Kamis, 07 November 2013

Sebuah Puisi Untuk Bibirmu Yang Perawan



“Aku jatuh cinta.” Pernah aku mengucapkan kepadamu di suatu senja yang memesona.
“Pada siapa?” Kau mengucapkan kalimat tanya itu dengan sorot mata bahagia. Seperti seorang kekasih yang mendengar kabar kekasihnya akan kembali.
“Pada bibirmu yang perawan.” Lalu kulihat kau memandangku lesu.
“Sudahlah, jangan bercanda.” Kau berkata seolah aku pembual yang ulung. “Tolong, buatkan aku sebuah puisi. Aku ingin mendengarnya lagi.”
“Ya, andai saja ini adalah sebuah lelucon. Mungkin hal ini adalah lelucon yang akan aku tertawakan suatu hari nanti.”
“Kapan?”
“Nanti, ketika aku sudah lelah untuk menuliskan puisi untuk seorang perempuan yang tak lelah menanti kekasihnya yang tak pernah kembali.”



*Diikutsertakan dalam #FF100Kata di sini

Minggu, 27 Oktober 2013

Nasehat Ibu Kepada Anaknya

Suatu hari nanti, anakku
Jika tiada lagi tersisa masa kanakmu
Lalu menjadi dewasa dan tua ialah hukum yang tak dapat kau lawan
Ingatlah nasehat ibumu ini:

Kala kau memberikan cinta dan kesetiaan kepada seorang wanita
Dan dia mengkhianatinya
Janganlah kau jadi membenci rasa cinta dan tak setia

Kala kau memberi kepercayaan kepada sahabatmu
Dan ia merusaknya
Janganlah kau menjadi tak percaya kepada orang lainnya

Kala kau berbuat baik dan memberikan ketulusanmu kepada mereka yang membutuhkan
Dan mereka melupakanmu kelak
Janganlah kau menjadi pelit hati dan mengacuhkan orang yang membutuhkan lainnya

Anakku, suatu hari kelak
Kau akan menjadi dewasa lalu menua
Sepasang matamu akan melihat banyak noda
Sepasang tanganmu akan berlumuran kotoran
Sepasang telingamu akan mendengar cacian
Dan hatimu yang satu akan mendapat tikaman

Bila kelak nanti kamu menjadi dewasa lalu menua
Ingatlah anakku
Dulu, kau pernah merasakan masa kanak-kanak yang lepas

Sepasang sayap pernah ada di bahumu
Siap membawamu terbang tanpa takut terjatuh
Tanganmu begitu ringan untuk membantu teman-temanmu yang menangis karena terjatuh
Mulutmu tak pernah pelit mengeluarkan tawa

Kelak, ketika hal itu tiba
Ingatlah nasehat ibu
Tetaplah menjadi kanak-kanak

Sabtu, 19 Oktober 2013

Kepada Dia, Ingin Kusampaikan Hal, Yang Hanya Sanggup Tertuliskan Dalam Kata

Ada yang lebih tak sederhana dari kata-kata
Ialah pikiran yang menolak untuk digetarkan lidah

Aku bukan penyuara ulung
Dan selama ini jemariku lebih tau caranya bekerja daripada lidah
Sebab itu, aku lebih fasih berkata-kata daripada bersuara

Suatu hari di jelang petang yang entah kapan
Di sebuah perempatan lampu merah
Di antara deretan mobil mewah
Aku melihat dia, orang yang hidup dari belas kasihan

Dulu, saat aku masih setia menduduki bangku kayu usang yang enggan diganti
Guruku yang berkacamata dengan sebelah tangkainya yang patah berkata
Untuk apa kenyang apabila hati tak tenang

Aku mengingatnya dengan jelas dan terasa segar
Seperti segelas es jeruk yang kuminum saat ini

Ingin rasanya aku bersuara kepada dia
Orang yang saban hari menjilat ludah dan lidahnya
Bersuara, tak hanya berkata
Mengucapkan kalimat sederhana yang diucapkan guruku yang tak kalah sederhana
Kepada dia, orang yang selama ini menghidupiku, bahwa:
Buat apa kenyang apabila hati tak tenang.

Rabu, 28 Agustus 2013

Kepada Perempuan Pertamaku

Tahukah kamu, bahwa aku masih mengingatmu?
Senyummu, ialah hal yang tak akan pernah lenyap dan lesap di pikiranku.

Katamu dulu, setiap manusia memiliki memori yang terbatas
Apa yang terjadi di masa lalu akan terlupa pelan-pelan, dan kenangannya akan memudar perlahan
Dengan pasti, tanpa disadari

Kepada perempuan pertamaku
Mungkin kamu sudah lupa, pada senja di pinggir jalan tempo dulu
Ketika kita saling berdiri dalam diam
Menunggu datangnya bis umum yang akan mengantarmu pulang
Lalu sebuah kalimat terucapkan dari lidahku yang bergetar dan tubuhku yang keringatan

"Saya menyukaimu. Bukan oleh kecantikanmu, sebab kamu tidaklah cantik. Bukan oleh kebaikanmu, sebab ada yang lebih baik darimu. Hanya saja, saya menyukaimu, bukan kepada yang lain."

Mungkin kamu lupa, pada kata yang menjadi awal dari kita
Menjadi kait yang mengikat janji yang aku ucapkan
Untuk menjaga senyummu terus terkembang dan mengembang

Aku masih jelas mengingatmu
Sebab, kuletakkan ingatan itu di dadaku
Dalam sebuah ruang di salah satu bilik jantungku
Agar tiap kali aku menghirup udara, kau selalu terkenang

Maka itu, biarkan aku mengingatmu
Dalam sebuah ruang yang tak pernah ada tanda tanya atau celah untuk melupakanmu.

Jumat, 23 Agustus 2013

Puisi dan Doa Untuk Hujan di Sore Hari

"Masihkah kamu menulis puisi, dan berdoa setiap pagi, agar hujan turun sore hari?"
Aku masih ingat pertanyaan darimu tempo hari

Kemarin ilu terasa di gigi
Membelit lidah hingga tak mampu berkata
Pada akhirnya aku diam hingga kau pergi
Dan kulihat punggungmu dibayangi senja

Mungkin kau lupa, bahwa aku tak pernah lupa
Puisi ialah doa
Seperti yang dulu kau kata
Yang menggumamkan asa, dan menghapus dosa; yang kita buat dahulu kala.

Aku tak pernah berhenti menulis puisi
Pun juga doa agar hujan turun di sore hari

Di mana aku menulis puisi? Kamu tahu?
Di sini! (jemariku)
Di sini! (dadaku)
Di sini! (jantungku)
Di sini! (pikiranku)
Aku menulis puisi di manapun aku dapat menemui sepi, kamu tahu?

Lalu, tahukah kamu alasan aku berdoa tiap pagi?
Aku, berharap hujan turun di sore hari
Agar pilu, yang selalu hadir di tiap pagi
Dapat melarungkan sendu, bersama hujan dan senja di sore nanti