Sabtu, 26 Maret 2016

Terkutuklah

Terkutuklah mereka yang mengaku cinta namun diam
Mereka yang memandang dari balik bayang
Mereka yang kalah sebelum berperang

Di kamar yang gelap, di sudut ruang yang dipenuhi oleh ketiadaan selain sunyi
Rasa takut mencekik leher-leher mereka
Lidah mereka kelu melafalkan bait kata: aku kangen
Gegap dan ragu mengaku sedang merindu

Terkutuklah mereka yang menuliskan puisi cinta dan membacakannya di altar, tanpa pernah ada kekasih di hadapannya
Mereka yang berdusta dan mengaku setia pada kesepian
Mereka yang jemarinya lincah namun mulutnya bungkam

Berlembar-lembar kesedihan mereka tuliskan
Surat-surat yang menanti dibaca namun menolak untuk dikirimkan
Barisan kata perihal rindu akan percakapan sederhana yang sudah lama tidak
Terkutuklah kamu yang sudah menjadikan aku seperti mereka!


Jakarta, 26 Maret 2016

Senin, 22 Februari 2016

#Prompt 104: Secangkir Kopi dan Airmata Peri

Kebebasan selalu layak untuk dirayakan. Maka selepas keluar penjara, yang diinginkan ialah mengunjungi kedai kopi ini. Kebahagiaan akan semakin lengkap bila dinikmati dengan secangkir kopi. Hanya di kedai kopi ini ia bisa menikmati kopi terbaik yang disajikan dengan cara yang paling baik.

Aroma kopi menguar di penjuru ruangan. Lelaki itu tersenyum seraya menghirup dalam-dalam. Setelah berbulan-bulan menghirup udara pengap penjara, aroma kopi adalah penyelamat baginya. Lelaki itu mengacungkan jemari memanggil pramusaji yang hilir mudik melintasi mejanya. “Berikan saya daftar menu,” ucapnya pelan.

Sebelumnya ia tidak pernah membutuhkan daftar menu saat mampir ke kedai kopi ini. Pesanannya selalu sama dari waktu ke waktu.

Setelah datar menu berada di genggamannya, ia melihat-lihat deretan nama minuman kopi yang hampir sama. Nyaris tidak berubah, kecuali satu hal. Menu favoritnya sudah dihapus sejak kali terakhir ia berada di kedai kopi ini berbulan-bulan yang lalu. Sebelum sebuah kejadian mengantarkannya ke dalam pengapnya hotel prodeo.

“Hai, apa kabar?” tanya seorang kakek tua bermata gelap menyapa lelaki itu. “Lama tidak jumpa, ke mana saja?”

Lelaki itu tersenyum saat melihat siapa yang menyapanya. “Liburan,” ucapnya singkat. Kakek tua itu tidak ada saat kejadian malam itu. Hal yang membuatnya mendapatkan sebuah tiket liburan ke sel tahanan.

“Tumben memesan menu yang berbeda?” tanya kakek tua itu. “Ada apa dengan secangkir kopi dengan tujuh tetes airmata peri kesukaanmu?”

“Peri sudah tidak ada,” ucapnyaa singkat.

“Ke mana?”


“Mati. Aku yang membunuhnya setengah tahun yang lalu.”

Senin, 25 Januari 2016

Pesta Fiksi #25Januari - Sepasang Jarum Jam

"Sepasang jarum jam adalah tangan kita yang saling berpelukan."

Aku mengingat dengan jelas saat bait itu kamu ucapkan. Suaramu yang terdengar serak dan kering itu masih menggema di daun telinga; berulang-ulang membisiki telinga saat aku memejamkan mata. Waktu telah melompati bilangan bulan,sejak terakhir kamu membacakan sepenggal bait puisi dari penyair yang kamu kagumi itu kepadaku-dan ingatanku masih segar tentang hal tersebut.

Mataku mengerjap. Di hadapanku ada pulahan pasang orang berkemeja bagus dan bergaun cantik yang berdiri sambil mengobrol atau makan. Sebagian lain dari mereka berjalan mengular menyalamiku seraya membisikkan kalimat 'selamat ya'. Lalu kemudian mereka berdiri berjejer di sampingku untuk foto bersama. Aku hanya bisa membalas dengan senyuman kepada orang-orang yang sebagian besar tidak kukenal siapa.

Pada saat seperti ini, entah kenapa aku kembali mengingatmu. Mataku terasa panas. Mengingatmu adalah caraku menertawakan takdir. Setelah sekian lama akhirnya aku harus mengakui kata-kata dalang gila itu yang berkata dalam bukunya yang kurang lebih berbunyi; "jatuh cinta adalah takdir, menikah itu pilihan."

Waktu terus berjalan, orang-orang berubah namun kenangan akan selalu kekal. Begitu ucapmu dulu. Bahkan jika nanti jalan kita berseberangan, aku masih akan tetap mengingatmu dengan baik. Timpalmu kembali saat itu.

Lalu tak lama setelah kamu mengatakan hal itu kepadaku, kamu pergi meninggalkanku. Tidak pernah mau menemuiku saat aku menghampiri rumahmu.

Kita seperti sepasang jarum jam yang membentang jarak paling jauh dan bertolak sisi.

"Sajak ini adalah caraku mengingatmu, sebuah cinta yang tak lazim." Lamunanku buyar. Kesadaranku tersentak saat mendengar bait ini dibacakan. Perhatianku segera tertuju pada bagian pojok ruangan. Ada lelaki asing yang membacakan puisi tersebut.

"Jatuh cinta, pelajaran terbaik untuk tabah sebelum dan sesudah sakit. Dalam cinta kehilangan hanya soal mengingat dan melupakan." Airmataku merembas membasahi pipi.

Tak lama lelaki itu datang menghampiriku, dan berbisik. "Selamat untuk pernikahannya."

"Kamu siapa?" tanyaku dengan nada tertahan.

Lelaki asing itu tersenyum. "Aku adiknya. Aku datang mewakili dia. Dia meminta maaf tidak bisa menjawab undangan darimu yang datang ke rumah," ucapnya pelan.

"Di mana dia sekarang?"

"Surga."


----------------------------------------------------------------------------------------------------------
* FF 310 kata tanpa judul

Sabtu, 24 Oktober 2015

Seorang Lelaki Pemberani

Kita adalah sepasang punggung yang dipisahkan jarak
Lengan-lengan yang meronta, meraung dan mencakar rindu;
Mengutuk kesendirian

Katamu, kita adalah sepasang hati yang kuat saat saling mendekap
Namun, bagaimana bisa kau menganggapku seperti itu?
Setelah waktu berlalu, di kota yang sama, nyaliku tak pernah berani menggerakkan kakiku untuk menemuimu

Kita adalah sepasang hati yang kalah oleh rindu dan kobar perasaan-perasaan itu padam oleh jarak.

Jika nanti kamu kembali menemukan lelaki pemberani yang lain, maka kabarkan kepadaku berita bahagiamu lewat secarik surat undangan yang kau tuliskan namaku dan partner.

Jumat, 18 September 2015

Jika Suatu Hari Nanti

Jika suatu nanti kita berpisah
Maka beritahu aku
Hari di mana kamu merasa bahagia.

Jika lengan kita tak lagi saling memeluk
Beri tahu aku suatu hari nanti
Sanggupkah dia membahagiakanmu

Jika kau sudah tak lagi bersamaku
Mari kita berjumpa kembali
Dan melihat, siapa yang lebih tabah menanggung duka.