Rabu, 13 April 2016

Mendengar Radio

Hari ini aku melihat cinta sedang membakar dirinya sendiri
Menjadi abu yang kelabu
Serupa langit yang muram yang siap menghujamkan badai; di hati

Dan kesedihan akan mengekal dalam ingatan

Esok lusa, kesedihan ialah masa lalu yang mengulang di masa depan
Kau akan menjadi nada sumbang yang dinyanyikan di radio kesayangan
Suara-suara pilu yang minta untuk didengarkan berulang-ulang

Dan aku, dengan tabah mendengarkannya hingga tak ada lagi suara yang bisa kudengar; selain tangismu.

Minggu, 10 April 2016

Revie Buku: Koin Terakhir - Yogie Nugraha


Judul: Koin Terakhir
Penulis: Yogie Nugraha
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: Juli, 2013 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. – (lupa)
Jumlah halaman: 287 hal.
ISBN: 978-602-7888-57-9

Blurb:

Sebuah data rahasia milik pemerintah yang disimpan dalam koin berongga dicuri dari Lembaga Sandi Negara. Keamanan nasioanal terancam hancur jika data itu disebarluaskan. Badan Intelejen Negara pun turun tangan. Mereka menugaskan Zen, agen terbaik BIN untuk menuntaskan kasus ini.

Lokasi koin terdeteksi, target pun terkunci. Penugasan yang terdengar sederhana menjelma menjadi malapetakatak terduga, membawa Zen melintasi berbagai negara di Eropa, bahkan mengancam nyawanya. Waktu kian mengimpit, Zen harus bergegas menuntaskan misinya... hanya untuk menemukan bahwa ia berada tepat di tengah konspirasi sebuah organisasi rahasia.

Di tengah gejolak politik dan ekonomi global yang berkecamuk, sebuah skenario besar sudah disiapkan. Bangsa ini tersingkir menjadi orang asing di negeri sendiri. Ketika politik menjadi serupa perang tanpa peluru, batas antara kawan dan lawan semakin membingungkan. Zen pun harus mempertanyakan, siapa sebenarnya musuh mereka?

Review:

Secara keseluruhan, saya menutup buku ini dengan banyak kekecewaan.

1. Pola penulisan yang sangat mengikuti pola novel Deception Point karya Dan Brown. Jika kamu sudah pernah membaca novel tersebut, maka kamu udah bisa menebar arah cerita ini di 20 halaman pertama.
2. Deskripsi yang kasar (terlalu show) dan rapat. Hampir sepertiga isi buku hanya digunakan untuk menjelaskan siapa si tokoh secara langsung di awal. Saya - pembaca - tidak diberikan kesempatan untuk menerka bagaimana sosok tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita, karena, ya oleh penulisnya sudah dijelaskan secara gamblang di awal. Sangat membosankan.
3. Karakter, emosi serta konflik yang terlalu dipaksakan alias nanggung.
4. Alur yang sangat cepat namun tidak cukup kuat. Meski dalam cerita disebutkan bahwa si tokoh berpacu dengan waktu, namun perpindahan cerita dari 1 bab ke bab berikutnya tidak mulus. Miskin narasi.

Saya kecewa.

Sial.


1. First Impression

Saat awal ingin membaca buku ini, saya sudah menduga bahwa penulisnya menjadikan novel karya Dan Brown sebagai acuan utama. Ekspektasi saya lumayan tinggi terhadap novel ini. Perasaan saya berdebar menunggu kejutan seperti apa yang akan diberikan novel ini, dan bertanya-tanya apakah saya akan mendapatkan cerita dengan ketegangan serta tensi yang tinggi seperti saat membaca acuan utama novel ini. Namun saya kecewa. Ekspektasi yang tinggi seringkali menghancurkan.

2. How did you experience the book?

Bagian paling menarik dari buku ini hanyalah pada bagian awal, yaitu ketika penjelasan-penjelasan mengenai badan dan institusi negara seperti Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN), Badan Intelejen Negara  (BIN) yang selama ini jarang sekali dibahas dan segelintir saja orang yang tahu akan itu.

3. Character

Ada beberapa karakter yang terlibat dalam novel ini, namun secara garis besar saya dapat menyebutkan 3 karakter yang memainkan peran penting di novel ini:

a. Zen Wibowo: Tokoh utama di novel ini. Saya baru menyadari setelah selesai membaca novel ini yang saya baca skimming bahwa tokoh ini sangat too good to be true, terlalu sempurna: agen terbaik, tidak pernah gagal dalam misi, rupawan dan cerdas.

b. Brigjen Soedarmono : Kepala Lemsaneg (Lembaga Sandi Negara) yang menugaskann Zen Wibowo dalam misi

c. Sugiyono Aryokusumo: pengusaha gelap yang menginginkan rahasia negara yang sedang dicari oleh Zen Wibowo.

4. Plot

Plot dalam cerita ini sejatinya adalah Plot Maju yang diselipkan beberapa cerita mengenai penjelasan karakter dan keseharian masing-masing tokoh. Iya bener, karakter dan keseharian tokoh diceritakan secara gamblang dengan pola tokoh A seperti ini, bla..bla..bla..

5. POV

Novel ini menggunakan PoV 3 dengan mayoritas menceritakan tentang apa yang Zen Wibowo alami.

6. Main Idea / Theme

Seorang programer jenius yang merupakan karyawan Lamseneg membobol data rahasia. Dia memasukan data rahasia tersebut dalam bentuk chip yang dimasukkan ke dalam koin. Dalam pencariannya, programer itu ditemukan tewas, namun koin tersebut sudah berpindah tangan. Zen Wibowo, salah seorang agen mata-mata terbaik ditugaskan leh Lamseneg untuk menelusuri, mencari dan merebut kembali data rahasia tersebut. Dalam pencariannya Zenn Wibowo harus berpindah-pindah dan bergerak cepat untuk dapat menemukan koin yang sudah berpindah-pindah tangan.

7. Quotes

Saya nggak sempat menandai quotes di buku ini yang entah ada atau tidak karena membaca buku ini secara skimming.

8. Ending

Ending terlalu flat dan datar. Pada bagian epilog dibuat menggantung seolah cerita ini kemungkinan akan berlanjut. Tapi saya merasa sudah cukup untuk membaca sampai di buku ini saja kalau memang lanjutan buku ini akan diterbitkan.

9. Question

Apakah penulisnya tidak mencoba untuk menuliskan kisah ini dengan cara yang berbeda? Tidak hanya terpaku dan mengacu pada 1 novel semata?

Ayolah, ada begitu banyak kisah seperti ini namun kenapa hanya seperti mengacu pada novel karya Dan Brown semata?

10. Benefits

Berkat novel ini saya jadi tau bahwa ada institusi pendidikan negara seperti Sekolah Tinggi Intelijen Negara dan tahu mengenai Hollow Nickel Case. Selebihnya saya tidak mendapatkan apa pun dari novel ini.









Ditulis untuk  posting Baca Buku Bareng Reight Book Club bulan Maret 2016, tema Adventure.

Sabtu, 26 Maret 2016

Terkutuklah

Terkutuklah mereka yang mengaku cinta namun diam
Mereka yang memandang dari balik bayang
Mereka yang kalah sebelum berperang

Di kamar yang gelap, di sudut ruang yang dipenuhi oleh ketiadaan selain sunyi
Rasa takut mencekik leher-leher mereka
Lidah mereka kelu melafalkan bait kata: aku kangen
Gegap dan ragu mengaku sedang merindu

Terkutuklah mereka yang menuliskan puisi cinta dan membacakannya di altar, tanpa pernah ada kekasih di hadapannya
Mereka yang berdusta dan mengaku setia pada kesepian
Mereka yang jemarinya lincah namun mulutnya bungkam

Berlembar-lembar kesedihan mereka tuliskan
Surat-surat yang menanti dibaca namun menolak untuk dikirimkan
Barisan kata perihal rindu akan percakapan sederhana yang sudah lama tidak
Terkutuklah kamu yang sudah menjadikan aku seperti mereka!


Jakarta, 26 Maret 2016

Senin, 22 Februari 2016

#Prompt 104: Secangkir Kopi dan Airmata Peri

Kebebasan selalu layak untuk dirayakan. Maka selepas keluar penjara, yang diinginkan ialah mengunjungi kedai kopi ini. Kebahagiaan akan semakin lengkap bila dinikmati dengan secangkir kopi. Hanya di kedai kopi ini ia bisa menikmati kopi terbaik yang disajikan dengan cara yang paling baik.

Aroma kopi menguar di penjuru ruangan. Lelaki itu tersenyum seraya menghirup dalam-dalam. Setelah berbulan-bulan menghirup udara pengap penjara, aroma kopi adalah penyelamat baginya. Lelaki itu mengacungkan jemari memanggil pramusaji yang hilir mudik melintasi mejanya. “Berikan saya daftar menu,” ucapnya pelan.

Sebelumnya ia tidak pernah membutuhkan daftar menu saat mampir ke kedai kopi ini. Pesanannya selalu sama dari waktu ke waktu.

Setelah datar menu berada di genggamannya, ia melihat-lihat deretan nama minuman kopi yang hampir sama. Nyaris tidak berubah, kecuali satu hal. Menu favoritnya sudah dihapus sejak kali terakhir ia berada di kedai kopi ini berbulan-bulan yang lalu. Sebelum sebuah kejadian mengantarkannya ke dalam pengapnya hotel prodeo.

“Hai, apa kabar?” tanya seorang kakek tua bermata gelap menyapa lelaki itu. “Lama tidak jumpa, ke mana saja?”

Lelaki itu tersenyum saat melihat siapa yang menyapanya. “Liburan,” ucapnya singkat. Kakek tua itu tidak ada saat kejadian malam itu. Hal yang membuatnya mendapatkan sebuah tiket liburan ke sel tahanan.

“Tumben memesan menu yang berbeda?” tanya kakek tua itu. “Ada apa dengan secangkir kopi dengan tujuh tetes airmata peri kesukaanmu?”

“Peri sudah tidak ada,” ucapnyaa singkat.

“Ke mana?”


“Mati. Aku yang membunuhnya setengah tahun yang lalu.”

Senin, 25 Januari 2016

Pesta Fiksi #25Januari - Sepasang Jarum Jam

"Sepasang jarum jam adalah tangan kita yang saling berpelukan."

Aku mengingat dengan jelas saat bait itu kamu ucapkan. Suaramu yang terdengar serak dan kering itu masih menggema di daun telinga; berulang-ulang membisiki telinga saat aku memejamkan mata. Waktu telah melompati bilangan bulan,sejak terakhir kamu membacakan sepenggal bait puisi dari penyair yang kamu kagumi itu kepadaku-dan ingatanku masih segar tentang hal tersebut.

Mataku mengerjap. Di hadapanku ada pulahan pasang orang berkemeja bagus dan bergaun cantik yang berdiri sambil mengobrol atau makan. Sebagian lain dari mereka berjalan mengular menyalamiku seraya membisikkan kalimat 'selamat ya'. Lalu kemudian mereka berdiri berjejer di sampingku untuk foto bersama. Aku hanya bisa membalas dengan senyuman kepada orang-orang yang sebagian besar tidak kukenal siapa.

Pada saat seperti ini, entah kenapa aku kembali mengingatmu. Mataku terasa panas. Mengingatmu adalah caraku menertawakan takdir. Setelah sekian lama akhirnya aku harus mengakui kata-kata dalang gila itu yang berkata dalam bukunya yang kurang lebih berbunyi; "jatuh cinta adalah takdir, menikah itu pilihan."

Waktu terus berjalan, orang-orang berubah namun kenangan akan selalu kekal. Begitu ucapmu dulu. Bahkan jika nanti jalan kita berseberangan, aku masih akan tetap mengingatmu dengan baik. Timpalmu kembali saat itu.

Lalu tak lama setelah kamu mengatakan hal itu kepadaku, kamu pergi meninggalkanku. Tidak pernah mau menemuiku saat aku menghampiri rumahmu.

Kita seperti sepasang jarum jam yang membentang jarak paling jauh dan bertolak sisi.

"Sajak ini adalah caraku mengingatmu, sebuah cinta yang tak lazim." Lamunanku buyar. Kesadaranku tersentak saat mendengar bait ini dibacakan. Perhatianku segera tertuju pada bagian pojok ruangan. Ada lelaki asing yang membacakan puisi tersebut.

"Jatuh cinta, pelajaran terbaik untuk tabah sebelum dan sesudah sakit. Dalam cinta kehilangan hanya soal mengingat dan melupakan." Airmataku merembas membasahi pipi.

Tak lama lelaki itu datang menghampiriku, dan berbisik. "Selamat untuk pernikahannya."

"Kamu siapa?" tanyaku dengan nada tertahan.

Lelaki asing itu tersenyum. "Aku adiknya. Aku datang mewakili dia. Dia meminta maaf tidak bisa menjawab undangan darimu yang datang ke rumah," ucapnya pelan.

"Di mana dia sekarang?"

"Surga."


----------------------------------------------------------------------------------------------------------
* FF 310 kata tanpa judul