara ada dalam genggamannya. Baru saja sebuah sajak dituliskannya, sajak yang akan digunakannya untuk acara pembacaan puisi yang diadakan seminggu lagi.

Tama membaca kembali coretan-coretan tangannya, menyalinnya kembali dengan tulisan yang lebih rapi di kertas yang lain. Lamat-lamat sesak mengisi rongga pernafasannya. Aksara yang dipilihnya hingga menjadi susunan kalimat dalam sajak ini begitu terasa ironi. Sajak yang ditulisnya seperti menceritakan kembali getir dan pedihnya sebuah cinta yang dipunyai oleh sepasang hati, tapi tak pernah dapat saling memiliki; seperti kisahnya dengan Kirana.

Malam terasa sunyi. Deru angin yang mengepakkan sayap dedaunan terasa nyaring di telinga Tama. Hening terasa mengental, Tama duduk di antara kertas, pena dan buku yang kini berserak di atas kasurnya. Dalam genggamannya terdapat sebuah buku puisi karya Agus Noor. Dilafalkannya pelan-pelan tiap baris kata dalam buku tersebut. Tama menyesapi tiap bulir kata yang Agus Noor tuliskan. Dada Tama bergemuruh setiap membaca isi buku yang seperti-dia-sekali, seolah Agus Noor menciptakan buku puisi tersebut untuknya; untuk merayakan kesedihannya.

Malam memberikan jeda pada lamunan panjang. Jiwa melolongkan kesedihan pada malam yang hening. Tama melewatkan malam dengan kenangan tentang Kirana yang tak pernah bosan dia kenang.

***

Kirana menjejerkan kertas-kertas yang sudah kumal di atas kasurnya. Di atas selimut tidurnya dia kumpulkan kembali semua kertas puisi yang sudah kumal karena sering dia baca.

Perlahan airmata menetes tanpa aba-aba. Kirana tak dapat membendung kesedihan yang ditanggungnya. Pertahanannya tak cukup kuat untuk menahan rasa kehilangan. Hatinya belum cukup belajar pada ketabahan. Hatinya belum dapat menerima sebuah perpisahan, yang sejak awal sudah dia ketahui.

Setabah apa pun hati, sebuah kehilangan tetaplah kehilangan, yang pasti meninggalkan celah pada sesuatu yang ditinggalkan. Kirana terisak saat menyadari dia tak sepenuhnya bisa merelakan Tama. Padahal sudah hampir seminggu waktu berjalan sejak malam itu. Malam yang tak pernah diinginkan oleh Tama dan Kirana, namun menjadi malam yang pasti akan datang; bahkan sejal mereka pertama kali memutuskan menjadi sepasang kekasih.

"Aku sayang kamu," ucap Tama kepada Kirana. Dia mengamit jemari perempuan dihadapannya dan mengusap lembut rambut-rambut kecil yang mencuat di samping telinga Kirana.

"Aku pun seperti itu. Tapi mungkinkah kita bisa bersama?" ujar Kirana ragu. "Ki-"

Ucapan Kirana terhenti saat sebuah telunjuk menempel di bibirnya. "Aku tahu, tapi hal itu tak menghentikan perasaanku padamu. Kita jalani saja, sampai dimana kita dapat menjalaninya." Tama tersenyum kepada Kirana. Kini wajah mereka saling berhadapan. Bola mata Kirana mencari lesungguhan di dalam bola mata lelaki yang menyatakan cintanya itu kepada dirinya.

"Sampai kapan?" tanya Kirana.

"Sampai tak ada restu yang kita dapat dari orang yang melahirkan kita," ucap Tama tegas.

Airmata semakin deras mengalir di pipi Kirana saat sekelebat ingatan saat mereka memutuskan untuk berpacaran hadir di benaknya. Kertas-kertas puisi buatan Tama kembali basah menampung airmata kesedihan Kirana.

***

"Buat ibu, nggak masalah kamu menikah dengan perempuan manapun, karena ibu percaya kamu dapat memilih perempuan yang baik untuk menjadi pasanganmu kelak. Ibu merestui," ucap Ibu kepada Tama. "Tapi, kalau perempuan itu tidak seagama dengan kamu, tidak ada restu untukmu," lanjutnya.

Tama diam terduduk di kursi. Dihadapannya ada ayah dan ibunya. Tama seperti seorang terdakwa yang dihujani fakta-fakta yang membuatnya terlihat salah; salah dalam memilih Kirana sebagai perempuan yang ingin dipinangnya.

"Kirana perempuan baik-baik dan aku mencintainya," ujar Tama kepada ayah dan ibunya.

"Jika dia tidak berbeda agama denganmu, restu dari ibu akan kamu dapatkan, 'Nak," ucap Ibu kepada Tama yang menutup wajahnya dengan telapak tangan. Kekecewan tergambar jelas di wajahnya. Tama sudah kalah. Tidak ada yang dapat dilakukannya untuk mempertahankan hubungannya dengan Kirana. Saat restu tak dapat dia dapatkan, saat itu akhir hubungannya dengan Kirana terputuskan.

Tama terbangun dari tidurnya. Bulir-bulit keringat sebesar biji jagung keluar dari pori-pori membasahi tubuhnya. Mimpi yang baru saja dialaminya sungguh menguras emosinya. Mimpi tentang kejadian beberapa minggu yang lalu itu membayangi Tama. Seolah tak lelah menghujamkan kesedihan pada dirinya.

Dilihatnya jam dinding baru menunjukkan pukul 2 pagi. Tama memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. Sebab dia harus cukup istirahat agar penampilannya di acara bacaan puisi jam 3 sore nanti bisa maksimal. Seraya berdoa agar mimpi buruk itu tak berulang, Tama merebahkan kembali tubuhnya.

***

Kirana berjalan cepat menuju tempat acara pembacaan puisi. Diliriknya jam yang melingkari tangannya. Dia sudah telah hampit 30 menit. Semoga Tama belum tampil, batin Kirana.

Tempat berlangsungnya acara pembacaan puisi di sebuah cafe di salah satu mall terbesar di kota ini. Cafe yang letaknya ada di lantai teratas membuat Kirana melajukan langkahnya dengan cepat; berkompetisi dengan waktu.

Saat baru memasuki cafe, Kirana mencari posisi untuk melihat stage yang disiapkan untuk para pembaca puisi. Dan ketika Kirana sudah mendapatkan posisi yang nyaman, ternyata penampilan Tama baru saja akan dimulai. "Syukurlah," ucap Kirana seraya menuliskan makanan yang akan dipesannya di notes yang diberikan oleh pelayan cafe.

"Berikutnya adalah pembacaan puisi dari Pratama Putra Perdana," ucap pembawa acara mempersilahkan Tama maju ke depan stage.

Karena Kita Terlalu Fiksi

Aksara ini adalah rangkuman kisah kehidupan kita
Cerita tentang cinta, yang selalu kita jaga, agar tetap bernyawa

Kamu akan abadi bersama sajak ini
Tak mati, juga tak akan hilang dalam terbatasnya ingatan diri
Sebut saja kita sepasang tokoh cerita di dalam dunia fiksi
Dimana, tiap kisah akan berakhir bahagia adanya
Tanpa airmata, hanya tawa selaksa bahagia yang abadi dalam senyum kita

Aku abadikan memori kita dalam aksara-aksara yang bernyawa
Nyawa yang lebih kekal dari waktu, nyawa yang lebih panjang dari kematian

Aku mencintaimu. Ya, mencintaimu.
Sayangnya, hutang kita di kehidupan tak cukup lunas terbayarkan dengan rasa cinta kepadamu

Selaksa tembok karang tak sanggup tanganku daki
Serupa itu dalamnya palung kenyataan yang tak mampu kuselami

Kekasihku, ketika kamu mendengar puisi ini
Yakini satu hal dalam sanubari
Kisah ini hanyalah bagian dari fiksi yang kita.jalani
Secuil fantasi yang susah payah kita jalin rapi, dan mati oleh sebab tak dapat kita pungkiri

Kekasihku, matamu adalah taman terindah yang permah kupandangi
Disana kumanjakan diri dalam ketenangan dan keindahan yang hanya sanubari mengerti
Maka kekasihku, kenanglah kisah fiksi kita ini dalam diri
Dan bila kau rindui lagi, bacalah puisi ini
Karena kisah kita memang terlalu fiksi.

Saat Tama selesaikan membacakan pembacaan puisinya, suasana yang tadi hening mendadak jadi ramai dan riuh oleh tepuk tangan. Hampir seluruh pengunjunf cafe bertepuk tangan. Kirana pun ikut bertepuk tangan setelah pembacaan puisi selesai. Pembacaan puisi tadi menggetarkan tubuhnya. Entah sebab puisinya yang teramat indah, atau sebab dirinya menggigil karena kesedihan.

Kirana meninggalkan kursinya, berjalan ke arah Tama. Saat berhadapan dengan lelaki itu, Kirana menghunuskan pandangannya ke jantung mata Tama. Mereka berdua terdiam seraya saling bertatapan.

"Puisi yang bagus," ucap Kirana memutus keheningan.

Tam tersenyum seraya menyodorkan kertas puisi yang dibacakan tadi. "Simpanlah ini. Anggap saja puisi terakhir dariku untukmu."

"Apa yang selanjutnya kamu cari Tama?" tanya Kirana saat Tama mulai berjalan meninggalkan Kirana.

"Tidak tahu, mungkin aku akan belajar dari kesedihan, bagaimana cara jatuh cinta lagi." Tama tersenyum simpul ke arah Kirana. Meyembunyikan kesedihan yang teramat dalam ditanggungnya. Tama ingin, Kirana tak tahu seberapa tak berdayanya dia.

"Andai kita bisa mengulangnya lagi. Aku ingin hidup di dunia dimana tak ada perbedaan penafsiran agama. Sehingga tak ada pembedaan dan pelabelan agama tertentu."

Tama membalikkan badannya. "Ya, andai saja bisa seperti itu. Sayangnya itu tak pernah terjadi. Lebih baik nikmati saja jalan di depan yang penuh dengan luka itu. Semoga kita akan bahagia." Tama meninggalkan Kirana di dalam cafe. Lelaki itu pergi ke pojok ruangan dan berkumpul dengan teman-temannya yang lain.

Kirana terdiam menatap Tama. Digenggemnya erat kalung simbol kepercayaannya yang melingkar di lehernya.