Rabu, 02 Januari 2013

Stranger


Sebab kita tak tahu,apa yang akan ditawarkan saat kita memulai pagi. Bisa keceriaan, tak jarang kekecewaan.
Segelas teh hangat dan setangkup roti dilapisi selai kacang selalu menjadi pengawal pagi yang menyenangkan. Terpaan mentari yang hangat ditambah kicauan burung pipit di halaman kosan menambah semangat untuk memulai aktifitas pagi ini. Pagi ini suasana terasa sangat ceria dan menyenangkan bagiku. Apakah merupakan pertanda akan terjadi hal yang menyenangkan di hari ini? Semoga saja memang seperti itu.
Dering panggilan telepon berbunyi. "Hallo, Di? Oh iya jadi kok, sore nanti kita jadi ke bookfair. Ketemu di kampus, gedung A yah. Depan perpustakaan aja seperti biasa. Oke," ucapku terakhir seraya menutup telepon masuk dari Diara
Hampir saja aku lupa telah berjanji menemani Diara pergi ke Jakarta Bookfair nanti sore. Untung saja dia mengingatkanku yang pelupa ini. Segera kutandaskan sarapanku dan berangkat menuju kampus. "Semoga hari ini berjalan menyenangkan, Tuhan," ucapku berdoa sebelum keluar dari dalam kamar kosan.
"Rama, paper gimana?" tanya Rudi saat aku baru akan memasuki gedung fakultas. Teman sekelompokku di mata kuliah perpajakan itu langsung memberondongku dengan pertanyaan mengenai perkembangan paper yang sedang dikerjakan bersama.
"Wah iya yah. Waduh maaf, Rud. Beberapa hari terakhir ini gua banyak kerjaan lain, dan gua juga lupa kalau bagian paper gua belum selesai," ucapku seraya menepuk dahi. Penyakit lupa yang kuderita seperti semakin menjadi-jadi.
Kulihat ekspresi wajah Rudi yang terlihat kecewa. "Yah gimana dah lo, kan udah gue sms kalo kita mau selesain semuanya hari ini, biar besok tinggal print."
"Waduh maaf banget. Gua beneran lupa," ucapku pada Rudi yang memasang ekspresi kecewa, "gini deh Rud. Hari ini gua kerjain materinya, nanti malem gua kirim lewat gmail. Gimana?" ujarku menawarkan solusi.
"Jam berapa lo mau kirim? Oke gue tungguin. Jangan sampai nggak dikirim ya," ujar Rudi dengan nada mengingatkan.
Aku mengangguk seraya mengacungkan jempol pada Rudi. "Yaudah gua duluan ya, ada jam kuliah nih."
"Oke. Gue baru ada kuliah jam kedua nanti," ucap Rudi sebelum kita berpisah di persimpangan gedung A dan kantin. Aku masuk ke dalam gedung A dan Rudi belok ke kantin.
***
Sebuah pertemuan selalu diawali dengan ketidaksengajaan.
Langit terlihat berawan gelap. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun, sementara aku dan Diara baru saja akan berangkat ke Bookfair di Senayan.
"Yah, mau hujan nih Di. Gimana?"
"Lanjut aja, Ram. Hari terakhir nih. Banyak novel-novel yang mau gue beli. Mumpung lagi diskon banyak," ucap Diana yang membujukku agar tetap mau menemani dan mengantarnya ke Bookfair.
"Yaudah, kita jalan sekarang. Jangan protes kalau gua ngebut yah, biar nggak kehujanan." Terlihat Diana mengangguk, walau wajahnta sedikit ditekuk saat aku bilang akan membawa motor dengan kecepatan tinggi. Sahabat dekatku itu termasuk golongan orang yang takut naik kendaraan dengab kecepatan tinggi.
Setengah jam kemudian kami sampai di bookfair. Untung, hujan turun saat kami sudah berada di dalam gedung Istora. "Untung aku ngebut. Kalau nggak, udah keujanan kita," ucapku kepada Diana.
"Tapi kamu bawa motornya jangan kenceng-kenceng kayak gitu. Serem tau," kata Diana seraya menyubit perutku.
Istora sore ini ramai pengunjung. Dari penglihatanku, hampir setiap booth dipenuhi oleh para pengunjung bookfair. Aku dan Diana berjalan mengelilingi dan mengunjungi semua booth penerbit dan distributor buku yang ambil bagian dalam bookfair kali ini.
"Rama, kita kesana dulu yuk. Lagi banyak novel yang baru rilis." Aku ditarik menuju stand salah satu penerbit novel romance. Diana melihat-lihat novel-novel yang baru diterbitkan dan menanyakannya padaku mengenai bagus atau tidaknya isi novel tersebut. Beberapa novel yang ditunjuk oleh Diana, ada yang sudah pernah aku baca.
Selesai memborong beberapa novel, Diana kembali menarikku untuk mengikuti langkahnya. Saat Diana sibuk melihat-lihat koleksi novel di sebuah booth distributor buku, aku memilih masuk ke dalam booth toko buku bekas. “Kamu liat-liat aja dulu, aku mau kesana,” ucapku kepada Diana hanya menjawab dengan anggukan.
Di dalam booth toko buku bekas aku melihat-lihat beberapa koleksi novel dan puisi sastra yang sudah sulit dicari. “Mas, ada koleksi novel-novelnya Seno Gumira Ajidarma? Atau novel-novelnya Remy Sylado?” tanyaku pada penjaga booth.
“Oh, ada di sana, Mas,” jawab penjaga ke arah rak buku di pojok ruangan.
“Oh, oke. Makasi,” ucapku seraya menuju rak buku yang ditunjukkan. Di sana berdiri seorang perempuan yang juga sedang melihat-lihat koleksi yang ada di rak novel dan puisi sastra. Kulihat, perempuan berambut hitam kecoklatan itu sudah menggenggam buku Dunia Sukab, Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma dan buku Parijs van Java karya Remy Sylado yang sedang kucari.
“Suka sama koleksi SGA dan Remy juga, Mbak?” ucapku mengajak bicara. Kini aku sudah berdiri bersisian dengan perempuan berambut hitam kecoklatan tersebut.
Perempuan itu menoleh ke arahku. “Iya, buat ngelengkapin koleksiku di rumah,” ucapnya. Kemudian dia kembali menekuri rak buku, mencari buku lainnya.
Aku pun mencari-cari buku lain yang belum kumiliki namun masih ada stoknya di dalam rak. Ternyata, dari beberapa koleksi novel dan puisi yang ada di rak ini hanya sebuah novel yang menarik perhatianku, yaitu buku puisi Mati Mati Mati karya Seno Gumira Ajidarma. Buku itu terselip dan tertutup oleh beberapa buku lainnya. Segera aku menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Saat di kasir, aku berdiri di belakang perempuan berambut coklat yang memborong  5 buku, dan 3 di antaranya adalah buku-buku yang kuinginkan. Andai saja aku datang ke tempat ini lebih cepat, pasti aku yang akan mendapatkannya, ucapku menyesal dalam hati.
“Satu ini aja, Mas?” tanya kasir kepadaku.
“Iya, Mbak, satu ini aja,” ucapku.
“Wah, ini buku puisi Mati Mati Mati karyanya SGA yah?” Tetiba dari belakangku terdengar pekik suara perempuan. Ternyata itu adalah suara perempuan berambut coklat tadi.
“I–Iya, Mbak,” ucapku dengan mimik wajah sedikit bingung, “memangnya kenapa yah?” tanyaku.
“Aku mau buku itu.”
“Eh?”
“Iya, aku mau buku itu. Buku itu sudah lama aku cari-cari, dan ternyata terlewat saat aku liat koleksi di rak tadi.”
“Maaf, Mas, antriannya penuh,” ucap petugas kasir kepadaku.
“Oh, oke, aku bayar ini dulu yah,” ucapku kepada perempuan berambut coklat itu dan menyerahkan uang pembayara kepada petugas kasir.
Setelah selesai melakukan pembayaran, aku segera berjalan ke pinggir untuk berbicara dengan perempuan berambut coklat tersebut. “Well, ada apa?” tanyaku.
“Buku puisi itu, aku udah nyari sejak lama. Boleh nggak kalau aku bayarin?” ucap perempuan itu kepadaku.
“Buku ini?” ucapku seraya menunjukkan buku puisi Mati Mati Mati. “Aku juga nyari-nyari buku ini dari lama. Beruntung banget bias nemuin buku ini disini.”
Please, dong. Aku bayarin yah. Mau yah?” bujuk perempuan itu kepadaku. Kupandangi paras wajah perempuan itu. Biasa saja, tidak cantik, dan tidak juga manis, tapi wajahnya yang oval perempuan itu terlihat sangat natural. Mimik wajahnya yang sedang membujukku terlihat seperti wajah anak-anak yang sangat menginginkan mainan kesukaannya.
Aku menimang-nimang buku puisi yang ada di tanganku. “Yaudah deh, ini bukunya,” ucapku seraya menyerahkan buku tersebut. “Ga usah dibayar, barter dengan salah satu dari buku yang sudah kamu beli aja. Gimana?” ujarku memberikan penawaran.
Perempuan itu merubah raut wajahnya, dalam kepalanya seperti sedang terjadi transaksi antara dirinya sendiri. “Oke, kamu mau yang mana?” tanya perempuan itu.
Aku tersenyum simpul. “Aku mau buku Negeri Senja.” Aku menyodorkan buku Mati Mati Mati kepada perempuan itu.
“Terima kasih–” ucapku menggantung seraya menyodorkan jabatan tangan kepada perempuan itu setelah kuterima buku Negeri Senja dari tangannya.
“Raisa,” ucap perempuan tersebut menerima jabatan tanganku. “Kamu?”
“Ah, oke, makasi Raisa. Aku Rama,” ucapku mengenalkan namaku. Kulihat, perempuan bernama Raisa itu tersenyum kecil. Sungguh menarik.
“Aku yang harusnya bilang terima kasih ke kamu. Makasi ya Rama.” Cara Raisa memanggil namaku membuat senyumku kembali mengembang, begitu khas di telingaku.
“Ram, udah selesai belanjanya?” ucap Diara yang tetiba berdiri di sampingku.
“Oh, udah kok udah. Lo sendiri udah selesai?”
“Nggak jadi, nggak ada yang bagus. Jadi gue nggak beli apa-apa di tempat tadi. Lanjut keliling nggak?”
“Oh oke,” ucapku, “oh iya, Di. Kenalin, ini Raisa. Berkat dia gua dapet buku ini,” ucapku memperkenalkan Raisa dan memperlihatkan buku Dunia Senja kepada Diara.
Kulihat Diara memperhatikan Raisa dari atas ke bawah. Seperti sedang menyelidikinya. “Raisa? Raisa yang penulis novel itu bukan?” tanya Diara kepada Raisa.
“Iya, salam kenal. Aku Raisa,” ucap Raisa ramah kepada Diara.
 “Kamu penulis novel?” ucapku kaget tak percaya saat mengetahui hal tersebut. “Ah maaf, aku nggak ngenalin kamu.”
“Nggak apa-apa. Kamu bukan pembaca novel romance kekinian, ‘kan? Wajar aja kalau kamu nggak tau,” ucap Raisa yang membuatku tidak enak kepada diriku sendiri. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Raisa seraya menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.
“Ngg, Raisa, kita duluan yah. Sukses buat novel kamu yang baru diterbitin minggu kemarin.”
Raisa mengembangkan senyumannya kembali seraya melambaikan tangan saat aku dan Diara mulai berkeliling lagi. Dari kejauhan kulihat Raisa berjalan ke arah seorang lelaki dan menggandeng tangannya. “Raisa itu udah punya pacar?” tanyaku pada Diara. Diara hanya mengganggukkan kepalanya tanpa bersuara. Dia asik mengupdate tweet di ponselnya.
***
Ketika waktu berjalan, kita tak pernah sadar, kemana arah langkah kita. Salah dan benar hanya akan diketahui saat kaki merasakan, bahagia atau luka yang akan kita temui.
Sesampai dirumah, segera aku membuka laptop dan mengerjakan paper mata kuliah perpajakan yang sudah kujanjikan kepada Rudi. Segelas kopi, dan beberapa buku rujukan menjadi temanku mengetik berlembar-lembar halaman paper. Koneksi modem yang sedang lancar sesekali menginterupsi pengerjaan paperku. Tanganku sering kali gatal untuk memantau timeline twitter dan mengupdate tweet sajak dari akun anonimku.
@penarihujan: Segelas kopi, dan buku tebal dalam gelap malam menemani riuhnya tugasku malam ini. Dan sekelebat ingatan tentangmu hadir di jeda penatku.
Sesekali juga aku mencari-cari akun milik Raisa. Berkat kemampuanku yang seperti detektif, berhasil kutemukan akun twitter milik Raisa. Kubaca isi timeline, ternyata Raisa pun sering mengupdate tweet berisi sajak dan puisi. Segera aku follow akun tersebut dengan akun asli milikku.
Saat tugas paper sudah selesai kukerjakan, segera kukirim kepada Rudi melalui gmail. Aku melirik ke jam dinding yang menggantung, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Berarti hampir selama 3 jam aku menghabiskan waktu mengerjakan tugas.
Rud, udah gua kirim di gmail yah tugasnya. Maaf kemaleman, ketikku di ponsel dan segera mengirimkan pesan pendek itu ke nomor Rudi yang kemudian hanya dibalas dengan jawaban ‘oke.’
Berkeliling di dalam Istora, ditambah mengerjakan tugas dengan keadaan dikejar waktu membuatku merasa sangat lelah. Padahal jarum jam baru menunjukkan pukul 11 malam lewat beberapa menit. Biasanya di jam-jam seperti ini aku akan menceburkan diriku di jejaring sosial, khususnya twitter.
Saat aku akan menutup laman akun twitter, perhatianku tersita dengan pemberitahuan di tab mention. Raissa followed you. Seketika rasa lelah dan keinginanku untuk merebahkan badan di kasur langsung mendadak hilang. Kemudian, sepanjang malam aku sibuk saling bermention ria dengan Raisa hingga aku terlelap tidur di depan laptop.
Sejak saat itu, tanpa disadari, aku dan Raisa semakin akrab dan dekat. Hampir setiap malam, walau tida setiap hari, aku bermention ria dengannya. Tak jarang kami berbalas sajak dan syair saat malam hampir berganti hari.
***
Ketika kedekatan membuat sebuah kenyamanan. Rasa suka yang menjadi ibu dari perasaan cinta biasanya akan menjadi hal yang biasa.
“Raisa,” ucapku pada Raisa yang sudah duduk di hadapanku. Kami duduk saling berhadapan dengan meja yang membatasi jarak di antara kita. “Jujur, setelah sekian lama kenal dan dekat denganmu. Tidak menyukai dirimu adalah dusta bagiku.”
Raisa terdiam tak menanggapi ucapanku.
“Dengan jujur aku mengakui, sepertinya aku jatuh hati kepadamu.”
“Jangan, Ram. Jangan jatuh hati kepadaku. Kamu sudah salah menjatuhkan hatimu, jika aku yang menjadi tempatmu meletakkan perasaanmu.”
“Kenapa?”
“Karena kamu jatuh cinta di saat yang salah, dan memiliki cinta yang salah,” ucap Raisa dengan suara pelan kepadaku.
“Tidak ada cinta yang salah,” sergahku dengan nada yang mencekat.
Raisa menundukkan kepalanya sejenak. Di tengah keriuhan kafe, kami berdua menjadi sosok manusia yang menenggelamkan diri dalam keheningan. Raisa menghempaskan nafas, mengeluarkan sesak yang sepertinya menggumpal di dadanya.
“Apa alasan utama kamu bisa jatuh cinta kepadaku?” tanyanya dengan nada yang masih pelan.
“Apakah ada alasan untuk jatuh cinta? Jika memang ya, aku tak tahu apa alasannya itu. Aku hanyalah orang asing, yang tiba-tiba muncul di kehidupanmu, lalu jatuh cinta kepadamu. Itu saja.”
“Kalau begitu, kamu mencintaiku di waktu yang salah.”
“Kenapa? Karena kamu sudah memiliki kekasih? Aku tidak peduli. Aku akan menunggu saat perpisahan kalian.”
“Pertama, aku hanya menganggapmu teman sejak awal kita dekat. Kedua, baru minggu lalu, kekasihku melamar diriku. Dan aku akan menikah bulan depan.”
Seketika kakiku lemas saat mendengar pernyataan Raisa. Seolah tak ada daya lagi di dalam diriku. Kata-kata yang diucapkannya sukses membunuh harapanku. Mematikan pengharapanku.
“Seperti ucapanmu. Awalnya kita hanyalah sepasang orang asing yang tak pernah tahu akan dipertemukan dengan cara yang sangat tidak sengaja dan diluar kuasa kita. Menjadi dekat karena kesukaan yang sama terhadap suatu hal. Mungkin kita cocok dan saling melengkapi dalam beberapa hal, tapi tidak dengan cinta,” ucap Raisa panjang lebar kepadaku yang masih terduduk lemas. “Ketika kamu jatuh hati kepadaku, kamu tetaplah orang asing yang tak bisa masuk ke dalam hatiku.”
“Tapi–”
“Jika kamu dapat membuat kita yang tadinya asing menjadi dekat. Kenapa tidak dengan mengubahnya menjadi asing kembali? Senang dapat mengenalmu. Jika memang kamu tetap berkenan menjadi temanku, datanglah ke pesta pernikahanku,” ucap Raisa kepadaku seraya menyerah sepucuk undangan pernikahannya. Tercetak jelas namanya dan nama kekasihnya dengan huruf berwarna emas. “Aku harus pergi sekarang, Rama.” Raisa bangkit dari kursi dan pergi meninggalkan diriku. Kulihat, separuh perasaanku tercecer di jalan, saat langkah perempuan berambut hitam kecokelatan itu semakin menjauh dariku.
Ketika saatnya tiba, kita akan sadar, bahwa luka adalah cara kita menyadari bahwa kita telah berhasil untuk jatuh cinta.

Selasa, 01 Januari 2013

Bara Sepi


1)
Ada yang bergejolak dalam diri
Serupa gelisah yang menggeliat dalam diam
Menyusup di sela hati dan menyemaikan sepi
           
2)
Di dadaku, ada cinta yang mulai kehilangan api
Lambat-lambat, hangatnya tak lagi terasa lagi
Seperti bara api, yang nyaris mati dan mendingin


3)
Cinta itu tidak mati
Hanya saja, seperti api yang kekurangan kayu
Nyalanya tak lagi benderang

Jumat, 28 Desember 2012

Terlalu Fiksi


Malam ini sunyi memeluk hati jiwa-jiwa yang sedang cemas dan gelisah. Di sebuah beranda rumah, duduk sepasang anak Tuhan yang saling diam dalam keterasingan.

Secangkir kopi dan segelas teh yang sudah mendingin menjadi sepasang hiasan di atas meja bundar, yang membatasi jarak di antara dua insan tersebut. Dalam diam, sepasang kekasih itu diam-diam meriuhkan kecemasan yang ingin segera dicurahkan.

"Ketika kita memutuskan untuk memulai, bukankah kita sudah siap dengan keadaan yang seperti ini?" ucap kekasih perempuan kepada kekasih lelakinya. "Tama, aku yakin kita bisa."

Tama masih larut dalam keheningan. Lelaki itu tetal diam, sementara dalam benaknya sebuah debat sedang terjadi; antara dirinya dengan bagian dirinya yang lain.

"Bukankah kita saling mencintai?" tanya kekasih perempuan itu kepada Tama.

Tama membuka kelopak matanya, dia menghembuskan nafas sebelum mulai berkata. "Ya, benar. Aku dan kamu saling mencintai. Aku tidak pernah memungkiri hal itu. Bahkan hingga malam ini, rasa cinta kepadamu tak berubah. Masih sama seperti hari sebelumnya."

"Lalu kenapa?"

"Kirana, terkadang ada hal-hal yang tidak akan mampu kita sebrangi hanya dengan sebuah keyakinan saja," ucap Tama kepada kekasihnya. Dia mengamit jemari kekasihnya itu. "Aku sudah meyakini hatiku berkali-kali, berharap, sebuah perpisahan bukanlah jawaban dari permasalahan yang kita hadapi."

"Lalu kenapa?" tanya Kirana kembali. Suara terdengar lirih dan bergetar. Terlihat perempuan itu menggigit bibir bawahnya. Mencoba menahan getir di hatinya agar tak pecah menjadi air mata.

Malam semakin terasa sunyi. Padahal jarum jam masih menunjukkan pukul 8 malam. Waktu seolah melambatkan lajunya untuk memberi waktu yang lebih lama pada keheningan dalam pembicaraan Tama dan Kirana.

"Karena terkadang, kenyataan menjadi tembok tinggi yang tak akan pernah mampu kita panjat. Atau menjadi jurang pemisah yang tak akan bisa kita sebrangi. Terlalu sulit."

"Aku selalu percaya, selama kita yakin dan percaya, kita dapat melakukan hal apa saja, yang sulit sekalipun."

"Kirana, sadarkah kamu, kalau kisah kita terlalu dipaksakan. Dan sayangnya, kita hidup dalam kenyataan, yang tidak semua hal yang kita inginkan akan kita dapatkan," ucap Tama kepada Kirana yang mulai meneteskan airmata.

Kenyataan adalah musuh terberat dari semua impian, harapan dan keinginan. Kenyataan pun adalah pembunuh terhebat dari setiap cita-cita yang akhirnya mati dan tak terwujudkan, menjadi makam dari seluruh hal yang sering diidam-idamkan.

Dalam diam, benak Tama mengulang-ulang kejadian beberapa hari terakhir yang dialaminya. Penolakan-penolakan terus terjadi dan tak sanggup dia redakan. Di ujung perdebatan yang terjadi dalam beberapa hari itu, sebuah pilihan harus dia lakukan. Dan memilih tak selamanya mudah.

"Ayah nggak setuju. Kalau kamu tetap dengan keinginanmu. Pergilah, dan jangan ingat ini adalah rumahmu."

Masih terngiang jelas dalam kepala Tama, suara nyaring ayahnya yang membentak dirinya tersebut dua hari yang lalu. Perdebatan sengit dengan semua argumen yang dibawa oleh Tama tak berhasil, dan tak menjadi apa-apa.

"Tapi, aku cinta dengan Kirana."

"Tak ada cinta dalam hal seperti ini. Kalian berbeda. Tak sama. Ada batas-batas yang tak akan pernah bisa dilanggar, yaitu agama."

Tama memejamkan matanya. Ingatan-ingatan itu selaksa pisau yang mengiris jiwanya secara perlahan. Melumat keyakinan hubungannya dengan Kirana dengan pasti.

"Tama," ucap Kirana sesunggukkan. "Aku cinta sama kamu. Kamu tahu hal itu lebih baik dari siapa pun." Kirana mengusap airmata yang mengalir dari kedua bola matanya. Pipinya sudah dibanjiri oleh airmatanya sendiri. Airmata yang menandakan kesedihan dan ketidakberdayaan. Airmata yang menjadi penanda matinya sebuah harapan.

Tama memijat keningnya, kemudian ditangkupkan wajahnya dalam telapak tanagannya. Dia diam membisu. Sementara Kirana masih menangis dalam diam. Tangisan yang sungguh memilukan, tanpa suara tapi menciptakan kepiluan.

"Tam, bukannya lo udah sadar konsekuensinya?"

Teringat oleh Tama perkataan sahabatnya, Rudi. Tama teringat oleh celotehan-celotehan Rudi beberapa hari yang lalu saat dirinya menceritakan tentang masalah yang mendera hubungannya dengan Kirana.

Tama tertunduk saat malam itu, Rudi dengan gamblang menuturkan kata-kata yang membuatku tak berkutik. Saat itu Tama hanya dapat menelan liur yang mengering di tenggorokkanku. Sahabatnya itu memang selalu blak-blakkan dalam memberikan komentar.

"Lebih baik jujur walaupun pahit, daripada lo dapet komentar manis tapi menipu kenyataan."

Kata-kata itu selalu Rudi ucapkan kepada Tama setelah selesai menghujaninya dengan ucapan-ucapan pahit sepahit obat, tapi menyadarkan Tama pada kenyataan.

"Kirana," ucap Tama seraya memegang jemari kekasihnya itu. Sebelah tangannya yang lain mengusap pipi Kirana yang basah. Isaknya sudah mulai mereda, sepertinya Kirana sudah mulai dapat mengendalikan emosinya. "Inilah kenyataannya. Dan aku tidak dapat menolaknya. Semoga kita bahagia di masa depan kita masing-masing. Kamu akan selalu di hatiku."

Tama berdiri dari kursi, berjalan ke arah motor yang diparkir di halaman depan beranda. Tama melihat Kirana yang masih mengusap airmatanya agar tak mengalir lagi. Tama memantapkan langkahnya untuk segera pulang. Segera dihidupkan motor dan keluar dari rumah Kirana, agar kesedihannya tak semakin menjadi karena melihat Kirana yang seperti ini.

Hidup itu pilihan bukan? Tapi sayangnya tidak semua orang dapat memilih. Seperti Tama malam ini. Berpisah dengan Kirana bukanlah sebuah pilihan, tapi sesuatu yang harus terjadi. Jika ada pilihan lain, memutuskan hubungan dengan Kirana adalah pilihan terakhir yang akan dipilih Tama.

***

Tama duduk termenung di meja yang ada di dalam kamarnya. Kertas-kertas, buku dan pena berebut tempat menyesaki meja. Sebuah kertas penuh coretan aksara ada dalam genggamannya. Baru saja sebuah sajak dituliskannya, sajak yang akan digunakannya untuk acara pembacaan puisi yang diadakan seminggu lagi.

Tama membaca kembali coretan-coretan tangannya, menyalinnya kembali dengan tulisan yang lebih rapi di kertas yang lain. Lamat-lamat sesak mengisi rongga pernafasannya. Aksara yang dipilihnya hingga menjadi susunan kalimat dalam sajak ini begitu terasa ironi. Sajak yang ditulisnya seperti menceritakan kembali getir dan pedihnya sebuah cinta yang dipunyai oleh sepasang hati, tapi tak pernah dapat saling memiliki; seperti kisahnya dengan Kirana.

Malam terasa sunyi. Deru angin yang mengepakkan sayap dedaunan terasa nyaring di telinga Tama. Hening terasa mengental, Tama duduk di antara kertas, pena dan buku yang kini berserak di atas kasurnya. Dalam genggamannya terdapat sebuah buku puisi karya Agus Noor. Dilafalkannya pelan-pelan tiap baris kata dalam buku tersebut. Tama menyesapi tiap bulir kata yang Agus Noor tuliskan. Dada Tama bergemuruh setiap membaca isi buku yang seperti-dia-sekali, seolah Agus Noor menciptakan buku puisi tersebut untuknya; untuk merayakan kesedihannya.

Malam memberikan jeda pada lamunan panjang. Jiwa melolongkan kesedihan pada malam yang hening. Tama melewatkan malam dengan kenangan tentang Kirana yang tak pernah bosan dia kenang.

***

Kirana menjejerkan kertas-kertas yang sudah kumal di atas kasurnya. Di atas selimut tidurnya dia kumpulkan kembali semua kertas puisi yang sudah kumal karena sering dia baca.

Perlahan airmata menetes tanpa aba-aba. Kirana tak dapat membendung kesedihan yang ditanggungnya. Pertahanannya tak cukup kuat untuk menahan rasa kehilangan. Hatinya belum cukup belajar pada ketabahan. Hatinya belum dapat menerima sebuah perpisahan, yang sejak awal sudah dia ketahui.

Setabah apa pun hati, sebuah kehilangan tetaplah kehilangan, yang pasti meninggalkan celah pada sesuatu yang ditinggalkan. Kirana terisak saat menyadari dia tak sepenuhnya bisa merelakan Tama. Padahal sudah hampir seminggu waktu berjalan sejak malam itu. Malam yang tak pernah diinginkan oleh Tama dan Kirana, namun menjadi malam yang pasti akan datang; bahkan sejal mereka pertama kali memutuskan menjadi sepasang kekasih.

"Aku sayang kamu," ucap Tama kepada Kirana. Dia mengamit jemari perempuan dihadapannya dan mengusap lembut rambut-rambut kecil yang mencuat di samping telinga Kirana.

"Aku pun seperti itu. Tapi mungkinkah kita bisa bersama?" ujar Kirana ragu. "Ki-"

Ucapan Kirana terhenti saat sebuah telunjuk menempel di bibirnya. "Aku tahu, tapi hal itu tak menghentikan perasaanku padamu. Kita jalani saja, sampai dimana kita dapat menjalaninya." Tama tersenyum kepada Kirana. Kini wajah mereka saling berhadapan. Bola mata Kirana mencari lesungguhan di dalam bola mata lelaki yang menyatakan cintanya itu kepada dirinya.

"Sampai kapan?" tanya Kirana.

"Sampai tak ada restu yang kita dapat dari orang yang melahirkan kita," ucap Tama tegas.

Airmata semakin deras mengalir di pipi Kirana saat sekelebat ingatan saat mereka memutuskan untuk berpacaran hadir di benaknya. Kertas-kertas puisi buatan Tama kembali basah menampung airmata kesedihan Kirana.

***

"Buat ibu, nggak masalah kamu menikah dengan perempuan manapun, karena ibu percaya kamu dapat memilih perempuan yang baik untuk menjadi pasanganmu kelak. Ibu merestui," ucap Ibu kepada Tama. "Tapi, kalau perempuan itu tidak seagama dengan kamu, tidak ada restu untukmu," lanjutnya.

Tama diam terduduk di kursi. Dihadapannya ada ayah dan ibunya. Tama seperti seorang terdakwa yang dihujani fakta-fakta yang membuatnya terlihat salah; salah dalam memilih Kirana sebagai perempuan yang ingin dipinangnya.

"Kirana perempuan baik-baik dan aku mencintainya," ujar Tama kepada ayah dan ibunya.

"Jika dia tidak berbeda agama denganmu, restu dari ibu akan kamu dapatkan, 'Nak," ucap Ibu kepada Tama yang menutup wajahnya dengan telapak tangan. Kekecewan tergambar jelas di wajahnya. Tama sudah kalah. Tidak ada yang dapat dilakukannya untuk mempertahankan hubungannya dengan Kirana. Saat restu tak dapat dia dapatkan, saat itu akhir hubungannya dengan Kirana terputuskan.

Tama terbangun dari tidurnya. Bulir-bulit keringat sebesar biji jagung keluar dari pori-pori membasahi tubuhnya. Mimpi yang baru saja dialaminya sungguh menguras emosinya. Mimpi tentang kejadian beberapa minggu yang lalu itu membayangi Tama. Seolah tak lelah menghujamkan kesedihan pada dirinya.

Dilihatnya jam dinding baru menunjukkan pukul 2 pagi. Tama memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. Sebab dia harus cukup istirahat agar penampilannya di acara bacaan puisi jam 3 sore nanti bisa maksimal. Seraya berdoa agar mimpi buruk itu tak berulang, Tama merebahkan kembali tubuhnya.

***

Kirana berjalan cepat menuju tempat acara pembacaan puisi. Diliriknya jam yang melingkari tangannya. Dia sudah telah hampit 30 menit. Semoga Tama belum tampil, batin Kirana.

Tempat berlangsungnya acara pembacaan puisi di sebuah cafe di salah satu mall terbesar di kota ini. Cafe yang letaknya ada di lantai teratas membuat Kirana melajukan langkahnya dengan cepat; berkompetisi dengan waktu.

Saat baru memasuki cafe, Kirana mencari posisi untuk melihat stage yang disiapkan untuk para pembaca puisi. Dan ketika Kirana sudah mendapatkan posisi yang nyaman, ternyata penampilan Tama baru saja akan dimulai. "Syukurlah," ucap Kirana seraya menuliskan makanan yang akan dipesannya di notes yang diberikan oleh pelayan cafe.

"Berikutnya adalah pembacaan puisi dari Pratama Putra Perdana," ucap pembawa acara mempersilahkan Tama maju ke depan stage.

Karena Kita Terlalu Fiksi

Aksara ini adalah rangkuman kisah kehidupan kita
Cerita tentang cinta, yang selalu kita jaga, agar tetap bernyawa

Kamu akan abadi bersama sajak ini
Tak mati, juga tak akan hilang dalam terbatasnya ingatan diri
Sebut saja kita sepasang tokoh cerita di dalam dunia fiksi
Dimana, tiap kisah akan berakhir bahagia adanya
Tanpa airmata, hanya tawa selaksa bahagia yang abadi dalam senyum kita

Aku abadikan memori kita dalam aksara-aksara yang bernyawa
Nyawa yang lebih kekal dari waktu, nyawa yang lebih panjang dari kematian

Aku mencintaimu. Ya, mencintaimu.
Sayangnya, hutang kita di kehidupan tak cukup lunas terbayarkan dengan rasa cinta kepadamu

Selaksa tembok karang tak sanggup tanganku daki
Serupa itu dalamnya palung kenyataan yang tak mampu kuselami

Kekasihku, ketika kamu mendengar puisi ini
Yakini satu hal dalam sanubari
Kisah ini hanyalah bagian dari fiksi yang kita.jalani
Secuil fantasi yang susah payah kita jalin rapi, dan mati oleh sebab tak dapat kita pungkiri

Kekasihku, matamu adalah taman terindah yang permah kupandangi
Disana kumanjakan diri dalam ketenangan dan keindahan yang hanya sanubari mengerti
Maka kekasihku, kenanglah kisah fiksi kita ini dalam diri
Dan bila kau rindui lagi, bacalah puisi ini
Karena kisah kita memang terlalu fiksi.

Saat Tama selesaikan membacakan pembacaan puisinya, suasana yang tadi hening mendadak jadi ramai dan riuh oleh tepuk tangan. Hampir seluruh pengunjunf cafe bertepuk tangan. Kirana pun ikut bertepuk tangan setelah pembacaan puisi selesai. Pembacaan puisi tadi menggetarkan tubuhnya. Entah sebab puisinya yang teramat indah, atau sebab dirinya menggigil karena kesedihan.

Kirana meninggalkan kursinya, berjalan ke arah Tama. Saat berhadapan dengan lelaki itu, Kirana menghunuskan pandangannya ke jantung mata Tama. Mereka berdua terdiam seraya saling bertatapan.

"Puisi yang bagus," ucap Kirana memutus keheningan.

Tam tersenyum seraya menyodorkan kertas puisi yang dibacakan tadi. "Simpanlah ini. Anggap saja puisi terakhir dariku untukmu."

"Apa yang selanjutnya kamu cari Tama?" tanya Kirana saat Tama mulai berjalan meninggalkan Kirana.

"Tidak tahu, mungkin aku akan belajar dari kesedihan, bagaimana cara jatuh cinta lagi." Tama tersenyum simpul ke arah Kirana. Meyembunyikan kesedihan yang teramat dalam ditanggungnya. Tama ingin, Kirana tak tahu seberapa tak berdayanya dia.

"Andai kita bisa mengulangnya lagi. Aku ingin hidup di dunia dimana tak ada perbedaan penafsiran agama. Sehingga tak ada pembedaan dan pelabelan agama tertentu."

Tama membalikkan badannya. "Ya, andai saja bisa seperti itu. Sayangnya itu tak pernah terjadi. Lebih baik nikmati saja jalan di depan yang penuh dengan luka itu. Semoga kita akan bahagia." Tama meninggalkan Kirana di dalam cafe. Lelaki itu pergi ke pojok ruangan dan berkumpul dengan teman-temannya yang lain.

Kirana terdiam menatap Tama. Digenggemnya erat kalung simbol kepercayaannya yang melingkar di lehernya.

Jumat, 21 Desember 2012

Pelukan yang Selalu Menemani Kesedihan

1)
Malam ini sorak sorai dunia terdengar sangat meriah
Meriuhkan sepi yang diam-diam menyusupi hati
Kesedihan, menyala terang dalam keramaian

2)
Malam ini, aku merasa begitu sedih
Seolah kesepian sedang memeluk batinku
Menularkan aura gelap yang tak mampu kulihat
Dan, airmata serta merta keluar tanpa aba-aba

3)
Sebuah sesal begitu terasa saat waktu sudah jauh berjalan
Saat masa lalu menjadi angan yang saat ingin diulang
Kemudian, kesedihan tercecap di bibir, terasa pekat pahit di lidah
Liur pun terasa serat untuk ditelan
Kesedihan, menjadi virus yang begitu melumpuhkan

4)
Ibu, apa kabarmu disana?
Aku rindu pada pelukanmu
Malam ini, kesedihan begitu terasa menyesakkan
Bolehkah aku inginkan pelukanmu lagi
Sejenak saja, agar aku dapat merebahkan kesedihanku

5)
Pelukmu adalah telaga penguras airmata
Kesedihan lesap dalam dekapmu
Aku rindu denganmu, Ibu
Aku rindu peluk hangat tubuhmu, yang sanggup cairkan kesedihan yang membekukan

6)
Malam ini, riuh lalu lalang orang di lintas maya membuatku ingin menangis
Airmata menjadi hal yang ingin kutumpahkan
Aku rindu kepadamu, Ibu
Aku rindu pelukanmu yang selalu menemani kesedihanku

7)
Segala aksara tak mampu menggambarkan kelembutan hatimu
Bahkan puisi kehilangan dayanya
Kamu adalah semestaku, yang selalu memelukku saat aku bersedih
Yang selalu mendongengkanku saat airmata masih mengalir ketika aku siap dengan baju tidurku
Dongengmu adalah mantera penenang tidurku
Dan pelukanmu, Ibu, hal yang selalu menemaniku saat larut dalam kesedihan

8)
Aku rindu kamu, Ibu
Semoga nanti, aku dapat memelukmu lagi, untuk rebahkan segala dukaku.

Kamis, 06 Desember 2012

Drama Tiga Babak: Babak Pertama

Rima duduk di beranda, teh yang diseduh Byan untuknya sudah mulai mendingin tanpa tersentuh. Sejak tadi, perempuan itu duduk, sibuk memandangi lagi yang kelabu, seperti warna di langit hatinya saat ini.

Byan pun sama, matanya tak melepaskan diri pada sosok Rima yang duduk tanpa bergerak sedikitpun. Sesekali Byan menghela nafas panjang dan mendesah keras, hal yang harus dilakukan agar sesak di dalam dadanya tak terlalu pekat. Tatapan matanya bias, antara iba, sedih dan kecewa.

Dalam sebuah hubungan, kesedihan akan selalu dirasakan oleh dua pihak yang sama-sama menjalaninya, hanya saja kadarnya tidak pernah sama. Seperti hal yang Byan dan Rima alami, kesedihan, tak pernah bernilai ganjil, sebab ada dua yang merasakannya. Hanya saja, rasa penyesalan seringkali membuat diri menyalahkan diri sendiri dan ingin menanggung segala kesedihan itu seorang diri.

"Rima," panggil Byan pelan kepada istrinya. Rima menolehkan kepalanya ke arah Byan. Seketika, sesak kembali dirasakan Byan. Dia mendapati tatapan asing dari kedua bola mata Rima. Hal yang selalu dirinya takutkan, saat Rima kehilangan pancaran mata yang selalu dikaguminya. Seolah, kesedihan sudah menelan habis semua binar yang selalu terpancar dari bola mata istrinya itu.

Rima diam saja. Dia kembali memandangi langit yang semakin menggelap, seolah siap memuntahkan isi perutnya ke bumi. Byan menelan ludah, ditelannya kembali semua kata-kata yang ingin dia ucapkan. Tatapan mata Rima yang kosong telah memberangus semua aksara yang akan dilontarkan bibirnya, ikut lenyap dalam kesedihan.

Suara guntur di langit mulai terdengar, menggaduhkan kolong langit. Dan, petir ikut muncul, menggelontorkan kilatnya yang menyilaukan. Keduanya seolah ingin ambil bagian dalam drama, seolah meramaikan suasana, mencairkan kesedihan yang terlanjur membekukan hubungan Rima dan Byan. Padahal, suara guntur dan kilat petir hanya menambah muram suasana, menjadi simfoni pemantik duka, pengekal kesedihan.

"Masuklah, sebentar lagi hujan akan turun dengan deras," ucap Byan kepada Rima. Dia berusaha membujuk istrinya itu untuk masuk ke dalam rumah, sebab perlahan, gerimis sudah mulai turun dengan intensitas yang semakin meningkat. "Kondisi tubuhmu masih sangat lemah. Masuklah, agar kondisimu tak semakin memburuk," bujuk Byan kembali.

Rima bangkit dari kursinya, melangkah masuk ke dalam ruangan, dalam diam, tanpa ada kata-kata, tanpa ada ekspresi; seperti mayat hidup. Lalu dia duduk di bagian paling dekat dengan jendela. Disibakkannya tirai penutup jendela, agar dia dapat melihat langit yang sudah gelap. Rintik-rintik hujan mengetuk jendela, seolah memanggil Rima agar ikut bermain bersama mereka.

"Kata orang, hujan adalah cara Tuhan menyampaikan kesedihan orang-orang yang menahan kesedihan mereka dalam diam." Rima tiba-tiba berbicara. Bukan kepada siapa-siapa, seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

Byan yang berdiri di belakang Rima tak berkata apapun. Dia hanya mendengarkan monolog yang dilakukan Rima. Seolah sudah memaklumi hal tersebut. Dia hanya memandangi Rima, dalam diamnya, Byan meng-iya-kan ucapan Rima. Mungkin Tuhan sedang menyampaikan kesedihanku.



*Ini salah satu scene dalam cerita Immortal Mother yang sedang ditulis*