Kamu adalah ketenangan yang tertampiaskan dari mangkuk jiwa. Aku membuang candu-candu kesunyian dari tiap gerak tubuhmu. Berada di dekatmu, hati tak mampu mengalahkan riuh yang mendera. Berdetak cepat, hingga sepi terusir jauh dari benakku.
Sejak pertama mengenalmu, aku tak pernah berhasil tenang. Mimik tubuhku mendustai pikiranku. Dia berontak akan perintah sistem logikaku yang menginginkan sikap yang normal. Tak pernah berhasil dan selalu gagal. Gesture tubuhku menjadi pecundang yang selalu kalah, tunduk dan tak memenangkan ketenangan dari dirimu. Sejak awal aku mengenalmu, debar selalu tersebar di sendi-sendi asmara. Bahkan hingga kini aku pun masih kalah oleh ketenanganmu.
"Ha... hai, Rin," ucapku kelu. Lidahku tak dapat bergetar sempurna. Tatapmu yang tenang-bahkan dapat dikategorikan dingin-menusuk ketenanganku.
"Hai Arya. Lagi jalan-jalan nih?" ucap Rina ringan. Namun aku tahu ada kemarahan yang bersembunyi di balik sapaan ringan tersebut. Sekilas mataku beradu pandang dengannya. Ada kilat yang membara disana. Sesekali dia mendelik ke sampingku, menatap wanita yang mendekap erat lenganku. Ah, memang, dihadapmu tak ada ketenangan di dalam debar jantungku.
Jika ingin menjadi penulis. Menulislah, sebab tidak ada yang akan bisa menjadi penulis tanpa pernah menulis apa pun.
Kamis, 12 Januari 2012
Rabu, 11 Januari 2012
"Halo, siapa namamu?"
Rio terduduk di atas kasurnya. Penyakit misterius yang mendera tubuhnya sejak kecil membuat pria ini lebih banyak menghabiskan waktu di atas tempat tidur di dalam kamarnya, terkadang membaca novel, menulis puisi atau bahkan menggambar sketsa wajah.
Di dalam kamarnya yang dipenuhi oleh tempelan kertas berisi puisi dan cerita-cerita pendek, serta beberapa lembar kanvas bersketsa wajah kedua orangtua, kakak dan adik-adiknya itu Rio terbaring. Matanya kosong menatap langit-langit kamar. "Aku bosan," ucapnya lirih.
*
Hari ini adalah hari ulang tahun Rio yang ke 24. Tak ada perayaan yang istimewa, hanya kedua orangtuanya dan saudara kandungnya saja yang mengucapkan selamat ulang tahunnya. Tidak ada yang lain, sebab memang Rio tidak memiliki teman sejak kecil. "Ma, aku ingin berjalan-jalan keluar, boleh?" Rio mengutarakan keinginannya yang sudah lama dipendam.
Mama tersenyum sedih. Teringat olehnya ucapan Dokter beberapa hari lalu, yang memvonis Rio tidak akan berumur panjang. "Iya, boleh , Sayang," ucap Mama menahan sedih.
Esoknya Rio pergi keluar kamar untuk pertama kalinya sejak setahun terakhir. Rio ditemani Roy -adik lelakinya- mengunjungi toko bingkai dan alat-alat lukis.
"Cari apa, Mas?" tanya Nina kepada Rio. Nina adalah pelayan di toko tersebut.
Ada debar yang muncul, senyum manis yang didapatkannya, membuat Rio sedikit salah tingkah. "Eh, ini, aku mau nyari kuas dan kanvas yang baru. Dan beberapa pensilnya juga," ucapnya cepat-cepat untuk menutupi kegugupannya.
"Yang ini aja, Mas. Kualitasnya bagus, dan harganya ga beda jauh." obrolan di antara dua muda mudi itu berlangsung cukup hangat. Tidak terasa, waktu sudah sore dan Rio harus segera pulang, agar kondisi tubuhnya tidak memburuk.
Esok harinya Rio kembali ke toko tersebut dengan alasan mencari cat air. Hari berikutnya pun lelaki itu kembali untuk mencari alat-alat lukis lainnya. Hal itu berlangsung selama seminggu.
Setelah lewat dari satu minggu Rio tidak pernah datang lagi ke toko tersebut. Nina itu merasa sesuatu yang beda. Ada rasa penasaran yang menyelinap di diri gadis itu. Tepat di hari ke 3 setelah tidak datangnya Rio, Nina melihat adik lelaki Rio melintas di depan toko.
"Hai, kamu. Tunggu sebentar."
"Aku?" tanya Roy.
"Iya, kamu. Kamu adiknya lelaki yg sering ke toko itu seminggu yang lalu, kan? Lalu kemana abangmu itu? Dia tidak pernah terlihat lagi."
Roy memandang Nina tersebut. "Nanti, sepulang kamu kerja. Kamu ikut aku."
*
Nina memandangi berpuluh-puluh kertas puisi dan sketsa wajah di dinding kamar. Dari sekian banyak sketsa wajah itu, beberapa diantaranya adalah sketsa wajahnya. "Ini kamar siapa?" tanya Nina kepada Roy dan Mama.
"Ini kamar Rio, lelaki yang kamu tanyakan kepada Roy," ucap Mama.
"Lalu?" Rona kebingungan menyelimuti diri Nina.
"Rio sudah meninggal. Dia menderita sakit misterius sejak kecil. Dia menitipkan ini untukmu."
Nina menerima kanvas yang ditutupi selimut dari tangan Mama. Ketika membukanya, airmata Nina tak dapat dibendung. Melesak secara otomatis dari sela irisnya. Ditangannya adalah lukisan wajahnya bersama sebuah kalimat ; "Halo, siapa namamu?"
Di dalam kamarnya yang dipenuhi oleh tempelan kertas berisi puisi dan cerita-cerita pendek, serta beberapa lembar kanvas bersketsa wajah kedua orangtua, kakak dan adik-adiknya itu Rio terbaring. Matanya kosong menatap langit-langit kamar. "Aku bosan," ucapnya lirih.
*
Hari ini adalah hari ulang tahun Rio yang ke 24. Tak ada perayaan yang istimewa, hanya kedua orangtuanya dan saudara kandungnya saja yang mengucapkan selamat ulang tahunnya. Tidak ada yang lain, sebab memang Rio tidak memiliki teman sejak kecil. "Ma, aku ingin berjalan-jalan keluar, boleh?" Rio mengutarakan keinginannya yang sudah lama dipendam.
Mama tersenyum sedih. Teringat olehnya ucapan Dokter beberapa hari lalu, yang memvonis Rio tidak akan berumur panjang. "Iya, boleh , Sayang," ucap Mama menahan sedih.
Esoknya Rio pergi keluar kamar untuk pertama kalinya sejak setahun terakhir. Rio ditemani Roy -adik lelakinya- mengunjungi toko bingkai dan alat-alat lukis.
"Cari apa, Mas?" tanya Nina kepada Rio. Nina adalah pelayan di toko tersebut.
Ada debar yang muncul, senyum manis yang didapatkannya, membuat Rio sedikit salah tingkah. "Eh, ini, aku mau nyari kuas dan kanvas yang baru. Dan beberapa pensilnya juga," ucapnya cepat-cepat untuk menutupi kegugupannya.
"Yang ini aja, Mas. Kualitasnya bagus, dan harganya ga beda jauh." obrolan di antara dua muda mudi itu berlangsung cukup hangat. Tidak terasa, waktu sudah sore dan Rio harus segera pulang, agar kondisi tubuhnya tidak memburuk.
Esok harinya Rio kembali ke toko tersebut dengan alasan mencari cat air. Hari berikutnya pun lelaki itu kembali untuk mencari alat-alat lukis lainnya. Hal itu berlangsung selama seminggu.
Setelah lewat dari satu minggu Rio tidak pernah datang lagi ke toko tersebut. Nina itu merasa sesuatu yang beda. Ada rasa penasaran yang menyelinap di diri gadis itu. Tepat di hari ke 3 setelah tidak datangnya Rio, Nina melihat adik lelaki Rio melintas di depan toko.
"Hai, kamu. Tunggu sebentar."
"Aku?" tanya Roy.
"Iya, kamu. Kamu adiknya lelaki yg sering ke toko itu seminggu yang lalu, kan? Lalu kemana abangmu itu? Dia tidak pernah terlihat lagi."
Roy memandang Nina tersebut. "Nanti, sepulang kamu kerja. Kamu ikut aku."
*
Nina memandangi berpuluh-puluh kertas puisi dan sketsa wajah di dinding kamar. Dari sekian banyak sketsa wajah itu, beberapa diantaranya adalah sketsa wajahnya. "Ini kamar siapa?" tanya Nina kepada Roy dan Mama.
"Ini kamar Rio, lelaki yang kamu tanyakan kepada Roy," ucap Mama.
"Lalu?" Rona kebingungan menyelimuti diri Nina.
"Rio sudah meninggal. Dia menderita sakit misterius sejak kecil. Dia menitipkan ini untukmu."
Nina menerima kanvas yang ditutupi selimut dari tangan Mama. Ketika membukanya, airmata Nina tak dapat dibendung. Melesak secara otomatis dari sela irisnya. Ditangannya adalah lukisan wajahnya bersama sebuah kalimat ; "Halo, siapa namamu?"
Selasa, 10 Januari 2012
Dan Hujan Pun Datang
Musim penghujan tiba. Tiada hari tanpa mendung yg menyelimuti langit kota ini. Wajah-wajah khawatir terkena tetesan air hujan menyelimuti sebagian besar orang-orang.
Di salah satu sudut kamar, seorang gadis terduduk memandangi langit yang sudah mulai menggelap. Perlahan hawa dingin hadir melalui sela-sela kusen jendela. Ditangannya tergenggam telepon selulernya.
Bermenit-menit gadis itu memandang ke arah luar jendela, sesekali menatap alat telekomunikasinya yg sepi. Wajahnya yang murung seolah menyiratkan dirinya menunggu sesuatu, entah menunggu hujan atau menunggu ponselnya bergetar.
"Kamu kemana, Sayang?" ucap Keisha bermonolog kepada ponselnya. "Kenapa nggak ada kabar sama sekali seharian ini?" Keisha bertanya-tanya sendiri. Sudah seharian ini kekasihnya yang baru pulang dari tugas di luar kota, tidak memberi kabar kepadanya.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Semesta seperti menjawab harapan gadis itu. Ponselnya bergetar, ada nama kekasihnya di layar panggilan masuk. Kekhawatiran yang ditanggungnya sedikit terurai.
"Hallo, Sayang?" ucap Keisha saat menjawab panggilan masuk di ponsel miliknya. Mimik suaranya terdengar ceria lebih ceria. Mendung di wajahnya sedikit berkurang saat mendapat panggilan masuk dari kekasihnya.
"Selamat siang, Bu" ucap seseorang menjawab sapaan Keisha.
"Ha.. Halo, selamat siang? Ini siapa ya?" Keceriaan suara Keisha mendadak luntur saat menyadari itu bukan suara kekasihnya.
"Selamat siang, Ibu. Saya ingin mengabarkan pemilik nomor ini mengalami kecelakaan, dan sudah meninggal. Saat ini jasadnya sedang di bawa ke rumah sakit terdekat di daerah Jakarta Selatan."
Informasi yang diucapkan oleh orang asing itu tidak terdengar jelas. Bercampur suara hujan yang menderu. Namun telinga Keisha masih cukup jelas menangkap inti pesan yg disampaikan ; Raka, kekasihnya, meninggal karena kecelakaan. Seketika itu juga hujan jatuh dengan deras dari pelupuk mata Keisha. Meninggalkan sesak yang menhujam hati dan perasaan.
Di salah satu sudut kamar, seorang gadis terduduk memandangi langit yang sudah mulai menggelap. Perlahan hawa dingin hadir melalui sela-sela kusen jendela. Ditangannya tergenggam telepon selulernya.
Bermenit-menit gadis itu memandang ke arah luar jendela, sesekali menatap alat telekomunikasinya yg sepi. Wajahnya yang murung seolah menyiratkan dirinya menunggu sesuatu, entah menunggu hujan atau menunggu ponselnya bergetar.
"Kamu kemana, Sayang?" ucap Keisha bermonolog kepada ponselnya. "Kenapa nggak ada kabar sama sekali seharian ini?" Keisha bertanya-tanya sendiri. Sudah seharian ini kekasihnya yang baru pulang dari tugas di luar kota, tidak memberi kabar kepadanya.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Semesta seperti menjawab harapan gadis itu. Ponselnya bergetar, ada nama kekasihnya di layar panggilan masuk. Kekhawatiran yang ditanggungnya sedikit terurai.
"Hallo, Sayang?" ucap Keisha saat menjawab panggilan masuk di ponsel miliknya. Mimik suaranya terdengar ceria lebih ceria. Mendung di wajahnya sedikit berkurang saat mendapat panggilan masuk dari kekasihnya.
"Selamat siang, Bu" ucap seseorang menjawab sapaan Keisha.
"Ha.. Halo, selamat siang? Ini siapa ya?" Keceriaan suara Keisha mendadak luntur saat menyadari itu bukan suara kekasihnya.
"Selamat siang, Ibu. Saya ingin mengabarkan pemilik nomor ini mengalami kecelakaan, dan sudah meninggal. Saat ini jasadnya sedang di bawa ke rumah sakit terdekat di daerah Jakarta Selatan."
Informasi yang diucapkan oleh orang asing itu tidak terdengar jelas. Bercampur suara hujan yang menderu. Namun telinga Keisha masih cukup jelas menangkap inti pesan yg disampaikan ; Raka, kekasihnya, meninggal karena kecelakaan. Seketika itu juga hujan jatuh dengan deras dari pelupuk mata Keisha. Meninggalkan sesak yang menhujam hati dan perasaan.
Jumat, 06 Januari 2012
Aku dan Kamu Tidaklah Sama Dengan Kita
Aku dan kamu, adalah sepasang rindu yang tak sinkron. Aku merindukanmu dan kamu merindukannya. Dunia yang aku dan kamu tatap tidaklah sama, sebab kita melihatnya dengan pandangan yang berbeda.
Aku dan kamu, adalah cinta yang terabaikan. Tak dipandang sebab besarnya egoisme dan pengharapan. Terlalu jauh memandang dan lupa akan bumi yang dipijak.
Aku dan kamu, seperti tidak akan pernah menjadi kita. Mata masih tertutup dengan gelapnya cinta yang tak terbalaskan. Sebut saja aku bodoh, yang mencintamu dengan tepukan yang tak terbalas. Begitu juga denganmu. Mungkin saja, aku dan kamu pernah menyebut kita. Dalam keputus-asaan, kita adalah hati-hati yang tergadaikan oleh luka dan derita yang menyenangkan.
Aku dan kamu, adalah cinta yang terabaikan. Tak dipandang sebab besarnya egoisme dan pengharapan. Terlalu jauh memandang dan lupa akan bumi yang dipijak.
Aku dan kamu, seperti tidak akan pernah menjadi kita. Mata masih tertutup dengan gelapnya cinta yang tak terbalaskan. Sebut saja aku bodoh, yang mencintamu dengan tepukan yang tak terbalas. Begitu juga denganmu. Mungkin saja, aku dan kamu pernah menyebut kita. Dalam keputus-asaan, kita adalah hati-hati yang tergadaikan oleh luka dan derita yang menyenangkan.
Senin, 02 Januari 2012
Bayangan
Pandanganku semaput, kukerjapkan mataku yang masih berkunang-kunang. Sisa alkohol semalam masih menggelayuti kesadaranku. Kusibakkan selimut yang menutupi tubuhku yang nyaris tak berbusana, berjalan pelan menuju meja kecil yang ada di sudut ruangan dan meraih sebuah gelas berisi air yang tersedia disana.
“Kamu sudah bangun, Sayang?” ucapmu pelan saat aku duduk di pinggir ranjang. Perempuan itu menggelayutkan lengannya dipundakku dan menyenderkan dadanya ke punggungku. “Kamu hebat sekali, Sayang.” Suara lembut berbisik manja kau ucapkan dibelakang telingaku. “Bagaimana kalau kita lanjutkan lagi sebelum kita pergi?” Matamu mengerling nakal ke arahku, kau mainkan telunjukmu ke arahku dan memberi tanda kepadaku, untuk kembali memulai permainan yang panas semalam.
Aku hanya menghembus nafas pelan, seraya menengguk kembali air mineral hingga tandas. Kulirik dirimu tanpa gairah. Bukan karena dirimu yang tidak menarik, lelaki normal mana yang tidak bergairah saat melihatmu saat ini, dengan tinggi badan semampai dan tubuh ideal serta kulit berwarna kuning langsat yang menyelimuti tubuhmu. Memiliki wajah oriental dengan bibir merah merekah yang menghiasi, kamu bisa membuat setiap lelaki termasuk aku–seharusnya–berdecak nafsu saat melihatmu yang saat ini nyaris topless.
“Ada apa?” tanyamu kepadaku yang hanya bisa kujawab dengan gelengan lemah. Tiba-tiba dengan cepat kau mengangkat wajahku. “Bukankah semalam kau menikmatinya, Sayang? Lalu kenapa sekarang kau seolah tidak bergairah?”
Kupandangi matamu, kutemui sepasang bola mata yang dihiasi oleh bulu mata lentik. Bening matamu masih sama seperti dulu, bertahun yang lalu. Romansa masa lalu yang masih tertinggal dihatiku. Ya, aku menikmatinya dibawah pengaruh minuman, ucapku lirih di dalam hati. Kamu kecup dengan cepat bibirku, mencoba membangkitkan naluri kelaki-lakianku. Seketika itu juga aku berdiri, sedikit gontai, sepertinya aku terlalu mabuk semalam. Saat itu juga kamu ikut berdiri. Tanganmu dengan lancang mengusap bagian belakang kepalaku dan kembali mencari bibirku. Dan sekali lagi kita berpagutan, nafsumu yang sangat tinggi kepadaku membuatmu melakukan hal-hal yang seharusnya kaumku–lelaki–lakukan. Dengan sendirinya lidahmu menari-nari, dan kamu kalungkan lenganmu di bagian belakang kepalaku. French kiss adalah teknik berciuman yang paling seksi, ucapmu kepadaku saat pertama kali kita melakukannya.
Dengan terpaksa aku mengikuti maumu, tanpa nafsu, tanpa cinta dan tanpa gairah yang membara–seperti dulu. Bunga-bunga cinta yang pernah tumbuh dan mekar dulu, kini telah layu dan mati terlindas oleh waktu. Telah kering saripatinya seiring tak ada lagi komunikasi yang mengairinya dan tak lagi kudapatkan sorot teduh matamu yang menghangatkan jiwaku.
Sebuah pesan masuk di ponselku menghentikan kegilaanmu. Kujauhkan sesaat dirimu sebatas lenganku. Dengan cepat kugapai ponselku yang tergeletak di atas meja kecil.
Nanti siang kita ke butik yah, orang butiknya tadi telepon aku. Mereka bilang gaun pengantinku sudah selesai.
Aku tertegun sesaat, kesadaranku ditampar oleh kerasnya kenyataan. Menyadarkan kebodohanku yang sempat tenggelam dalam bayangan masa lalu. Sebuah pesan pendek dari calon istriku meyakinkanku bahwa romansa masa lalu hanyalah mawar yang penuh dengan duri tajam. Hanya luka yang terjejak saat berusaha kembali menggenggamnya.
“Aku harus pergi,” ucapku tegas. Entah kepada perempuan yang ada dihadapanku ini atau kepada hatiku sendiri. Kulihat matanya kembali sayu. Ada kekecewaaan yang hadir dan tumbuh disana.
“Siapa yang mengirimu pesan tadi? Pacarmu? Aku pikir kamu masih tetap sendiri menungguku,” ucapnya lirik.
Aku menghela nafas panjang, seperti ada sesak yang harus kubuang agar diriku mampu bernafas normal. “Bukan, bukan pacarku.”
Sesaat matanya kembali berbinar, ada senyum yang kembali merekah disana. “Jadi? Kamu masih tetap sendi–”
“Tapi tunanganku, calon istriku. Namanya Rani, dan minggu depan kami akan menikah,” ucapku memotong ucapannya. Sekali lagi senyum diwajahnya memudar. Perempuan itu mematung, kini aku yakin, rasa kecewa sudah menjalari setiap sel di dalam bagian tubuhnya. Aku tahu hal itu dan aku–pernah–merasakannya.
“I... Istri, Ram? Calon istrimu?” Terasa kesedihan dalam beberapa kata yang terucap. Selaksa badai sesaat yang menghancurkan sedikit harap yang masih tersisa. Semua hilang. Semua berakhir dan tak akan pernah ada cerita lain yang memungkinkannya untuk tumbuh lagi.
“Ya, calon istriku. Dan sebenarnya apa yang kita lakukan semalam bukan keinginanku. Just for fun, you know? Always as before. Yeah, before you left me for other man.” Kutatap dingin matanya yang membelalak ke arahku.
“Rama...”
Aku hanya diam seraya mengambil pakaianku yang tercecar di sekitar kamar. Dalam hening kudengarkan tangisnya. Pedih. Aku tahu akan hal itu. Aku lebih dulu merasakan bagaimana rasanya mengetahui orang yang diinginkan namun ternyata akan pergi menikah dengan orang lain. “Aku pergi,” ucapku seraya melangkah ke arah pintu kamar.
“Ram. Rama..., kenapa kamu tidak memberitahuku? Aku pikir... aku pikir kita bisa bersama seperti dulu.” Suaranya serak menahan kesedihan yang menghinggapi dirinya saat ini.
Langkahku terhenti dibelakang pintu. Tanganku terpaku tidak memutar kenop. “Tidak akan ada yang tersisa dari masa lalu. Begitu pun dengan dirimu. Aku pun menyadarinya sejak pertama bertemu denganmu kembali, sore itu. Sebelum cinta yang kita buat semalam, cinta yang hanya dilandasi oleh nafsu, bukan lagi cinta.” Aku membalikkan badanku, kutatapkan mataku ke arahnya. “Masa lalu hanya menjadi bayangan dari kenyataan yang berjalan saat ini, dan kamu adalah salah satunya. Hanya indah saat kunikmati saat aku melepaskan diri dari kenyataan, dan berkelana dalam kenangan. Namun kenangan hanya tetap jadi kenangan, harapan akan tetap menjadi harapan, ketika aku sadar tidak akan pernah dapat menyeret bayangan menjadi sesuatu yang nyata dan dapat kurengkuh dengan tanganku ini.”
“Are you happy?” Sepatah kalimatnya kembali membuatku menghentikan gerakanku untuk keluar dari kamar hotel ini.
“Iya, aku bahagia dengan apa yang sudah kumiliki saat ini, Mona. Tidak akan kubiarkan kebahagian ini hilang lagi dari dekapanku.” Kuucapkan kembali namanya. Untuk terakhir kalinya. Ya, untuk terakhir kalinya akan kuucapkan nama itu sebelum benar-benar menguburnya dalam kotak pandora yang takkan pernah kubuka lagi.
“Kamu sudah bangun, Sayang?” ucapmu pelan saat aku duduk di pinggir ranjang. Perempuan itu menggelayutkan lengannya dipundakku dan menyenderkan dadanya ke punggungku. “Kamu hebat sekali, Sayang.” Suara lembut berbisik manja kau ucapkan dibelakang telingaku. “Bagaimana kalau kita lanjutkan lagi sebelum kita pergi?” Matamu mengerling nakal ke arahku, kau mainkan telunjukmu ke arahku dan memberi tanda kepadaku, untuk kembali memulai permainan yang panas semalam.
Aku hanya menghembus nafas pelan, seraya menengguk kembali air mineral hingga tandas. Kulirik dirimu tanpa gairah. Bukan karena dirimu yang tidak menarik, lelaki normal mana yang tidak bergairah saat melihatmu saat ini, dengan tinggi badan semampai dan tubuh ideal serta kulit berwarna kuning langsat yang menyelimuti tubuhmu. Memiliki wajah oriental dengan bibir merah merekah yang menghiasi, kamu bisa membuat setiap lelaki termasuk aku–seharusnya–berdecak nafsu saat melihatmu yang saat ini nyaris topless.
“Ada apa?” tanyamu kepadaku yang hanya bisa kujawab dengan gelengan lemah. Tiba-tiba dengan cepat kau mengangkat wajahku. “Bukankah semalam kau menikmatinya, Sayang? Lalu kenapa sekarang kau seolah tidak bergairah?”
Kupandangi matamu, kutemui sepasang bola mata yang dihiasi oleh bulu mata lentik. Bening matamu masih sama seperti dulu, bertahun yang lalu. Romansa masa lalu yang masih tertinggal dihatiku. Ya, aku menikmatinya dibawah pengaruh minuman, ucapku lirih di dalam hati. Kamu kecup dengan cepat bibirku, mencoba membangkitkan naluri kelaki-lakianku. Seketika itu juga aku berdiri, sedikit gontai, sepertinya aku terlalu mabuk semalam. Saat itu juga kamu ikut berdiri. Tanganmu dengan lancang mengusap bagian belakang kepalaku dan kembali mencari bibirku. Dan sekali lagi kita berpagutan, nafsumu yang sangat tinggi kepadaku membuatmu melakukan hal-hal yang seharusnya kaumku–lelaki–lakukan. Dengan sendirinya lidahmu menari-nari, dan kamu kalungkan lenganmu di bagian belakang kepalaku. French kiss adalah teknik berciuman yang paling seksi, ucapmu kepadaku saat pertama kali kita melakukannya.
Dengan terpaksa aku mengikuti maumu, tanpa nafsu, tanpa cinta dan tanpa gairah yang membara–seperti dulu. Bunga-bunga cinta yang pernah tumbuh dan mekar dulu, kini telah layu dan mati terlindas oleh waktu. Telah kering saripatinya seiring tak ada lagi komunikasi yang mengairinya dan tak lagi kudapatkan sorot teduh matamu yang menghangatkan jiwaku.
Sebuah pesan masuk di ponselku menghentikan kegilaanmu. Kujauhkan sesaat dirimu sebatas lenganku. Dengan cepat kugapai ponselku yang tergeletak di atas meja kecil.
Nanti siang kita ke butik yah, orang butiknya tadi telepon aku. Mereka bilang gaun pengantinku sudah selesai.
Aku tertegun sesaat, kesadaranku ditampar oleh kerasnya kenyataan. Menyadarkan kebodohanku yang sempat tenggelam dalam bayangan masa lalu. Sebuah pesan pendek dari calon istriku meyakinkanku bahwa romansa masa lalu hanyalah mawar yang penuh dengan duri tajam. Hanya luka yang terjejak saat berusaha kembali menggenggamnya.
“Aku harus pergi,” ucapku tegas. Entah kepada perempuan yang ada dihadapanku ini atau kepada hatiku sendiri. Kulihat matanya kembali sayu. Ada kekecewaaan yang hadir dan tumbuh disana.
“Siapa yang mengirimu pesan tadi? Pacarmu? Aku pikir kamu masih tetap sendiri menungguku,” ucapnya lirik.
Aku menghela nafas panjang, seperti ada sesak yang harus kubuang agar diriku mampu bernafas normal. “Bukan, bukan pacarku.”
Sesaat matanya kembali berbinar, ada senyum yang kembali merekah disana. “Jadi? Kamu masih tetap sendi–”
“Tapi tunanganku, calon istriku. Namanya Rani, dan minggu depan kami akan menikah,” ucapku memotong ucapannya. Sekali lagi senyum diwajahnya memudar. Perempuan itu mematung, kini aku yakin, rasa kecewa sudah menjalari setiap sel di dalam bagian tubuhnya. Aku tahu hal itu dan aku–pernah–merasakannya.
“I... Istri, Ram? Calon istrimu?” Terasa kesedihan dalam beberapa kata yang terucap. Selaksa badai sesaat yang menghancurkan sedikit harap yang masih tersisa. Semua hilang. Semua berakhir dan tak akan pernah ada cerita lain yang memungkinkannya untuk tumbuh lagi.
“Ya, calon istriku. Dan sebenarnya apa yang kita lakukan semalam bukan keinginanku. Just for fun, you know? Always as before. Yeah, before you left me for other man.” Kutatap dingin matanya yang membelalak ke arahku.
“Rama...”
Aku hanya diam seraya mengambil pakaianku yang tercecar di sekitar kamar. Dalam hening kudengarkan tangisnya. Pedih. Aku tahu akan hal itu. Aku lebih dulu merasakan bagaimana rasanya mengetahui orang yang diinginkan namun ternyata akan pergi menikah dengan orang lain. “Aku pergi,” ucapku seraya melangkah ke arah pintu kamar.
“Ram. Rama..., kenapa kamu tidak memberitahuku? Aku pikir... aku pikir kita bisa bersama seperti dulu.” Suaranya serak menahan kesedihan yang menghinggapi dirinya saat ini.
Langkahku terhenti dibelakang pintu. Tanganku terpaku tidak memutar kenop. “Tidak akan ada yang tersisa dari masa lalu. Begitu pun dengan dirimu. Aku pun menyadarinya sejak pertama bertemu denganmu kembali, sore itu. Sebelum cinta yang kita buat semalam, cinta yang hanya dilandasi oleh nafsu, bukan lagi cinta.” Aku membalikkan badanku, kutatapkan mataku ke arahnya. “Masa lalu hanya menjadi bayangan dari kenyataan yang berjalan saat ini, dan kamu adalah salah satunya. Hanya indah saat kunikmati saat aku melepaskan diri dari kenyataan, dan berkelana dalam kenangan. Namun kenangan hanya tetap jadi kenangan, harapan akan tetap menjadi harapan, ketika aku sadar tidak akan pernah dapat menyeret bayangan menjadi sesuatu yang nyata dan dapat kurengkuh dengan tanganku ini.”
“Are you happy?” Sepatah kalimatnya kembali membuatku menghentikan gerakanku untuk keluar dari kamar hotel ini.
“Iya, aku bahagia dengan apa yang sudah kumiliki saat ini, Mona. Tidak akan kubiarkan kebahagian ini hilang lagi dari dekapanku.” Kuucapkan kembali namanya. Untuk terakhir kalinya. Ya, untuk terakhir kalinya akan kuucapkan nama itu sebelum benar-benar menguburnya dalam kotak pandora yang takkan pernah kubuka lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)