Kamu itu indah dan menyenangkan
Sanggup singkirkan kelabu ku
Dan kamu pun bisa menjadi requim dihidupku
Yang bisa membuat hariku penuh airmata
Seperti sebuah harmonisasi kehidupan
Yang mampu mengalunkan nada-nada indah
Dan juga melodi kematian bagiku
Dalam setiap detik yang terlewatkan
Mampu membuatku tertawa bahagia
dan lupakan semua masalah
Namun kau bisa menghadirkan kesedihan
Yang sanggup hancurkan diri ini
Dirimu seperti penggalan bait-bait lagu
Selalu mengalun dalam fikiranku
Ya, itulah definisiku tentangmu
Kamu seperti musik dalam hidupku
Tak terlewatkan dan akan selalu ada dalam fikiranku
Ya benar, seperti musik..
Yang sanggup membuatku bahagia dan juga berurai airmata
Tetaplah menggema dalam hatiku sayang..
Jika ingin menjadi penulis. Menulislah, sebab tidak ada yang akan bisa menjadi penulis tanpa pernah menulis apa pun.
Sabtu, 15 Januari 2011
Selasa, 11 Januari 2011
Tanpamu Hidupku Galau
Hadirmu warnai duniaku dan membuat tubuhku bergetar dan berkeringat saat menikmatimu
Ribuan kecewa saat kau tak lagi ku jangkau
Dirimu terbang melangit dan hanya dapat dijangkau oleh mereka yang berada
Kau bagai candu bagiku
Berhari-hari tanpamu membuatku gelisah dan galau
Hadirmu seperti oksigen yang selalu kubutuhkan
Cepatlah membumi sayangku, agar aku dapat menjangkaumu kembali
Agar aku dapat menikmatimu lagi
Denganmu hidup ini begitu nikmat
Tanpamu hidupku menjadi galau, wahai Cabaiku..
Ribuan kecewa saat kau tak lagi ku jangkau
Dirimu terbang melangit dan hanya dapat dijangkau oleh mereka yang berada
Kau bagai candu bagiku
Berhari-hari tanpamu membuatku gelisah dan galau
Hadirmu seperti oksigen yang selalu kubutuhkan
Cepatlah membumi sayangku, agar aku dapat menjangkaumu kembali
Agar aku dapat menikmatimu lagi
Denganmu hidup ini begitu nikmat
Tanpamu hidupku menjadi galau, wahai Cabaiku..
Jumat, 07 Januari 2011
Pelangi di Kala Senja
Kringggg!!! Kringgg!! Bel sekolah berbunyi pertanda jam belajar telah selesai. Di sebuh lorong sekolah SMU Bangsa, seorang perempun muda berkacamata tergopoh-gopoh berlari mengejar teman prianya.
“Adittt… Adiiitt… tunggu sebentar !!” teriak Andini dari kejauhan
“iya din, ada apa? Kok kamu lari-larian begitu?”
“iya ini dit, aku punya selembaran lomba menulis puisi. Kan kamu pinter bikin puisi tuh, lumayan loh hadiahnya kalau kamu coba ikutan lomba ini dan bisa menang.”
Adit terdiam sejenak, lalu berkata “makasih ya din, nanti aku pikirin dulu mau ikut atau nggak”
***
Duta Buana Publishing Present
Buat kamu-kamu yang senang menulis dan memiliki tulisan (cerpen, novel atau puisi) masukan karya tulisan kamu. Acara ini bebas usia dan tidak dipungut biaya apapun. Pemenang akan mendapatkan hadiah yang menarik dari panitia dan karya tulisannya akan di masukkan dalam kumpulan tulisan lainnya. Pendaftaran ditutup tanggal 31 Maret, Info lebih lanjut hubungi marisa 08128988xxx.
Didalam sebuah ruangan yang sedikit berantakan oleh baju, buku, dan berbagai novel yang berserakan di atas kasurnya, Adit mengeluarkan secarik kertas yang ada di dalam tasnya lalu ia membacanya, sebuah selebaran yang diberikan oleh Andini tadi siang.
Hmm, aku ikut nggak ya?. Kalau aku ikut, aku mau ikut kategori yang mana ya? novel, cerpen apa puisi yah?. Sepanjang hari hingga malam pun tiba, Adit terus bertanya-tanya dalam diri mencoba mengumpulkan keyakinan dalam dirinya.
***
Sepulang sekolah Andini mendatangi kelas Adit, untuk meyakinkan sahabatnya ini untuk berani mengikutsertakan karya tulisannya.
“hai din, kamu mau tanya tentang keikutsertaan aku” ucap Adit saat melihat Dini berjalan ke arahnya.
“hahaha, iya nih… gimana? Kamu jadi ikut nggak?”
“hmm, aku pengen tau dulu, hadiahnya buat yang juara itu apa, kalau hadiahnya menarik, aku ikut deh. Hehehe.”
“woo, belom ikutan udah tanya hadiahnya aja.” Cemooh Andini kepada Adit.
“yudah-yudah, aku mau telepon CP nya dulu yah, tunggu sebentar.” Adit perlahan berjalan menjauh dari Andini dan memulai percakapan dengan panitia acara lomba tersebut.
Percakapan antara Adit dengan panitia acara berlangsung singkat. Lalu Adit kembali menghampiri Andini dengan wajah semringah.
“aku bakal ikutan lomba itu Din”
“wah bagus deh, panitianya ngomong apa sampe kamu langsung mutusin buat ikut lomba.” Tanya Andini masih keherenan dengan perubahan pikiran Adit.
“kata mbaknya, juara pertama bakal dapat notebook sebagai hadiahnya” jawab Adit dengan mood ceria “lumayan Din buat ganti laptop lama aku. Hehehe. Besok temenin aku kirim naskahnya yah.” Lanjut adit.
Pelangi di Kala Senja
Aku seperti senja
Yang indah mengandung ironi
Menggores keindahan dibalik kesedihan
Aku seperti senja
Yang kehilangan cahaya menuju gelap
Telah lenyap warna tak bersinar
Aku mencari pelangi
Agar senja lebih berwarna
Aku inginkan pelangi
Pelangi di kala senjaku
Andini membaca puisi karya Adit yang ingin dikirimkan untuk lomba. Didalam hati ia mengagumi karya temannya ini, dia bergumam dalam pikirannya andai saja dia bisa menjadi pelangi tersebut, menjadi sebuah pewarna yang menghiasi senja yang indah namun tersirat kesedihan dan kesepian.
“gimana Din puisi yang aku tulis ini? bagus nggak?” tanya Adit
“bagus kok bagus.. ini puisi tentang kamu sendiri Dit?”
“eehhmmm gimana yah?” Adit terlihat sedikit kebingungan “iya sih Din, ini puisi menggambarkan suasana hati diriku saat-saat ini.”
“ohh begitu, yaudah-yaudah kita kirim sekarang aja naskah puisi ini” Dini mencoba mengalihkan pembicaraan.
Adit mulai memasukkan naskah puisinya kedalam map coklat dan menuliskan idenditas dirinya serta alamat yang dituju.
***
Waktu pengumuman pemenang lomba telah tiba, dan mereka pun mengecek daftar pemenangnya melalui situs panitia. Dan ternyata puisi yang dituliskan oleh Adit mendapatkan juara pertama di lomba tersebut. Pemenang dijadwalkan untuk mengambil hadiah serta membacakan puisinya saat penyerahan hadiah.
“Din, aku juara Din” Adit berbicara dengan Andini melalui telepon dangan nada senang. “coba kamu ada disini Din melihat langsung pemberitahuan ini, mang kamu sekarang lagi dimana? Kok nggak masuk sekolah?.”
“wah selamat ya Dit, puisi kamu bagus kok, cocok kalau kamu yang menang. Memang kapan penyerahan hadiahnya? Aku lagi pergi ke rumah bu’de aku nih.”
“menurut jadwal lusa Din acara penyerahan hadiahnya, kamu hati-hati dijalan yah dan cepatbalik yah yah biar bisa liat aku pegang pialanya. Hahhaha” ucap Adit seraya tertawa.
“amin, makasih yah Dit.”
***
Saat akan baru berangkat menuju tempat penyerahan hadiah handphone Adit bergetar, ada telepon masuk dari nomor orangtua Andini. Adit bertanya-tanya dalam benaknya, tumben-tumeben sekali orangtua Andini menelepon dia.
“hallo, Assalamualaikum tante” salam Adit
“walaikum salam nak Adit, nak Adit sedang apa? Tante ingin mengabarkan ke nak Adit, kalau Andini mengalami kecelakaan dansekarang sedang dirawat di rumah sakit Syahid.” Tante Linda menjelaskan
“innalillahi.. baik tante saya akan langsung menuju kesana.” Adit langsung menghidupkan motornya dan bergegas ke rumah sakit dan melupakan acara penyerahan hadiah.
***
Adit tiba dirumah sakit dan langsung masuk ke dalam kamar perawatan, ia tampak sangat cemas melihat keadaan Andini yang belum sadarkan diri. Lantas ia menunggui Andini hingga ia sadarkan diri.
Lalu..Andini m membuka matanya dan melihat Adit yang duduk disampingnya menunggui dirinya.
“Aa..Adit.. kamu ngapain disini?” ucap Andini yang baru sadarkan diri. “bukannya hari ini adalah hari penyerahan piala lomba ya? Lalu kamu ngapa...” Adit lantas menghentikan racauan Andini dengan jari telunjuknya.
“aku khawatir sama kondisi kamu Din, aku takut..aku takut kehilangan pelangi ku.” Tersirat sebuat kesedihan dalam ucapan Adit.
“maksudnya?” Andini yang baru sadarkan diri masih bingung dengan keadaan yang dialaminya saat ini
“ya, kamu adalah pelangi. Kamu adalah pelangiku. Kamu yang lebih penting dari piala itu, sebab kamu adalah pelangi di kala senjaku.”
“Adittt… Adiiitt… tunggu sebentar !!” teriak Andini dari kejauhan
“iya din, ada apa? Kok kamu lari-larian begitu?”
“iya ini dit, aku punya selembaran lomba menulis puisi. Kan kamu pinter bikin puisi tuh, lumayan loh hadiahnya kalau kamu coba ikutan lomba ini dan bisa menang.”
Adit terdiam sejenak, lalu berkata “makasih ya din, nanti aku pikirin dulu mau ikut atau nggak”
***
Duta Buana Publishing Present
Buat kamu-kamu yang senang menulis dan memiliki tulisan (cerpen, novel atau puisi) masukan karya tulisan kamu. Acara ini bebas usia dan tidak dipungut biaya apapun. Pemenang akan mendapatkan hadiah yang menarik dari panitia dan karya tulisannya akan di masukkan dalam kumpulan tulisan lainnya. Pendaftaran ditutup tanggal 31 Maret, Info lebih lanjut hubungi marisa 08128988xxx.
Didalam sebuah ruangan yang sedikit berantakan oleh baju, buku, dan berbagai novel yang berserakan di atas kasurnya, Adit mengeluarkan secarik kertas yang ada di dalam tasnya lalu ia membacanya, sebuah selebaran yang diberikan oleh Andini tadi siang.
Hmm, aku ikut nggak ya?. Kalau aku ikut, aku mau ikut kategori yang mana ya? novel, cerpen apa puisi yah?. Sepanjang hari hingga malam pun tiba, Adit terus bertanya-tanya dalam diri mencoba mengumpulkan keyakinan dalam dirinya.
***
Sepulang sekolah Andini mendatangi kelas Adit, untuk meyakinkan sahabatnya ini untuk berani mengikutsertakan karya tulisannya.
“hai din, kamu mau tanya tentang keikutsertaan aku” ucap Adit saat melihat Dini berjalan ke arahnya.
“hahaha, iya nih… gimana? Kamu jadi ikut nggak?”
“hmm, aku pengen tau dulu, hadiahnya buat yang juara itu apa, kalau hadiahnya menarik, aku ikut deh. Hehehe.”
“woo, belom ikutan udah tanya hadiahnya aja.” Cemooh Andini kepada Adit.
“yudah-yudah, aku mau telepon CP nya dulu yah, tunggu sebentar.” Adit perlahan berjalan menjauh dari Andini dan memulai percakapan dengan panitia acara lomba tersebut.
Percakapan antara Adit dengan panitia acara berlangsung singkat. Lalu Adit kembali menghampiri Andini dengan wajah semringah.
“aku bakal ikutan lomba itu Din”
“wah bagus deh, panitianya ngomong apa sampe kamu langsung mutusin buat ikut lomba.” Tanya Andini masih keherenan dengan perubahan pikiran Adit.
“kata mbaknya, juara pertama bakal dapat notebook sebagai hadiahnya” jawab Adit dengan mood ceria “lumayan Din buat ganti laptop lama aku. Hehehe. Besok temenin aku kirim naskahnya yah.” Lanjut adit.
Pelangi di Kala Senja
Aku seperti senja
Yang indah mengandung ironi
Menggores keindahan dibalik kesedihan
Aku seperti senja
Yang kehilangan cahaya menuju gelap
Telah lenyap warna tak bersinar
Aku mencari pelangi
Agar senja lebih berwarna
Aku inginkan pelangi
Pelangi di kala senjaku
Andini membaca puisi karya Adit yang ingin dikirimkan untuk lomba. Didalam hati ia mengagumi karya temannya ini, dia bergumam dalam pikirannya andai saja dia bisa menjadi pelangi tersebut, menjadi sebuah pewarna yang menghiasi senja yang indah namun tersirat kesedihan dan kesepian.
“gimana Din puisi yang aku tulis ini? bagus nggak?” tanya Adit
“bagus kok bagus.. ini puisi tentang kamu sendiri Dit?”
“eehhmmm gimana yah?” Adit terlihat sedikit kebingungan “iya sih Din, ini puisi menggambarkan suasana hati diriku saat-saat ini.”
“ohh begitu, yaudah-yaudah kita kirim sekarang aja naskah puisi ini” Dini mencoba mengalihkan pembicaraan.
Adit mulai memasukkan naskah puisinya kedalam map coklat dan menuliskan idenditas dirinya serta alamat yang dituju.
***
Waktu pengumuman pemenang lomba telah tiba, dan mereka pun mengecek daftar pemenangnya melalui situs panitia. Dan ternyata puisi yang dituliskan oleh Adit mendapatkan juara pertama di lomba tersebut. Pemenang dijadwalkan untuk mengambil hadiah serta membacakan puisinya saat penyerahan hadiah.
“Din, aku juara Din” Adit berbicara dengan Andini melalui telepon dangan nada senang. “coba kamu ada disini Din melihat langsung pemberitahuan ini, mang kamu sekarang lagi dimana? Kok nggak masuk sekolah?.”
“wah selamat ya Dit, puisi kamu bagus kok, cocok kalau kamu yang menang. Memang kapan penyerahan hadiahnya? Aku lagi pergi ke rumah bu’de aku nih.”
“menurut jadwal lusa Din acara penyerahan hadiahnya, kamu hati-hati dijalan yah dan cepatbalik yah yah biar bisa liat aku pegang pialanya. Hahhaha” ucap Adit seraya tertawa.
“amin, makasih yah Dit.”
***
Saat akan baru berangkat menuju tempat penyerahan hadiah handphone Adit bergetar, ada telepon masuk dari nomor orangtua Andini. Adit bertanya-tanya dalam benaknya, tumben-tumeben sekali orangtua Andini menelepon dia.
“hallo, Assalamualaikum tante” salam Adit
“walaikum salam nak Adit, nak Adit sedang apa? Tante ingin mengabarkan ke nak Adit, kalau Andini mengalami kecelakaan dansekarang sedang dirawat di rumah sakit Syahid.” Tante Linda menjelaskan
“innalillahi.. baik tante saya akan langsung menuju kesana.” Adit langsung menghidupkan motornya dan bergegas ke rumah sakit dan melupakan acara penyerahan hadiah.
***
Adit tiba dirumah sakit dan langsung masuk ke dalam kamar perawatan, ia tampak sangat cemas melihat keadaan Andini yang belum sadarkan diri. Lantas ia menunggui Andini hingga ia sadarkan diri.
Lalu..Andini m membuka matanya dan melihat Adit yang duduk disampingnya menunggui dirinya.
“Aa..Adit.. kamu ngapain disini?” ucap Andini yang baru sadarkan diri. “bukannya hari ini adalah hari penyerahan piala lomba ya? Lalu kamu ngapa...” Adit lantas menghentikan racauan Andini dengan jari telunjuknya.
“aku khawatir sama kondisi kamu Din, aku takut..aku takut kehilangan pelangi ku.” Tersirat sebuat kesedihan dalam ucapan Adit.
“maksudnya?” Andini yang baru sadarkan diri masih bingung dengan keadaan yang dialaminya saat ini
“ya, kamu adalah pelangi. Kamu adalah pelangiku. Kamu yang lebih penting dari piala itu, sebab kamu adalah pelangi di kala senjaku.”
Minggu, 17 Oktober 2010
Parodi Bumi
ini sebuah cerita tentang seorang makhluk bernama Manusia yang menumpang tinggal di sebuah tempat bernama Bumi dan ia hidup bersama dengan Langit dan Matahari....
Langit memiliki sifat yang cengeng, dia gampang sekali menangis dan apabila si Langit menangis maka Manusia akan kesulitan...
dan Manusia juga hidup berdampingan dengan si Matahari memiliki watak pemarah yang selalu membawa hawa panas di antara mereka, apabila sang Matahri sudah mengamuk maka Manusia akan merasa sangat kepanasan tubuhnya...
merasa sangat merana akhirnya si Manusia mengadu kepada Tuhan, yang memiliki Bumi..
"Wahai Tuhan, aku tidak sanggup untuk tinggal di tempat bernama Bumi yang kamu berikan" Manusia berkata kepada Tuhan
Tuhan menjawab : "kenapa kau tidak sangup untuk tinggal ditempat yang sudah kusediakan (Bumi)?"
"aku tidak sanggup lagi menghadapi Langit dan Matahari.. Aku tak kuasa algi bila Langit terus menerus menangis dan aku akan mengalami masalah, begitu juga dengan Matahari, dia selalu marah dan apabila dia sudah marah, dia akan membakar kulitku dan apa saja yang bisa terbakar...
"baiklah kalau begitu aku akan menitipkan sebuah benda bernama Hutan dan Pepohonan untukmu, Aku akan tempatkan Hutan dan Pepohonan di dalam Bumi, mereka akan membantumu untuk menangani air mata yang selalu dicurahkan oleh Langit saat dia menangis, jadi kamu tidak akan mengalami kesulitan apabila Langit menangis,begitu juga saat Matahari sedang marah dan mulai membakar Bumi, Hutan dan Pepohonan yang akan menyejukkan kamu dan Bumi sehingga kamu bisa tenang hidup di dalam tempat yang aku berikan (Bumi)" Tuhan menjawab keluhan-keluhan Manusia
"tapi ingat Manusia, jaga baik-baik Hutan dan Pepohonan yang aku titipkan, kamu yang akan menentukan apakah Hutan dan Pepohonan itu aka tetap ada atau tidak. Ingat juga, kamu akan kembali menghadapi masalah apabila Hutan dan Pepohonan itu hilang" Tuhan mencoba mengingatkan Manusia...
setelah di berikan Hutan dan Pepohonan untuk menangkal efek buruk dari Langit dan Matahari, Manusia bisa hidup tenang dan mulai mendekorasi Bumi dengan membangun Apartemen-Apartemen yang bagus bentuk dan corak nya didalam Bumi, Manusia menambahkan Mall-Mall yang mewah serta membuat Taman Hiburan dan benda-benda lainnya dalam tempat tinggalnya di Bumi....
namun seiring berjalannya waktu, manusia telah terlena oleh kenyaman yang diberikan oleh Tuhan dan Manusia mlai merasa bahwa tempat tinggal yang diberikan oleh Tuhan terasa kecil. Lalu Manusia mulai merasa bahwa jumlah Hutan dan Pepohonan yang dititipkan oleh Tuhan terlalu banyak sehingga mengurangi ruang Bumi, maka Manusia mulai mengurangi jumlah Hutan dan Pepohonan di dalam Bumi..
semakin lama jumlah Hutan dan Pepohonan semakin berkurang dari Bumi. Namun Manusia seakan lupa bahwa Langit masih terus menangis sama seperti dulu dan Matahri masih suka membakar...
lama kelamaan Hutan dan Pepohonan yang dititipkan Tuhan semakin berkurang jumlahnya, lalu Manusia mulai mengalami kesulitan lagi dalam menghadapi tangisan Langit dan Matahari yang memancarkan amarah...
Langit terus menangisi Bumi tempat Manusia tinggal dan membuat genangan di Bumi dan Matahri membakar Manusia yang tinggal di Bumi.., setelah sekian lama Manusia diberikan kenyamanan untuk tinggal di Bumi dengan dititipi benda oleh Tuhan berupa Hutan dan Pepohonan, Manusia yang memiliki sifat tamak dan serakah pun menghilangkan Hutan dan Pepohonan satu per satu sampaihampir tidak tersisa lagi.
Karena Hutan dan Pepohonan mulai menghilang, Manusia mulai bingung menghadapi Langit dan Matahari.. Akhirnya Manusia mulai sadar dan berteriak kepada Tuhan..
"wahai Tuhan berikan kembali Hutan dan Pepohonan kepada kami"
"Tidak ada lagi Hutan dan Pepohonan unuk kalian" Jawab Tuhan..
setelah itu Manusia mulai sadar akan kesalahan mereka dan hanya berteriak dalam hati
"kembalikan Hutan dan Pepohonan kami"
Langit memiliki sifat yang cengeng, dia gampang sekali menangis dan apabila si Langit menangis maka Manusia akan kesulitan...
dan Manusia juga hidup berdampingan dengan si Matahari memiliki watak pemarah yang selalu membawa hawa panas di antara mereka, apabila sang Matahri sudah mengamuk maka Manusia akan merasa sangat kepanasan tubuhnya...
merasa sangat merana akhirnya si Manusia mengadu kepada Tuhan, yang memiliki Bumi..
"Wahai Tuhan, aku tidak sanggup untuk tinggal di tempat bernama Bumi yang kamu berikan" Manusia berkata kepada Tuhan
Tuhan menjawab : "kenapa kau tidak sangup untuk tinggal ditempat yang sudah kusediakan (Bumi)?"
"aku tidak sanggup lagi menghadapi Langit dan Matahari.. Aku tak kuasa algi bila Langit terus menerus menangis dan aku akan mengalami masalah, begitu juga dengan Matahari, dia selalu marah dan apabila dia sudah marah, dia akan membakar kulitku dan apa saja yang bisa terbakar...
"baiklah kalau begitu aku akan menitipkan sebuah benda bernama Hutan dan Pepohonan untukmu, Aku akan tempatkan Hutan dan Pepohonan di dalam Bumi, mereka akan membantumu untuk menangani air mata yang selalu dicurahkan oleh Langit saat dia menangis, jadi kamu tidak akan mengalami kesulitan apabila Langit menangis,begitu juga saat Matahari sedang marah dan mulai membakar Bumi, Hutan dan Pepohonan yang akan menyejukkan kamu dan Bumi sehingga kamu bisa tenang hidup di dalam tempat yang aku berikan (Bumi)" Tuhan menjawab keluhan-keluhan Manusia
"tapi ingat Manusia, jaga baik-baik Hutan dan Pepohonan yang aku titipkan, kamu yang akan menentukan apakah Hutan dan Pepohonan itu aka tetap ada atau tidak. Ingat juga, kamu akan kembali menghadapi masalah apabila Hutan dan Pepohonan itu hilang" Tuhan mencoba mengingatkan Manusia...
setelah di berikan Hutan dan Pepohonan untuk menangkal efek buruk dari Langit dan Matahari, Manusia bisa hidup tenang dan mulai mendekorasi Bumi dengan membangun Apartemen-Apartemen yang bagus bentuk dan corak nya didalam Bumi, Manusia menambahkan Mall-Mall yang mewah serta membuat Taman Hiburan dan benda-benda lainnya dalam tempat tinggalnya di Bumi....
namun seiring berjalannya waktu, manusia telah terlena oleh kenyaman yang diberikan oleh Tuhan dan Manusia mlai merasa bahwa tempat tinggal yang diberikan oleh Tuhan terasa kecil. Lalu Manusia mulai merasa bahwa jumlah Hutan dan Pepohonan yang dititipkan oleh Tuhan terlalu banyak sehingga mengurangi ruang Bumi, maka Manusia mulai mengurangi jumlah Hutan dan Pepohonan di dalam Bumi..
semakin lama jumlah Hutan dan Pepohonan semakin berkurang dari Bumi. Namun Manusia seakan lupa bahwa Langit masih terus menangis sama seperti dulu dan Matahri masih suka membakar...
lama kelamaan Hutan dan Pepohonan yang dititipkan Tuhan semakin berkurang jumlahnya, lalu Manusia mulai mengalami kesulitan lagi dalam menghadapi tangisan Langit dan Matahari yang memancarkan amarah...
Langit terus menangisi Bumi tempat Manusia tinggal dan membuat genangan di Bumi dan Matahri membakar Manusia yang tinggal di Bumi.., setelah sekian lama Manusia diberikan kenyamanan untuk tinggal di Bumi dengan dititipi benda oleh Tuhan berupa Hutan dan Pepohonan, Manusia yang memiliki sifat tamak dan serakah pun menghilangkan Hutan dan Pepohonan satu per satu sampaihampir tidak tersisa lagi.
Karena Hutan dan Pepohonan mulai menghilang, Manusia mulai bingung menghadapi Langit dan Matahari.. Akhirnya Manusia mulai sadar dan berteriak kepada Tuhan..
"wahai Tuhan berikan kembali Hutan dan Pepohonan kepada kami"
"Tidak ada lagi Hutan dan Pepohonan unuk kalian" Jawab Tuhan..
setelah itu Manusia mulai sadar akan kesalahan mereka dan hanya berteriak dalam hati
"kembalikan Hutan dan Pepohonan kami"
Kamis, 14 Oktober 2010
Renungkan kawan..
ketika hawa nafsu membalut mata hati
memburamkan semua nurani
dan menyalakkan nafsu setan dalam jiwa
raga telah lelah memikul perangai
rapuh hati digerogoti kebencian dan kenistaan
aku berdiri terdiam tanpa merenung
menjalani kehidupan yang semakin bobrok dan akan tenggelam..
apakah semua akan terus seperti ini?
menjalani sebuah tapak jalan yang berlumurkan dosa
berbalutkan kenistaan
yang justru dengan bangga kita jalani.?
astaghfirullah!!
semoga Allah menerangi sudut kelam pikiran dan jiwa..
dan biarkan hati kita terangkat dari neraka
niatkan kebaikan dan lembutkan hati kita dengan nafas-Nya..
memburamkan semua nurani
dan menyalakkan nafsu setan dalam jiwa
raga telah lelah memikul perangai
rapuh hati digerogoti kebencian dan kenistaan
aku berdiri terdiam tanpa merenung
menjalani kehidupan yang semakin bobrok dan akan tenggelam..
apakah semua akan terus seperti ini?
menjalani sebuah tapak jalan yang berlumurkan dosa
berbalutkan kenistaan
yang justru dengan bangga kita jalani.?
astaghfirullah!!
semoga Allah menerangi sudut kelam pikiran dan jiwa..
dan biarkan hati kita terangkat dari neraka
niatkan kebaikan dan lembutkan hati kita dengan nafas-Nya..
Langganan:
Postingan (Atom)