Tampilkan postingan dengan label harapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harapan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

Untuk Perempuanku

Kepada perempuanku.
Masihkah engkau risau disana?
Resah, menangguh segala cemas yang seharusnya tidak pernah ada.
Bahkan, cemas yang tidak kita pahami, apa, dan kapan akan terjadi.

Duduklah disini bersamaku, kekasih.
Kita lewatkan malam dengan secangkir kopi, bunyi jangkrik dan cahaya bulan yang bersinar terang.
Kita rayakan keheningan malam ini dengan diam, dengan pelukan yang tak terjeda, yang tak terlewati oleh hembusan angin.

Perempuanku, aku selalu senang menggenggam jemarimu.
Disana, kehanangatan menjalar di seluruh ruas jari yang tak pernah bosan untuk kutelusuri.
Karenanya, jemariku tak pernah kesepian; tak perlu lagi memeluk tubuhnya sendiri.

Aku tak pandai menghitung, perempuanku.
Ingatanku pun pendek, dan di dinding rumahku, kalender sudah enggan menggulirkan tanggal
Aku tak pernah merayakan usia. Sebab, waktu bagiku bukanlah sebuah bilangan.
Karenanya, perempuanku, aku tak akan ingat kapan kita bertemu, dan kapan aku jatuh cinta kepadamu.

Aku rindu kepadamu, perempuanku.
Bahkan, aku sudah rindu kembali saat perjumpaan kita ini belum selesai.
Perempuanku, genggamlah tanganku agar rindu tak semakin menggigilkan diriku.
Bila perlu, kencangkan pelukanmu, agar rindu ini ingat akan hangat rengkuhanmu.

Perempuanku.
Aku adalah seorang yang pelupa.
Bila nanti waktu sudah berjalan terlalu jauh.
Genggam jemariku, agar aku ingat bahwa kamu tidak berpaling dari hatiku.

Senin, 14 Januari 2013

Orang Ketiga Pertama

Suara Duta memenuhi telingaku. Melalui headset yang kujejalkan di telinga, aku menikmati lagu-lagu Sheila On 7 yang menjadi playlistku sore ini, menemaniku melewati waktu, untuk menunggu. Kubuka Samsung S III, kulihat daftar lagu-lagu SO7 yang kupunya. Aku tersenyum saat melihat sebuah judul lagu disana. Segera jemariku menekan tombol 'play'. Seketika lagu Jadikan Aku Pacarmu berkumandang. Senyumku terus mengembang saat mendengar lirik-lirik lagu itu dinyanyikan, begitu sesuai dengan yang aku rasakan saat ini.

Kulirik jam digital di smartphone yang kugenggam. Tidak terasa aku sudah menunggu hampir setengah jam. Perlahan, jenuh mulai menderaku. Menunggu adalah aktifitas santai yang cepat membosankan. Terlalu lama menunggu malah membuat diri tak tenang. Aku mulai bertanya-tanya di dalam hati, kenapa Rani datangnya setelat ini.

Hari ini adalah pertemuan-entah-yang-keberapa dengan Rani. Seharusnya, lima menit lagi kita sudah harus masuk ke dalam studio, film yang ingin di tonton sebentar lagi akan dimulai. Aku gelisah menimang tiket masuk di tanganku.

Terdengar lagi suara petugas bioskop memberitahukan bahwa studio 3-tempat dimana filmku diputar-sudah dibuka, dan orang-orang yang memiliki tiket berbondong-bondong masuk ke dalam studio untuk menonton film yang sedang 'in' saat ini.

Kulirik lagi jam digital, seharusnya, film baru dimulai, tapi Rani belum kunjung tiba. Aku melepas headset dan mematikan playlist. Sepertinya rencana menonton film akan batal. Isi pesan dari Rani yang mengabarkan dirinya akan sampai dalam beberapa menit lagi tak kunjung terealisasi. Beberapa menit bagi perempuan bermakna beberapa belas menit dalam keadaan sebenarnya.

Dari kejauhan terlihat Rani yang berjalan cepat setengah berlari. "Pang... Ipang, sorry yah telat banget. Kena macet. Film udah dimulai yah? Tiket udah dibeli? Yaudah yuk kita masuk," ucap Rani tanpa jeda ketika baru sampai, nafasnya memburu cepat, tersengal-sengal.

"Oke." Aku tersenyum kecil. Menatap matanya, membuat rasa kesalku kepadanya tadi langsung hilang. Aku dan Rani segera berjalan menuju pintu studio 3.

***

Film baru saja selesai. Saat lampu dinyalakan, terlihat olehku wajah Rani yang memerah, matanya sembab dan airmata membasahi pipinya. Cerita di film tadi memang mengharukan. Film biopic yang menceritakan sisi humanis dan romantis dari seorang yang hebat yang pernah dimiliki bangsa ini. Aku pun, tak kuasa menahan haru saat film tadi sampai di titik klimaksnya.

Kusodorkan tissue ke arah Rani. Dia mengambil beberapa helai dan menyeka wajahnya. Setelah beberapa saat, kami keluar dari studio, dia segera menuju toilet. Merapikan riasan wajahnya, sepertinya.

"Film tadi bagus yah," ucapku kepada Rani yang baru saja keluar dari toilet. Matanya masih terlihat sembab, menjelang akhir film tadi dia memang menangis hebat, sangat merasakan emosional film tersebut.

"Iya. Keren banget. Rasanya pengin punya suami yang setia dan punya cibta yang sangat besar ke istrinya seperti itu."

Aku dan Rani berjalan menyusuri mall, menuju sebuah restoran untuk mengisi perut yang keroncongan. Suasana mall hari ini cukup ramai karena weekend, hal yang membuatku harus menunggu untuk bisa makan di restoran seafood dengan harga kaki lima itu.

"Wira tahu kamu pergi sama aku?" tanyaku kepada Rani. Wira adalah kekasih Rani, menanyakannya hanyalah basa-basiku saja kepada Rani. Kami duduk di sofa yang disediakan restoran untuk menunggu.

"Hemm... Tidak. Soalnya sejak kemarin dia nggak ada kabar. Aku pengin ngasih tau dia, tapi dianya ga bjsa dihubungi, yaudah."

"Lagi ada masalah?"

"Kalau dari aku sih nggak ada. Nggak tahu juga deh kalau dia ngerasa ada masalah. Memang kebiasaannya dia kayak begitu. Menghindar kalau ada masalah."

Aku mendengarkan penjelasan Rani. Sepertinya hubungan mereka sedang dalam masalah. Mungkin aku jahat, tapi entah mengapa aku merasa senang.

"Tuan Irfan, meja untuk dua orang" terdengar suara pelayan yang memanggil namaku. Aku dan Rani segera masuk, menuju bangku yang baru saja dikosongkan.

Saat sedang berjalan, tiba-tiba Rani berhenti. "Kenapa?" tanyaku kepada Rani yang tiba-tiba mematung.

Aku melihat ke arah mata Rani memandang. Di pojok ruangan terlihat seorang lelaki yang sedang menyuapkan makanan ke mulut seorang wanit. Mereka terlihat mesra. Aku baru sadar mengapa Rani terdiam, lelaki itu Wira.

Tiba-tiba Rani berjalan ke arah Wira. Perasaanku tidak enak, sepertinya kejadian di dalam cerita drama akan terjadi. Hal yang terjadi selanjutnya tidak beda dengan cerita drama. Sebuah guyuran air dan makian, lalu perpisahan dengan tangisan.

Aku berjalan di samping Rani, menuntunnya keluar dari restoran. Tak peduli puluhan mata menatap ke arah kami. Kutenangkan dirinya. Saat ini, aku seperti orang ketiga yang menjadi saksi pertama runtuhnya hubungan mereka.

Selasa, 18 September 2012

Aku Dan Kamu Bukan Kita

1)

Andaikan tidak pernah ada kata andaikan dalam kehidupan ini
Kita takkan pernah susah payah menahan sakit di dada, pada sesuatu pada kenangan di masa silam
Untuk mengingatmu saja, ribuan luka tertoreh di dalam dada

2)

Disini, malam dengan seribu kenangan
Aku merenungi sebuah rekaman ingatan di masa silam
Nanti-nantikan sebuah penantian yang tak akan datang

3)

Kita hanyalah sepasang hati yang terlalu penuh harap dan angan. Tapi,
Angan hanyalah menjadi sebuah harapan. Sebuah layar yang tak pernah terkembang
Mimpi pun cuma menjadi pemanis saja. Bunga tidur yang sukse membuaikan lelap
Untuk menyenangkan hati, dengan rela kita terluka untuk menjaga agar harap tetap ada

4)

Benarkah? Harap, keinginan, angan dan kata-kata busuk semacamnya hanya pengawal duka?
Uraikan setiap memori indah menjadi pisau-pisau kecil yang tajam dan merobek perasaan
Kalau memang iya, sebutlah aku pengagum luka. Sebab kenangan itu selalu kujaga
Atau sebut saja aku penggila duka
Nestapa pun rela kurasai agar anganku memilikimu tetap terjaga

5)

Kemarin aku melihatmu dengan kekasihmu
Indera penglihatanku membangunkanku dari segala ilusi dan pengharapan
Terbangun aku aku dari mimpi manis memilikimu sebagai kekasihku
Andaikan kata andaikan tidak pernah ada, mungkin aku takkan pernah sesakit ini mencintaimu, masa laluku.

Jumat, 07 September 2012

Di Matamu


1)
Kita adalah sepasang kenangan yang selalu berbicara tentang cinta
Kita adalah sepasang hati yang tak pernah rela untuk saling melupakan

2)
Sementara waktu terus berjalan
Kita memutuskan untuk tetap bertahan
Dengan luka yang kita jaga, yang kita pelihara agar tidak terlupa

3)
Kirana, di matamu aku melihat diriku tenggelam
Menyemayamkan cinta pada binar matamu
Sementara kau, memberikan pandanganmu pada hati yang lain
Pada cinta yang menyakitimu

4)
Bagaimana mungkin aku melupakanmu
Bila mulutku saja bungkam, berkhianat pada ketakutan
Bagaimana mungkin aku melupakanmu
Jika setiap malam aku mengucapkan rindu; menyelipkan namamu dalam sujudku

5)
Sebut saja kita pecinta luka
Sebab terpelihara cinta di dalam dada
Cinta yang menyakitkan
Luka yang tak pernah ingin kita lupakan