Tampilkan postingan dengan label senja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label senja. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Juni 2015

Sekotak Awan Hujan Untuk Dia

Bus mulai berjalan pelan saat memasuki kawasan terminal. Aku terbangun dari tidur yang cukup nyenyak untuk sebuah perjalanan yang tidak sebentar. Orang-orang mulai berdiri dan mengambil barang bawaannya. Kupandangi satu per satu wajah penumpang yang terlihat lelah karena tak bisa tidur pulas, sama seperti yang kualami. Aku mengeluarkan sapu tangan yang ada di saku celana sebelah kanan dan mengusapkannya ke wajahku. Memang tidak membuat wajahku terlihat segar, namun setidaknya lebih baik daripada sebelumnya yang terlihat begitu kuyu saat aku mengaca pada layar ponselku.

Aku sengaja menunggu dan turun paling akhir, membiarkan orang-orang yang membawa banyak barang bawaan turun terlebih dahulu. Hal paling menyebalkan saat turun dari bis antar kota adalah ketika turun, dan ada saja orang yang tidak sabar lalu mendorong-dorong penumpang yang ada di depannya.

Kurogoh bagian bawah bangku, dan kuangkat sebuah kotak kaca yang sengaja kubawa dari kotaku. Satu-satunya benda bawaanku. Benda yang sengaja kubawa untuk Dia.

Beberapa orang menghambur ke arahku dan  menawariku tumpangan saat baru saja menjejakkan kaki di Terminal yang sudah kuakrabi. Aku tersenyum tipis dan mengangkat sebelah tangan sebagai tanda penolakan halus dan mereka mengerti tanpa perlu memaksa lebih lanjut. Kesalahan yang sering dilakukan oleh banyak orang dalam menghadapi situasi seperti ini adalah dengan melenggang acuh sehingga orang-orang tersebut memaksa dan tak jarang mengumpat karena tak ditanggapi.
Langit terlihat mendung siang ini. Matahari tidak tampak, padahal seharusnya saat ini dia tengah berada di tengah putaran rotasinya. Aku berdiri tak jauh dari bagian luar terminal, menunggu mobil angkutan umum yang akan membawaku ke rumah Dia. Sambil sesekali kupandangi isi kotak kaca yang aku timang sejak tadi. Semoga Dia suka, gumamku di dalam hati.

***

Aku memanggil dan melambai kepada Dia yang duduk di beranda atas. Hari sudah sore saat aku sudah berada di depan pintu rumah kontrakannya. “Hai,” sapaku singkat saat wajahnya muncul dari balik pintu.

“Kamu telat,” ujarnya ketus. Aku tertawa saat melihat bibirnya mengerucut menahan sebal.

Kupencet hidungnya, dan Dia menepis tanganku lalu mencubit pinggangku. “Hei, hati-hati, nanti kotak kaca ini pecah,” ucapku sambil meliukkan tubuh, menghindari jemarinya yang menarik kulit–lemak–pinggangku.

“Oke, naik dulu gih, aku mau ambil minum.” Dia menunjuk ke arah tangga yang ada di beranda, sementara dia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya dari dalam.

“Sirup lemon yah,” ucapku sebelum menjejalkan kaki ke anak tangga.

Aku menyusuri tangga besi yang melingkar, lalu duduk di bangku rotan yang ada di dekat jendela. Lalu dari dalam ruangan terdengar bunyi pintu terbuka. Dia keluar dari pintu tersebut sembari membawa nampan berisi satu teko sirup lemon dan dua buah gelas.

Beranda atas kontrakan Dia adalah tempat terbaik untuk melihat pemandangan langit. Tidak ada bangunan tinggi atau rumah berlantai banyak yang menghalangi pemandangan. Dari tempatku duduk saat ini, aku dan Dia dapat melihat dengan jelas senja yang tinggal setengah, akibat dicuri oleh seorang lelaki gila untuk diberikan kepada perempuan yang dia cintai.

“Kenapa kamu tertawa?” tanya Dia saat aku tergelak bila memikirkan soal senja tersebut.  Dulu aku menertawakan Sukab[1], lelaki gila yang melakukan kekonyolan ini. Dia menggunting senja lalu mengirimkannya kepada kekasihnya melalui pos. Namun, kini aku bisa mengerti mengapa lelaki itu melakukan hal tersebut.

Cinta itu buta, tepatnya membutakan logika. Setinggi apa pun pendidikanmu, selincah apa pun akalmu, jika seseorang telah jatuh cinta dalam artian sebenar-benarnya cinta–bukan perasaan yang sesaat singgah lalu ditinggalkan saat rasa bosan datang–yang orang itu pikirkan hanyalah bagaimana cara untuk membahagiakan orang dia cintai.

“Tidak apa-apa,” ucapku pelan menanggapi pertanyaan Dia. “Oh iya, ini aku bawakan sesuatu untukmu.” Aku menyorongkan kotak kaca yang kuletakkan di sampingku. “Gantung di sini saja. Jadi jika kamu bosan melihat senja yang tinggal setengah itu, kamu bisa memandangi ini kapan pun kamu mau,” ucapku saat segumpal awan kelabu dikeluarkan Dia dari dalam kotak kaca.

Sementara Dia sibuk mengatur posisi awan kelabu, aku memainkan ponselku dan melihat perkembangan di sosial media. Saat ini, dunia maya sedang gempar oleh berita mengenai hilangnya secuil awan hujan di Kota Hujan. Aku membacanya sekilas dan tersenyum, lalu menutup ponselku kembali.

“Semoga kamu suka ya, Putri Hujan,” ucapku kepadanya. Nama panggilan itu kusematkan kepada Dia, karena perempuan yang ada di hadapanku ini begitu menyukai hujan. Aku membawakan sekotak awan hujan karena di kota ini hujan belum juga turun. Padahal bulan Juni sudah hampir selesai. Hal ini membuat Dia agak kecewa, dan aku tidak mau mengecewakan orang yang kucintai ini.

“Terima kasih, Lelaki Matahari.” Aku tersenyum saat dia memanggilku seperti itu. Kata Dia, selain namaku yang arti Matahari, aku pun memiliki sifat yang sama seperti matahari. Selalu semangat. Aku mengakuinya, jika tidak bagaimana mungkin aku bisa bertahan untuk tetap mencintainya walau aku tau, dia lebih menyukai senja dan juga laki-laki yang mengaguminya.




[1] Tokoh dalam cerita Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma

Jumat, 23 Agustus 2013

Puisi dan Doa Untuk Hujan di Sore Hari

"Masihkah kamu menulis puisi, dan berdoa setiap pagi, agar hujan turun sore hari?"
Aku masih ingat pertanyaan darimu tempo hari

Kemarin ilu terasa di gigi
Membelit lidah hingga tak mampu berkata
Pada akhirnya aku diam hingga kau pergi
Dan kulihat punggungmu dibayangi senja

Mungkin kau lupa, bahwa aku tak pernah lupa
Puisi ialah doa
Seperti yang dulu kau kata
Yang menggumamkan asa, dan menghapus dosa; yang kita buat dahulu kala.

Aku tak pernah berhenti menulis puisi
Pun juga doa agar hujan turun di sore hari

Di mana aku menulis puisi? Kamu tahu?
Di sini! (jemariku)
Di sini! (dadaku)
Di sini! (jantungku)
Di sini! (pikiranku)
Aku menulis puisi di manapun aku dapat menemui sepi, kamu tahu?

Lalu, tahukah kamu alasan aku berdoa tiap pagi?
Aku, berharap hujan turun di sore hari
Agar pilu, yang selalu hadir di tiap pagi
Dapat melarungkan sendu, bersama hujan dan senja di sore nanti

Senin, 19 Agustus 2013

Menulis Takdir

Pada akhirnya, merasa sendiri adalah hal yang pasti akan dirasakan oleh siapapun, tanpa terkecuali. Sore ini, kala matahari sudah ingin mengundurkan diri dan akan berganti. Aku diam menikmati angin yang bertiup semilir. Tenang. Waktu seperti berhenti saat semburat jingga yang hangat dapat dinikmati pelan-pelan.

Sore ini, seperti sore yang biasanya pada hari-hari sebelumnya. Matahari masih jingga, saat akan terbenam dan sinarnya redup seperti cahaya hati yang sedang berlayar lalu karam. Kecuali aku. Hanya aku yang merasa sore ini begitu berbeda.

"Tumben kamu ada disini? Sedang berjalan-jalan atau...?" tanyaku dengan nada menggantung. Dihadapanku berdiri seorang lelaki yang mengenakan kemeja biru gelap yang senada dengan celana jeans yang dikenakannya.

"Ehem," lelaki itu berdeham dan membenarkan posisi kacamata yang sedikit merosot dari letaknya. Hidungnya yang tidak mancung selalu membuat posisi kacamata lelaki ini turun. Sebuah hal yang menjadi kebiasaan untuknya. "Jadi gini, aku akan menikah," ucapnya tanpa berbasa-basi.

"Lalu?" tanyaku dengan nada biasa.

"Aku mau kamu datang," ucapnya menyerahkan sepucuk undangan dengan foto dirinya dengan calon istrinya.

"Mau atau harus?"

"Engg, terserah kamu menganggapnya gimana. Hanya saja, aku merasa harus mengundangmu dan aku pun ingin kamu datang." Lelaki itu duduk di sampingku, menatap dan tersenyum kepadaku.

"Calon istrimu cantik, Dim," ucapku seraya membalas senyumannya.

Dimas kembali membetulkan posisi kacamatanya yang kembali merosot. "Ya, kamu juga cantik. Dan pintar."

"Hey, jangan goda aku. Bulan depan kamu menikah." Aku melemparkan kartu undangan ke arahnya. Lelaki itu tertawa pelan, pun juga denganku.

"Tapi itu jujur. Andai saja dulu orangtua kita masing-masing tidak menentang hubungan kita..." Ucapan Dimas terhenti sejenak. "Mungkin nama kamu yang ada di dalam kartu undangan itu, bersanding di sebelah namaku."

Aku menatap lurus paras lelaki itu. Rambutnya sudah tertata rapi, tidak lagi gondrong saat masih bersamaku. Dan juga sikapnya lebih formal. "Sudahlah. Masa lalu," ucapku seraya mengibaskan tangan. "Dan sepertinya..." Aku melirik ke kartu undangan. "Sheila sukses membuat dirimu lebih baik. Kamu yang sekarang jauh lebih rapi."

"Ya terlihat baik secara formal, walau aku tidak terbiasa. Aku lebih senang..."

"Menggunakan celana selutut, dengan baju kaos serta gelang-gelang tali yang selalu kamu kenakan di pergelangan tangan kirimu," aku memotong ucapan Dimas. Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Hingga sekarang, aku tidak lupa selera berbusananya yang begitu biasa.

Dimas tesenyum lebar. "Ya, dan tak lupa ini." Lelaki itu memegang rambutnya. "Capek kalau tiap bulan pergi ke tukang cukur rambut."

"Ya, rambutmu memang cepat sekali memanjang."

Hening menengahi obrolanku dengan Dimas. Dimas diam, sepertinya dia sedang mencari topik yang bisa dibicarakan.

Bertemu kembali dengan seseorang yang dulu selalu ada di sampingmu, setelah pertidaktemuan yang cukup lama, bisa membuatmu seperti orang bodoh yang tidak tahu ingin membicarakan apa. Itulah yang terjadi denganku dan Dimas saat ini.

"Masih sibuk menulis?" tanya Dimas membuka topik obrolan lagi.

"Ya masih."

"Aku masih ingat percakapan pertama kita. Kira-kira suasananya seperti ini kan?" tanya Dimas kembali.

Aku mengarahkan pandanganku kepada lelaki itu lagi. Dan mengingat-ingat saat pertama berkenalan dengannya, lalu sadar bahwa yang dikatakan Dimas benar. "Ya, sore hari, dan di sebuah taman. Hanya saja, lokasinya saja yang berbeda, walau sama-sama sebuah taman."

"Masih ingat apa yang kamu ucapkan kepadaku saat aku bertanya, apa alasanmu menulis?" Dimas menatapku lekat.

"Menulis takdir. Aku menulis tentang sesuatu yang ada di dalam pikiranku. Semoga apa yang kutulis menjadi takdir yang akan kutemui nantinya. Sebabnya itu aku selalu menulis hal-hal yang manis," ucap kami bersamaan. Aku cukup terkejut bahwa dia masih mengingat jawaban itu. Jawaban yang aku ucapkan kepada siapapun yang menanyakan alasanku menulis.

Kami saling menatap. Lalu tiba-tiba saja aku dan Dimas tersenyum, kemudian tertawa bersama.

"Ya... Ya... Sayangnya tidak selalu seperti itu," ucapku seraya membereskan laptop ke dalam tas.

"Maksudnya?" tanya Dimas dengan mimik wajah heran.

"Aku selalu menulis sesuatu yang manis, berharap itu menjadi takdir yang manis juga. Ya, sayangnya tidak selalu seperti itu. Kamu akan menikah bulan depan, dengan perempuan lain," ucapku dengan nada penekanan di kalimat terakhir. "Dan itu bukan takdir yang aku inginkan, sebenarnya." Aku bangkit dari bangku taman yang sudah kududuki sejak tadi. "Selamat, semoga pernikahan kalian nanti bahagia. Dan sepertinya aku tidak akan datang. Terima kasih untuk undangannya." Aku menyerahkan kembali sepucuk kartu undangan pernikahan itu kepada Dimas.

Aku melambaikan tangan kepada mantan kekasihku itu. Lelaki yang menemaniku selama hampir sewindu lamanya. Lelaki yang awalnya kupikir takdirku. Kadang memang seperti itu, aku hanya dapat berharap dia takdir kepadaku. Takdir yang manis. Sayangnya, takdir tidak dapat kita tentukan sendiri.

Kamis, 04 April 2013

Cinta Dari Balik Mata

Sore itu, seperti biasa, seperti sore di hari sebelumnya, aku sibuk memandangi langit yang menjadi jingga. Belasan layang-layang serupa bintik yang menghiasi langit yang hampir memerah seutuhnya.

Aku melihatmu berjalan pulang menuju rumahmu yang letaknya hanya beberapa pintu dari rumahku dan berseberangan, dipisahkan oleh sepetak gang kecil yang hanya muat dilalui oleh kendaraan bermotor.

Seperti biasa pula, aku memberikanmu sapaan terhangat dan senyuman terbaik yang kupunya. Dan harusnya, seperti biasa kamu pun akan mengangguk, membalas sapaanku dengan sungging senyumanmu. Seharusnya.

Sore ini, kamu diam saja saat kusapa. Wajahmu tertunduk, seolah enggan untuk menatapku. Langkahmu menjadi lebih cepat saat tubuhmu merapat ke arahku.

Senja terasa menjadi lebih sunyi dari malam yang ada di dalam pikiranku itu. Saat bibir kita diam membeku. Kata-kata mati dilesapkan diam. Hanya ada kamu, aku dan jejak-jejak kesedihan yang tertinggal di belakang.

Kirana, hari ini, aku merasakan cinta sedang sampai pada puncaknya. Dari rona wajahmu yang muram, aku melihat, ada cinta yang tertahan di balik airmata. Kamu, sedang membohongi dirimu sendiri. Dan aku, sedang berpura-pura bahwa luka hanyalah cara cinta menasbihkan dirinya, dalam ketidakrelaan.

Dalam pikiranku, aku masih jelas membayangkannya. Kata-kata menjadi serupa belati yang membunuh asa. Kau jejalkan kata-kata perpisahan yang diiringi oleh ciuman panjang; pengganti pelukan. Aku akan dijodohkan, katamu.

Kamu menerimanya? Tanyaku saat itu. Dan dalam memori pikiranku, kau menjawab dengan anggukan. Serupa ketuk palu hakim yang menjatuhkan vonis terberat dalam hidupku. Kamu sudah menjatuhkan pilihan, yang menjerumuskanku pada jeruji hati.

Dalam pikiranku pun, aku bertanya padamu. Dengan kedua tanganku mencengkeran pundak kecilmu aku memastikan, apakah kamu sudah tak mencintaiku? Dan sebuah anggukan darimu benar-benar mematikan harapanku, hanya harapan, bukan cinta.

Dari mataku, aku melihat cinta di bola matamu. Senyata senja sore ini, dari bening indera penglihatanmu, dirimu menyatakan cinta yang besar, menampakkan kekecewaan yang besar.

Nyatanya, semua yang ada dipikiranku, hanyalah ada dipikiranku saja. Aku tak pernah menjadi kekasihmu, dan malam perpisahan itu tak pernah ada. Hanya saja, kehilangan yang sebenar-benarnya nyata. Aku tahu kau menunggu. Dan kau tahu, bahwa aku tak akan pernah berani melangkah kesana. Hingga akhirnya sore ini aku sadar, bahwa cinta tak pernah cukup untuk membawamu pergi.

Malam itu, dari beranda rumahku aku melihat sebuah perayaan yang membahagiakan keluargamu. Seorang pria sempurna meminangmu, memintamu menjadi pendamping hidupnya. Aku melihat duka di matamu malam itu.

Kau bisa membohongi orang lain, tapi tidak denganku. Matamu adalh mataku. Kesedihanmu pasti terlihat olehku. Dan luka yang kau rasakan, tak pernah dapat kau sembunyikan dari penglihatanku.

Sore ini, akan menjadi sore yang lain dan tak akan pernah lagi sama. Kamu, tak dapat lagi kusapa. Dan senyumanmu tak akan pernah lagi kau berikan kepadaku.

"Semoga kamu bahagia Kirana." Aku berucap kepada perempuan yang sudah berjalan beberapa langkah melewatiku. Dan aku yakin dia tidak mendengarnya. Tak apa, itu lebih baik.

Langit sudah menggelap seutuhnya. Aku memutar roda, menggerakkannya ke dalam rumah. Melepas cinta tak pernah mudah, apalagi cinta yang disembunyikan tapi diketahui oleh orang kita cintai. Aku melepas nafas panjang. "Dek, bantu Abang dong," ucapku kepada adik lelakiku untuk membopongku pindah dari kursi roda ke kasur.

Kamis, 21 Maret 2013

Taman

Di bawah langit senja dua pasang kaki kurus mengayun di ayunan yg berderak. Karat menguasai batang tubuh mainan itu. Usang. Nyaris tak ada lagi anak-anak yang menggunakannya. Benda itu sudah mulai dilupakan, kecuali oleh sepasang bocah yang mulai beranjak dewasa itu.

"Rasanya, sudah lama sekali kita melewatkan yang seperti ini," gumam Hera. Kakinya yang sebenarnya sudah dapat memijak tanah ditekuk, agar dia dapat mengayunkan tubuhnya. Pelan, dengan derak yang menyiratkan sebentar lagi robohnya tempat dia mengayunkan diri.

Gara tidak mengalihkan pandangannya dari arah matahari yang sudah tak lagi terlihat. Dalam pandangannya, mentari seolah melarilan diri dan tidak akan kembali lagi, di esok hari. Remaja lelaki yang sebentar lagi akan mengenakan seragam putih biru itu menelan ludahnya. Terasa pahit. Dia mencengkeram erat rantai ayunan, agar gelisah tidak membuatnya lepas kendali.

"Taman ini adalah kapsul waktu kita. Di sini, sejak 6 tahin lalu, kita banyak menghabiskan waktu untuk tertawa dan hanya tertawa. Seolah tidak asa ruang untuk bersedih." Hera berceloteh banyak saat Gara hanya diam. Perempuan yang lebih tua 2 tahun dari Gara itu seolah tidak ingin menghentikannya tentang celoteh masa lalu, saat mereka berdua sering menghabiskan tawa dan canda di taman ini; taman yang sebentar lagi mati.

Gara menggerakkan bibirnya pelan. Di wajahnya membayang jelas rona kesedihan. Dia adalah lelaki yang tak dapat menyembunyikan ekspresi, walaupun dia lelaki. "Sedih yah." Gara mendesah pelan. "Pertama-tama taman ini, terus nggak lama kemudian kamu."

Lelaki itu tidak melanjutkan ucapannya. Seolah tertiup oleh angin sore dan lenyap ditelan debu. Getar suaranya masih terasa jelas di telinga Hera. "Nggak usah bersedih. Bertemu dan berpisah adalah hal yang lumrah terjadi. Tapi yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita tidak bosan untuk menjaga kenangan yang sudah terjadi, dan kita tidak menjadi asing satu sama lain nantinya." Hera menghembuskan nafas berat sesaat setelah mengucapkan kata-kata itu. Dia menengadahkan kepalanya ke atas agar airmatanya tak tumpah. Bukankah baru saja dia berucap bahwa perpisahan dalah hal yang lumrah. Dilihatnya langit sudah menggelap dan bulan sudah mulai menampakkan wujudnya di sudut langit.

"Kapan kamu pindah?" tanya Gara dengan nada datar. "Mungkin aku bakal kangen suasana ini. Ngobrol berdua sampai suara adzan terdengar dan kita pulang ke rumah masing-masing." Sejenak Gara menjeda ucapannya. Hening menyusup sesaat sebelum dia mengehembuskan nafas kencang dan melanjutkan kata-kata. "Ah, tapi, mulai besok pun kita udah ga bisa lagi ngobrol disini." Suaranya terdengar getir.

Hera hanya mengangguk pelan. Dia beranjak dari bangku ayunannya. Berdiri dan membelai pelan rantai ayunan yang sudah berkarat penuh. "Udah adzan, waktunya pulang. Yuk." Hera berucap pelan. Dia menyulurkan tangan kepada Gara. Lelaki itu menyambutnya. "Aku berangkat lusa. Dan setelah itu aku nggak tahu akan kembali kesini atau nggak."

Gara dan Hera berjalan keluar dari taman dalam diam. Gara berjalan menunduk. Sepertinya kepala berat dipenuhi kesedihan. Saat keluar dari lingkup taman, Gara menolehkan pandangannya kembali ke arah taman. Matanya menatap sebuah papan pengumuman yang ditulis dengan huruf tebal dan jelas. TAMAN INI AKAN DIBONGKAR. Di papan tersebut tertera jelas tanggal pembongkarannya yang jatuh pada hari esok. Hatinya bergemuruh. Kehilangan dua hal yang selalu ada di kesehariannya selama 6 tahun terakhir membuatnya merasakan kesedihan yang besar. Satu kehilangan adalah biasa, bila dua adalah duka.

Rabu, 23 Januari 2013

Kisah Sederhana Kala Senja

Matahari sudah mulai beranjak dari titik kulminasinya. Kini, sinarnya sudah mulai meredup, meninggalkan jejak-jejak kehangatan. Dan semilir angin, menambah daftar alasan untuk duduk-duduk, bersantai atau bahkan saling berbicara dengan secangkir kopi sebagai tegukan.

Sore ini, akhir pekan, seperti biasa, taman akan selalu ramai dengan orang-orang; para ibu yang menemani anaknya bermain prosotan, bapak-bapak menjelang paruh baya yang duduk beralas koran sedang sibuk memikirkan langkah permainan catur selanjutnya, bocah yang lari dengan senyum merekah sebab balon yang diinginkan berhasil didapatkan dengan cara setengah merengek, dan muda-mudi yang duduk berdua menghabiskan kebersamaan.

Aku selalu tersenyum jika sedang mengunjungi taman ini. Aura bahagia tersebar di penjuru taman, menjadi satu tempat dimana orang-orang menanggalkan kepenatan menjalani keseharian; seperti yang sering kulakulan.

Di tanganku, sudah siap kanvas kosong, pensil gambar, kuas berserta macam-macam warna cat air yang kubiarkan bertumpuk di dalam ember yang kugenggam. Kususuri jalan di taman, mencari posisi dan objek yang tepat untuk kujadikan model dadakan tanpa bayaran.

Di pojok taman, di bawah lampu penerang yang belum menyala lampunya, aku melihat seorang wanita yang sedang bersandar pada tiang. Wajahnya terlihat cemas-menunggu seseorang, terbukti dari intensitasnya melirik ke jam tangan yang dikenakannya di pergelangan tangan kiri. Aku tersenyum melihat tingkah polahnya.

Aku memundurkan langkah, menjaga jarakku agar tak disadari oleh wanita itu bahwa sedang ada aku yang memperhatikannya; mengagumi dirinya.

Kuambil pensil yang tak lancip ujungnya dari dalam ember. Kugoreskan, dan kubuat sebuah sketsa siluet wanita tadi. Jemariku dengan lincah menggoreskan pensil dan menghasilkan garis-garis yang kemudian menjadi siluet tubuh wanita itu. Angle dan pencahayaannya begitu pas.

Jika aku bukan seorang pelukis, melainkan seorang fotografer, aku takkan melewatkan moment itu. Cahaya matahari yang sudah menjingga jatuh menimpa kepal wanita itu, dan menghasilkan sebuah bayangan panjang yang bercampur dengan bayangan tiang. Dalam benakku, image yang terbayang begitu indah dan sempurna. Tapi, bukankah yang indah dan sempurna hanya memang ada di dalam benak saja.

"Kamu kemana aja? Sudah disini dari kapan? Kenapa nggak bilang-bilang?" Wanita tadi berbicara. Nada suaranya terdengar cemas dan kesal pada saat yang sama. Wanita itu berjalan menuju tempat orang yang menjadi lawan bicaranya tadi.

Aku tersenyum mendengarnya. Jemariku masih asik menggoreskan mata pensil di kanvas, dan sesekali kusapu, untuk menimbulkan efek bayangan dan gradasi tertentu.

"Aku sudah bosan menunggu, aku kira kamu ga bakal jadi datang." Wanita itu mulai mengeluarkan isi kekesalannya.

Aku tersenyum lagi mendengar perkataan wanita tersebut. Saat sketsa gambar siluet sudah selesai kubuat, kugeser papan penyangga kanvas, agar wanita yang duduk di sampingku dapat melihatnya dengan jelas.

Bola mata wanita itu membulat, binar mata terlihat lebih hidup.

"Selamat ulang tahun, Sayang. Ini hadiah untukmu," ucapku kepada wanita yang sejak tadi menunggu kedatanganku di bawah tiang lampu penerangan taman.

Di tangan wanita tersebut, di kanvas yang dipegangnya, ada sebuah silet tubuhnya sendiri yang kubuat secara kilat.

Langit makin menggelap, di ujung cakrawala, matahari mulai menenggelamkan dirinya. Sore ini terasa begitu indah dan membahagiakan. Sesekali, tiupan angin sepoi menerbangkan rambut-rambut kecil di belakang telinga; menguarkan suasana yang begitu nyaman.

Wanita itu mengamit telapak tanganku, digenggamnya erat. Kekasihku itu menatap ke arahku, menantang kedua bola mataku. Lalu dia tersenyum. Hal yang membuatku ikut tersenyum sendiri. Hal yang selalu membuatku bahagia saat melihatnya tersenyum. Senyuman adalah cara paling mudah untuk menambah kebahagiaan.

Dan sebuah kecupan hangat yang singkat di bibir menjadi penutup sore yang indah. Sore yang terasa begitu hangat; di dada dan hati. Sore di kala senja yang selalu kusempatkan di tengah rutinitas sehari-hari.

Seperti itulah perayaan ulang tahun kekasihku. Sederhana. Hanya aku dan dia. Dia mengapit erat lenganku. Kami duduk di bangku taman, menghabiskan waktu, menatap senja, hingga benar-benar habis dan digantikan malam.

Kamis, 28 Juni 2012

Senja di Sore Itu

Senja di sore itu
Kenangan bermain-main dengan harap
Menggelayutkan ironi di kelopak
Rindu mengerang hebat dalam teduhnya jingga

Senja di sore itu
Kita bermain dengan tawa yang bermekaran
Dengan canda yang memotretkan abadinya suasana

Kala memejam mata
Selalu ada kata yang tak terbaca
Sebuah senyum dengan berjuta aksara
Kata tertelan, sorotmu menenggelamkan duka

Kita bermain saat senja menjemput
Menanti takdir kita untuk membenci malam
Menanti matahari kembali terbit dan tenggelam
Aku dan kamu berbicara dalam diam

Pada senja di sore itu
Kata hanya sebuah kata
Mata kita sudah berbicara
Aku, kamu dan senja di sore itu
Bersama tautan tangan di bawah teduhnya senja
Aku menggores cinta dan duka pada sebuah perpisahan.

Senin, 18 Juni 2012

Biru, Jatuh Hati


“Kamu mau bawa aku ke mana, Di?” ucap Amel saat diperjalanan. Tadi siang aku ‘menculiknya’ dari kampus. Meminjam mobil seorang teman, kini aku membawa Amel ke suatu tempat yang istimewa.
“Nanti kamu pasti bakal suka tempatnya kok, percaya sama aku.”
Lalu lintas perjalanan tampak lengang, seperti aku tidak terlambat sampai di tempat tujuan. Kulirk arloji yang melingkar di lengan kananku. Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Hemm, cukup, ucapku menggumam dalam hati.
Selama perjalanan Amel selalu bertanya akan hal yang kulakukan, menanyakan tujuan aku membawa kabur dirinya yang sedang ada kegiatan di kampus dan menutup matanya saat ini. “Di, aku lepas yah penutup matanya,” ucap Amel meminta.
“Jangan dong,” jawabku seraya menyingkirkan tangan Amel yang ingin membuka ikatan kain hitam yang menutupi matanya. “Kalau kamu buka, nanti ga jadi kejutan lagi. Bersabar yah, sebentar lagi sampai.”
Akhirnya Amel diam, tidak lagi ribut mempertanyakan tujuan kami. Aku menghela nafas lega, lalu kufokuskan lagi pandanganku ke jalan. Ponselku berdering. “Halo, gimana? Sudah siap semua? Baik, makasi ya,” ucapku kepada seseorang yang meneleponku.
Tempat tujuanku sudah terlihat, di depan aku tinggal membelokkan mobil ke arah parkiran. “Kita sampai,” ucapku pada Amel. “Tunggu yah, jangan dibuka penutup matanya.”
Aku keluar dari kursi kemudi, lalu memutar dan membukakan pintu untuk Amel, kemudian kutuntun kekasihku itu menuju tempat yang sudah kurencanakan.
Terdengar bunyi ombak yang berdesir, suara riak air raksasa yang berjumpa dengan daratan. Semilir angin yang sepoi-sepoi menampar wajahku dan Amel, mengacak-acak beberapa helai cuat rambut kami.
“Ini di mana, Di? Di pantai yah? Pantai mana?” Amel kembali banyak tanya. Rasa penasaran perempuanku ini memang sangat besar, dia selalu menyakan hal yang membuatnya penasaran, terlebih dalam keadaan seperti ini.
“Nanti kamu juga tahu kok, sebentar yah,” ucapku menuntun Amel ke suatu tempat. Dari tempat kami berdiri matahari menantang tegak mata kami. Tidak terlalu menyilaukan, sebab sinarnya sudah melemah, matahari sudah lelah bersinar terik sepanjang hari ini. Kini saatnya dia untuk beristirahat dan pulang ke kaki langit. “Aku buka yah, udah siap? Buka matanya pelan-pelan,” ucapku memberi instruksi pada Amel.
Saat penutup mata kulepaskan, Amel membuka matanya perlahan, sangat perlahan. Cahaya jingga dari matahari sore ini langsung menyergap pupil matanya saat kelopaknya dibuka. Amel menggerakkan tangannya untuk menutupi cahaya yang menyorotnya. Awalnya mimik wajahnya terlihat bingung, lalu kemudian menjadi senyum dan akhirnya pekiknya menggelegar. “Aaaakkhhh!!!! Pangandaran!!” Teriaknya sekuat tenaga.
Beberapa kawanku sudah datang dan ikut bergabung denganku, kami berdiri di belakang Amel. Saat Amel berbalik arah kepadaku, kami segera bernyanyi dengan kompak. “Happy birthday, to you… happy birthday to you..”
Mimik wajah Amel kembali menyiratkan tanda tanya, kemudian aku maju ke hadapannya. “Selamat ulang tahun yah, Sayang,” ucapku pelan seraya menggenggam lembut jemarinya. Kemudian kukecup keningnya. Kulihat wajahnya bersemu merah. Di depan kawan-kawannya yang ikut menyiapkan kejutan ini, di pantai Pangandaran yang sangat disukainya dan di hadapan senja yang dikaguminya, Amel melewatkan hari spesialnya dengan cara yang spesial. Aku tersneyum, rencanaku tak meleset. Wajah bahagia terpatri jelas di wajah perempuan yang sangat kucintai itu.
Kuarahkan wajahku pada panorama senja yang sedang pada momen puncaknya; saat kemilau jingga benar-benar matang. Aku tersenyum dan mengangkat kedua lenganku. “Yeah!!” ucapku berteriak menuangkan segala kebahagiaanku juga.
Amel yang tadi sibuk meladeni kawan-kawannya yang mengucapkan selamat ulang tahunnya, kini berdiri di sampingku. “Terima kasih, Sayang. Aku bahagia banget.”
Dadaku semakin menghangat mendengar ucapan itu. Senyumku mengembang lebar.
“Pantainya indah yah,” ucap Amel.
“Yap,” jawabku menatap kemilau jingga yang mencermin di sana. “Jingganya keren.”
“Bukan, tapi kemilau warna birunya air lautnya. Aku suka sekali warna itu, selalu terasa teduh saat memandangnya,” ucap Amel yang menimbulkan tanya padaku.
Sejak kapan Amel suka dengan warna biru?

Kamis, 14 Juni 2012

Kerudung Merah


 Danau Toba masih tetap sama, terlihat indah dan mengagumkan. Tidak ada yang berubah sejak aku melihatnya beberapa tahun yang lalu. Tempat yang selalu menjadi pelarianku saat pikiranku penat, atau tempatku melarikan diri dari rutinitas saat masih berseragam putih abu-abu.
Duduk di pinggir danau Toba lalu memandang jauh ke arah hamparan air yang luas menjadi kegiatan favoritku. Hanya memandang tanpa memikirkan apa pun. Membunuh waktu dengan membiarkan pikiran kosong menatap birunya air di danau Toba.
Mungkin bagi orang lain, hal ini adalah aktifitas yang membosankan, tidak berguna dan sangat membuang-buang waktu. Tidak bagiku, menatap danau Toba seperti terapi ketenangan bagiku. Menyesapi lembutnya semilir angin yang berbisik di telinga, menikmati teduh yang ditawarkan suasana. Waktu terasa berhenti saat aku tenggelam dalam tenangnya danau Toba.
Aku berjalan menyusuri tepi danau Toba. Masih ada, ucapku pada hatiku sendiri saat kulihat masih tegak berdiri pohon yang dulu menjadi tempatku berteduh saat matahari menyalak galak. Aku tersenyum kecil, kusentuh lembut batang pohon itu. Di sini aku sering menghabiskan waktu saat memandang ke arah danau. Tidak banyak yang berubah, hanya ada beberapa ranting pohon yang baru tumbuh dan juga beberapa ranting yang terlihat patah.
Seketika kenangan menyeruak masuk dalam pikiranku. Seragam putih abu-abu, masa-masa yang terlewati di tempat ini dengan seragam itu dan kamu yang mengenalkan tempat ini kepadaku.
“Senja dari tempat ini telihat indah. Sangat indah.”
Aku duduk di bawah pohon dan memejamkan mata. Membiarkan kenangan mengalir deras dalam benakku. “Kamu benar, senja dari tempat ini indah sekali,” ucapku bermonolog. Dalam benakku tetiba muncul senyum wajah khas Zahra. Berkat dia aku menyukai tempat ini.
“Dulu tuh, Ayah sering ngajak aku ke sini pas SMP, makanya aku tahu tempat ini seindah apa ketika matahari terbenam.”
Kenangan memang selalu indah ketika dikenang, walau tanpa disadari terkadang kenangan selalu muncul bersama luka yang kembali memanas. Segera aku membuka mataku sebelum kenangan lain yang lebih pahit muncul. Pohon ini menjadi saksi tak bergerak tentang kisahku dengan Zahra. Kisah sepasang muda-mudi yang dimabuk cinta, dibutakan oleh asmara. Kisah pelajar dengan seragam putih abu-abu yang penuh tawa di awal cerita dan berakhir dengan duka saat menyelesaikannya.
“Shit!” Aku memaki diriku sendiri saat menghadapi kenyataan kenangan selekat darah. Menyatu dalam diri walau selalu ingin menjauhkannya, namun tak bisa. Kenanganku dengan perempuan berkerudung penggila warna merah itu terlalu lekat, seperti darah.
Ini adalah hari keduaku di kota ini. Setelah kemarin seharian bersilahturahmi dengan guru-guru SMA, kini aku ingin menghabiskan waktuku di tempat ini sebelum berangkat ke Inggris keesokan harinya. Aku rindu tempat ini. Empat tahun bukanlah waktu yang lama, namun aku begitu merindukan tempat ini sangat. Beasiswa kuliah di Bandung membuatku hidup menjadi perantauan, meninggalkan teman-teman, tempat favorit dan orang yang kusayangi di kota ini; termasuk Zahra.
Perpisahan karena keadaan selalu lebih memilukan dari alasan apa pun. Sekuat apa pun lengan berusaha untuk tetap menggenggam, jika semesta tak berkehendak, perpisahan adalah sebuah kepastian. Dan jika semesta berkehendak pun, bisa saja sore ini aku akan bertemu dengan Zahra lagi.
Pasca kepindahanku kuliah ke Bandung, komunikasiku dengan Zahra semakin memudar hingga puncaknya di tahun kedua kami benar-benar hilang kontak. Aku menyandarkan punggungku ke pohon, beristirahat sejenak seraya menikmati semilir angin serta pemandangan danau Toba yang mulai menjingga. Ternyata sebentar lagi senja akan tiba.
Detik berlalu menjadi menit. Sorot jingga cahaya matahari semakin memekat. Dari tempatku duduk, terlihat matahari sudah menggantung enggan. ”Senja dari tempat ini begitu indah,” gumamku. Pandanganku terpaku pada pesona jingga sore ini. Kemilaunya terefleksikan sempurna di danau Toba. Serupa cermin raksasa yang memantulkan cahaya jingga secara merata.
Pandanganku teralihkan oleh sosok perempuan dengan kerudung merah yang berada tak jauh dari tempatku duduk. Dia sibuk mengarahkan lensa kamera ke arah matahari yang–sebentar–lagi tenggelam.
”Zahra.” Dengan bodoh aku memanggil perempuan tersebut dengan nama Zahra. Jika orang itu bukan Zahra, aku akan menjadi orang terbodoh di pinggir danau ini.
Perempuan itu menoleh ke arahku. Diturunkannya lensa kamera yang menutupi wajahnya, terlihat perempuan itu memicingkan matanya saat melihat ke arahku. Seperti ingin memastikan apakah aku orang yang dikenalnya. “Rudi!”
Semesta memang tak pernah bisa ditebak. Sebuah pertemuan yang–sangat–tidak disengaja. Bertemu dengan Zahra bukanlah agendaku. Ada kerinduan yang membuncah keluar dari dalam dadaku. Seolah ingin ditumpahkan seluruhnya kepada Zahra. Dia terlihat semakin cantik, senyumnya masih semanis dulu, dengan kerudung berwarna favoritnya, dia semakin terlihat bersinar.
“Kamu, kapan sampai di sini? Ada keperluan apa?” ucap Zahra memulai obrolan basa basi setelah sekian lama tidak bertemu.
Aku mengatupkan bibirnya dengan jemariku. “Nanti saja aku ceritakan. Kini aku ingin sekali lagi menghabiskan senja di sini bersamamu.” Kemudian aku dan Zahra berbagi tempat duduk di bawah pohon ini. Sama seperti bertahun-tahun lalu, ketika aku dan dia masih berseragam putih abu-abu, memandangi senja dari tempat ini selalu indah.

Rabu, 13 Juni 2012

Jingga di Ujung Senja


“Aku menunggu pelangi,” ucap Ryan pelan. Pandangannya menatap jauh ke langit.
Bodoh, ucapku membatin. Langit sore ini terlihat cerah, tak ada setitik pun awan mendung yang singgah di sana. Aku mendongak menatap langit yang mulai menjingga. Tanganku berhenti menari di atas keyboards, senja selalu mampu memesonaku.
“Kamu lebih suka mana, melihat pelangi atau senja?”
Pertanyaan bodoh. Bukannya kamu sudah tahu? Tak kugubris pertanyaan Ryan. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Ide di dalam kepalaku sudah menunggu untuk diterjemahkan dalam aksara. Editorku sudah menunggu bab selanjutnya draft novelku.
Ryan yang tadi berdiri kini duduk di sampingku. Persis di sampingku. “Ya, aku tahu, kamu sangat menggilai senja. Benar?” Aku hanya tersenyum simpul kepada sahabatku itu. Dia yang mengenalku sejak beberapa tahun terakhir, sudah hampir mengetahui apa saja hal yang kusuka dan tidak.
Kami duduk di pinggir taman kecil di dekat sungai Musi. Dari tempat kami duduk, terlihat jelas sungai terpanjang di Pulau Sumatera itu. Tak jauh dari sini, kami juga dapat melihat jelas jembatan Ampera yang menjadi ciri khas kota ini. Sepanjang hari ini matahari bersinar cerah, hal yang membuat sorotnya begitu terang di langit; termasuk sore ini.
Tetiba sebuah ide untuk membuat puisi hinggap di kepalaku, mengusir sejenak tumpukan ide cerita yang sudah kususun. Rona jingga, dan pantulan cahayanya di sungai Musi membuat sisi puitisku keluar. Segera kujentikkan jemariku di keyboard laptop.

Aku, kamu, dan senja
Berbagi waktu di antara jingga yang menaungi kita
Memohon kepada waktu untuk melambatkan jalannya
Aku ingin kamu dan senja lebih lama
Kamu dan senja adalah satu
Tak terbagi dan tak terganti
Aku ingin menatap senja tidak tanpamu

“Kamu nulis sajak yah?” ucap Ryan. Aku kaget, kepalanya sudah ada dibelakang pundakku. Mencoba mencuri pandang atas apa yang sedang kuketik.
Segera kuhalangi dirinya agar tak melihat sajakku, namun dia tetap memaksaku untuk memperlihatkannya.
“Ayo dong, aku dikasih liat. Penasaran nih,” ucapnya setengah memohon dan menggodaku. Senyum manis dia tampilkan di wajahnya. Senyum yang meluluhkanku.
Aku tak dapat menahannya. Senyumannya terlalu manis, pesonanya terlalu kuat bagiku, aku pun membiarkannya melihat apa yang kuketik tadi.
“Wah, ini bagus.” Ryan mencubit pelan pipiku. “Kamu memang berbakat jadi penulis, Rani.” Kulihat senyumnya begitu lebar. Terasa hatiku menghangat karenanya. “Tapi, ‘kamu’ di sajak ini siapa? Pasti aku, kan?” tanyanya dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi.
Aku mengangguk pelan. Siapa lagi kalau bukan kamu, bodoh, ucapku dalam hati. Kamu sahabatku yang juga kekasihku. Memilikimu adalah kebagiaan besar bagiku. Mungkin aku adalah perempuan yang begitu beruntung. Memiliki kekasih sepertimu, yang begitu mencintaiku dan menerimaku apa adanya; walau aku bisu.
Kamu mengacak-acak rambutku. Kucubit pelan perutmu yang disambut ringisan kecil olehmu. Lalu kamu memelukku. Ah, senja bersamamu selalu indah. Temaram jingga yang diberikan oleh mentari menjadi penambah kebahagiaanku. Kamu dan senja, adalah hal yang selalu kusukai, ucapku melalui kontak mata denganmu saat mata kami saling memandang dalam keheningan yang ditawarkan senja.


Senin, 11 Juni 2012

Menunggu Lampu Hijau


Kenangan menyeruak ke dalam ingatanku. Hari ini setelah sekian lamanya tak pernah menginjakkan kakiku di tempat ini, aku berkesempatan mengunjunginya lagi. Tempat yang menjadi simbol kota kelahiranku; Jam Gadang. Tempat yang menjadi kenangan terakhirku bersama Bapak.
Aku ingat sekali kapan terakhir kali aku ke tempat ini. Mengagumi kehebatan ‘Jam Raksasa’ dihadapanku. Aku yang saat itu ditemani oleh Bapak tak habis mendecak kagum. “Jam Raksasa seperti ini cuma ada 2 lho, Jang,” ucap Bapak kepadaku.
“Lalu, yang satu lagi, ada dimana, Pak?”
“Kembarannya ada di Inggris. Bujang tahu?”
Aku yang saat itu baru berusia 8 tahun belum mengetahuinya. Hanya gelengan lemah yang dapat kuberikan pada Bapak. “Memang di mana, Pak? Jauh yah?”
“Kembaran Jam Gadang ini ada di Inggris. Namanya Big Ben, paham kau Bujang?” Teringat jelas intonasi suara Bapak saat itu. Suaranya yg berat namun terdengar lembut ditelingaku masih terngiang di telingaku.
Pelupuk mataku mengembang. Kenangan yang tidak pernah kadaluarsa itu sukses menyentil hatiku. Saat aku memejamkan mata, tercetak jelas bayangan senyum Bapak. Lelaki yang begitu kukagumi. Lebih dari sekedar orangtua. Bapak juga adalah Ibu bagiku yang tidak pernah merasakan hangatnya pelukan dari perempuan yang melahirkanku. Ibu meninggal saat melahirkanku, itu yang Bapak ucapkan padaku saat aku menanyakan keberadaannya.
“Kamu suka melihat Jam Gadang ini, Bujang?”
“Suka sekali, Pak.”
“Kalau begitu, jika besar nanti, pergilah ke Inggris. Merantaulah kau kesana. Saksikan sendiri bagaimana megahnya bangunan itu.”
“Bapak sudah pernah melihat Big Ben?”
“Belum, maka dari itu, kamu wakili Bapak untuk kesana.”
Terputar ulang percakapanku dengan Bapak. Percakapan terakhirku dengannya. Sore itu. Kala matahari akan pulang keperaduannya. Ketika langit menyilaukan cahaya merah yang terlihat nanar dan penuh kesedihan olehku. Kesedihan benar-benar tertumpahkan dari mataku.
“Ayo kita pulang, Bujang.”
Bapak menuntunku sepanjang jalan. Saat dipersimpangan, terlihat olehku lampu masih menyilaukan warna merah. Saat itu dengan segera aku berlari menyebrangi jalan. Bapak tak siap dengan gerakanku, terlepas tanganku dari genggamannya. Saat itu aku lupa akan apa yang terjadi. Yang kuingat hanya lengkingan suara Bapak yang memanggilku. “Bujaaangg…”
Air mata menetes perlahan dari kedua bola mataku. Kebodohanku itu mengakibatkan Bapak celaka. Ternyata saat aku berlari menyebrangi jalan, lampu berubah menjadi hijau. Kendaraan yang melaju tak melihat keberadaanku. Bapak yang melihatku hampir tertabrak menyelamatkanku, konsekuensinya Bapak yang tertabrak.
“Bapak, maafkan Bujang, Pak,” ucapku menghadap Jam Gadang. Di sini, kenangan terakhirku dengan Bapak. Di sini pula aku menetapkan impianku, saat Bapak memberitahuku tentang Big Ben. Dan di sini pula, saat ini aku ingin Bapak tahu tentang keberangkatanku minggu depan.
“Pak, Bujang bakal wakili Bapak untuk melihat Big Ben dari dekat, Pak. Minggu depan Bujang akan berangkat ke Inggris. Bujang dapat beasiswa untuk kuliah di sana, Pak.”
Senja kembali menghampiriku. Setelah sekian lamanya tak bermandikan cahaya jingga di tempat ini, aku menikmatinya. Kususuri jalan di sekitar Jam Gadang. Melihat hiruk pikuk orang-orang awak yang sedang liburan di sini. Aku tersenyum simpul. Kuedarkan lagi pandanganku, kali ini ke arah persimpangan jalan. Kutatap lekat lampu lalu lintas. Lampu hijau sedang menyala, kendaraan segera melaju dalam diam. Seperti diriku yang sebentar lagi akan melaju jauh setelah sekian lama terhenti dalam kesedihan tentang Bapak.

Rabu, 08 Februari 2012

Sebatang Kenangan

Senggurat jingga merekah di awan
Memburai indah di kelopak mata
Menguntai bahagia melalui pandang
Merekah senyum dalam keindahan

Kita berdiri di bawah pohon kenangan yang mulai merapuh
Menggenggam erat tangan yang mulai merenggang
Menatap senja yang terlihat kelam dari bola mata kita

Dalam diam, hati berontak ingin bersuara
Namun diam menjadi emas yang kita pilih

Dalam ragu, cinta terkikis oleh gamang
Membiaskan tiap jengkal rasa yang pernah terjaga
Aku menyebut cinta
Dan kamu menyebutnya sebagai rindu

Kini, dalam batas jarak, bahu kita tak lagi berpagutan
Cinta memudar termakan jarak yang menebal
Mengikis perlahan dalam diam.
Tak ada lagi wajahmu yang menari di hatiku
Yang memerah-jambukan dindingnya dengan warna cinta
Dan kini aku harus menyebutnya sebagai kenangan.

Minggu, 25 Desember 2011

Dua Sisi

Aku selalu menatap senja yang memerah. Sinarnya teduh dan menyejukkan jiwa. Aku tahu kamu juga menyukai senja, namun dalam sudut pandang yang berbeda. Katamu, senja adalah kesedihan yang paling indah. Sinarnya merefleksikan setiap ironi dibalik sebuah pesona.

Aku menyenangi pelangi, lengkungnya menawarkan kebahagian saat sepasang mataku menatapnya yang berdiri kokoh di ujung cakrawala. Begitu pun denganmu, kau menggilai pelangi-sama sepertiku. Bagimu, pelangi adalah penawar duka paling indah, obat paling mujarab bagi yang terporak-porandakan oleh badai.

Aku dan kamu, bagai sisi koin yang selalu bersama namun bersisian. Kita menyukai hal yang sama namun melihat dari sisi yang berbeda. Seperti saat mendefinisikan bahagia. Bagiku, bahagia adalah saat bersamamu, namun bagimu berbeda. Kamu mendefinisikan bahagia dengan tangisan dan air mata. Bagimu, bahagia adalah saat melihat sahabatmu yang lain tertawa saat bisa mendapatkan diriku.

Aku dan kamu seperti air dan minyak yang bersatu dalam sebuah bejana. Kita bersatu, namun tak pernah menjadi satu. Selalu ada sisi yang membatasi. Kita hanya dua zat yang terkukung dalam sebuah bejana bernama persahabatan.