Jika ingin menjadi penulis. Menulislah, sebab tidak ada yang akan bisa menjadi penulis tanpa pernah menulis apa pun.
Kamis, 25 Juni 2015
Sekotak Awan Hujan Untuk Dia
Jumat, 23 Agustus 2013
Puisi dan Doa Untuk Hujan di Sore Hari
"Masihkah kamu menulis puisi, dan berdoa setiap pagi, agar hujan turun sore hari?"
Aku masih ingat pertanyaan darimu tempo hari
Kemarin ilu terasa di gigi
Membelit lidah hingga tak mampu berkata
Pada akhirnya aku diam hingga kau pergi
Dan kulihat punggungmu dibayangi senja
Mungkin kau lupa, bahwa aku tak pernah lupa
Puisi ialah doa
Seperti yang dulu kau kata
Yang menggumamkan asa, dan menghapus dosa; yang kita buat dahulu kala.
Aku tak pernah berhenti menulis puisi
Pun juga doa agar hujan turun di sore hari
Di mana aku menulis puisi? Kamu tahu?
Di sini! (jemariku)
Di sini! (dadaku)
Di sini! (jantungku)
Di sini! (pikiranku)
Aku menulis puisi di manapun aku dapat menemui sepi, kamu tahu?
Lalu, tahukah kamu alasan aku berdoa tiap pagi?
Aku, berharap hujan turun di sore hari
Agar pilu, yang selalu hadir di tiap pagi
Dapat melarungkan sendu, bersama hujan dan senja di sore nanti
Senin, 19 Agustus 2013
Menulis Takdir
Sore ini, seperti sore yang biasanya pada hari-hari sebelumnya. Matahari masih jingga, saat akan terbenam dan sinarnya redup seperti cahaya hati yang sedang berlayar lalu karam. Kecuali aku. Hanya aku yang merasa sore ini begitu berbeda.
"Tumben kamu ada disini? Sedang berjalan-jalan atau...?" tanyaku dengan nada menggantung. Dihadapanku berdiri seorang lelaki yang mengenakan kemeja biru gelap yang senada dengan celana jeans yang dikenakannya.
"Ehem," lelaki itu berdeham dan membenarkan posisi kacamata yang sedikit merosot dari letaknya. Hidungnya yang tidak mancung selalu membuat posisi kacamata lelaki ini turun. Sebuah hal yang menjadi kebiasaan untuknya. "Jadi gini, aku akan menikah," ucapnya tanpa berbasa-basi.
"Lalu?" tanyaku dengan nada biasa.
"Aku mau kamu datang," ucapnya menyerahkan sepucuk undangan dengan foto dirinya dengan calon istrinya.
"Mau atau harus?"
"Engg, terserah kamu menganggapnya gimana. Hanya saja, aku merasa harus mengundangmu dan aku pun ingin kamu datang." Lelaki itu duduk di sampingku, menatap dan tersenyum kepadaku.
"Calon istrimu cantik, Dim," ucapku seraya membalas senyumannya.
Dimas kembali membetulkan posisi kacamatanya yang kembali merosot. "Ya, kamu juga cantik. Dan pintar."
"Hey, jangan goda aku. Bulan depan kamu menikah." Aku melemparkan kartu undangan ke arahnya. Lelaki itu tertawa pelan, pun juga denganku.
"Tapi itu jujur. Andai saja dulu orangtua kita masing-masing tidak menentang hubungan kita..." Ucapan Dimas terhenti sejenak. "Mungkin nama kamu yang ada di dalam kartu undangan itu, bersanding di sebelah namaku."
Aku menatap lurus paras lelaki itu. Rambutnya sudah tertata rapi, tidak lagi gondrong saat masih bersamaku. Dan juga sikapnya lebih formal. "Sudahlah. Masa lalu," ucapku seraya mengibaskan tangan. "Dan sepertinya..." Aku melirik ke kartu undangan. "Sheila sukses membuat dirimu lebih baik. Kamu yang sekarang jauh lebih rapi."
"Ya terlihat baik secara formal, walau aku tidak terbiasa. Aku lebih senang..."
"Menggunakan celana selutut, dengan baju kaos serta gelang-gelang tali yang selalu kamu kenakan di pergelangan tangan kirimu," aku memotong ucapan Dimas. Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Hingga sekarang, aku tidak lupa selera berbusananya yang begitu biasa.
Dimas tesenyum lebar. "Ya, dan tak lupa ini." Lelaki itu memegang rambutnya. "Capek kalau tiap bulan pergi ke tukang cukur rambut."
"Ya, rambutmu memang cepat sekali memanjang."
Hening menengahi obrolanku dengan Dimas. Dimas diam, sepertinya dia sedang mencari topik yang bisa dibicarakan.
Bertemu kembali dengan seseorang yang dulu selalu ada di sampingmu, setelah pertidaktemuan yang cukup lama, bisa membuatmu seperti orang bodoh yang tidak tahu ingin membicarakan apa. Itulah yang terjadi denganku dan Dimas saat ini.
"Masih sibuk menulis?" tanya Dimas membuka topik obrolan lagi.
"Ya masih."
"Aku masih ingat percakapan pertama kita. Kira-kira suasananya seperti ini kan?" tanya Dimas kembali.
Aku mengarahkan pandanganku kepada lelaki itu lagi. Dan mengingat-ingat saat pertama berkenalan dengannya, lalu sadar bahwa yang dikatakan Dimas benar. "Ya, sore hari, dan di sebuah taman. Hanya saja, lokasinya saja yang berbeda, walau sama-sama sebuah taman."
"Masih ingat apa yang kamu ucapkan kepadaku saat aku bertanya, apa alasanmu menulis?" Dimas menatapku lekat.
"Menulis takdir. Aku menulis tentang sesuatu yang ada di dalam pikiranku. Semoga apa yang kutulis menjadi takdir yang akan kutemui nantinya. Sebabnya itu aku selalu menulis hal-hal yang manis," ucap kami bersamaan. Aku cukup terkejut bahwa dia masih mengingat jawaban itu. Jawaban yang aku ucapkan kepada siapapun yang menanyakan alasanku menulis.
Kami saling menatap. Lalu tiba-tiba saja aku dan Dimas tersenyum, kemudian tertawa bersama.
"Ya... Ya... Sayangnya tidak selalu seperti itu," ucapku seraya membereskan laptop ke dalam tas.
"Maksudnya?" tanya Dimas dengan mimik wajah heran.
"Aku selalu menulis sesuatu yang manis, berharap itu menjadi takdir yang manis juga. Ya, sayangnya tidak selalu seperti itu. Kamu akan menikah bulan depan, dengan perempuan lain," ucapku dengan nada penekanan di kalimat terakhir. "Dan itu bukan takdir yang aku inginkan, sebenarnya." Aku bangkit dari bangku taman yang sudah kududuki sejak tadi. "Selamat, semoga pernikahan kalian nanti bahagia. Dan sepertinya aku tidak akan datang. Terima kasih untuk undangannya." Aku menyerahkan kembali sepucuk kartu undangan pernikahan itu kepada Dimas.
Aku melambaikan tangan kepada mantan kekasihku itu. Lelaki yang menemaniku selama hampir sewindu lamanya. Lelaki yang awalnya kupikir takdirku. Kadang memang seperti itu, aku hanya dapat berharap dia takdir kepadaku. Takdir yang manis. Sayangnya, takdir tidak dapat kita tentukan sendiri.
Kamis, 04 April 2013
Cinta Dari Balik Mata
Sore itu, seperti biasa, seperti sore di hari sebelumnya, aku sibuk memandangi langit yang menjadi jingga. Belasan layang-layang serupa bintik yang menghiasi langit yang hampir memerah seutuhnya.
Aku melihatmu berjalan pulang menuju rumahmu yang letaknya hanya beberapa pintu dari rumahku dan berseberangan, dipisahkan oleh sepetak gang kecil yang hanya muat dilalui oleh kendaraan bermotor.
Seperti biasa pula, aku memberikanmu sapaan terhangat dan senyuman terbaik yang kupunya. Dan harusnya, seperti biasa kamu pun akan mengangguk, membalas sapaanku dengan sungging senyumanmu. Seharusnya.
Sore ini, kamu diam saja saat kusapa. Wajahmu tertunduk, seolah enggan untuk menatapku. Langkahmu menjadi lebih cepat saat tubuhmu merapat ke arahku.
Senja terasa menjadi lebih sunyi dari malam yang ada di dalam pikiranku itu. Saat bibir kita diam membeku. Kata-kata mati dilesapkan diam. Hanya ada kamu, aku dan jejak-jejak kesedihan yang tertinggal di belakang.
Kirana, hari ini, aku merasakan cinta sedang sampai pada puncaknya. Dari rona wajahmu yang muram, aku melihat, ada cinta yang tertahan di balik airmata. Kamu, sedang membohongi dirimu sendiri. Dan aku, sedang berpura-pura bahwa luka hanyalah cara cinta menasbihkan dirinya, dalam ketidakrelaan.
Dalam pikiranku, aku masih jelas membayangkannya. Kata-kata menjadi serupa belati yang membunuh asa. Kau jejalkan kata-kata perpisahan yang diiringi oleh ciuman panjang; pengganti pelukan. Aku akan dijodohkan, katamu.
Kamu menerimanya? Tanyaku saat itu. Dan dalam memori pikiranku, kau menjawab dengan anggukan. Serupa ketuk palu hakim yang menjatuhkan vonis terberat dalam hidupku. Kamu sudah menjatuhkan pilihan, yang menjerumuskanku pada jeruji hati.
Dalam pikiranku pun, aku bertanya padamu. Dengan kedua tanganku mencengkeran pundak kecilmu aku memastikan, apakah kamu sudah tak mencintaiku? Dan sebuah anggukan darimu benar-benar mematikan harapanku, hanya harapan, bukan cinta.
Dari mataku, aku melihat cinta di bola matamu. Senyata senja sore ini, dari bening indera penglihatanmu, dirimu menyatakan cinta yang besar, menampakkan kekecewaan yang besar.
Nyatanya, semua yang ada dipikiranku, hanyalah ada dipikiranku saja. Aku tak pernah menjadi kekasihmu, dan malam perpisahan itu tak pernah ada. Hanya saja, kehilangan yang sebenar-benarnya nyata. Aku tahu kau menunggu. Dan kau tahu, bahwa aku tak akan pernah berani melangkah kesana. Hingga akhirnya sore ini aku sadar, bahwa cinta tak pernah cukup untuk membawamu pergi.
Malam itu, dari beranda rumahku aku melihat sebuah perayaan yang membahagiakan keluargamu. Seorang pria sempurna meminangmu, memintamu menjadi pendamping hidupnya. Aku melihat duka di matamu malam itu.
Kau bisa membohongi orang lain, tapi tidak denganku. Matamu adalh mataku. Kesedihanmu pasti terlihat olehku. Dan luka yang kau rasakan, tak pernah dapat kau sembunyikan dari penglihatanku.
Sore ini, akan menjadi sore yang lain dan tak akan pernah lagi sama. Kamu, tak dapat lagi kusapa. Dan senyumanmu tak akan pernah lagi kau berikan kepadaku.
"Semoga kamu bahagia Kirana." Aku berucap kepada perempuan yang sudah berjalan beberapa langkah melewatiku. Dan aku yakin dia tidak mendengarnya. Tak apa, itu lebih baik.
Langit sudah menggelap seutuhnya. Aku memutar roda, menggerakkannya ke dalam rumah. Melepas cinta tak pernah mudah, apalagi cinta yang disembunyikan tapi diketahui oleh orang kita cintai. Aku melepas nafas panjang. "Dek, bantu Abang dong," ucapku kepada adik lelakiku untuk membopongku pindah dari kursi roda ke kasur.
Kamis, 21 Maret 2013
Taman
Di bawah langit senja dua pasang kaki kurus mengayun di ayunan yg berderak. Karat menguasai batang tubuh mainan itu. Usang. Nyaris tak ada lagi anak-anak yang menggunakannya. Benda itu sudah mulai dilupakan, kecuali oleh sepasang bocah yang mulai beranjak dewasa itu.
"Rasanya, sudah lama sekali kita melewatkan yang seperti ini," gumam Hera. Kakinya yang sebenarnya sudah dapat memijak tanah ditekuk, agar dia dapat mengayunkan tubuhnya. Pelan, dengan derak yang menyiratkan sebentar lagi robohnya tempat dia mengayunkan diri.
Gara tidak mengalihkan pandangannya dari arah matahari yang sudah tak lagi terlihat. Dalam pandangannya, mentari seolah melarilan diri dan tidak akan kembali lagi, di esok hari. Remaja lelaki yang sebentar lagi akan mengenakan seragam putih biru itu menelan ludahnya. Terasa pahit. Dia mencengkeram erat rantai ayunan, agar gelisah tidak membuatnya lepas kendali.
"Taman ini adalah kapsul waktu kita. Di sini, sejak 6 tahin lalu, kita banyak menghabiskan waktu untuk tertawa dan hanya tertawa. Seolah tidak asa ruang untuk bersedih." Hera berceloteh banyak saat Gara hanya diam. Perempuan yang lebih tua 2 tahun dari Gara itu seolah tidak ingin menghentikannya tentang celoteh masa lalu, saat mereka berdua sering menghabiskan tawa dan canda di taman ini; taman yang sebentar lagi mati.
Gara menggerakkan bibirnya pelan. Di wajahnya membayang jelas rona kesedihan. Dia adalah lelaki yang tak dapat menyembunyikan ekspresi, walaupun dia lelaki. "Sedih yah." Gara mendesah pelan. "Pertama-tama taman ini, terus nggak lama kemudian kamu."
Lelaki itu tidak melanjutkan ucapannya. Seolah tertiup oleh angin sore dan lenyap ditelan debu. Getar suaranya masih terasa jelas di telinga Hera. "Nggak usah bersedih. Bertemu dan berpisah adalah hal yang lumrah terjadi. Tapi yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita tidak bosan untuk menjaga kenangan yang sudah terjadi, dan kita tidak menjadi asing satu sama lain nantinya." Hera menghembuskan nafas berat sesaat setelah mengucapkan kata-kata itu. Dia menengadahkan kepalanya ke atas agar airmatanya tak tumpah. Bukankah baru saja dia berucap bahwa perpisahan dalah hal yang lumrah. Dilihatnya langit sudah menggelap dan bulan sudah mulai menampakkan wujudnya di sudut langit.
"Kapan kamu pindah?" tanya Gara dengan nada datar. "Mungkin aku bakal kangen suasana ini. Ngobrol berdua sampai suara adzan terdengar dan kita pulang ke rumah masing-masing." Sejenak Gara menjeda ucapannya. Hening menyusup sesaat sebelum dia mengehembuskan nafas kencang dan melanjutkan kata-kata. "Ah, tapi, mulai besok pun kita udah ga bisa lagi ngobrol disini." Suaranya terdengar getir.
Hera hanya mengangguk pelan. Dia beranjak dari bangku ayunannya. Berdiri dan membelai pelan rantai ayunan yang sudah berkarat penuh. "Udah adzan, waktunya pulang. Yuk." Hera berucap pelan. Dia menyulurkan tangan kepada Gara. Lelaki itu menyambutnya. "Aku berangkat lusa. Dan setelah itu aku nggak tahu akan kembali kesini atau nggak."
Gara dan Hera berjalan keluar dari taman dalam diam. Gara berjalan menunduk. Sepertinya kepala berat dipenuhi kesedihan. Saat keluar dari lingkup taman, Gara menolehkan pandangannya kembali ke arah taman. Matanya menatap sebuah papan pengumuman yang ditulis dengan huruf tebal dan jelas. TAMAN INI AKAN DIBONGKAR. Di papan tersebut tertera jelas tanggal pembongkarannya yang jatuh pada hari esok. Hatinya bergemuruh. Kehilangan dua hal yang selalu ada di kesehariannya selama 6 tahun terakhir membuatnya merasakan kesedihan yang besar. Satu kehilangan adalah biasa, bila dua adalah duka.
Rabu, 23 Januari 2013
Kisah Sederhana Kala Senja
Matahari sudah mulai beranjak dari titik kulminasinya. Kini, sinarnya sudah mulai meredup, meninggalkan jejak-jejak kehangatan. Dan semilir angin, menambah daftar alasan untuk duduk-duduk, bersantai atau bahkan saling berbicara dengan secangkir kopi sebagai tegukan.
Sore ini, akhir pekan, seperti biasa, taman akan selalu ramai dengan orang-orang; para ibu yang menemani anaknya bermain prosotan, bapak-bapak menjelang paruh baya yang duduk beralas koran sedang sibuk memikirkan langkah permainan catur selanjutnya, bocah yang lari dengan senyum merekah sebab balon yang diinginkan berhasil didapatkan dengan cara setengah merengek, dan muda-mudi yang duduk berdua menghabiskan kebersamaan.
Aku selalu tersenyum jika sedang mengunjungi taman ini. Aura bahagia tersebar di penjuru taman, menjadi satu tempat dimana orang-orang menanggalkan kepenatan menjalani keseharian; seperti yang sering kulakulan.
Di tanganku, sudah siap kanvas kosong, pensil gambar, kuas berserta macam-macam warna cat air yang kubiarkan bertumpuk di dalam ember yang kugenggam. Kususuri jalan di taman, mencari posisi dan objek yang tepat untuk kujadikan model dadakan tanpa bayaran.
Di pojok taman, di bawah lampu penerang yang belum menyala lampunya, aku melihat seorang wanita yang sedang bersandar pada tiang. Wajahnya terlihat cemas-menunggu seseorang, terbukti dari intensitasnya melirik ke jam tangan yang dikenakannya di pergelangan tangan kiri. Aku tersenyum melihat tingkah polahnya.
Aku memundurkan langkah, menjaga jarakku agar tak disadari oleh wanita itu bahwa sedang ada aku yang memperhatikannya; mengagumi dirinya.
Kuambil pensil yang tak lancip ujungnya dari dalam ember. Kugoreskan, dan kubuat sebuah sketsa siluet wanita tadi. Jemariku dengan lincah menggoreskan pensil dan menghasilkan garis-garis yang kemudian menjadi siluet tubuh wanita itu. Angle dan pencahayaannya begitu pas.
Jika aku bukan seorang pelukis, melainkan seorang fotografer, aku takkan melewatkan moment itu. Cahaya matahari yang sudah menjingga jatuh menimpa kepal wanita itu, dan menghasilkan sebuah bayangan panjang yang bercampur dengan bayangan tiang. Dalam benakku, image yang terbayang begitu indah dan sempurna. Tapi, bukankah yang indah dan sempurna hanya memang ada di dalam benak saja.
"Kamu kemana aja? Sudah disini dari kapan? Kenapa nggak bilang-bilang?" Wanita tadi berbicara. Nada suaranya terdengar cemas dan kesal pada saat yang sama. Wanita itu berjalan menuju tempat orang yang menjadi lawan bicaranya tadi.
Aku tersenyum mendengarnya. Jemariku masih asik menggoreskan mata pensil di kanvas, dan sesekali kusapu, untuk menimbulkan efek bayangan dan gradasi tertentu.
"Aku sudah bosan menunggu, aku kira kamu ga bakal jadi datang." Wanita itu mulai mengeluarkan isi kekesalannya.
Aku tersenyum lagi mendengar perkataan wanita tersebut. Saat sketsa gambar siluet sudah selesai kubuat, kugeser papan penyangga kanvas, agar wanita yang duduk di sampingku dapat melihatnya dengan jelas.
Bola mata wanita itu membulat, binar mata terlihat lebih hidup.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Ini hadiah untukmu," ucapku kepada wanita yang sejak tadi menunggu kedatanganku di bawah tiang lampu penerangan taman.
Di tangan wanita tersebut, di kanvas yang dipegangnya, ada sebuah silet tubuhnya sendiri yang kubuat secara kilat.
Langit makin menggelap, di ujung cakrawala, matahari mulai menenggelamkan dirinya. Sore ini terasa begitu indah dan membahagiakan. Sesekali, tiupan angin sepoi menerbangkan rambut-rambut kecil di belakang telinga; menguarkan suasana yang begitu nyaman.
Wanita itu mengamit telapak tanganku, digenggamnya erat. Kekasihku itu menatap ke arahku, menantang kedua bola mataku. Lalu dia tersenyum. Hal yang membuatku ikut tersenyum sendiri. Hal yang selalu membuatku bahagia saat melihatnya tersenyum. Senyuman adalah cara paling mudah untuk menambah kebahagiaan.
Dan sebuah kecupan hangat yang singkat di bibir menjadi penutup sore yang indah. Sore yang terasa begitu hangat; di dada dan hati. Sore di kala senja yang selalu kusempatkan di tengah rutinitas sehari-hari.
Seperti itulah perayaan ulang tahun kekasihku. Sederhana. Hanya aku dan dia. Dia mengapit erat lenganku. Kami duduk di bangku taman, menghabiskan waktu, menatap senja, hingga benar-benar habis dan digantikan malam.
Kamis, 28 Juni 2012
Senja di Sore Itu
Senin, 18 Juni 2012
Biru, Jatuh Hati
Kamis, 14 Juni 2012
Kerudung Merah
Danau
Toba masih tetap sama, terlihat indah dan mengagumkan. Tidak ada yang berubah
sejak aku melihatnya beberapa tahun yang lalu. Tempat yang selalu menjadi
pelarianku saat pikiranku penat, atau tempatku melarikan diri dari rutinitas
saat masih berseragam putih abu-abu.Rabu, 13 Juni 2012
Jingga di Ujung Senja
Senin, 11 Juni 2012
Menunggu Lampu Hijau
Rabu, 08 Februari 2012
Sebatang Kenangan
Memburai indah di kelopak mata
Menguntai bahagia melalui pandang
Merekah senyum dalam keindahan
Kita berdiri di bawah pohon kenangan yang mulai merapuh
Menggenggam erat tangan yang mulai merenggang
Menatap senja yang terlihat kelam dari bola mata kita
Dalam diam, hati berontak ingin bersuara
Namun diam menjadi emas yang kita pilih
Dalam ragu, cinta terkikis oleh gamang
Membiaskan tiap jengkal rasa yang pernah terjaga
Aku menyebut cinta
Dan kamu menyebutnya sebagai rindu
Kini, dalam batas jarak, bahu kita tak lagi berpagutan
Cinta memudar termakan jarak yang menebal
Mengikis perlahan dalam diam.
Tak ada lagi wajahmu yang menari di hatiku
Yang memerah-jambukan dindingnya dengan warna cinta
Dan kini aku harus menyebutnya sebagai kenangan.
Minggu, 25 Desember 2011
Dua Sisi
Aku menyenangi pelangi, lengkungnya menawarkan kebahagian saat sepasang mataku menatapnya yang berdiri kokoh di ujung cakrawala. Begitu pun denganmu, kau menggilai pelangi-sama sepertiku. Bagimu, pelangi adalah penawar duka paling indah, obat paling mujarab bagi yang terporak-porandakan oleh badai.
Aku dan kamu, bagai sisi koin yang selalu bersama namun bersisian. Kita menyukai hal yang sama namun melihat dari sisi yang berbeda. Seperti saat mendefinisikan bahagia. Bagiku, bahagia adalah saat bersamamu, namun bagimu berbeda. Kamu mendefinisikan bahagia dengan tangisan dan air mata. Bagimu, bahagia adalah saat melihat sahabatmu yang lain tertawa saat bisa mendapatkan diriku.
Aku dan kamu seperti air dan minyak yang bersatu dalam sebuah bejana. Kita bersatu, namun tak pernah menjadi satu. Selalu ada sisi yang membatasi. Kita hanya dua zat yang terkukung dalam sebuah bejana bernama persahabatan.



