Matamu ialah lapangan, tempat ingatanku melangkahkan kaki-kakinya yang pendek namun kuat
Di sana, dulu sekali pernah ada aku yang berkuasa
Namun tak kuasa bertahan lama di sana
Hatimu ialah ladang, tempat hatiku memanen buah kebahagian
Di sana, kutaburkan banyak bibit cinta
Namun lupa, ketika waktunya hanya duka yang tersisa
Pikiranmu ialah laut, tempat aku menenggelamkan diri
Di sana, ada kehidupan yang menghidupkan
Namun terlalu lama aku di sana, dan tenggelam
Malam ini, ketika aku memejamkan mata, mengenangmu
Dalam pikiran aku merindukan suatu pagi di sebuah taman
Bukan merindukanmu
Aku merindukan sebuah kisah;
Sebuah lapangan yang ingin kakiku jejaki
Sebuah ladang yang ingin kutanami
Sebuah laut yang ingin kuselami
Tentu saja, semua yang baru
Mengingatmu, aku merindukan suatu pagi yang baru di sebuah taman yang baru.
Jika ingin menjadi penulis. Menulislah, sebab tidak ada yang akan bisa menjadi penulis tanpa pernah menulis apa pun.
Senin, 29 September 2014
Senin, 14 Juli 2014
Lelaki Yang Jatuh Cinta
Maksud dari sajak ini sederhana saja
Seorang lelaki telah jatuh cinta
Dia belajar untuk menerima lelaki lain yang dicintai oleh
perempuan yang dia cintai
Lelaki itu belajar untuk tertawa, dan mengerti lelucon antara
wanita yang dia cintai dan lelaki yang dicintai wanita tersebut
Demi sebuah harapan sederhana; wanita tersebut menyadari
kalau dirinya ada.
Jakarta, 14 Juli 2014
Sabtu, 28 Juni 2014
Cerita Workshop Cerpen Kompas 2014 (Bagian 1)
Dari sini cerita bermula...
Awal Mei, Pimpinan Kompas Minggu, Pak Putu Fajar Arcana atau
yang biasa dipanggil Bli Can mengumumkan di twitter perihal adanya Workshop
Cerpen yang akan diadakan oleh media Kompas. Sebuat kabar baik bagi para
penulis-penulis muda dan baru yang ingin menambah pengalaman, wawasan dan
kualitasnya dalam hal tulis menulis. Workshop Cerpen Kompas ini adalah yang
kedua kalinya diadakan, setelaah sebelumnya diadakan di tahun 2012. Workshop
cerpen yang pesertanya dibatasi ini menghadirkan cerpenis besar yang sudah
kenyang malang melintang di dunia penulisan cerpen di Indonesia sebagai
pematerinya, yaitu Seno Gumira Ajidarma dan Agus Noor. SGA!! Ah, nama beliau
sebagai salah satu pemateri workshop sepertinya sudah cukup membuat banyak orang
ingin bisa ikut menjadi bagian dari 30 peserta yang akan dipilih menjadi
peserta workshop. Ditambah Agus Noor sebagai pemateri satunya lagi semakin
menebalkan semangat banyak penulis untuk bisa hadir di acara tersebut. Bagi
yang tidak tahu siapa beliau, silahkan kalian cek sendiri di google.
Tanggal 13 Juni, hari yang ditunggu tiba. Bli Can
mengumumkan siapa-siapa saja yang beruntung
bisa menjadi peserta Workshop Cerpen Kompas 2014. Dari 29 nama penulis
yang lolos, hanya ada 1 nama yang benar-benar aku kenal yaitu Putriwidi
Saraswati, karena kami sama-sama anggota komunitas Bookaholic Fund, sebuah
komunitas yang mengumpulkan dana melalui lelang buku yang hasilnya untuk
disumbangkan. Sedangkan ada 2 nama lain yang aku kenal tapi mereka tidak kenal
saya, yaitu Mas Oddie yang merupakan anggota aktif akun @fiksimini dan Mbak
Vira yang pernah satu buku denganku di buku antologi The Coffee Shop Chronicles
atau Lovediction 1, entah aku lupa.
![]() |
| foto: pengumuman nama peserta yang lolos Workshop Cerpen Kompas 2014 |
25 Juni 2014. Hari yang ditunggu tiba. Setelah nyasar ke
gedung Kompas Gramedia di Palmerah Barat, akhirnya aku dan Putriwidi sampai di
gedung Kompas Gramedia di Palmerah Selatan yang menjadi lokasi berlangsungnya
acara Workshop Kompas 2014. Teman peserta pertama yang kita jumpai adalah Mbak
Feby. Mbak cantik nan mungil dengan pembawaan yang ceria dan supel membuka awal
perkenalan dengan peserta workshop lainnya berjalan dengan sangat baik.
Acara Workshop Cerpen Kompas 2014
Acara wokshop dibuka oleh Bli Can dengan cara yang tidak
biasa. Beliau meminta untuk seseorang berkenalan dengan teman disebelahnya dan
mengenalkan diri teman tersebut seolah adalah dirinya sendiri. Kikuk, pasti.
Bingung, tentu. Hampir seluruh peserta workshop mengalami hal itu. Setelah
perkenalan unik itu dilakukan dengan bingung, Blli Can memberitahukan maksud
mengapa dia memilih cara pengenalan hal seperti itu. Kurang lebih Bli Can
berkata seperti ini: “Seorang penulis harus bisa menggali informasi dari orang
lain dan menjadi orang lain agar bisa lebih luwes dan bisa mengeksplore
cerita.” (jika kata-katanya tidak tepat mohon dimaklumi).
Sesi Pertama: Seno Gumira Ajidarma
Setelah acara perkenalan singkat, Bli Can mempersilahkan Pak
Seno Gumira Ajidarma untuk masuk ke dalam ruangan. Beliaulah yang menjadi
pemateri sesi pertama. Sesi awal langsung dibuka oleh cerpenis senior yang
karya-karyanya tidak pernah absen untuk terbit di Kompas setiap tahunnya,
sebagai pengagum karya-karya SGA, tentu mendapatkan materi pembelajaran dari
beliau adalah hal yang sangat dinantikan. Dalam pikiran, aku mengira SGA akan
memberikan materi layaknya dosen di kelas, dengan slide dan penjelasan mengenai
teori-teori. Salah. Aku salah banget. Tidak ada slide, tidak ada coret-coretan
di board dan lainnya. SGA sejak awal kelas workshop dimulai konsisten hanya
berbicara dan melakukan tanya-jawab-penjelasan dengan anggota workshop.
Selama hampir 1 jam SGA bermonolog, memberi contoh bagaimana membuat cerita dari sudut pandang yang berbeda. Beliau beberapa kali bercakap panjang lebar tentang kemungkinan-kemungkinan cerita yang dapat ditulis dari sebuah premis-premis kecil. Lalu, 1 jam berikutnya dihabiskan dengan sesi tanya jawab dari peserta workshop.
Selama hampir 1 jam SGA bermonolog, memberi contoh bagaimana membuat cerita dari sudut pandang yang berbeda. Beliau beberapa kali bercakap panjang lebar tentang kemungkinan-kemungkinan cerita yang dapat ditulis dari sebuah premis-premis kecil. Lalu, 1 jam berikutnya dihabiskan dengan sesi tanya jawab dari peserta workshop.
SGA membuka workshop dengan sebuah pertanyaan: “Pada bisa
Bahasa Indonesia, kan? Kalau nggak bisa, selesai sudah. Tamat!”
Bagi SGA, teori itu tidak penting, yang terpenting adalah
aksi. “Tulis apa yang kamu mau. Kalau mau tulis A, ya tulis A. Kalau mau tulis
B, ya tulis B. Jangan kamu mau tulis A, tapi malah tulis B.”
Selama hampir 2 jam bercakap-cakap dengan SGA, ada beberapa
poin penting yang disampaikan olehnya agar bisa menjadi penulis yang lebih
baik.
1. Angle
Ide
boleh sama, cerita boleh serupa, namun sudut pandang penulis dalam menceritakan
sesuatu adalah pembeda dasarnya. Setiap penulis punya ciri khasnya sendiri, dan
harus. Menurut beliau, jika kamu ingin bercerita tentang suatu hal, pastikan
ceritakan dengan sudut pandang yang berbeda, dengan sudut pandang yang lain
dari yang sudah ada agar tulisanmu tidak dianggap serupa atau disama-samakan
dengan karya penulis lainnya.
Setiap cerita memiliki tujuan. “Apa yang ingin kamu
ceritakan dalam tulisanmu?” ucap SGA. Dan pemilihan angle dalam bercerita menjadi begitu penting bagi penulis untuk
menyampaikan apa yang ingin dituliskan dalam sebuah cerita.
“Cerita yang sama akan dituliskan secara berbeda jika
dilihat dari ‘mata’ yang berbeda.”
2. Imajinasi
“Ide
ada di mana-mana,” ucap SGA saat membuka workshop. Di awal workshop dia
bercerita tentang banyak hal dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di
jalanan, apa yang dilihat, dan apa yang didengar dapat dijadikan bahan cerita.
Jadi, menurut SGA, kehabisan ide adalah sebuah omong kosong. Imajinasi tidak
akan pernah habis menghasilkan ide. Maka itu, menurut SGA, sebagai penulis
merangsang dan mengembangkan imajinasi adalah hal yang penting untuk dapat
mengeksplore apa yang ingin dituliskan.
“Kembangkan apa saja yang mungkin dan pantas untuk diceritakan,”
ucap SGA selanjutnya. Menurut beliau cerpen selalu dapat dimulai dari sepotong
bagian cerita atau biasa disebut premis. Dari sebuah premis dapat dibangun
sebuah konstruksi cerita pendek yang utuh. Cerita pendek, bukan novel yang
diringkas atau dicomot bagiannya. Sebab menurut SGA kedua hal itu adalah hal
yang sangat berbeda.
“Menulis novel itu banyak senjatanya, kalau jelek di bagian
ini, bisa ditutupi dengan bagus di bagian lainnya. Sementara menulis cerpen itu
senjatanya sedikit, maka itu jangan sampai ada yang sia-sia dalam tulisan.”
3. Cara Bercerita
Hampir
serupa dengan angle, cara bercerita
setiap penulis bermacam-macam, namun dalam penulisan cerpen cara bercerita
semua cerpenis hampir sama, yaitu harus efisien. Dalam menulis harus show/menunjukkan cerita jangan sampai sering tell/menjelaskan isi cerita. “Seorang cerpenis harus bisa
menceritakan sesuatu tanpa mengatakan sesuatu tersebut. Biarkan pembaca menerka
apa yang sedang diceritakan oleh penulis. Berikan ruang bagi pembaca untuk
membayangkan sendiri seperti apa wujud cerita tersebut.”
4. Ending
Ending
adalah bagian paling penting dalam sebuah cerita. Bagi SGA, ending sebuah
cerpen adalah ketika cerita tersebut tidak selesai. “Sisakan sebuah misteri
dalam sebuah cerita, agar pembaca sendiri yang menentukan mau dibawa ke mana
cerita tersebut.”
Menurut SGA, tulisan sastra bukanlah sebuah pengumuman yang
memiliki kejelasan dan satu makna saja. Penulis ketika menuliskan sebuah cerita
pasti akan menitipkan gagasan dan pikirannya ke dalam tulisan. “Tulisan
berharga karena ada pikirannya,” ucap SGA yang membuat aku memahami maksud
beliau yang mengatakan ending/penyelesaian cerita adalah ketika cerita tidak
selesai. “Misteri hanya menarik ketika cerita tersebut tetap menjadi sebuah
misteri.”
5. Aksi
“Ide
yang paling bagus adalah ide yang menjadi ‘barang’, menjadi sebuah tulisan.”
Kata-kata tersebut seperti menjadi sebuah tamparan bagi orang-orang yang suka
menulis, sering punya ide-ide tapi malas untuk dituliskan.
Kebanyakan orang yang ingin menulis dan menjadi penulis
hanya sekedar ingin. Hal ini dikarenakan tidak adanya aksi dalam melaksanakan
keinginan tersebut. Kadang bagi pemula, ‘nyali’ untuk menulis menjadi redup.
Ada sebuah ketakukan dan kecemasan dalam menulis. Takut jelek, takut dikritik,
takut dicaci dan hal lainnya yang menjadi ‘momok’ bagi penulis-penulis baru dan
muda.
“Bagus atau tidak itu hanya kesepakatan sosial, yang
terpenting tulis saja dulu. Jadikan barang. Jadikan sesuatu. Jika memang tidak
bagus tinggal direvisi itulah gunanya pengeditoran. Sebab sebuah karya tulisan
bukanlah hal suci yang tidak bisa diotak-atik setelah selesai dituliskan.”
Selasa, 17 Juni 2014
Riana dan Buku Tua
Apa hal yang paling kamu takutkan? Riana membaca kalimat pertama dari halaman paling awal pada buku yang dipegangnya saat ini. Kalimat tersebut dituliskan dengan warna hitam dengan corak tulisan yang miring dan ditulis dengan huruf sambung. Sesekali dia meniup debu yang menempel pada sekujur buku yang baru saja ditemukan olehnya beberapa menit yang lalu.
Riana menutup buku tersebut, lalu mengelus sampul buku yang warna hitamnya sudah agar pudar. Waktu sudah melunturkan kepekatan warna sampul buku tersebut. Riana tak tahu buku itu milik siapa, dan juga tak menanyakan kepada kedua orangtuanya siapa pemilik buku tersebut. Buku tersebut adalah hasil pencarian dari membongkar gudang barang-barang lama untuk mencari buku lama miliknya, namun yang ditemukan adalah buku tua dengan sampul berwarna hitam pudar dan kertas kecoklatan. Waktu menunjukkan dengan jelas umur buku tersebut lebih tua dari umur remaja tanggung yang menemukannya.
Riana memperhatikan dengan seksama buku tersebut, lalu kembali membuka buku itu. Apakah kamu takut akan darah? Riana kembali membaca sebuah kalimat yang ada di halaman ketiga buku tersebut. Hanya ada satu kalimat yang tadi dibaca, tidak ada yang lain. Kalimat tersebut berada di tengah halaman, terlihat sangat mencolok dengan warna merah yang begitu pekat.
Tidak, ucap Riana sedikit ragu. Seketika bulu roman di tengkuknya meremang. Dengan enggan dia menyentuh tulisan tersebut. Tubuhnya menegang kala menyadari bahwa tulisan di halaman kedua masih basah, seolah baru saja dituliskan. Didekatkan jemarinya yang digunakan untuk menyentuh kalimat ke hidungnya, dan mendapati bau anyir di sana.
Riana menelan ludahnya sendiri dan menutup kembali buku tua itu secara refleks, lalu menoleh ke arah kiri dan kanan bergantian. Tanpa dia sadari pundak dan punggungnya sudah basah, juga nafasnya yang agak memburu. Dia menoleh ke arah dinding di dekat ruang tengah dan melihat jam yang dipasang oleh Ayahnya, waktu sudah menunjukkan pukul empat namun kedua orangtuanya belum juga pulang. Padahal, sebelum pergi mereka mengatakan akan pulang sebelum pukul empat sore.
Riana menunggu di ruang tengah, menatap ke arah pintu namun sesekali mengarahkan pandangannya kembali ke arah buku tua tersebut, berulang-ulang. Darah mudanya yang penuh dengan gejolak rasa penasaran berkali-kali mendorongnya untuk membuka kembali buku tersebut dan melihat halamannya selanjutnya.
Dari sofa di ruang tengah remaja tersebut perlahan bangkit dan berjalan ke arah buku tua yang tadi ditinggalkannya di atas rak televisi. Degup jantungnya makin kencang seiring makin dekat tangannya untuk menyentuh buku tua tersebut.
"Adeeekkk..." Suara Ibu terdengar dari halaman depan. Kedua orangtuanya baru saja tiba. Riana berbalik ke arah pintu, buku tua tersebut disembunyikannya di bagian belakang bajunya, diselipkan di pinggang celananya. "Adek, tolong bantu Ibu, Dek," ucap Ibu yang terlihat kepayahan membawa beberapa kantong belanjaan bulanan seperti sabun, shampo, deterjen dan benda-benda keperluan yang diperlukan selama satu bulan ke depan.
Riana berjalan pelan ke arah pintu agar tidak terlihat mencurigakan, diambilnya salah satu kantong belanjaan berisi peralatan mandi ke arah dapur dan meletakkannya sembarang di dekat wetafel. Kemudian kembali ke arah pintu dan melakukan hal yang sama sementara ayah dan ibunya menurunkan beberapa kantong belanjaan persediaan makanan dari dalam mobil.
"Adek mau es krim? Ini Ibu beliin es krim cokelat kesukaanmu nih." Ibu mengeluarkan sekotak es krim yang tidak pernah mampu ditolak oleh Riana. Kedua bola mata remaja tanggung tersebut membulat.
Mau, Bu. Remaja itu mengangguk kepada Ibu dan Ayahnya yang sudah duduk di dekat meja makan. Diambilnya sekotak es krim itu dan dibawanya pergi.
"Adek mau makan es krim di mana? Nggak di sini aja? Bareng Ayah sama Ibu?" tanya Ayah kepada putrinya yang baru saja masuk usia belasan.
Riana menggeleng lemah. Aku mau makan di dalam kamar saja, sekalian mau baca sesuatu.
Ayah menggangguk, paham akan kode tangan yang diberikan putri semata wayangnya itu. "Yaudah, nanti sampahnya diberesin yah."
***
Satu suapan es krim kembali masuk ke dalam mulut Riana saat dia duduk di atas kasurnya. Di hadapannya buku tua yang ditemukannya di gudang masih tergolek manis. Sejak tadi Riana berkali-kali menyendokkan es krim tanpa sekalipun membuka buku tersebut dan melihat halaman selanjutnya. Sejujurnya dia merasa takut, namun rasa penasarannya begitu kuat sehingga membuatnya tak sabar untuk membaca kalimat yang ada di halamannya selanjutnya.
Dipegangnya buku itu untuk kesekian kali. Lalu diletakkannya kembali di atas kasur. Berulang kali Riana lakukan itu. Hingga akhirnya tak ada lagi es krim yang bisa disuap ke dalam mulutnya, baru dibulatkan tekadnya untuk membuka halaman selanjutnya buku tersebut.
Apakah kamu takut gelap. Kalimat itu tertulis di halaman kelima. Tidak seperti dua kalimat sebelumnya, di halaman kelima ini posisi kalimatnya ada di pojok kanan buku, dan berwarna perak.
Riana mengerenyitkan dahinya. Dia menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan tadi. Seketika kamarnya menjadi gelap gulita. Nafasnya tercekat, jantungnya berdetak kencang, dan perasaan panik dengan cepat merambati dirinya. Diraih ponselnya yang berada tak jauh dari genggamannya. Cahaya dari layar ponselnya menjadi satu-satunya pelita yang dimilikinya. Dengan segera Riana berjalan ke arah pintu kamarnya, dan keluar.
Ibu berjalan dari ruang tengah ke arah Riana yang baru keluar dari dalam kamarnya. Ibu memegang sebuah lampu baterai di tangannya sebagai sumber cahaya. "Sepertinya lagi ada pemadaman listrik, Dek. Tadi Ayah cek keluar, dan tetangga yang lain juga pada mati lampu. Ayo adek duduk di ruang tengah aja sama Ayah dan Ibu," ucap Ibu yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Riana yang masih sibuk mengatur nafasnya.
Dalam diamnya Riana memikirkan buku tua tersebut, seketika bulu kuduknya kembali berdiri dan meremang. Riana yang memeluk lengan Ibu saat dituntun ke ruang tengah mempererat pelukannya.
"Adek kenapa? Nggak biasanya takut gelap," ujar Ibu yang tak mendapat tanggapan dari Riana.
Listrik baru hidup kembali satu jam kemudian. Riana kembali masuk ke dalam kamar dan matanya langsung tertuju pada buku yang masih terbuka di halaman kelima. Riana dengan segera ditutupnya buku tersebut dan memasukkannya ke dalam plastik lalu dimasukkan ke dalam tempat sampah.
Riana kemudian membawa tempat sampahnya ke luar rumah dan mengeluarkan isinya ke tempat sampah utama, agar besok pagi akan diambil oleh tukang sampah.
***
Riana terbangun dari tidurnya, saat Ibu membuka jendela kamarnya. Pagi sudah tiba, sinar matahari menyilaukan matanya dan memaksanya untuk bangkit dari tempat tidurnya. "Adek... bangun, mandi sekarang yah, biar nggak telat ke sekolahnya.
Dengan enggan Riana mengambil handuk yang tergantung di salah satu dinding kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melewati meja belajar.
Tubuh remaja tanggung itu bergetar saat melihat buku tua itu ada di atas meja belajarnya dengan kondisi terbuka di halaman kelima.
Riana menutup buku tersebut, lalu mengelus sampul buku yang warna hitamnya sudah agar pudar. Waktu sudah melunturkan kepekatan warna sampul buku tersebut. Riana tak tahu buku itu milik siapa, dan juga tak menanyakan kepada kedua orangtuanya siapa pemilik buku tersebut. Buku tersebut adalah hasil pencarian dari membongkar gudang barang-barang lama untuk mencari buku lama miliknya, namun yang ditemukan adalah buku tua dengan sampul berwarna hitam pudar dan kertas kecoklatan. Waktu menunjukkan dengan jelas umur buku tersebut lebih tua dari umur remaja tanggung yang menemukannya.
Riana memperhatikan dengan seksama buku tersebut, lalu kembali membuka buku itu. Apakah kamu takut akan darah? Riana kembali membaca sebuah kalimat yang ada di halaman ketiga buku tersebut. Hanya ada satu kalimat yang tadi dibaca, tidak ada yang lain. Kalimat tersebut berada di tengah halaman, terlihat sangat mencolok dengan warna merah yang begitu pekat.
Tidak, ucap Riana sedikit ragu. Seketika bulu roman di tengkuknya meremang. Dengan enggan dia menyentuh tulisan tersebut. Tubuhnya menegang kala menyadari bahwa tulisan di halaman kedua masih basah, seolah baru saja dituliskan. Didekatkan jemarinya yang digunakan untuk menyentuh kalimat ke hidungnya, dan mendapati bau anyir di sana.
Riana menelan ludahnya sendiri dan menutup kembali buku tua itu secara refleks, lalu menoleh ke arah kiri dan kanan bergantian. Tanpa dia sadari pundak dan punggungnya sudah basah, juga nafasnya yang agak memburu. Dia menoleh ke arah dinding di dekat ruang tengah dan melihat jam yang dipasang oleh Ayahnya, waktu sudah menunjukkan pukul empat namun kedua orangtuanya belum juga pulang. Padahal, sebelum pergi mereka mengatakan akan pulang sebelum pukul empat sore.
Riana menunggu di ruang tengah, menatap ke arah pintu namun sesekali mengarahkan pandangannya kembali ke arah buku tua tersebut, berulang-ulang. Darah mudanya yang penuh dengan gejolak rasa penasaran berkali-kali mendorongnya untuk membuka kembali buku tersebut dan melihat halamannya selanjutnya.
Dari sofa di ruang tengah remaja tersebut perlahan bangkit dan berjalan ke arah buku tua yang tadi ditinggalkannya di atas rak televisi. Degup jantungnya makin kencang seiring makin dekat tangannya untuk menyentuh buku tua tersebut.
"Adeeekkk..." Suara Ibu terdengar dari halaman depan. Kedua orangtuanya baru saja tiba. Riana berbalik ke arah pintu, buku tua tersebut disembunyikannya di bagian belakang bajunya, diselipkan di pinggang celananya. "Adek, tolong bantu Ibu, Dek," ucap Ibu yang terlihat kepayahan membawa beberapa kantong belanjaan bulanan seperti sabun, shampo, deterjen dan benda-benda keperluan yang diperlukan selama satu bulan ke depan.
Riana berjalan pelan ke arah pintu agar tidak terlihat mencurigakan, diambilnya salah satu kantong belanjaan berisi peralatan mandi ke arah dapur dan meletakkannya sembarang di dekat wetafel. Kemudian kembali ke arah pintu dan melakukan hal yang sama sementara ayah dan ibunya menurunkan beberapa kantong belanjaan persediaan makanan dari dalam mobil.
"Adek mau es krim? Ini Ibu beliin es krim cokelat kesukaanmu nih." Ibu mengeluarkan sekotak es krim yang tidak pernah mampu ditolak oleh Riana. Kedua bola mata remaja tanggung tersebut membulat.
Mau, Bu. Remaja itu mengangguk kepada Ibu dan Ayahnya yang sudah duduk di dekat meja makan. Diambilnya sekotak es krim itu dan dibawanya pergi.
"Adek mau makan es krim di mana? Nggak di sini aja? Bareng Ayah sama Ibu?" tanya Ayah kepada putrinya yang baru saja masuk usia belasan.
Riana menggeleng lemah. Aku mau makan di dalam kamar saja, sekalian mau baca sesuatu.
Ayah menggangguk, paham akan kode tangan yang diberikan putri semata wayangnya itu. "Yaudah, nanti sampahnya diberesin yah."
***
Satu suapan es krim kembali masuk ke dalam mulut Riana saat dia duduk di atas kasurnya. Di hadapannya buku tua yang ditemukannya di gudang masih tergolek manis. Sejak tadi Riana berkali-kali menyendokkan es krim tanpa sekalipun membuka buku tersebut dan melihat halaman selanjutnya. Sejujurnya dia merasa takut, namun rasa penasarannya begitu kuat sehingga membuatnya tak sabar untuk membaca kalimat yang ada di halamannya selanjutnya.
Dipegangnya buku itu untuk kesekian kali. Lalu diletakkannya kembali di atas kasur. Berulang kali Riana lakukan itu. Hingga akhirnya tak ada lagi es krim yang bisa disuap ke dalam mulutnya, baru dibulatkan tekadnya untuk membuka halaman selanjutnya buku tersebut.
Apakah kamu takut gelap. Kalimat itu tertulis di halaman kelima. Tidak seperti dua kalimat sebelumnya, di halaman kelima ini posisi kalimatnya ada di pojok kanan buku, dan berwarna perak.
Riana mengerenyitkan dahinya. Dia menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan tadi. Seketika kamarnya menjadi gelap gulita. Nafasnya tercekat, jantungnya berdetak kencang, dan perasaan panik dengan cepat merambati dirinya. Diraih ponselnya yang berada tak jauh dari genggamannya. Cahaya dari layar ponselnya menjadi satu-satunya pelita yang dimilikinya. Dengan segera Riana berjalan ke arah pintu kamarnya, dan keluar.
Ibu berjalan dari ruang tengah ke arah Riana yang baru keluar dari dalam kamarnya. Ibu memegang sebuah lampu baterai di tangannya sebagai sumber cahaya. "Sepertinya lagi ada pemadaman listrik, Dek. Tadi Ayah cek keluar, dan tetangga yang lain juga pada mati lampu. Ayo adek duduk di ruang tengah aja sama Ayah dan Ibu," ucap Ibu yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Riana yang masih sibuk mengatur nafasnya.
Dalam diamnya Riana memikirkan buku tua tersebut, seketika bulu kuduknya kembali berdiri dan meremang. Riana yang memeluk lengan Ibu saat dituntun ke ruang tengah mempererat pelukannya.
"Adek kenapa? Nggak biasanya takut gelap," ujar Ibu yang tak mendapat tanggapan dari Riana.
Listrik baru hidup kembali satu jam kemudian. Riana kembali masuk ke dalam kamar dan matanya langsung tertuju pada buku yang masih terbuka di halaman kelima. Riana dengan segera ditutupnya buku tersebut dan memasukkannya ke dalam plastik lalu dimasukkan ke dalam tempat sampah.
Riana kemudian membawa tempat sampahnya ke luar rumah dan mengeluarkan isinya ke tempat sampah utama, agar besok pagi akan diambil oleh tukang sampah.
***
Riana terbangun dari tidurnya, saat Ibu membuka jendela kamarnya. Pagi sudah tiba, sinar matahari menyilaukan matanya dan memaksanya untuk bangkit dari tempat tidurnya. "Adek... bangun, mandi sekarang yah, biar nggak telat ke sekolahnya.
Dengan enggan Riana mengambil handuk yang tergantung di salah satu dinding kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melewati meja belajar.
Tubuh remaja tanggung itu bergetar saat melihat buku tua itu ada di atas meja belajarnya dengan kondisi terbuka di halaman kelima.
Selasa, 29 April 2014
Perempuan Yang Menunggu Waktu
"Nanti kalau kita sudah sama-sama dewasa, janji yah kalau kita akan bertemu lagi di sini."
Aku masih mengingat kata-kata itu. Kata-kata yang diucapkan saat umurku masih jauh dari usia orang dewasa. Masih dengan jelas ingatanku mengingat kapan dan di mana aku mengatakan hal itu dahulu, ketika seragamku masih berwarna putih merah dan rambutku masing sering dikepang oleh ibuku.
"Dewasa? Kapan? Harus ada patokan umurnya dong. Kita nggak tahu kapan kita merasa dewasa." Kata-kata lelaki seumuranku itu masih basah dalam ingatanku. Lelaki itu umurnya hanya berbeda dua bulan dariku, tapi pola pikirnya seperti dua tahun lebih tua dariku.
"Bagaimana kalau kita sudah sama-sama berumur 20 tahun?"
"Kapan tanggalnya? Yang pasti dong, kan kita berumur 20 tahunnya nggak barengan."
"Setiap hari ini. Tanggal sekarang. 20 Juni. Gimana, Rey?"
"Baik."
"Janji yah, Rey?"
"Iya janji. Tapi kalau kita nggak ketemu lagi gimana?"
"Ya kita janjian lagi pas umur kita 30 tahun. Kalau nggak ketemu lagi, ya pas umur kita 40 tahun."
Waktu terus berjalan, umur menua, tapi kenangan seringkali tetap awet muda. Itulah yang aku rasakan. Janji itu terasa seperti baru kemarin aku ucapkan. Aku selalu merasa baru beberapa hari yang lalu aku dan Reyhan saling menautkan jari kelingking.
Hari ini adalah hari yang dijanjikan. Aku berjalan pelan menuju tempat yang dijanjikan; sebuah taman yang tak jauh dari sekolah dasarku dahulu, taman yang tak jauh dari komplek perumahanku.
Taman itu masih terlihat sama bagiku walau sebenarnya sudah terjadi banyak perubahan sejak aku mengucapkan janji remeh dengan Reyhan bertahun-tahun yang lalu. Kadang, ada hal-hal yang akan selalu terlihat sama secara subjektif, walau secara objektif hal tersebut sudah tak lagi sama.
Tak lama, sebuah mobil berhenti tak jauh dari taman, seorang lelaki keluar dari dalamnya. Reyhan. Dia tersenyum ke arahku. Senyumannya masih terlihat sama, baik hari ini maupun bertahun-tahun yang lalu. Tak lama, di belakangnya berjalan seorang anak laki-laki yang wajahnya tak jauh berbeda dengan lelaki yang berjalan di depannya. Lalu digandengnya tangan bocah itu oleh Reyhan.
"Hai, Resita. Sudah daritadi? Maaf terlambat."
"Baru sampai juga. Bagaimana kabarmu?" tanyaku kepada Reyhan. "Dan bagaimana kabar jagoan kecilmu?" aku melirik ke arah bocah yang berjalan di samping Reyhan.
Waktu berlaku, orang-orang dan keadaan berubah namun perasaan adalah hal yang menjadi pengecualian. Ini adalah pertemuan yang kedua. Ini adalah pertemuan pertamaku dengannya dan jagoannya. Di pertemuan pertama aku dikabari langsung olehnya bahwa dia akan berkeluarga. Dan sejak itu kami masih sering berkomunikasi. Reyhan menganggapku sebagai salah satu teman baiknya, namun aku tak menganggapnya seperti itu.
"Re, pernah kepikiran nggak. Kok lucu yah. Kita berteman, sering berkomunikasi, tapi tetap harus bertemu setiap 10 tahun sekali."
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Reyhan. Andai dia tahu aku selalu menunggu waktu 10 tahun itu.
*cerita ini terinspirasi dari salah satu gambar dalam komik detective conan ini:
Aku masih mengingat kata-kata itu. Kata-kata yang diucapkan saat umurku masih jauh dari usia orang dewasa. Masih dengan jelas ingatanku mengingat kapan dan di mana aku mengatakan hal itu dahulu, ketika seragamku masih berwarna putih merah dan rambutku masing sering dikepang oleh ibuku.
"Dewasa? Kapan? Harus ada patokan umurnya dong. Kita nggak tahu kapan kita merasa dewasa." Kata-kata lelaki seumuranku itu masih basah dalam ingatanku. Lelaki itu umurnya hanya berbeda dua bulan dariku, tapi pola pikirnya seperti dua tahun lebih tua dariku.
"Bagaimana kalau kita sudah sama-sama berumur 20 tahun?"
"Kapan tanggalnya? Yang pasti dong, kan kita berumur 20 tahunnya nggak barengan."
"Setiap hari ini. Tanggal sekarang. 20 Juni. Gimana, Rey?"
"Baik."
"Janji yah, Rey?"
"Iya janji. Tapi kalau kita nggak ketemu lagi gimana?"
"Ya kita janjian lagi pas umur kita 30 tahun. Kalau nggak ketemu lagi, ya pas umur kita 40 tahun."
Waktu terus berjalan, umur menua, tapi kenangan seringkali tetap awet muda. Itulah yang aku rasakan. Janji itu terasa seperti baru kemarin aku ucapkan. Aku selalu merasa baru beberapa hari yang lalu aku dan Reyhan saling menautkan jari kelingking.
Hari ini adalah hari yang dijanjikan. Aku berjalan pelan menuju tempat yang dijanjikan; sebuah taman yang tak jauh dari sekolah dasarku dahulu, taman yang tak jauh dari komplek perumahanku.
Taman itu masih terlihat sama bagiku walau sebenarnya sudah terjadi banyak perubahan sejak aku mengucapkan janji remeh dengan Reyhan bertahun-tahun yang lalu. Kadang, ada hal-hal yang akan selalu terlihat sama secara subjektif, walau secara objektif hal tersebut sudah tak lagi sama.
Tak lama, sebuah mobil berhenti tak jauh dari taman, seorang lelaki keluar dari dalamnya. Reyhan. Dia tersenyum ke arahku. Senyumannya masih terlihat sama, baik hari ini maupun bertahun-tahun yang lalu. Tak lama, di belakangnya berjalan seorang anak laki-laki yang wajahnya tak jauh berbeda dengan lelaki yang berjalan di depannya. Lalu digandengnya tangan bocah itu oleh Reyhan.
"Hai, Resita. Sudah daritadi? Maaf terlambat."
"Baru sampai juga. Bagaimana kabarmu?" tanyaku kepada Reyhan. "Dan bagaimana kabar jagoan kecilmu?" aku melirik ke arah bocah yang berjalan di samping Reyhan.
Waktu berlaku, orang-orang dan keadaan berubah namun perasaan adalah hal yang menjadi pengecualian. Ini adalah pertemuan yang kedua. Ini adalah pertemuan pertamaku dengannya dan jagoannya. Di pertemuan pertama aku dikabari langsung olehnya bahwa dia akan berkeluarga. Dan sejak itu kami masih sering berkomunikasi. Reyhan menganggapku sebagai salah satu teman baiknya, namun aku tak menganggapnya seperti itu.
"Re, pernah kepikiran nggak. Kok lucu yah. Kita berteman, sering berkomunikasi, tapi tetap harus bertemu setiap 10 tahun sekali."
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Reyhan. Andai dia tahu aku selalu menunggu waktu 10 tahun itu.
*cerita ini terinspirasi dari salah satu gambar dalam komik detective conan ini:
Langganan:
Postingan (Atom)


