Senin, 25 Januari 2016

Pesta Fiksi #25Januari - Sepasang Jarum Jam

"Sepasang jarum jam adalah tangan kita yang saling berpelukan."

Aku mengingat dengan jelas saat bait itu kamu ucapkan. Suaramu yang terdengar serak dan kering itu masih menggema di daun telinga; berulang-ulang membisiki telinga saat aku memejamkan mata. Waktu telah melompati bilangan bulan,sejak terakhir kamu membacakan sepenggal bait puisi dari penyair yang kamu kagumi itu kepadaku-dan ingatanku masih segar tentang hal tersebut.

Mataku mengerjap. Di hadapanku ada pulahan pasang orang berkemeja bagus dan bergaun cantik yang berdiri sambil mengobrol atau makan. Sebagian lain dari mereka berjalan mengular menyalamiku seraya membisikkan kalimat 'selamat ya'. Lalu kemudian mereka berdiri berjejer di sampingku untuk foto bersama. Aku hanya bisa membalas dengan senyuman kepada orang-orang yang sebagian besar tidak kukenal siapa.

Pada saat seperti ini, entah kenapa aku kembali mengingatmu. Mataku terasa panas. Mengingatmu adalah caraku menertawakan takdir. Setelah sekian lama akhirnya aku harus mengakui kata-kata dalang gila itu yang berkata dalam bukunya yang kurang lebih berbunyi; "jatuh cinta adalah takdir, menikah itu pilihan."

Waktu terus berjalan, orang-orang berubah namun kenangan akan selalu kekal. Begitu ucapmu dulu. Bahkan jika nanti jalan kita berseberangan, aku masih akan tetap mengingatmu dengan baik. Timpalmu kembali saat itu.

Lalu tak lama setelah kamu mengatakan hal itu kepadaku, kamu pergi meninggalkanku. Tidak pernah mau menemuiku saat aku menghampiri rumahmu.

Kita seperti sepasang jarum jam yang membentang jarak paling jauh dan bertolak sisi.

"Sajak ini adalah caraku mengingatmu, sebuah cinta yang tak lazim." Lamunanku buyar. Kesadaranku tersentak saat mendengar bait ini dibacakan. Perhatianku segera tertuju pada bagian pojok ruangan. Ada lelaki asing yang membacakan puisi tersebut.

"Jatuh cinta, pelajaran terbaik untuk tabah sebelum dan sesudah sakit. Dalam cinta kehilangan hanya soal mengingat dan melupakan." Airmataku merembas membasahi pipi.

Tak lama lelaki itu datang menghampiriku, dan berbisik. "Selamat untuk pernikahannya."

"Kamu siapa?" tanyaku dengan nada tertahan.

Lelaki asing itu tersenyum. "Aku adiknya. Aku datang mewakili dia. Dia meminta maaf tidak bisa menjawab undangan darimu yang datang ke rumah," ucapnya pelan.

"Di mana dia sekarang?"

"Surga."


----------------------------------------------------------------------------------------------------------
* FF 310 kata tanpa judul

Sabtu, 24 Oktober 2015

Seorang Lelaki Pemberani

Kita adalah sepasang punggung yang dipisahkan jarak
Lengan-lengan yang meronta, meraung dan mencakar rindu;
Mengutuk kesendirian

Katamu, kita adalah sepasang hati yang kuat saat saling mendekap
Namun, bagaimana bisa kau menganggapku seperti itu?
Setelah waktu berlalu, di kota yang sama, nyaliku tak pernah berani menggerakkan kakiku untuk menemuimu

Kita adalah sepasang hati yang kalah oleh rindu dan kobar perasaan-perasaan itu padam oleh jarak.

Jika nanti kamu kembali menemukan lelaki pemberani yang lain, maka kabarkan kepadaku berita bahagiamu lewat secarik surat undangan yang kau tuliskan namaku dan partner.

Jumat, 18 September 2015

Jika Suatu Hari Nanti

Jika suatu nanti kita berpisah
Maka beritahu aku
Hari di mana kamu merasa bahagia.

Jika lengan kita tak lagi saling memeluk
Beri tahu aku suatu hari nanti
Sanggupkah dia membahagiakanmu

Jika kau sudah tak lagi bersamaku
Mari kita berjumpa kembali
Dan melihat, siapa yang lebih tabah menanggung duka.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Budaya Membaca Dapat Dipaksakan

Jika melihat fenomena terkini dunia perbukuan yang katanya lesu. Gue kembali berpikir, apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Kondisi ekonomi yang sedang lesu? Tim promosi dan pemasaran yang kurang maksimal? Kualitas tulisan menurun? atau minat membaca yang rendah?

Faktor-faktor di atas dapat terjadi semuanya atau bisa aja hanya salah satunya yang terjadi. Gue kali ini pengin menyampaikan beberapa unek-unek gue soal fakor yang terakhir. Ya, soal minat membaca yang rendah.

Gue bahas ini karena kemarin ketemu salah satu keponakan yang akhirnya baru cerita kalau sebenarnya dia suka banget baca novel, terutama novel detektif, sejarah dan thriller action. Ketika dia cerita seperti itu, gue seneng dengarnya, namun seketika senyum gue saat denger antusiasmenya terhadap bacaan harus terbentur oleh keadaan yang kurang lebih mirip dengan yang gue alami beberapa tahun yang lalu; orangtua menganggap beli novel/bacaan hanyalah sebuah pemborosan.

Menurut survey yang dibuat oleh banyak pihak mengenai minat baca, minat baca masyarakat Indonesia lebih rendah dibandingkan negara tetangga kita, Singapura dan Malaysia. Dari beberapa hasil survey yang gue liat hasilnya sama. Menyedihkan.

Minat baca memang bisa tumbuh secara alami, tapi bisa juga dipaksakan untuk tumbuh kok. Peran orang-orang dewasa sangat berpengaruh terhadap tumbuhnya minat baca. Remaja (SMP atau SMA) umumnya memiliki minat baca dan antusiasme yang tinggi terhadap bacaan. Lihat saja bagaimana buku Raditya Dika sangat laris dan memiliki banyak penggemar. Atau novel bergenre Teenlit yang ditulis oleh Lexie Xu, Sitta Karina,  Luna Torasyngu, dll tidak pernah kehabisan pembaca remaja.

Sayangnya, walau minat baca remaja cukup tinggi, mereka tidak mempunyai kemampuan finansial yang cukup untuk dapat memenuhi hasrat membaca, kecuali memang mereka yang berasal dari keluarga yang secara finansial cukup kuat. Pembaca remaja tidak sama kondisi keuangannya dengan pembaca dewasa (tentu saja). Jika pembaca dewasa yang sudah memiliki penghasilan sendiri, dapat menyisihkan penghasilan mereka untuk membeli buku apa saja yang mau mereka baca. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh pembaca remaja yang uang jajannya masih berasal dari orangtua.

Kasus yang terjadi pada salah satu keponakan gue sangat gue pahami. Dulu pun ketika gue masih sekolah dan belum berpenghasilan, gue beli novel cuma 1 judul dalam 1 bulan. Untuk menyiasati hasrat baca, akhirnya gua sama beberapa teman melakukan estafet pinjam meminjam novel. Cukup ribet tapi setidaknya itu cukup membantu untuk memenuhi hasrat membaca gue.

Nah maksud dari tulisannya ini sebenarnya, gue pengin berbagi kesadaran bagi orang dewasa lainnya untuk support orang-orang di sekitar kalian (minimal keluarga inti lah) yang memang memiliki minat baca yang kuat. Jika memang kalian punya adik atau keponakan yang suka membaca dan memang memiliki dana lebih, support mereka dengan membelikan (minimal meminjamkan) bacaan yang mereka inginkan. Jangan dilarang atau dihambat. Karena gue percaya, lebih banyak membaca akan lebih banyak tahu. Membaca bukan sebuah kesia-siaan dan belanja buku bukan sebuah pemborosan.


Kamis, 25 Juni 2015

Sekotak Awan Hujan Untuk Dia

Bus mulai berjalan pelan saat memasuki kawasan terminal. Aku terbangun dari tidur yang cukup nyenyak untuk sebuah perjalanan yang tidak sebentar. Orang-orang mulai berdiri dan mengambil barang bawaannya. Kupandangi satu per satu wajah penumpang yang terlihat lelah karena tak bisa tidur pulas, sama seperti yang kualami. Aku mengeluarkan sapu tangan yang ada di saku celana sebelah kanan dan mengusapkannya ke wajahku. Memang tidak membuat wajahku terlihat segar, namun setidaknya lebih baik daripada sebelumnya yang terlihat begitu kuyu saat aku mengaca pada layar ponselku.

Aku sengaja menunggu dan turun paling akhir, membiarkan orang-orang yang membawa banyak barang bawaan turun terlebih dahulu. Hal paling menyebalkan saat turun dari bis antar kota adalah ketika turun, dan ada saja orang yang tidak sabar lalu mendorong-dorong penumpang yang ada di depannya.

Kurogoh bagian bawah bangku, dan kuangkat sebuah kotak kaca yang sengaja kubawa dari kotaku. Satu-satunya benda bawaanku. Benda yang sengaja kubawa untuk Dia.

Beberapa orang menghambur ke arahku dan  menawariku tumpangan saat baru saja menjejakkan kaki di Terminal yang sudah kuakrabi. Aku tersenyum tipis dan mengangkat sebelah tangan sebagai tanda penolakan halus dan mereka mengerti tanpa perlu memaksa lebih lanjut. Kesalahan yang sering dilakukan oleh banyak orang dalam menghadapi situasi seperti ini adalah dengan melenggang acuh sehingga orang-orang tersebut memaksa dan tak jarang mengumpat karena tak ditanggapi.
Langit terlihat mendung siang ini. Matahari tidak tampak, padahal seharusnya saat ini dia tengah berada di tengah putaran rotasinya. Aku berdiri tak jauh dari bagian luar terminal, menunggu mobil angkutan umum yang akan membawaku ke rumah Dia. Sambil sesekali kupandangi isi kotak kaca yang aku timang sejak tadi. Semoga Dia suka, gumamku di dalam hati.

***

Aku memanggil dan melambai kepada Dia yang duduk di beranda atas. Hari sudah sore saat aku sudah berada di depan pintu rumah kontrakannya. “Hai,” sapaku singkat saat wajahnya muncul dari balik pintu.

“Kamu telat,” ujarnya ketus. Aku tertawa saat melihat bibirnya mengerucut menahan sebal.

Kupencet hidungnya, dan Dia menepis tanganku lalu mencubit pinggangku. “Hei, hati-hati, nanti kotak kaca ini pecah,” ucapku sambil meliukkan tubuh, menghindari jemarinya yang menarik kulit–lemak–pinggangku.

“Oke, naik dulu gih, aku mau ambil minum.” Dia menunjuk ke arah tangga yang ada di beranda, sementara dia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya dari dalam.

“Sirup lemon yah,” ucapku sebelum menjejalkan kaki ke anak tangga.

Aku menyusuri tangga besi yang melingkar, lalu duduk di bangku rotan yang ada di dekat jendela. Lalu dari dalam ruangan terdengar bunyi pintu terbuka. Dia keluar dari pintu tersebut sembari membawa nampan berisi satu teko sirup lemon dan dua buah gelas.

Beranda atas kontrakan Dia adalah tempat terbaik untuk melihat pemandangan langit. Tidak ada bangunan tinggi atau rumah berlantai banyak yang menghalangi pemandangan. Dari tempatku duduk saat ini, aku dan Dia dapat melihat dengan jelas senja yang tinggal setengah, akibat dicuri oleh seorang lelaki gila untuk diberikan kepada perempuan yang dia cintai.

“Kenapa kamu tertawa?” tanya Dia saat aku tergelak bila memikirkan soal senja tersebut.  Dulu aku menertawakan Sukab[1], lelaki gila yang melakukan kekonyolan ini. Dia menggunting senja lalu mengirimkannya kepada kekasihnya melalui pos. Namun, kini aku bisa mengerti mengapa lelaki itu melakukan hal tersebut.

Cinta itu buta, tepatnya membutakan logika. Setinggi apa pun pendidikanmu, selincah apa pun akalmu, jika seseorang telah jatuh cinta dalam artian sebenar-benarnya cinta–bukan perasaan yang sesaat singgah lalu ditinggalkan saat rasa bosan datang–yang orang itu pikirkan hanyalah bagaimana cara untuk membahagiakan orang dia cintai.

“Tidak apa-apa,” ucapku pelan menanggapi pertanyaan Dia. “Oh iya, ini aku bawakan sesuatu untukmu.” Aku menyorongkan kotak kaca yang kuletakkan di sampingku. “Gantung di sini saja. Jadi jika kamu bosan melihat senja yang tinggal setengah itu, kamu bisa memandangi ini kapan pun kamu mau,” ucapku saat segumpal awan kelabu dikeluarkan Dia dari dalam kotak kaca.

Sementara Dia sibuk mengatur posisi awan kelabu, aku memainkan ponselku dan melihat perkembangan di sosial media. Saat ini, dunia maya sedang gempar oleh berita mengenai hilangnya secuil awan hujan di Kota Hujan. Aku membacanya sekilas dan tersenyum, lalu menutup ponselku kembali.

“Semoga kamu suka ya, Putri Hujan,” ucapku kepadanya. Nama panggilan itu kusematkan kepada Dia, karena perempuan yang ada di hadapanku ini begitu menyukai hujan. Aku membawakan sekotak awan hujan karena di kota ini hujan belum juga turun. Padahal bulan Juni sudah hampir selesai. Hal ini membuat Dia agak kecewa, dan aku tidak mau mengecewakan orang yang kucintai ini.

“Terima kasih, Lelaki Matahari.” Aku tersenyum saat dia memanggilku seperti itu. Kata Dia, selain namaku yang arti Matahari, aku pun memiliki sifat yang sama seperti matahari. Selalu semangat. Aku mengakuinya, jika tidak bagaimana mungkin aku bisa bertahan untuk tetap mencintainya walau aku tau, dia lebih menyukai senja dan juga laki-laki yang mengaguminya.




[1] Tokoh dalam cerita Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma