Minggu, 21 Juli 2013

Purnama

Di jemarimu, kusematkan purnama
Dari aku, lelaki yang tak kau tahu nama

Pada bulir air mata yang tak miliki muara
Aku menawarkan geliat rasa
Bukan cinta, hanya setangkup duka yang terbungkus dalam canda

Lalu kau bertanya, "dimanakah cinta?"
Tawa, aku mendengarnya

Cinta, apalah yang kau harapkan dari rasa yang dapat membusuk seketika
Entah lusa, ataupun dasawarsa
Sama saja, sebab akhirnya, duka jua yang kan kau rasa

Wahai wanita, terimalah aku sebagai mempelai di bulan purnama
Cahaya, yang bermandikan lentera surga
Di antara isakan yang kau tunaikan di sela-sela
Malam yang selalu panjang terasa
Terimalah duka sebagai mahar paling berharga

Kelak kau akan terima
Bila takdir selalu berputar bagai purnama
Di sana, duka dan cinta
Memainkan peran dengan sempurna

Di sela-sela airmata
Wahai wanita, biarkan aku mengusap bulir-bulirnya
Yang kelak akan sangat berharga

Lalu isakmu mereda, dan kau lagi bertanya: "apa aku tak dapatkan cinta?"

Wahai wanita, cinta ialah buah yang belum ranum dari pohonnya
Pada waktunya, ia akan menjelma jadi duka
Rasa yang akan kau petik kala masanya tiba

Di jarimu, wahai wanita, kusematkan purnama
Agar nanti kau, bahagia, jadi mempelaiku yang tersenyum bahagia
Di surga

Sabtu, 15 Juni 2013

Hujan, Dan Juni Yang Terlampau Tabah

Disela derai rindu, kata-kata memainkan peran
Kepada hujan, kepada rintik yang merebahkan diri kepada bumi
Juni, dia terlalu tabah untuk menanggung beban

Katanya, tidak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni.
Dia bijak, dia arif, dan dia tabah.
Dan nyatanya, begitulah adanya.
Dia, Juni, adalah yang rela menanggung segala hujan disekujur tubuhnya

Rindu, ialah cinta yang terlampau sering dibiarkan bermandikan hujan
Ketabahan yang sudah terlampau bosan untuk menenangkan resah
Dan hujan di bulan Juni, ialah penghilang jejak-jejak sunyi
Di hati; jalan lapang yang telah lama tidak ditapaki.

***

"Apa yang terpikirkan olehmu saat mendengar kata 'Hujan' dan 'Juni'?" tanya seorang yang berdiri di samping tempat aku mendudukkan diri.

Hari ini adalah salah satu hati diantara hari-hari yang ada di bulan Juni, dan saat ini hujan sedang turun; deras. Aku menutup buku yang sedang aku baca, mendongakkan kepala, melihat siapa yang berbicara kepadaku. "Sapardi," jawabku singkat dengan nada yang sangat datar. "Lalu menurutmu?"

"Perempuan yang terlampau tabah."

Aku menaikkan alis mata sebelah kiri. Mencerna satu kata yang diucapkan seseorang yang bahkan tidak kukenal siapa dia. "Maksudmu?"

"Ya, Hujan di bulan Juni ialah perempuan yang begitu tabah. Dia menunggu Juni untuk melepaskan kesedihannya. Agar airmata tersamarkan oleh hujan."

Minggu, 09 Juni 2013

Hujan, Selimut dan Bantal Pelarian

Hujan. Hari ini dia kembali menyambangi hati. Mendung. Langit hati tak juga menampakkan sedikit cerah yang dinantikan sejak pagi. Kepada rindu, matahari enggan memunculkan kehadirannya. Mungkin, sebuah penantian adalah hal yang ditunggu oleh kecemasan agar sebuah kabar tentang penenang hati tiba secapatnya. Hal, yang terlalu dini untuk diharapkan terjadi.

Suasana sudah mendingin. Hujan tak juga reda. Masih terasa lembab. Sepertinya, kesedihan sudah betah tinggal disini. Hari ini. Sebab, kulit terasa mulai mengerutkan dirinya. Seolah, hawa dingin sudah mulai mengendurkan nyali. Kulit mulai menyelimuti dirinya dengan dirinya sendiri. Memeluk kesedihannya sendiri, menenangkan cemas dan takut dengan selimutnya sendiri. Hari ini, kesepian sedang mencari teman, yaitu hati orang-orang yang menanggung cemas sendirian

Hari ini, sejak pagi tak sedikitpun cahaya matahari tampak dari celah jendela yang tak pernah tertutup rapat. Hati yang cemas, langit yang mendung, hujan yang enggan menghentikan dirinya menetes, hati yang kesepian dan bantal-bantal yang berserakan di atas kasur seolah menjadi konspirasi mini yang sedang merayu tubuh untuk merebahkan dirinya, sesaat saja, agar kecemasan tak lagi merasa sepi sendiri. Bantal itu, menawarkan diri untuk berbagi kesedihan, berbagi kesepian dengan tubuhnya yang begitu pas untuk dipeluk; untuk dititipi sepenggal kesedihan yang begitu kekal sejak pagi tadi.

Hari ini, hujan begitu abadi, dan langit tak juga memudarkan kelam. Sementara, banyak hati yang sudah bergelut dengan dirinya sendiri, sedang memeluk kesedihannya sendiri, dengan kulit yang sudah mengkerut akibat dingin yang mulai memeluknya, menyelimuti dirinya dengan hawa yang penuh dengan suasana menakutkan; kecemasan yang mulai menggerogoti ketabahan. Dan bantal-bantal yang berserak, dengan pelapis kain yang sudah lecak akibat sibuk menenangkan hati yang gelisah, sedang menenangkan kesepian, agar hati kembali menghangat; melupakan kesedihan, melupakan hujan yang tak berhenti menetes sejak pagi tadi, melupakan kesedihan yang kekal serupa langit yang terus murung. Dari jendela yang tak pernah tertutup rapat, aku melihat, kesedihan adalah hal yang paling nyata di hari ini.

Kamis, 30 Mei 2013

Irina, Permata dan Kotak Perhiasan

Pesawat yang mendarat dengan tidak mulus menyebabkan terjadinya sedikit guncangan berhasil membangunkan tidurku. Aku bukanlah lelaki yang mudah tertidur di sembarang tempat. Hanya saja, sejak memulai perjalanan tadi mataku sangat lelah dan tak dapat menahan kantuk.

Satu persatu penumpang bangkit dari kursi mereka dan keluar dengan teratur. Sementara aku yang masih terkantuk masih terduduk. Menunggu semua penumpang turun agar tidak berdesakan dan juga menunggu kesadaranku pulih. Sekali tembak, dua burung tertangkap. Seperti itu mungkin bunyi pepatahnya. Dari tempatku duduk aku melihat seorang wanita cantik sedang marah-marah kepada pramugari yang tak kalah cantik dengannya. Aku tersenyum-menahan tawa. Sepertinya perempuan cantik itu sedang mengalami masa datang bulan yang tidak lancar.

Setelah hampir semua penumpang sudah turun, aku baru bangun, dengan enggan, seolah berat untuk beranjak. Harus diakui, ini adalah perjalanan pesawat yang paling nyaman-diluar pendaratan tadi. Baru kali ini aku bisa tertidur disepanjang perjalanan. Biasa, mataku tak pernah dapat terpejam lebih dari 10 menit apabila sedang berada di dalam pesawat. Entahlah. Aku tidak paham mengapa selalu seperti itu. Dan hanya kali ini saja aku dapat tertidur dengan nyenyak.

Aku berjalan keluar dengan santai. Kusunggingkan senyuman kepada pramugari yang tersenyum kepadaku. Senyum pramugari yang tadi kena omel perempuan aneh itu terlihat begitu manis.

"Excuse me," ucap perempuan muda dibelakangku. Perempuan itu terlihat sangat terburu-buru, dia menggenggam erat tas miliknya dan berusaha untuk bisa turun dengan segera. Sedangkan sebelah tangannya mengamit tangan seorang lelaki 'bule'-mungkin kekasihnya-yang berjalan dengan santai. "Come on, James. Cepat!" seru perempuan itu kepada lelaki dibelakangnya.

Tanpa sadar aku menaikkan alisku saat mendengar kalimat terakhir perempuan muda itu. Awalnya kupikir dia bukanlah seorang Indonesian. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kalau ternyata sepertinya dia adalah keturunan campuran. Aku yakin sekali hal itu, terlihat dari logatnya saat melafalkan kata sudah yang begitu lancar dan tidak patah. Pasti ayah atau ibunya yang masih keturunan negeri ini.

Aku meminggirkan tubuhku, membiarkan perempuan muda itu melewatiku. "Permisi," ucap lelaki bule itu dengan logat patah yang kubalas hanya dengan anggukan kecil dan senyum.

Dari arah belakang aku melihat sepasang kekasih itu berjalan terburu-buru seperti sedang mengejar atau dikejar sesuatu. Perhatianku lebih tertuju pada tas yang dikekap erat oleh si perempuan. Sepertinya di dalam tas itu berisi benda yang begitu berharga sebab sejak tadi dia sangat menjaga tas tersebut.

Suasana bising bandara selalu menjadi hal yang menarik bagiku. Banyak orang yang lalu lalang dalam berbagai ekspresi, santai, tegas, jutek, lelah dan semacamnya. Aku berjalan mengambil kereta dorong dan menuju lokasi pengambilan kopor milikku.

Saat di conveyor belt aku berpapasan dengan perempuan-cantik-yang-sepertinya-bermasalah-dengan-menstruasinya. Dia keluar saat aku baru saja masuk. Kuanggukkan kepala sedikit sebagai pengganti salam. Perempuan itu tidak menggubrisnya. Ekspresi wajahnya datar seolah tak peduli, dan langkahnya cepat saat mendorong trolley berisi barang-barangnya.

Kemudian aku melihat lagi perempuan muda tadi dengan kekasihnya. Dia tampak gelisah menunggu barang-barangnya keluar. Lalu kulihat, dia mengangkat telepon dan kemudian menjadi semakin panik. Seolah waktunya hampir habis.

Aku mengeluarkan novel kesukaanku dari tas. Membaca saat sambil menunggu adalah hal yang biasa bagiku. The Lost Symbol karya Dan Brown menjadi temanku menunggu saat ini. Karya-karya penulis ini sangat sesuai dengan seleraku yang memang memiliki basic keilmuan Antropologi dan minat di bidang Sejarah, Misteri dan Teka-Teki.

"Sabar... Sabar!" ucap lelaki bule bernama James itu kepada kekasihnya yanh terlihat sangat resah.

Aku menutup novel The Lost Symbol yang baru l kubaca satu halaman. Minatku untuk membaca surut. Kini, aku sibuk memperhatikan perempuan muda itu. Ekspresi wajahnya yang cemas dan resah terlihat begitu menarik.

Sesaat kulihat perempuan muda itu membuka tasnya dan mengambil sebuah kotak yang terlihat seperti kotak perhiasan, namun agak berbeda dengan kotak perhiasan yang biasa. Kotak beludru itu bermotif unik, seperti sebuah symbol gambar dan angka. Hanya sekilas aku melihatnya, sebab perempuan itu kembali memasukkan kotak tersebut ke dalam tasnya.

Aku meninggalkan trolleyku dan berjalan ke arah mereka untuk meminta agar diperlihatkan kembali kotak tersebut. Walau sekilas, kotak itu mampu mencuri perhatianku. Dan aku yakin, ada yang tidak biasa di kotak tersebut.

"Permisi," ucapku menyapa perempuan muda itu. Perempuan muda itu terlihat kaget dan mengekap erat tasnya yang berisi kotak perhiasan tersebut, dia langsung bersikap defensif dan berlindung dibelakang kekasihnya.

"Itu kopor kita!" ucap perempuan itu yang kemudian diambilnya dan dimasukkan ke dalam trolley. "Ayo kita pergi sekarang." Perempuan muda itu menarik kekasihnya dan segera berlalu keluar dengan terburu-buru, meninggalkanku yang tak digubrisnya.

Aku diam memperhatikan perempuan muda itu berlalu dengan pikiran-pikiran tentang perempuan muda itu dan motif kotak perhiasan yang tidak biasa tersebut. "Hey!" teriakku kepada perempuan muda itu yang sudah menjauh saat kusadari ada yang terjatuh dari tasnya yang tidak ditutup rapat akibat terburu-buru tadi. Sayangnya, perempuan muda itu sudah sangat jauh dan tidak mendengar aku memanggilnya.

Aku mengambil secarik kertas yang terlihat seperti corat coret-bagi orang biasa-yang aku sadari bahwa ini bukanlah corat coret biasa. Kertas ini berisi coretan sebuah 'plan' yang ditulis secara acak. Daru coretan di kertas itu aku mendapat beberapa nama dan informasi. Irina, James, Andrei, Brazil, Permata dan Kotak Kode.

Pikiranku langsung tertuju pada kotak perhiasan bermotif aneh tadi. Dan naluriku pada hal berbau misteri dan teka-teki membangkitkan gairahku.

Aku segera melipat, memasukkan kertas tadi dan menyimpannya ke dalam saku celana saat seseorang menepuk pundakku, menunjuk ke arah sebuah tas berwarna biru tua, menanyai apakah itu tas milikku. Aku mengangguk kecil dan memasukkannya ke dalam trolley dan berlalu keluar sambil berharap akan bertemu perempuan muda tadi diluar.

"Excuse me, Sir." Seorang lelaki berkulit hitam menghentikan lajuku. Kemudian lelaki itu mengeluarkan sebuah foto dan menanyakan apakah aku melihatnya.

Sejenak aku terkejut saat melihat foto yang dikeluarkan lelaki iti adalah foto perempuan tadi. Di foto itu ditulis nama Irina dengan pulpen berwarna merah. Aku menggeleng lemah kepada lelaki itu-berbohong.

Kemudian lelaki berkulit hitam itu berlalu dariku, lalu dia beranjak ke orang yang lain dan menanyakan hal yang sama. Asumsi-asumsi langsung beranak pinak dalam pikiranku mengenai perempuan muda bernama Irina itu, permata dan kotaknya yang aneh itu.

Jumat, 24 Mei 2013

Gelato Untukmu

"Kamu pernah dengar dan cicipin ice cream yang namanya gelato?" Aku menaikkan alis mata saat mendengar nama jenis ice cream yang disebut oleh Sofi.

"Tidak," jawabku singkat.

Sofi menoyor kepalaku, sahabat kecilku itu mengacak rambutku yang selalu kutata dengan rapi. "Kamu payah. Katanya pecinta ice cream, masa nggak tau apa itu gelato," ucapnya seraya mencibir. "Gelato itu ice cream khas Italy. Ice cream rendah lemak dengan tekstur yang lembut. Pengin deh nyicipin itu."

"Nanti aku akan belajar untuk membuatnya. Dan kamu harus mencicipi gelato buatanku." Aku mengumbar janji kepada Sofi yang juga maniak ice cream sepertiku.

Sekelebat ingatan percakapan dengan Sofi beberapa tahun yang lalu. Percakapan yang bisa dibilang merupakan percakapan terakhirku dengannya, obrolan tak penting yang hampir setiap malam kita lakukan. Obrolan malam itu adalah yang terakhir kami lakukan sebelum beberapa hari kemudian aku harus pergi meninggalkan Sofi untuk pindah ke kota lain untuk melanjutkan kuliah disana.

"Sof, aku udah bisa bikin gelato buat kamu. Gelato rasa cokelat mint dengan taburan almond. Ini favorit kamu kan?" Suaraku bergetar dan airmataku tak kuasa menahan diri untuk menetes.

Seminggu yang lalu aku menyelesaikan studiku, dan kembali ke kota ini. Selama aku kuliah diluar kota, hampir tak pernah aku berkomunikasi dengan Sofi. Sesekali, dan biasanya percakapan yang kami lakukan hanya basa-basi dan tak lama. Enam bulan yang lalu adalah yang terakhir aku mengobrol dengan sahabat kecilku itu, setelahnya tak ada lagi. Yang membuatku bingung adalah ucapan selamat tinggal yang dia ucapkan kepadaku diakhir percakapan itu. Seperti sebuah salam perpisahan.

Seminggu yang lalu aku kembali pulang ke rumah, dan mendapati kenyataan kalau aku tidak dapat lagi berbicara dengan Sofi, seperti masa sebelum empat tahun yang lalu, obrolan yang selalu kami lakukan hampir setiap malam.

"Sofi udah nggak ada, Nak Rangga. Selama ini Sofi mengidap kanker darah, dan menyembunyikan sakitnya ke semua orang selain keluarga, termasuk kamu. Enam bulan lalu dia meninggal, tak lama kalian ngobrol untuk terakhir kalinya.

Airmataku menderas. Sore ini, dihadapan makamnya, tanganku menggenggam dua buah gelas gelato yang susah payah kubuat. Hari ini adalah hari ulang tahun Sofi.

"Sof, selamat ulang tahun. Maaf baru bisa buatin gelato ini ke kamu hari ini." Aku meletakkan sebuah gelas di atas nisan bernama Sofiah Namira bin Abdul Ghaiswarna.