Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Maret 2013

Pulang

Aku menyapu pandang sekelilingku. Lalu lalang orang-orang dengan gembolan tas dan kardus yang terikat rapi menjejali pandangan mataku. Decit roda yang beradu dengan rel serta deru gemuruh mesin keret terdengar di telingaku. Di pojok selasar stasiun aku melihat beberapa penjual nasi bungkus yang menanti pembeli; penumpang kelaparan yang tak sempat membeli makan.

Aku menghela nafas. Stasiun ini beserta seluruh sensasinya sudah lama sekali tidak kurasakan, entah sudah berapa tahun terlewat.

Bukan artinya aku tidak pernah pergi ke stasiun dan merasakan keramaian orang-orang yang akan berangkat dan pergi ke kampung halaman. Hanya saja, stasiun ini begitu spesial bagiku, bagi masa laluku. Dulu aku pernah pergi dari sini, dan setelah sekian tahun berbilang, baru hari ini aku datang kembali kesini.

Kilas kenangan berkelebat satu per satu di kepalaku. Sore yang gelap, tanpa ada semburat senja yang mengantarkan kepergianku, lalu tangisan dari perempuan yang terkasih. Hanya sepasang duka dan airmata yang dihujankan oleh langit yang menemani langkahku saat memasuki gerbong kereta, yang membawaku pergi hingga tahun berbilang sepuluh.

Kini aku pulang. Hanya ingin pulang. Menemui orangtuaku di pemakaman; tanpa hal lain yang kuharapkan.

Di pintu keluar kulihat orang yang sama dengan orang yang melepaskanku dengan pelukan; yang tak pernah ingin kulepaskan. "Kinanthi?" ujarku saat melihat kekasihku yang dulu berdiri di pintu keluar. Ya, Kinanthi adalah kekasihku, dulu, sebelum keberangkatanku ke Jakarta menjadi tanda perpisahan yang menyakitkan. Tanpa kata-kata, tanpa aba-aba dan tanpa seremah tanda apapun, dia memutuskan untuk menikah dengan lelaki lain; dijodohkan. Dan kabar itu aku terima langsung darinya, melalui sepucuk surat berwarna merah jambu dan huruf-huruf lentik tulisannya menjadi pedang yang menguliti perasaanku. Setelah Kinanthi tidak ada lagi yang tersisa di kota kelahiranku itu. Kedua orangtuaku sudah tak ada dan aku tidak memiliki saudara kandung ataupun keluarga dekat lainnya. Sebab ayah dan ibu juga merupakan anak tunggal.

"Kenapa kau ada disini?" tanyaku tanpa dapat menyembunyikan keterkejutanku.

"Menunggumu." Kinanthi mengucapkannya dengan pelan namun tegas. Dia tidak sedang berbohong.

"Hahaha, kamu sedang bercanda?" ucapku dengan tawa yang kubuat-buat. Berharap dia memang sedang benar-benar bercanda. Dan aku pun tidak tahu dari mana dia tahu kalau aku akan pulang hari ini.

Kinanthi terdiam. Di sampingnya terdapat sebuah koper ukuran sedang. "Tidak."

"Lalu? Kenapa kamu membawa koper? Ingin berangkat kemana?"

"Bersamamu."

Aku mendelik. Kebingunganku semakin bertambah banyak. Kinanthi hanya berbicara sedikit. Hal yang selalu dilakukannya dulu saat dia sedang memendam banyak masalah. "Jangan bercanda. Kamu memiliki keluarga." Kinanthi kembali diam. Namun, jika Kinanthi masih seperti dulu, dia akan menjelaskan semua yang dirasakan dan dipikirkan olehnya; beserta airmata.

"Aku tidak bahagia. Maka dari itu, bawa aku bersamamu. Aku tidak memiliki anak dari lelaki bajingan itu. Aku tahu kamu akan pulang hari ini. Aku mengetahuinya dari Mas Joko. Aku menunggumu kembali. Maka itu, bawalah aku. Kemanapun. Tidak masalah," kata Kinanthi dengan terbata-bata. Seperti yang kuduga, isak airmata menyelingi ucapannya sesekali, dan membasahi pipinya yang dulu selalu kubelai.

Akhirnya kebingunganku terjawab. Mas Joko, tetangga kontrakkanku yang juga masih satu kampung denganku dan Kinanthi yang mengabarkan kepulanganku kepada perempuan yang ada dihadapanku ini. Dari Mas Joko pula aku sesekali mendengar kabar Kinanthi setiap dia mudik 6 bulan sekali.

Aku mendekatkan tubuh Kinanthi ke arahku. Kurasakan tubuhnya mengurus sejak terakhir aku memeluknya sepuluh tahun yang lalu. Sepertinya dia benar-benar tersiksa. Aku memeluknya dan Kinanthi menyambut pelukanku dengan erat. Hatiku menggetir; terasa pedih. "Maafkan aku Kinanthi," ucapku pelan di samping telinganya. "Aku tidak bisa membawamu. Aku pun sudah memiliki keluarga di Jakarta."

Tak ada kata-kata dari Kinanthi. Tangisnya berhenti walau airmata tak bosan mengalir dari sela mata dan membasahi pipinya. "Aku sudah tahu, Mas."

Aku diam memandangi wajah Kinanthi, mencoba menerka apa yang dipikirkannya melalui rona matanya yang menggelap. Kini, dia sudah melepaskan pelukannya. Dia mendesah pelan, jauh lebih tenang, seolah baru saja bebannya sudah ditumpahkan melalui pelukan tadi. "Maaf, Kinanthi." Suaraku melirih.

"Tidak apa, Mas. Itu sudah cukup. Aku pikir cinta itu masih ada, dan kamu masih seperti dulu, berani untuk melakukan apapun, asal bersamaku. Seperti yang kamu ucapkan dulu."

Hatiku memerih. Ucapan Kinanthi memaksaku mengingat kembali momen dimana aku berusaha memperjuangkan hubunganku dengannya. Aku, rakyat biasa yang bermimpi untuk mempersunting perempuan berdarah biru kental. "Ki...," ucapku tak selesai. Bahkan untuk menyebutkan namanya saja lidahku tidak sanggup menahan getir.

"Tidak apa, Mas Wirya. Aku tahu itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Kini aku akan kembali ke suamiku." Kinanthi terdiam sesaat, lalu mendekatkan tubuhnya lagi ke arahku. "Kini biarkan aku mengucapkan salam perpisahan yang tidak sempat aku ucapkan dulu. Kinanthi mengecup bibirku. "Aku mencintaimu, Wirya Gunawan."

Aku tertegun. Bibirku terkunci. Suaraku tertahan di kerongkongan dan lidahku kelu tak mampu menyilatkan kata-kata.

"Sekarang, aku pergi. Selamat tinggal." Kinanthi berbalik dan berjalan menjauhiku. Aku terdiam. Kali ini aku yang melihatnya pergi. Dan sepertinya akan sangat jauh. Mungkin ini adalah kesempatan terakhir aku bisa menemuinya.

Aku berjalan cepat setengah berlari ke arah Kinanthi. "Kinan!" seruku. Dia berhenti dan berbalik. Kali ini dia tersenyun ke arahku. Dadaku terasa sesak, sudah lama sekali aku merindukan senyuman itu. Kupeluk Kinanthi erat, seerat aku tidak ingin melepaskannya. Mataku memanas, dengan sekuat hati aku menahan diri agar tidak terisak.

"Terima kasih sudah dan masih mencintaiku, Mas. Itu sudah cukup bagiku." Kinanthi melepaskan tubuhnya dari pelukanku. Sekali lagi dia merekahkan senyumannya sebelum benar-benar pergi.

Sekali lagi terdengar decit suara roda kereta yang baru saja berhenti. Di riuhnya lalu lalang orang-orang di Stasiun Tugu, aku menjadi satu-satunya yang merasa sendiri. Baru saja, belahan hatiku yang lain, yang kukira sudah mati sejak lama hidup kembali. Namun sekarang dia meninggalkanku. Tidak mati, hanya saja pergi ke tempat yang tidak dapat kujangkau. Cinta saja kadang tidak cukup untuk bersama. Dan lebih menyakitkan saat mengetahui cinta itu masih ada, tapi tidak dapat dimiliki dan bersama kembali.

Jumat, 01 Februari 2013

Genggaman Yang Tak Pernah Ingin Dilepaskan

Akhirnya kita sampai juga dibatas terakhir yang kita ciptakan
Garis yang kita buat dan kita inginkan
Perjanjian yang diikrarkan dengan mengguratkannya dalam dada, menjadi janji yang enggan dielakkan

Genggaman kita mengeras
Seolah tak ingin kehilangan satu sama lainnya
Biasanya, kita berbagi rindu melaluinya

Mengapa, cinta lebih egois dari rasionalitas
Membuat kita lupa, bahwa janji sudah di garis tepi
Siap mendorong kita jatuh pada jurang yang tak ingin kita singgahi

Mengapa rindu membuat jantung jadi takut pada sebuah perpisahan
Padahal mati masih jauh dari rengkuhan
Mungkin, kehilangan lebih mengerikan daripada kematian

Kita tahu bahwa kita sudah terlanjur jatuh cinta
Kita sadar bahwa hati kita sudah saling mengaitkan diri
Sebab luka, cinta menjadi semakin erat menggenggam hati kita
Dan kini, kita dipaksa untuk kembali merobeknya

Kata-kata sudah terlanjur kita ucapkan
Janji sudah tertuliskan
Kita, adalah manusia bodoh yang belajar untuk menenangkan duka
Membiarkan luka kembali mengisi hati kita
Tanpa kita sadari, bahwa cinta itu sudah terlanjur ada
Dan kita melepaskan genggaman, hal yang kita sama-sama tak inginkan, tapi kita lakukan.

Rabu, 23 Januari 2013

Kisah Sederhana Kala Senja

Matahari sudah mulai beranjak dari titik kulminasinya. Kini, sinarnya sudah mulai meredup, meninggalkan jejak-jejak kehangatan. Dan semilir angin, menambah daftar alasan untuk duduk-duduk, bersantai atau bahkan saling berbicara dengan secangkir kopi sebagai tegukan.

Sore ini, akhir pekan, seperti biasa, taman akan selalu ramai dengan orang-orang; para ibu yang menemani anaknya bermain prosotan, bapak-bapak menjelang paruh baya yang duduk beralas koran sedang sibuk memikirkan langkah permainan catur selanjutnya, bocah yang lari dengan senyum merekah sebab balon yang diinginkan berhasil didapatkan dengan cara setengah merengek, dan muda-mudi yang duduk berdua menghabiskan kebersamaan.

Aku selalu tersenyum jika sedang mengunjungi taman ini. Aura bahagia tersebar di penjuru taman, menjadi satu tempat dimana orang-orang menanggalkan kepenatan menjalani keseharian; seperti yang sering kulakulan.

Di tanganku, sudah siap kanvas kosong, pensil gambar, kuas berserta macam-macam warna cat air yang kubiarkan bertumpuk di dalam ember yang kugenggam. Kususuri jalan di taman, mencari posisi dan objek yang tepat untuk kujadikan model dadakan tanpa bayaran.

Di pojok taman, di bawah lampu penerang yang belum menyala lampunya, aku melihat seorang wanita yang sedang bersandar pada tiang. Wajahnya terlihat cemas-menunggu seseorang, terbukti dari intensitasnya melirik ke jam tangan yang dikenakannya di pergelangan tangan kiri. Aku tersenyum melihat tingkah polahnya.

Aku memundurkan langkah, menjaga jarakku agar tak disadari oleh wanita itu bahwa sedang ada aku yang memperhatikannya; mengagumi dirinya.

Kuambil pensil yang tak lancip ujungnya dari dalam ember. Kugoreskan, dan kubuat sebuah sketsa siluet wanita tadi. Jemariku dengan lincah menggoreskan pensil dan menghasilkan garis-garis yang kemudian menjadi siluet tubuh wanita itu. Angle dan pencahayaannya begitu pas.

Jika aku bukan seorang pelukis, melainkan seorang fotografer, aku takkan melewatkan moment itu. Cahaya matahari yang sudah menjingga jatuh menimpa kepal wanita itu, dan menghasilkan sebuah bayangan panjang yang bercampur dengan bayangan tiang. Dalam benakku, image yang terbayang begitu indah dan sempurna. Tapi, bukankah yang indah dan sempurna hanya memang ada di dalam benak saja.

"Kamu kemana aja? Sudah disini dari kapan? Kenapa nggak bilang-bilang?" Wanita tadi berbicara. Nada suaranya terdengar cemas dan kesal pada saat yang sama. Wanita itu berjalan menuju tempat orang yang menjadi lawan bicaranya tadi.

Aku tersenyum mendengarnya. Jemariku masih asik menggoreskan mata pensil di kanvas, dan sesekali kusapu, untuk menimbulkan efek bayangan dan gradasi tertentu.

"Aku sudah bosan menunggu, aku kira kamu ga bakal jadi datang." Wanita itu mulai mengeluarkan isi kekesalannya.

Aku tersenyum lagi mendengar perkataan wanita tersebut. Saat sketsa gambar siluet sudah selesai kubuat, kugeser papan penyangga kanvas, agar wanita yang duduk di sampingku dapat melihatnya dengan jelas.

Bola mata wanita itu membulat, binar mata terlihat lebih hidup.

"Selamat ulang tahun, Sayang. Ini hadiah untukmu," ucapku kepada wanita yang sejak tadi menunggu kedatanganku di bawah tiang lampu penerangan taman.

Di tangan wanita tersebut, di kanvas yang dipegangnya, ada sebuah silet tubuhnya sendiri yang kubuat secara kilat.

Langit makin menggelap, di ujung cakrawala, matahari mulai menenggelamkan dirinya. Sore ini terasa begitu indah dan membahagiakan. Sesekali, tiupan angin sepoi menerbangkan rambut-rambut kecil di belakang telinga; menguarkan suasana yang begitu nyaman.

Wanita itu mengamit telapak tanganku, digenggamnya erat. Kekasihku itu menatap ke arahku, menantang kedua bola mataku. Lalu dia tersenyum. Hal yang membuatku ikut tersenyum sendiri. Hal yang selalu membuatku bahagia saat melihatnya tersenyum. Senyuman adalah cara paling mudah untuk menambah kebahagiaan.

Dan sebuah kecupan hangat yang singkat di bibir menjadi penutup sore yang indah. Sore yang terasa begitu hangat; di dada dan hati. Sore di kala senja yang selalu kusempatkan di tengah rutinitas sehari-hari.

Seperti itulah perayaan ulang tahun kekasihku. Sederhana. Hanya aku dan dia. Dia mengapit erat lenganku. Kami duduk di bangku taman, menghabiskan waktu, menatap senja, hingga benar-benar habis dan digantikan malam.

Minggu, 13 Januari 2013

Pukul Dua Dini Hari

Pertemuan pertama dengan kesan yang baik, biasanya akan berlanjut dengan pertemuan berikutnya. Dan jika pertemuan berikutnya kembali berjalan baik, umumnya akan lanjut ke tahap komunikasi yang lebih akrab. Setidaknya, seperti itulah yang aku alami saat ini.

Sudah dua bulan berlalu sejak pertemuan pertamaku dengan Rani di sebuah acara launching buku. Diperkenalkan oleh Sony dengan cara yang agak konyol. Ya, saat itu aku terlalu sok untuk menolak diperkenalkan kepada teman-temannya Sony, termasuk kepada Rani.

Tapi, aku harus menelan segala gengsiku. Rani terlalu sulit untuk diabaikan. Pesonanya sanggup membuatku gugup saat itu. Dari mata turun ke hati, dan Rani sudah mencuri perhatianku pada saat itu.

Berawal dari perkenalan pertama yang agak canggung, berlanjut obrolan dan basa basi cerita yang cukup lancar membuatku dapat mengenal lebih banyak tentang Rani. Anak kedua dari tiga bersaudara dan anak perempuan satu-satunya dirumah. Menyukai novel, suka membaca, dan pnggemar berat novel series Harry Potter.

Berkatnya, akhir-akhir ini aku mulai membaca novel, tentu saja novel Harry Potter yang dipinjamkannya. Sebelumnya, membaca novel membuatku sedikit pusing, sebab hanya ada kata-kata dan harus membaca berlembar-lembar halaman. Aku lebih suka membaca komik.

Perlahan aku mulai menyukai novel, sejak membaca novel Harry Potter yang dipinjamkan Rani. Berimajinasi, membayangkan isi cerita di dalam kepala sendiri dan obrolan-obrolan seputar novel yang dibaca menjadi hal yang menyenangkan bagiku saat ini, terutama saat membicarakan isi novel Harry Potter dengan Rani, terasa sangat menyenangkan.

Hari ini, tepat dua bulan sudah aku berkenalan dengan Rani. Sudah beberapa kali bertemu sejak pertemuan pertama, hanya untuk sekedae ngobrol dan makan siang berdua atau berkumpul dengan teman komunitas pembaca yang lain. Ya, kini aku resmi menjadi anggota mereka.

Aku sangat mengingat hari ini. Sejak perkenalan dengan Rani dua bulan lalu, saat ini adalah rentetan obrolan terpanjang yang kulakukan dengannya. Di BBM, kami membicarakan banyak hal, dari obrolan tentang novel apa yang sedang kubaca, novel bagus apa yang wajib dibeli, review sebuah novel di Goodreads, jadwal acara launching novel penulis senior, dan hal lainnya.

Obrolan BBM yang dilakukan sejak jam sebelas malam, tiga jam yang lalu, tidak terasa membosankan. Selalu ada bahan obrolan lain yang muncul ketika satu topik obrolan sudah selesai dibicarakan. Mengalir begitu saja.

Rani adalah lawan bicara yang menyenangkan, dan pintar. Dia mengetahui banyak hal. Nilai tambah yang membuatnya semakin terlihat menarik, disamping parasnya yang memang sudah membuatku tertarik dengannya sejak awal.

Kulihat jam dinding menunjukkan pukul dua pagi, saat Rani berujar dirinya sudah mengantuk dan ingin tidur. Obrolan pun harus diakhiri segera.

Irfan Lesmana: "Selamat beristirahat yah. Selamat pagi."

Kukirim sebuah pesan terakhir kepadanya melalui BBM.

Maharani Kinanti: "Yap, selamat tidur juga. Kapan-kapan lagi yah. Kamu teman ngobrol yang menyenangkan."

Senyumanku mengembang saat membaca pesan penutup itu. Aku ingat, saat ini pukul dua dini hari, dan aku tidak lagi tertarik kepadanya. Perasaanku sudah naik pangkat menjadi suka terhadapnya.

Aku merebahkan tubuhku di kasur. Mataku lurus menatap langit-langit kamar. Pagi ini aku secara resmi aku menyukai Rani. Lalu bagaimana dengannya? Dia hanya menganggapku sebagai teman ngobrol yang menyenangkan. Mungkin tidak bisa lebih, saat ini dia sudah memiliki kekasih. Apakah Rani akan menyadari bahwa aku menyukainya? tanyaku di dalam hati. Kuhembuskan nafas-cukup panjang. "Entahlah, biarkan saja. Semoga waktu memperlihatkan kenyataan ini kepada Rani," ucapku bermonolog.

Selasa, 01 Januari 2013

Bara Sepi


1)
Ada yang bergejolak dalam diri
Serupa gelisah yang menggeliat dalam diam
Menyusup di sela hati dan menyemaikan sepi
           
2)
Di dadaku, ada cinta yang mulai kehilangan api
Lambat-lambat, hangatnya tak lagi terasa lagi
Seperti bara api, yang nyaris mati dan mendingin


3)
Cinta itu tidak mati
Hanya saja, seperti api yang kekurangan kayu
Nyalanya tak lagi benderang

Minggu, 16 September 2012

Tentang Lelaki yang Mencintai Lautan



1)

Kau adalah lautan terdalam

Sesering apapun kuselami tubumu, tetap tak kutemukan dimana dasar hatimu

Sedalam apapun, hingga mungkin kau bosan

Tak juga dapat kujejaki palung dirimu

Apakah sedalam itu keenggananmu?


2)

Kau menyebutnya luka, sementara aku?

Bagiku tak ada beda antara luka dan cinta

Sebab aku hanya mengenal dirimu

Sebagai tujuan akhirku, tubuhmu


3)

Kita terkadang hidup terlau lama

Tapi tak pernah mendapati apa-apa

Dan juga, kadang kita terlalu takut untuk mencinta

Sebab termakan oleh bayang-bayang oleh duka, luka dan nestapa


4)

Bagaimana mungkin seorang pelaut dapat menaklukan dunia

Jika ombak saja sudah mengaramkan nyalinya

Dan bagaimana mungkin kau dapat mengerti sebuah cinta tanpa mengerti apa arti sebuah ketabahan


5)

Aku adalah ombak yang senang mencumbu tepian pantai

Bercinta dengan hamparan pasir yang menggeliatkan tubuh

Terkadang, karang merayuku pula

Agar dapat kupeluk dan kucumbu tubuhnya

Apa yg menyenangkan selalu sesaat

Tak pernah kekal ataupun lekang dimakan waktu


6)

Aku adalah ombak

Sejauh apapun pantai yang kujamah

Semesra apapun cumbuan yang ditawarkan karang

Aku tetaplah ombak yang akan kembali ke lautan

Kembali mencumbu tubuhmu

Sebab itu, belajarlah ketabahan dari diriku.

Rabu, 08 Februari 2012

Sebatang Kenangan

Senggurat jingga merekah di awan
Memburai indah di kelopak mata
Menguntai bahagia melalui pandang
Merekah senyum dalam keindahan

Kita berdiri di bawah pohon kenangan yang mulai merapuh
Menggenggam erat tangan yang mulai merenggang
Menatap senja yang terlihat kelam dari bola mata kita

Dalam diam, hati berontak ingin bersuara
Namun diam menjadi emas yang kita pilih

Dalam ragu, cinta terkikis oleh gamang
Membiaskan tiap jengkal rasa yang pernah terjaga
Aku menyebut cinta
Dan kamu menyebutnya sebagai rindu

Kini, dalam batas jarak, bahu kita tak lagi berpagutan
Cinta memudar termakan jarak yang menebal
Mengikis perlahan dalam diam.
Tak ada lagi wajahmu yang menari di hatiku
Yang memerah-jambukan dindingnya dengan warna cinta
Dan kini aku harus menyebutnya sebagai kenangan.

Senin, 23 Januari 2012

Senja

Angin bertiup lembut, menarikan rambut-rambut tipis disekitar telinga. Membawa hawa tenang di raga. Menentramkan gundah yang melanda. Langit pun seperti berkonspirasi, awan-awan tebal menggantung, menambah sejuk suasana. Tentram.

Di sebuah tanah lapang, dikelilingi oleh alang-alang liar yang mulai meninggi, Rama duduk disana. Tangannya menggenggam erat jemari Raisa. "Mungkin ini senja terakhir yang bisa kita nikmati bersama," ucap Rama tenang. Matanya menatap arah matahari akan terbenam.

Raisa bergeming tenang. Tak ada kesedihan yang dirasakannya, walau pasti rasa takut kehilangan perlahan menelusup ke dalam hati. "Kapan jadwal keberangkatanmu?"

"Dua hari lagi."

Deg. Debar jantung Raisa mulai bereaksi. Batas waktu telah ditetapkan. Tinggal 2 hari lagi, dirinya dapat berada di kota dan negara yang sama dengan kekasihnya.

"Aku cinta kamu, Ra," ucap Rama lembut. Pandangannya menatap langsung ke dalam bola mata Raisa. Disentuhnya rambut di sekitar telinga Raisa dan diusap lembut pipi kekasihnya itu. "Aku nggak mau kehilangan kamu."

Matahari mulai lelah bertengger di puncak langit. Perlahan turun kembali ke peraduannya. Pilar-pilar jingga mulai tampak dibuku-buku awan. Menggantikan warna biru cerah yang mendominasi sepanjang hari.

Rama dan Raisa masih bisu dalam ucapan. Kini hati mereka yang berkomunikasi melalui mata. Ada isyarat yang hanya dapat diterjemahkan oleh debar jantung mereka. Rama tersenyum kecil. Di dekatkannya kepalanya ke arah wajah Raisa. "Tunggu aku, aku pasti kembali."

Raisa memejamkan matanya. Tak ada lagi keraguan. Tak ada bimbang dalam hatinya. Dia benar-benar mencintai lelaki yang ada di hadapannya. "Pergilah. Jangan ragu. Aku menunggumu disini," ucap Raisa setelah bibirnya terlepas dari bibir Rama.

Kecupan terakhir kembali dilakukan. Kali ini lebih lama. Tak ingin kehilangan waktu sedetik pun. Lalu keduanya berpelukan. Saling mencengkaram bahu satu sama lainnya. Merasa tak ingin berpisah.

Di bawah senja, Raisa melepas Rama tanpa air mata. Senyum terpatri kokoh di wajahnya. Tegar bersemayam dalam dirinya. Percaya, kekasihnya akan kembali untuknya. Setelah menjalani study masternya di Perancis.

Tak ada perpisahan yang lebih indah daripada perpisahan yang pasti akan kembali, dalam pelukan.

Rabu, 18 Januari 2012

Delapan Kupu-Kupu

Satu kupu-kupu terbang mengitari telaga.
Kering kerontang.

Dua kupu-kupu berlari di udara.
Mencari saripati yang tersisa.

Tiga kupu-kupu menari di balutan-balutan sepi.
Kepaknya mencari tempat tuk singgah.

Empat kupu-kupu terdiam.
Menekur di atas dinginnya bunga-bunga layu yang haus.

Lima kupu-kupu menjerit.
Lehernya kejang dicekik oleh harapan.

Enam kupu-kupu hinggap di setiap taman.
Mencari bunganya tempat bersemayam.

Tujuh kupu-kupu terjatuh.
Sayap mengepak ringgih telah habis harapan mencari bunga tuk berpulang.

Delapan kupu-kupu mati.
Terbunuh oleh rindu akan saripati yang tak juga ditemukan.

Jumat, 06 Januari 2012

Aku dan Kamu Tidaklah Sama Dengan Kita

Aku dan kamu, adalah sepasang rindu yang tak sinkron. Aku merindukanmu dan kamu merindukannya. Dunia yang aku dan kamu tatap tidaklah sama, sebab kita melihatnya dengan pandangan yang berbeda.

Aku dan kamu, adalah cinta yang terabaikan. Tak dipandang sebab besarnya egoisme dan pengharapan. Terlalu jauh memandang dan lupa akan bumi yang dipijak.

Aku dan kamu, seperti tidak akan pernah menjadi kita. Mata masih tertutup dengan gelapnya cinta yang tak terbalaskan. Sebut saja aku bodoh, yang mencintamu dengan tepukan yang tak terbalas. Begitu juga denganmu. Mungkin saja, aku dan kamu pernah menyebut kita. Dalam keputus-asaan, kita adalah hati-hati yang tergadaikan oleh luka dan derita yang menyenangkan.

Sabtu, 15 Januari 2011

Putri Kencana dan Prince

Sekolah baru, suasana baru, semoga saja teman-teman baru disini sifatnya ramah-ramah seperti teman-temanku di Jakarta. Aku berkata dalam hati saat akan memperkenalkan diriku. “Nama aku Sagara Rahayu, aku siswi pindahan dari SMA Negeri 4 Jakarta, salam kenal.” Aku memperkenalkan diriku didepan kawan-kawan baruku di SMA Negeri 11 Surabaya.

“Baik yah anak-anak, ibu tinggal dulu.” Ibu kepala sekolah berkata kepada murid-murid. “Dan kamu Ayu,kamu duduk di bangku keempat baris ketiga dari pintu yah, kamu akan duduk dengan Raden Bayu dan semoga kamu bisa cepat berbaur dengan teman-teman baru kamu yah.” Ucapnya kepadaku

“Iya bu Miranda.” jawabku kepada kepala sekolah baruku ini.

Saat ini aku duduk di bangku SMA kelas 2, mulai hari ini aku akan menjalani kehidupan baru di sebuah kota baru yang belum pernah aku singgahi sama sekali. Aku berharap dalam hati semoga saja aku bisa mendapatkan teman baru secepatnya.

“Hai, salam kenal.” ucapku kepada teman sebangku yang baru

“Salam kenal Sagara” jawabnya cuek dan acuh

Ishh. Dingin banget ini cowok. Pikirku. “Ehmm, kamu panggil aku Ayu aja dan aku manggil kamu Bayu aja gimana?” aku mencoba membangun komunikasi dengan teman pertamaku ini.

Masih menatap buku tanpa menoleh ke arahku. “ya boleh” ucapnya singkat.
Ahh, bakalan runyam nih, punya teman sebangku yang dingin cuek dan acuh kayak begini. Gerutuku. Lalu, tercipta suasana yang tidak mengenakkan antara aku dan Bayu, dan kami melewati waktu sampai istirahat dalam diam.

Kringg…kringg… bel istirahat berbunyi dan murid-murid dikelas berangsur-angsur berkurang dan migrasi ke kantin. Hanya aku, bayu dan beberapa teman-teman yang masih tinggal dikelas. Aku mengeluarkan kotak nasi yang sengaja disiapkan bunda dari rumah dan kulihat juga Bayu mengeluarkan kotak makanan juga dari dalam tasnya.

“Uhmm, kamu setiap hari bawa makanan dari rumah juga Bay?” Aku memulai percakapan

“Iya.” Jawabnya singkat.

“Beneran setiap hari?” tanyaku. “Jadi kamu nggak pernah ke kantin dong?” lanjutku.
Bayu menghentikan suapannya lalu memandang ke arahku. “Aduh, kamu itu cerewet dan banyak omong banget yah, bisa nggak kamu diam.” ketusnya

Uuhhhhh. Nyebelin banget deh ini cowok. Dingin banget. Aduhh bunda, kayaknya aku bakal susah dapet teman baru deh. Teman sebangku aku ini pendiam dan sombong. Ratapku dalam hati.

“Ohh iya deh Bay, maaf yah.” jawabku memendam kesal

****

Sudah hampir 5 bulan aku menjalani kehidupan baruku di Surabaya, aku sudah mendapatkan beberapa teman baru namun Bayu masih saja bersikap dingin kepadaku. Menurut Rinda, teman baruku, cowok berkepala botak ini ternyata memang memiliki sifat yang pendiam, sedikit angkuh dan sombong, maka dari itu aku sering menyebutnya Mr. Angkuh. Mungkin dia bersikap seperti itu karena adalah siswa terpintar dikelas. Aku pun mengakui bahwa dia memang pintar dikelas. Dia menjadi rivalku dalam perebutan juara kelas, aku dan dia seperti minyak dan air. Sekalinya dia berbicara pasti akan membuat aku jengkel karena kata-kata angkuhnya dan kamipun sering terlibat cekcok adu mulut.

Suatu hari saat pengumuman nilai UAS semester pertama kami keluar. Aku, Rinda dan teman-teman yang lain sibuk bertanya dan membandingkan nilai yang kami peroleh. Kulihat hanya Mr. Angkuh saja yang terlihat tidak tertarik untuk membandingkan nilainya.

Aku berjalan ke arahnya. “ Nilai pelajaran Biologi kamu berapa, Bay?” tanyaku kepada Bayu yang sedang membaca sebuah buku.

Ia mendongak dari balik bukunya. Dengan ekspresi datar yang aku benci dia berkata, “Penting yah banding-bandingin nilai?”. “Lagijuga aku yakin nilai aku nggak lebih kecil dari nilai kamu”. Ucapnya lagi.

Ughh. Dasar mr. Angkuh. Aku membatin. “Issh, kamu sombong banget sih. Mang berapa sih nilai kamu.” Tanyaku dengan sedikit kejengkelan. “Nilai aku 95, kamu berapa?” ucapku menyombongkan diri dihadapannya

Mr. Angkuh kembali mendongakkan kepalanya. “Huhh, baru dapat nilai 95 aja sombong, nih nilai aku.” Ucapnya seraya menyodorkan kertas ulangannya.

Aku kaget saat melihat nilai yang dia peroleh. 98 ? Oh God, nilai aku kalah. Aku berkata dalam hati. Lalu aku kembalikan kertas ulangannya dan menampilkan ekspresi kalah. Aku melihat senyum tipis di wajah Bayu, sebuah senyum yang membuatku semakin kesal.

****

Suatu hari kami sekelas pergi study tour ke Kebun Raya Bogor. Lalu disana kami dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok yang bertugas untuk meneliti jenis tumbuh-tumbuhan yang ada disana. Entah mengalami mimpi buruk apa aku tadi malam, aku ditempatkan satu kelompok dengan Bayu.

Setelah pembagian kelompok selesai, semua teman-teman sekelompok berkumpul untuk membicarakan tugas dan apa yang harus dilakukan oleh masing-masing anggota. Mr. Angkuh dipilih secara aklamasi sebagai ketua kelompok.

Bayu menyampaikan instruksi-instruksi kepada teman-teman kelompok. Lalu aku mengeluarkan diary kesayanganku dan mencatat instruksi-instruksi yang disampaikan.

Setelah memberikan instruksi, dia berjalan ke arahku dan berbisik, “putri kencana, kamu bantu aku yah, lupakan semua masalah kita dikelas selama ini.”

Deg. Jantungku berdetak hebat, darahku mendesir kencang. Putri kencana? Hanya satu orang di panti asuhan yang memanggilku seperti itu. Seketika aku terlempar pada kenangan yang sudah lama sekali.

Aku adalah anak yang diadopsi oleh bunda Kirana saat berusia 10 tahun. Namun aku sudah tinggal di panti dari kecil. Dan aku baru bisa mengingat kehidupan panti saat umurku 6 tahun. Saat aku di panti sampai aku di jadikan anak angkat Bunda Kirana, aku lebih banyak berdiam diri di kamar dan menulis di buku diary. Tidak seperti teman-temanku yang lainnya yang lebih sering bermain diluar kamar. Namun hanya ada satu teman yang sangat denganku di panti. Aku memanggilnya Prince dan dia memanggilku Putri Kencana, dia juga merupakan anak panti dan seumuran denganku. Setiap hari aku melewati hari-hariku dengan sebuah diary lusuh dan prince. Dia menjadi satu-satunya sahabatku di panti ini. Sampai akhirnya aku meninggalkan dia dan panti saat umur 10 tahun, sejak itu aku tidak mengetahui kabarnya sama sekali. Dan kini dihadapanku mr. Angkuh orang menyebalkan dan sombong ini memanggilku putri kencana.

“Ayu, kamu baik-baik aja?” tanya Bayu yang mengembalikan kesadaranku.

“Prince?” ucapku kepada Mr. Angkuh. “Benar kamu prince yang dulu juga penghuni panti Jerami?” tanyaku kepada Bayu.

Ia mengangguk pelan, “aku juga baru sadar kalau kamu itu putri kencana saat melihat diary yang kamu keluarkan tadi saat kita rapat koordinasi”. “diary yang sama dengan diary yang selalu aku lihat saat aku masih di panti dan aku yakin, bahwa kamu adalah putri kencana yang selalu aku cari.”

Deg. Detak jantung ini semakin cepat. “Prince…”. “Hooii, Bayu…. Rahayu… cepat kemari.. acara penelitian sudah mau dimulai, ayo siap-siap” terdengar suara teman sekelompok kami memanggil kami untuk berkumpul memulai acara.

Lalu acara penelitian dimulai,dan kami pun mengerjakan tugas yang telah di instruksikan tadi. Namun aku tidak fokus dalam mengerjakan penelitian. Kepalaku dipenuhi banyak pertanyaan yang ingin segera dijawab oleh Mr. Angkuh. Bayang-bayangan masa lalu itu masih terus berkelebat dalam pikiranku.

****

21 Maret 2010
Dear Diary sayang,
Hari ini aku resmi jadi pacarnya prince dan aku nggak nyangka banget kalau beberapa hari yang lalu aku baru sadar bahwa Bayu, orang yang angkuh, sombong dan orang yang paling aku sebelin di sekolah adalah prince yang selama ini aku cari-cari. Ya prince adalah Raden Bayu cowok yang jadi rival, sahabat dan pacarku saat ini. Uhmm Diary… Ternyata Mr. Angkuh itu orangnya bisa bersikap lembut dan romantis juga yah, jauh banget sama sikap yang dia tunjukkan selama ini kalau dikelas. Tapi aku sebel sama dia diary, dia masih suka bersikap angkuh sombong dan arogan ke aku kalau dikelas. Huufftt… tapi diary, aku bahagia banget saat ini. Muaach.

Sudah lama sekali aku tidak bercerita kapada buku diary aku ini. Saat membuka kembali lembaran-lembaran lama yang kertasnya sudah mengkerut, aku kembali terhempas kedalam kenangan-kenangan indah di masa dulu. Saat aku masih di tinggal di panti dan melewati setiap hari bersama prince.

****

Detik telah jauh melangkah, hari-hari telah lama terlewati dan tanpa sadar aku sudah dipenghujung kelas 3 dan akan menyongsong hari perayaan kelulusan kami. Aku masih berpacaran dengan prince dan kami melewati setiap harinya dengan indah seperti masa kecil dulu. Namun tidak lama lagi juga aku akan pindah kembali ke Jakarta, sebab masa dinas ayahku sudah hampir selesai.

****

Di bandara
“prince, maaf yah aku harus pergi lagi. Ini nomor hape aku, terus hubungi aku yah prince, jangan sampai aku kehilangan kamu lagi”. Ucapku berair mata sesaat sebelum aku memasuki pintu keberangkatan.

Mr. Angkuh tersenyum kepadaku. “hati-hati di Jakarta ya Putri. Aku janji pertemuan kita selanjutnya nggak akan lama seperti sebelumnya”. Ucapnya kepadaku.

Lalu aku pun berjalan menuju pintu keberangkatan, sebab pesawat akan segera berangkat. Aku melambaikan tangan kepada prince dan aku melihatnya melambaikan tangannya juga ke arahku. Prince.. aku sayang kamu.. Aku membisikkan kata-kata yang mungkin tak mampu didengar oleh Bayu.

****

Beberapa bulan kemudian aku di terima sebagai mahasiswa di Universitas Indonesia. Aku bahagia sekali mengetahui hal ini dan aku tambah lebih bahagia juga saat mengetahui bahwa Raden Bayu atau Mr. Angkuh atau prince ku diterima sebagai mahasiswa baru juga di UI.

Dia membuktikan janjinya bahwa pertemuan kita selanjutnya tidak akan lama seperti sebelumnya. Kami pun kembali menjalani keseharian bersama kembali seperti dulu saat masih kanak-kanak, saat prince selalu ada di setiap hariku. Raden Bayu dialah sahabatku, kekasihku dan juga rivalku, dialah prince dalam hidupku.

Jumat, 07 Januari 2011

Pelangi di Kala Senja

Kringggg!!! Kringgg!! Bel sekolah berbunyi pertanda jam belajar telah selesai. Di sebuh lorong sekolah SMU Bangsa, seorang perempun muda berkacamata tergopoh-gopoh berlari mengejar teman prianya.
“Adittt… Adiiitt… tunggu sebentar !!” teriak Andini dari kejauhan
“iya din, ada apa? Kok kamu lari-larian begitu?”
“iya ini dit, aku punya selembaran lomba menulis puisi. Kan kamu pinter bikin puisi tuh, lumayan loh hadiahnya kalau kamu coba ikutan lomba ini dan bisa menang.”
Adit terdiam sejenak, lalu berkata “makasih ya din, nanti aku pikirin dulu mau ikut atau nggak”

***


Duta Buana Publishing Present

Buat kamu-kamu yang senang menulis dan memiliki tulisan (cerpen, novel atau puisi) masukan karya tulisan kamu. Acara ini bebas usia dan tidak dipungut biaya apapun. Pemenang akan mendapatkan hadiah yang menarik dari panitia dan karya tulisannya akan di masukkan dalam kumpulan tulisan lainnya. Pendaftaran ditutup tanggal 31 Maret, Info lebih lanjut hubungi marisa 08128988xxx.
Didalam sebuah ruangan yang sedikit berantakan oleh baju, buku, dan berbagai novel yang berserakan di atas kasurnya, Adit mengeluarkan secarik kertas yang ada di dalam tasnya lalu ia membacanya, sebuah selebaran yang diberikan oleh Andini tadi siang.
Hmm, aku ikut nggak ya?. Kalau aku ikut, aku mau ikut kategori yang mana ya? novel, cerpen apa puisi yah?. Sepanjang hari hingga malam pun tiba, Adit terus bertanya-tanya dalam diri mencoba mengumpulkan keyakinan dalam dirinya.

***

Sepulang sekolah Andini mendatangi kelas Adit, untuk meyakinkan sahabatnya ini untuk berani mengikutsertakan karya tulisannya.
“hai din, kamu mau tanya tentang keikutsertaan aku” ucap Adit saat melihat Dini berjalan ke arahnya.
“hahaha, iya nih… gimana? Kamu jadi ikut nggak?”
“hmm, aku pengen tau dulu, hadiahnya buat yang juara itu apa, kalau hadiahnya menarik, aku ikut deh. Hehehe.”
“woo, belom ikutan udah tanya hadiahnya aja.” Cemooh Andini kepada Adit.
“yudah-yudah, aku mau telepon CP nya dulu yah, tunggu sebentar.” Adit perlahan berjalan menjauh dari Andini dan memulai percakapan dengan panitia acara lomba tersebut.
Percakapan antara Adit dengan panitia acara berlangsung singkat. Lalu Adit kembali menghampiri Andini dengan wajah semringah.
“aku bakal ikutan lomba itu Din”
“wah bagus deh, panitianya ngomong apa sampe kamu langsung mutusin buat ikut lomba.” Tanya Andini masih keherenan dengan perubahan pikiran Adit.
“kata mbaknya, juara pertama bakal dapat notebook sebagai hadiahnya” jawab Adit dengan mood ceria “lumayan Din buat ganti laptop lama aku. Hehehe. Besok temenin aku kirim naskahnya yah.” Lanjut adit.
Pelangi di Kala Senja

Aku seperti senja
Yang indah mengandung ironi
Menggores keindahan dibalik kesedihan

Aku seperti senja
Yang kehilangan cahaya menuju gelap
Telah lenyap warna tak bersinar

Aku mencari pelangi
Agar senja lebih berwarna
Aku inginkan pelangi
Pelangi di kala senjaku

Andini membaca puisi karya Adit yang ingin dikirimkan untuk lomba. Didalam hati ia mengagumi karya temannya ini, dia bergumam dalam pikirannya andai saja dia bisa menjadi pelangi tersebut, menjadi sebuah pewarna yang menghiasi senja yang indah namun tersirat kesedihan dan kesepian.
“gimana Din puisi yang aku tulis ini? bagus nggak?” tanya Adit
“bagus kok bagus.. ini puisi tentang kamu sendiri Dit?”
“eehhmmm gimana yah?” Adit terlihat sedikit kebingungan “iya sih Din, ini puisi menggambarkan suasana hati diriku saat-saat ini.”
“ohh begitu, yaudah-yaudah kita kirim sekarang aja naskah puisi ini” Dini mencoba mengalihkan pembicaraan.
Adit mulai memasukkan naskah puisinya kedalam map coklat dan menuliskan idenditas dirinya serta alamat yang dituju.
***
Waktu pengumuman pemenang lomba telah tiba, dan mereka pun mengecek daftar pemenangnya melalui situs panitia. Dan ternyata puisi yang dituliskan oleh Adit mendapatkan juara pertama di lomba tersebut. Pemenang dijadwalkan untuk mengambil hadiah serta membacakan puisinya saat penyerahan hadiah.
“Din, aku juara Din” Adit berbicara dengan Andini melalui telepon dangan nada senang. “coba kamu ada disini Din melihat langsung pemberitahuan ini, mang kamu sekarang lagi dimana? Kok nggak masuk sekolah?.”
“wah selamat ya Dit, puisi kamu bagus kok, cocok kalau kamu yang menang. Memang kapan penyerahan hadiahnya? Aku lagi pergi ke rumah bu’de aku nih.”
“menurut jadwal lusa Din acara penyerahan hadiahnya, kamu hati-hati dijalan yah dan cepatbalik yah yah biar bisa liat aku pegang pialanya. Hahhaha” ucap Adit seraya tertawa.
“amin, makasih yah Dit.”

***

Saat akan baru berangkat menuju tempat penyerahan hadiah handphone Adit bergetar, ada telepon masuk dari nomor orangtua Andini. Adit bertanya-tanya dalam benaknya, tumben-tumeben sekali orangtua Andini menelepon dia.
“hallo, Assalamualaikum tante” salam Adit
“walaikum salam nak Adit, nak Adit sedang apa? Tante ingin mengabarkan ke nak Adit, kalau Andini mengalami kecelakaan dansekarang sedang dirawat di rumah sakit Syahid.” Tante Linda menjelaskan
“innalillahi.. baik tante saya akan langsung menuju kesana.” Adit langsung menghidupkan motornya dan bergegas ke rumah sakit dan melupakan acara penyerahan hadiah.

***

Adit tiba dirumah sakit dan langsung masuk ke dalam kamar perawatan, ia tampak sangat cemas melihat keadaan Andini yang belum sadarkan diri. Lantas ia menunggui Andini hingga ia sadarkan diri.
Lalu..Andini m membuka matanya dan melihat Adit yang duduk disampingnya menunggui dirinya.
“Aa..Adit.. kamu ngapain disini?” ucap Andini yang baru sadarkan diri. “bukannya hari ini adalah hari penyerahan piala lomba ya? Lalu kamu ngapa...” Adit lantas menghentikan racauan Andini dengan jari telunjuknya.
“aku khawatir sama kondisi kamu Din, aku takut..aku takut kehilangan pelangi ku.” Tersirat sebuat kesedihan dalam ucapan Adit.
“maksudnya?” Andini yang baru sadarkan diri masih bingung dengan keadaan yang dialaminya saat ini
“ya, kamu adalah pelangi. Kamu adalah pelangiku. Kamu yang lebih penting dari piala itu, sebab kamu adalah pelangi di kala senjaku.”