Rabu, 12 Februari 2014

Aku Menyayangimu, Ibu.

Bagiku, ibu adalah segalanya. Matahari bagi duniaku; pusat dari segalanya. Ketika aku merasa sedih, hanya ibu yang sanggup meredakan kesedihanku dengan sekejap. Pelukannya begitu hangat, dan rengkuhan lengannya begitu pas melingkari punggungku.

Aku menyayangi ibu. Ibu selalu menenangkan gelisahku ketika aku bersedih. Ibu selalu menyemangati diriku. Acap  kali ibu memelukku, segala kesedihan menguap, berganti menjadi perasaan yang begitu hangat dan menenangkan. Bagiku, ibu adalah segalanya.

Aku menyayanginya.

***

Namun, semua itu perlahan berubah, sejak ibu mengenal lelaki tua itu.
Aku tak pernah menyukai lelaki itu. Lelaki tua yang sering mengantar ibu pulang. Lelaki paruh baya berusia hampir 50 tahun itu juga sering datang ke rumah dan mengajak ibu–dan aku–berpergian.

Aku tak menyukai lelaki tua itu.

***

Bagiku, ibu adalah segalanya. Saat ini dia sedang menangis dihadapanku, memeluk tubuh kaku lelaki tua itu. Tubuhnya sudah kaku. Aku tersenyum. Setelah ini, ibu tetap hanya milikku. Di tanganku, pisau kecilku baru saja berhasil memutus urat leher lelaki tua itu.

Aku menyayangi Ibu.

Rabu, 05 Februari 2014

Hikayat Hidup Dona


Di suatu malam yang senyap, terdengar sayup-sayup suara jangkrik dari lapangan kosong penuh semak-semak, di kejauhan, ada sepasang manusia yang duduk berhadapan dalam diam, namun saling menorehkan kesedihan.

“Itu keputusanmu?” ucap Landu memecahkan keheningan. Suara yang akhirnya memberikan bukti bahwa di sana masih ada manusia yang hidup.

Dona mengangguk mantap. Matanya dengan tegas menatap kekasihnya yang sudah menjadi mantan beberapa menit yang lalu.

“Kenapa?” tanya Landu kembali meminta penjelasan, hal yang sudah pernah diucapkan sebelumnya oleh Dona ketika mengutarakan niatnya untuk berpisah. “Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?”

Dona menggeleng.

“Lalu kenapa?”

Dona diam–menahan diri–tak menjawab satu pun pertanyaan Landu, pemuda desa yang paling keren.

“Aku sangat mencintaimu, Dona,” ucap Landu seraya memegang tangan kekasihnya yang sudah menjadi mantan itu. “Aku ingin menikahimu.”

Dona menarik tangannya dengan keras, sekeras raut wajahnya sekarang. “KALAU GITU KERJA!! HIDUP GA CUKUP DENGAN CINTA DOANG!”

Landu, pemuda pengangguran paling keren di desa ini diam menahan malu. Matanya hanya mampu menatap mantan kekasihnya itu meninggalkannya.

Rabu, 29 Januari 2014

Kirana

“Bahagiakah kamu sekarang, Kirana?” Aku bertanya kepada  seorang perempuan yang begitu aku cintai dan juga mencintaiku–kesedihanku. Malam ini, dengan sangat telaten aku menghitung waktu, mengukur rentang jarak yang berkali-kali dijalani oleh bulan untuk mengitari bumi, hingga aku bertemu denganya lagi tiap malam. Sudah empat ratus hari, bulan menyapaku tiap malam, dan menempuh jarak sejauh 2.414.050,84 km setiap harinya. Kira-kira sejauh itulah jarak yang ditempuhnya untuk menemaniku di beranda, berdiam diri memikirkanmu.

“Benarkah perhitunganku? Jika salah, beritahu aku, sebab kau lebih pintar berhitung,” kataku. Kirana adalah perempuan cerdas, berkali-kali aku salah dalam perhitungan, selalu ada selisih, dan aku ada di pihak yang salah. Seperti dahulu, satu tahun yang lalu, lagi-lagi aku kalah dalam perhitungan. Aku pikir, aku akan baik-baik saja tanpamu, tapi nyatanya tidak. “Perhitunganku meleset jauh, Kirana.”

Aku menatap bulan yang bersinar setengah, lalu beranjak ke kamar. Di bawah lemari, dengan baik aku simpan seluruh foto Kirana, termasuk foto saat dia memakai gaun pengantin dan bersanding dengan lelaki lain.

Minggu, 12 Januari 2014

Liebster Blog Award 2014

Ada 10 pertanyaan dari Petronella Putri mengenai Liebster Blog Award 2014. Ini dia nih 10 pertanyaan yang harus dijawab:

1. Apa alasan kalian suka baca buku?
Suka. Tapi lebih suka beli daripada bacanya. :/

2. Fiksi atau non fiksi? Why?
Fiksi. Karena hidup tak lebih nyata daripada kisah fiksi.

3. Punya jam-jam khusus untuk membaca? Jika, ya, berapa jam sehari? Jika tidak, kapan saja kalian biasanya meluangkan waktu untuk baca buku?
Nggak punya jam khusus, sebab yang khusus hanyalah waktu buat mikirin kamu. :">

4. Prefer online or offline shop untuk belanja buku? Why?
Online ajalah. Soalnya diskon. Lebih prefer lagi beli novel dari penerbit tertentu tapi belinya nitip sama teman yang juga penulis di penerbit itu. Biar diskonnya lebih gede lagi. :p

5. Genre favorit kalian?
Fantasi. Sama genre thriller (detective).

6. Berapa budget yang kalian sediakan dalam sebulan untuk belanja buku? : )) Kira-kira aja, sekedarsurvey.
Tergantung gaji. *maklum freelance* Kalo lagi gajian banyak, bisa sampai 500rb per bulan. Kalau lagi bokek, nyari novel second ajalah. 150rb bisa kebeli banyak.

7. Apa rating orang di Goodreads/review orang lain di blog mereka memengaruhi keinginan kalian untuk membeli sebuah buku?
Cukup mempengaruhi. Sama rekomendasi teman yang sering diskusi novel bareng.

8. Cover buku apa yang menurut kalian paling kece sejauh ini? Kalau bisa, tolong posting gambarnya juga, dong :p
Cover buku paling kece? Gua suka cover novel Refrain karya Winna Effendie. Cover yang lamanya simple, tapi manis. Kalau versi cover filmnya juga bagus. Soalnya ada gambarnya Maudy Ayundanya. <3 p="">
9. Tokoh fiksi yang paling bikin kalian jatuh cinta? (Tokoh fiksi cewek untuk yang cowok, tokoh fiksi cowok untuk yang cewek)
Hermione Granger!! Uwughh banget deh. Cantik, pintar, dan... pacar-able banget kayaknya. :D

10. Buku apa saja yang tahun lalu menyesal kalian baca/tidak kalian selesaikan? Mengapa?
Banyak banget!! Udah banyak gua jual di online shop punya gua malah. :)) Alasannya? Ada beberapa yang nggak sesuai dengan genre favorit, dan sebagian lainnya adalah karena kualitas penulisan dan teknik penulisannya yang buruk. :D

Senin, 16 Desember 2013

Sebatang Pohon dan Tukang Kayu

Aku mengingatmu sebagai sebatang pohon yang penuh goresan kala aku menemukanmu sore itu, di tengah belantara kota ini. Daunmu rindang, menawarkan teduh kala di dekatmu, namun, seperti ranting di musim kemarau, kau begitu rapuh kala angin menghempaskan dirinya ke arahmu.

Aku akan selalu mengingatmu sebagai sebatang pohon yang koyak oleh hujan. Hal yang seharusnya membahagiakan, justru menggoreskan satu per satu duka di dalam hatimu. Dan aku, laiknya tukang kayu yang tak rela melihat sebatang pohon hanya menjadi sebatang pohon yang sia-sia. Sebab itulah, aku berusaha membentukmu, dari sebatang pohon yang terluka menjadi hal lain yang lebih indah.

Aku pandai membuat, sayangnya tak dianugerahi kemampuan mempertahankan yang sama mumpuni.

Setiap hujan, aku selalu mengingatmu sebagai sebatang pohon yang kuyup oleh kesedihan, dan aku pelan-pelan menghilangkan bagian itu satu per satu dari tubuhmu. Lalu membuatnya menjadi sebuah pajangan yang menghiasi ruang tamuku, kursi yang menemaniku nenghabiskan waktu di sore hari untuk membaca dan ranjang yang setia menerima tubuhku tiap malam.

Hal-hal itu akan selalu kembali dalam pikiranku saat gerimis mulai turun dan menggemericikkan sunyi. Adakah kau mengalami hal seperti itu?

Aku selalu menjadi pemenang dalam hal membuat tapi selalu kalah dalam mempertahankan. Seperti malam itu, ketika hujan tiba, kau lebih memilih menempati ruang tamu yang lain, menemani orang lain duduk berlama-lama denganmu dan menerima rebah tubuhnya tiap malam, bukan aku.

Semoga, hanya aku yang menjadi tukang kayu yang jatuh cinta kepada sebatang kayu yang koyak oleh hujan, lalu membentuknya menjadi furniture yang lebih menginginkan menjadi pemanis di rumah yang lain.