Kamis, 15 Januari 2015

Review: Sekilas Cerita Tentang Koala Kumal

Format:Soft Cover, Tanda Tangan
ISBN:0000768154
ISBN13:2010000768150
Tanggal Terbit:17 Januari 2015
Bahasa:Indonesia
Penerbit:GagasMedia
Dimensi:130 mm x 200 mm

Koala Kumal adalah buku terbarunya Raditya Dika. Siapa yang belum tau siapa Raditya Dika? Silahkan cek di sini kalau memang belum tau yah.

Nah jadi begini, sebagai salah satu dari sekian banyak orang yang 'war' dalam merebut kesempatan beli PO buku terbarunya dese, gua mau kasih beberapa review singkat mengenai buku ini. Iya WAR = Perang. Sebab, PO dengan hadiah 1 kaos ekslusif Koala Kumal ini awalnya hanya untuk 1000 pemesan pertama yg order dan bayar duluan. Dan lo tau kenapa ini gua bilang 'war'? Karena website bukabuku.com sebagai online bookstore yang nanganin proses PO Koala Kumal langsung down ketika pukul 00.01 (menit pertama) PO Koala Kumal dibuku! Dan dalam waktu 1 jam PO ditutup karena katanya sudah ada 1000 orang pemesan.

sumber: koleksinya Rido Arbain


Oke, mari kita mulai reviewnya:

Koala Kumal secara singkat adalah sebuah buku kumpulan cerita yang katanya merupakan pengalaman pribadinya Radit yang tentu saja nama tokoh asli dalam cerita ini sudah disamarkan.Seperti buku-buku Radit lainnya yang mengusung tema tertentu dalam setiap bukunya, di Koala Kumal ini secara menyeluruh Radit mengangkat tema Patah Hati. Patah hati di sini bukan hanya menyoal cinta saja, tapi juga patah hati pada hubungan persahabatan, patah hati pada kesan pertama dan tentu saja patah hati menyoal cinta.

Cerita pertama di Koala Kumal ini bercerita tentang masa kecil Radit dan pengalaman di bulan Ramadhan yang identik dengan petasan. Di bab ini menceritakan bagaimana rusaknya sebuah persahabatan hanya karena keegoisan masa kecil dan petasan. Sebuah pembuka yang sepertinya kurang mantap untuk sebuah buku komedi. Di bab ini lebih banyak sesuatu yang harus direnungkan alih-alih ditertawakan, namun, memang beberapa hal yang ditertawakan selalu berujung pada perenungan.

Cerita-cerita selanjutnya umumnya bercerita tentang patah hati yang berkaitan dengan sebuah hubungan: patah hati ke gebetan, patah hati pada kesan pertama dan bagian yang terbaiknya ada di bab Patah Hati terhebat. Yap, secara pribadi bab Patah Hati terhebat adalah bagian cerita terbaik di buku Koala Kumal ini. Bagian terbaik namun bukan bagian terlucu.

Sementara bab terakhir di buku Koala Kumal ini merupakan bab penutup yang manis. Sebuah sketsa yang berasal dari foto di bawah ini adalah sebuah rangkuman yang menjelaskan mengenai isi buku secara keseluruhan. Bab terakhir di buku Koala Kumal ini lebih dominan pada hal yang sangat filosofis dramatis.. Deskripsi yang menjelaskan sebuah kesimpulan: ketika kita kembali ke tempat lama, bisa jadi kita sudah merasa asing dengan tempat tersebut. Seolah sebuah quotes umum: time flies, people change, akan begitu terasa lekat saat buku ini selesai dibaca.
sumber: di sini


Secara pribadi, menurut gua, Koala Kumal ini adalah buku Radit yang bukan dikhususkan untuk pembaca baru. Iya, ini bukan buku yang sepertinya bisa dinikmati oleh orang-orang yang baru pertama kali baca karyanya Radit. Ini buku komedi yang tidak terlalu kental lagi mengenai unsur komedinya. Namun bagi gua yang baca bukunya Radit sejak awal, buku ini tetaplah sebuah buku khas dari Raditya Dika, buku yang gua percaya bahwa gua akan mendapatkan 'sesuatu' setelah menyelesaikan buku ini. Dan walau gua lebih banyak merenung daripada ketawa saat baca Koala Kumal ini tapi gua cukup puas. Penantian 3,5 tahun (sejak terakhir Manusia Setengah Salmon) terbayar tunai oleh buku ini. :)

Kamis, 25 Desember 2014

Bagaimana Jika Aku Tak Lagi Dapat Menjumpaimu Esok Hari

Kekasih, aku bahkan tak paham, esok, masihkah ada yang dapat kupijak.
Hari ini aku selalu risau;
mampukah aku tetap berdiri tegak.

Esok bagiku, ialah bagimana hari ini.
Begitulah kehidupan.
Selalu ada kejutan.
Celakanya, aku selalu berkawan dengan kesialan.

Kaki-kaki yang getar.
Bibir terkatup
Lidah yang tak lagi fasih menyemangati hati.
Dan rasa percaya diri yang mulai kehabisan nafas.

Kekasih, yakinkan kepada dirimu.
Jika esok itu tak kunjung juga datang kepadaku, teruslah kau berjalan.
Temui esokmu sendiri;
yang bukan denganku.

Rabu, 10 Desember 2014

Di Suatu Hari Saat Aku Mengingatmu

Aku mencari dirimu di antara jalan yang dulu kita lewati
Kenangan, ialah jejak sepatu
Di antara debu yang menyimpan jejak-jejakmu

Waktu ialah yang paling tabah menghadapi keheningan
Aku lebih pintar berkata-kata
Alih-alih bersuara
Dan kamu ialah pemenang dari sunyi yang kita lombakan

Suatu hari, di suatu kota turun hujan
Di sana aku membayangkanmu
Mengadah ke langit, berusaha menampung segala airmata;
termasuk airmaamu sendiri

Cinta tidaklah kekal, kekasih
Yang abadi ialah kenangan
Sebab itu aku selalu mengingatmu
Bahkan setelah cinta itu sudah membunuh dirinya sendiri

Kadang aku membayangkan
Sepasang tangan kita akan dapat menghentikan waktu
Menyisakan sedikit jeda untuk kita sia-siakan bersama
Hanya beradu pandang
Tanpa kata-kata
Tanpa suara
Dan hening menggenapi segala keganjilan diri
Mengisi segala kekosongan dan keomongkosongan
Menjadi suara di antara senyap;
yang ada di hati kita masing-masing

Kamis, 27 November 2014

Wake Me Up When September Ends

Aku memegang tangan kekasihku. Kami duduk di sebuah ruangan yang penuh dengan kaca. Begitu ada banyak kami di dalam ruangan ini, sehingga kami tak merasa kesepian.

“Tahukah kamu hal yang paling menyedihkan?” Aku mendongakkan kepala menatap sepasang mata kekasihku yang basah. “Sebuah perpisahan,” ucapnya lagi.

Tangannya memegang erat lenganku. Aku menepuknya pelan, lalu tersenyum. “Setidaknya tidak semenyedihkan perpisahan yang diam-diam. Perpisahan tanpa ada perayaan, tanpa ada perkataan.”

“Terkadang, aku ingin menggugat keadaan.” Kekasihku kembali berkata. Kulihat dia menggigit bagian bawah bibirnya yang sering kukecup. “Kenapa harus kamu, kenapa bukan orang lain?”

“Karena hanya aku yang bisa, Sayang.” Kubelai lembut helai rambutnya yang kekuningan, kusampirkan di daun telinganya yang selalu kubisiki kata cinta. Aku mendekatkan wajahku dan membisikkan kembali kalimat itu. “…sampai kapan pun. Bahkan jika nanti, ketika aku kembali, kau sudah menjalani kehidupanmu selama kebersamaan kita, dan kamu tak secantik saat ini.”

“Sudah waktunya,” sela seorang berpakaian perawat yang masuk diam-diam dari pintu yang berada di belakangku.

Aku bangkit dan bersiap, namun genggaman kekasihku begitu kuat. Isakan tangisnya perlahan terdengar lebih keras. Siapa pun dia, termasuk kekasihku, tidak ada yang pernah siap menghadapi perpisahan dengan orang dicintainya.

Aku tak tahu kapan lagi akan bertemu Arsailina. “Tunggu sebentar,” ucapku kepada perawat yang sudah berdiri beberapa langkah di depanku.

“Kami tunggu di depan,” ucapnya singkat tak berbasa-basi.

“Arsa,” bisikku kepadanya. Kupegang bahunya yang gemetar dan kupeluk tubuhnya yang sudah khatam kujamahi. “Jika nanti aku kembali, aku akan meminta kepada mereka untuk membangunkanku di bulan September. Agar nanti aku bisa merayakan ulang tahunmu yang entah ke berapa.” Sekali lagi kudaratkan sebuah kecupan untuknya di ubun-ubun kepalanya.

“Berjanjilah,” ucapnya lirih.

“Ya.” Kulepaskan pelukanku dan beranjak menuju pintu. Di sana perawat tadi sudah menungguku.

***

Arsailina berdiri memandangi Zei yang berjalan memunggunginya. Zei adalah seorang sebagai agen rahasia. Arsailina sudah terbiasa melihat punggung suaminya ketika berangkat menjalani misinya, namun kali ini punggung itu terlihat begitu jauh. Arsailina mengangkat lengannya, mencoba menggapai punggung semakin menjauh, ke tempat yang tak akan pernah bisa dia gapai.


Di tangannya digenggam sebuah surat dari sebuah organisasi rahasia milik pemerintah yang menyatakan suaminya menjadi salah satu dari beberapa orang yang akan ‘ditidurkan’

.
*Dikembangkan dari fiksimini Ahmad Abdul Mu'izzWAKE ME UP WHEN SEPTEMBER ENDS. Aku hanya tak ingin bertambah tua.

Silsilah Luka

Sumber: http://arzuhan.deviantart.com/art/Darkness-100010629
Rumi berdiri menatap cermin yang memantulkan separuh bayang tubuhnya. Dari sebelah kanan, cahaya lampu jalanan masuk sebagian melalui celah jendela yang tak tertutup rapat. Tak banyak cahaya yang dapat masuk ke dalam kamar yang lampunya entah telah mati sejak kapan.

Dia tersenyum menatap wajahnya sendiri, lalu kadang tertawa kecil. Dia mengambil lipstik berwarna semerah darah lalu dioleskan ke bibirnya secara serampangan. Kini, seputar bibir, mulut dan pipinya berwarna merah, dengan sedikit noda merah lainnya yang sudah ada di sana sejak tadi.

“Huahahaha.” Rumi tertawa terbahak saat melihat hasil riasannya sendiri.

Diletakannya lipstik tersebut dan kemudian dia mengambil bedak yang berada tak jauh dari tempat dia meletakkan lipstik. Dipoleskannya pelan-pelan ke pipinya. Tangannya gemetar saat melakukan hal tersebut. Jemarinya yang kemerahan sudah mulai terasa lengket dan sulit untuk digerak-gerakkan. Dengan telaten Rumi merias wajahnya sendiri dengan penerangan seadanya.

Peralatan di meja rias tersebut cukup lengkap, dan Rumi terus mencoba satu per satu dengan cara yang salah. Dirinya yang selama ini tak pernah belajar dan diajarkan cara merias wajah. Jemarinya tak fasih mengenal pelbagai peralatan kecantikan yang ada di hadapannya.

Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kebohongan. Karena di balik hitam kau akan menemukan terang.

“Aku cantik kan, Sayang?” ucap Rumi kepada lelaki yang tertidur di ranjang di belakangnya. Dia terlihat pulas berbaring tanpa busana.

Rumi bangkit dan berjalan ke arah ranjang, dan duduk di tepinya. Tangannya membelai lembut rambut kekasihnya yang kaku dan berbau amis.

“Cantikan mana, Sayang? Aku pakai make up atau aku yang tidak pakai make up?”

Jemari Rumi menyusuri lekuk wajah kekasihnya. Dia mendekatkan wajah dan mencium keningnya.

“Katamu, tanpa make up pun aku sudah cantik. Katamu, ‘tak perlu kamu berias, kamu sudah cantik. Aku cinta kamu.’”

Rumi bangkit dari tepi ranjang, lalu berjalan ke tepi ranjang yang lainnya. Saat melewati meja rias dia mengambil sebuah benda yang ada di atasnya.


“Tapi, kenapa kamu memilih dia!!” pekik Rumi. “Kalau aku lebih cantik, kamu mencintaiku, kenapa kamu berkencan dengannya!!” Dihantamkannya berkali-kali palu yang digenggamnya ke batok kepala perempuan yang tubuhnya telanjang. Dia tergolek di bawah ranjang. Paras wajahnya yang cantik sudah penuh dengan darah yang mengalir dari celah rongga kepalanya.