Katamu, cinta itu akan datang karena terbiasa. Cinta akan tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. Katamu juga, cinta itu seperti tunas yang tumbuh di lapangan. Tidak akan pernah menjadi pohon yang rindang dan berbuah kasih sayang dengan cepat. Selalu ada proses di dalamnya, akan selalu menuntut kesabaran untuk menumbuhkannya.
Aku selalu percaya akan hal itu, bahkan sampai saat ini, hatiku selalu meyakini akan ada cinta yang tumbuh di hatimu. Segenap perasaanku dengan sabar kutunggu cinta yang kuberikan padamu akan berkembang menjadi pohon yang rindang dan berbuah penuh kasih sayang. Aku bersahabat dengan waktu, dengan luka yang selalu menggoresku secara sadar dan kuterima.
Hari ini sudah sepuluh tahun berlalu. Sejak kita dijodohkan oleh kedua orangtua kita. Hari ini adalah hari dimana sepuluh tahun yang lalu kau harus meninggalkan kekasih tercintamu karena perjodohan denganku. Aku sudah bersahabat dengan waktu selama sepuluh tahun, memberikan hati dan cinta kepadamu. Sepuluh tahun aku berusaha membesarkan tunas cinta di antara kita, berharap menjadi besar dan berbuah cinta yang manis.
Namun waktu dengan kejam menghianatiku. Dia tetap seperti sebelumnya, terus menggoreskan luka di dasar hatiku. Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang kesepuluh. Tapi aku masih tak melihat diriku di dalam kedua bola matamu. Hanya ada wajah dia -kekasih tercintamu- yang terefleksikan di kedua matamu yang bening. Dan aku hanya dapat tersenyum getir akan penghianatan yang waktu berikan padaku. Sepuluh tahun belumlah cukup bagimu membuat diriku ada di pandanganmu. Masih dia yang betengger di pelupuk matamu. Bukan aku.
Jika ingin menjadi penulis. Menulislah, sebab tidak ada yang akan bisa menjadi penulis tanpa pernah menulis apa pun.
Senin, 16 Januari 2012
Minggu, 15 Januari 2012
Jadilah milikku, mau?
Kata orang, penilaian cantik itu relatif dan jelek itu mutlak. Sebuah persepsi yang cukup kasar untuk menggolongkan seseorang dari wajahnya. Sebuah persepsi yang akan menjatuhkan harga diri orang lain. Seolah-olah orang yang cantik adalah orang yang mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada orang yang jelek.
Persepsi fisik tidak pernah dapat dijadikan patokan nilai yang objektif, menurutku. Nilai seseorang di mata tiap orang berbeda-beda. Selalu ada standarisasi tersendiri yang sangat subjektif tentunya.
Kecantikan seorang wanita selalu diidentikkan dengan mudahnya mendapatan kekasih. Orang-orang pada umumnya selalu berasumsi perempuan yang cantik selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebab label 'perempuan cantik' yang disematkan oleh orang-orang kepada perempuan-perempuan seperti ini selalu memercikkan sifat sombong dalam hati mereka.
Bagiku semua tidak berarti penting. Tak ada standart pasti untuk menentukkan seberapa cantiknya seorang perempuan. Bagiku, perempuan yang cantik itu bukanlah ditentukan dari segi fisik, seputih apa kulitnya, seindah apa rambutnya, selentik apa bulu matanya atau bahkan semanis apa senyumannya. Cantik itu selalu berkaitan dengan sifat yang terkandung dalam raga. Bagiku, perempuan yang cantik adalah perempuan yang mampu menahan dirinya. Perempuan yang tetap membumi dan tidak sombong. Dan yang lebih pasti, perempuan cantik itu bukanlah dirimu yang berdiri dihadapanku.
Parasmu yang menarik, dengan rambut bergelombang menjuntai dari kepala ke bahumu dan senyum manis yang merekah. Lelaki pada umumnya pasti mengkriteriakanmu dalam golongan perempuan cantik -begitu juga denganku. Setidaknya beberapa menit yang lalu sebelum dengan angkuhnya kau ucapkan ; "Jadilah milikku, mau?"
Seketika itu juga sudut pandangku berubah seratus delapan puluh derajat. Kau tidak lagi cantik. Kamu pikir dirimu siapa? ucapku membatin sebelum meninggalkan wanita cantik dihadapanku dengan ucapan terakhir. "Selamat tinggal"
Persepsi fisik tidak pernah dapat dijadikan patokan nilai yang objektif, menurutku. Nilai seseorang di mata tiap orang berbeda-beda. Selalu ada standarisasi tersendiri yang sangat subjektif tentunya.
Kecantikan seorang wanita selalu diidentikkan dengan mudahnya mendapatan kekasih. Orang-orang pada umumnya selalu berasumsi perempuan yang cantik selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebab label 'perempuan cantik' yang disematkan oleh orang-orang kepada perempuan-perempuan seperti ini selalu memercikkan sifat sombong dalam hati mereka.
Bagiku semua tidak berarti penting. Tak ada standart pasti untuk menentukkan seberapa cantiknya seorang perempuan. Bagiku, perempuan yang cantik itu bukanlah ditentukan dari segi fisik, seputih apa kulitnya, seindah apa rambutnya, selentik apa bulu matanya atau bahkan semanis apa senyumannya. Cantik itu selalu berkaitan dengan sifat yang terkandung dalam raga. Bagiku, perempuan yang cantik adalah perempuan yang mampu menahan dirinya. Perempuan yang tetap membumi dan tidak sombong. Dan yang lebih pasti, perempuan cantik itu bukanlah dirimu yang berdiri dihadapanku.
Parasmu yang menarik, dengan rambut bergelombang menjuntai dari kepala ke bahumu dan senyum manis yang merekah. Lelaki pada umumnya pasti mengkriteriakanmu dalam golongan perempuan cantik -begitu juga denganku. Setidaknya beberapa menit yang lalu sebelum dengan angkuhnya kau ucapkan ; "Jadilah milikku, mau?"
Seketika itu juga sudut pandangku berubah seratus delapan puluh derajat. Kau tidak lagi cantik. Kamu pikir dirimu siapa? ucapku membatin sebelum meninggalkan wanita cantik dihadapanku dengan ucapan terakhir. "Selamat tinggal"
Sabtu, 14 Januari 2012
"AKU CUMA MAUNYA KAMU, TITIK."
Senja meragu untuk tiba. Seolah menunggu kita untuk berbicara. Dalam diam, langit memperhatikan kita. Matahari pun tampak enggan turun dari singasananya.
Sudah pukul setengah lima sore. Berarti sudah hampir setengah jam kita saling berdiam diri. Kata-kata terkunci di kerongkongan. Hanya saling tatap yang sesekali dapat aku dan kamu lakukan.
Di taman ini, tempat biasa kita tertawa, duduk dan menunggu datangnya senja. Aku tidur terlentang dan menatap awan-awan yang berarak pelan. Tersirat tanda senja akan datang telat hari ini. Sedangkan dirimu masih tetap duduk, memangku dagumu di lutut seraya memain-mainkan rerumputan.
"Al, aku suka kamu," ucapku memecah keheningan yang melanda.
Tak ada perubahan emosi di wajah gadis manis itu. Sejak dulu Aliya memang orang dengan bakat poker face yang sempurna. Selalu berhasil menutupi ekspresi wajahnya.
"Al... Aliya, kamu denger kan. Aku suka kamu." Aku mengulangi kata-kataku.
Aliya mendongak. Tatapannya seperti biasa -datar, nyaris tanpa ekspresi. "Kenapa kamu suka sama aku? Aku kan aneh, temen-temen juga bilang kayak gitu. Orang juga bilang aku poker face dan ga peka," ujar Aliya merendahkan dirinya sendiri. "Dan juga, aku ga cantik, ga populer kayak kamu, Damar. Temenan sama kamu aja temen-temen yang lain kaget apalagi ka-"
Kukatupkan bibir mungil Aliya. "Ssstt, jangan biacara apa-apa lagi. Ini hidupku, dan aku yang jalanin. Aku ga peduli apa kata orang tentang kamu." Kutatap mata Aliya, dan kugenggam jemarinya.
Waktu seperti terhenti. Lebih tepatnya kita tak menyadari waktu terus berjalan.
"Ketika kamu tanya kenapa harus kamu, aku cuma bisa jawab. Karena hatiku. Karena hatiku berkata ; Aku cuma mau kamu, titik." Terasa lega di dalam dada, saat kukeluarkan semua isi hatiku dan kulihat senyum mengembang di wajahmu. Akhirnya senja pun tiba, sebagai pertanda dimulainya kisah selanjutnya.
Sudah pukul setengah lima sore. Berarti sudah hampir setengah jam kita saling berdiam diri. Kata-kata terkunci di kerongkongan. Hanya saling tatap yang sesekali dapat aku dan kamu lakukan.
Di taman ini, tempat biasa kita tertawa, duduk dan menunggu datangnya senja. Aku tidur terlentang dan menatap awan-awan yang berarak pelan. Tersirat tanda senja akan datang telat hari ini. Sedangkan dirimu masih tetap duduk, memangku dagumu di lutut seraya memain-mainkan rerumputan.
"Al, aku suka kamu," ucapku memecah keheningan yang melanda.
Tak ada perubahan emosi di wajah gadis manis itu. Sejak dulu Aliya memang orang dengan bakat poker face yang sempurna. Selalu berhasil menutupi ekspresi wajahnya.
"Al... Aliya, kamu denger kan. Aku suka kamu." Aku mengulangi kata-kataku.
Aliya mendongak. Tatapannya seperti biasa -datar, nyaris tanpa ekspresi. "Kenapa kamu suka sama aku? Aku kan aneh, temen-temen juga bilang kayak gitu. Orang juga bilang aku poker face dan ga peka," ujar Aliya merendahkan dirinya sendiri. "Dan juga, aku ga cantik, ga populer kayak kamu, Damar. Temenan sama kamu aja temen-temen yang lain kaget apalagi ka-"
Kukatupkan bibir mungil Aliya. "Ssstt, jangan biacara apa-apa lagi. Ini hidupku, dan aku yang jalanin. Aku ga peduli apa kata orang tentang kamu." Kutatap mata Aliya, dan kugenggam jemarinya.
Waktu seperti terhenti. Lebih tepatnya kita tak menyadari waktu terus berjalan.
"Ketika kamu tanya kenapa harus kamu, aku cuma bisa jawab. Karena hatiku. Karena hatiku berkata ; Aku cuma mau kamu, titik." Terasa lega di dalam dada, saat kukeluarkan semua isi hatiku dan kulihat senyum mengembang di wajahmu. Akhirnya senja pun tiba, sebagai pertanda dimulainya kisah selanjutnya.
Jumat, 13 Januari 2012
"Kamu manis, kataku"
Sendu terburai dari kolam hati. Titik-titik airmata sudah terkristalkan. Kualihkan pandanganku sesaat, kulihat semburat senyum mengembang dari kedua belah pipi gadis itu. Sebab dirimu, aku bahagia, gumamku dalam hati. Tak ada lagi kesedihan. Tak tersisa sejengkal tempat untuk penyesalan. Nikmati saja apa yang sudah kita punya, itulah yang selalu kau ucapkan padaku.
"Raka, tadi kamu mengucapkan sesuatu?" Rani berujar pelan.
Lamunanku terputus. Kutatap lekat kedua bola mata Rani. Bening matanya mampu bangkitkan diriku dari kegelapan. Cerianya mampu usir kelabu yang selama ini menglingkupi diriku. Dia... adalah cahaya yang menerangi sudut-sudut tergelap yang pernah kupelihara. aku hanya tersenyum. Tak ada sepatah kata yang mampu kuucapkan.
"Oh begitu, ya sudah. Aku pikir kau mengucapkan sesuatu barusan."
Kudekati Rani yang membelakangiku. Kurengkuh dirinya dari belakang. Kubalikkan kursi rodanya, lalu kuberlutut. Kugenggam lembut jemarinya lalu kukecup pelan. Hening. Aku diam, begitu pun dengan Rani. Sesaat kita nikmati angin yang bertiup mesra, gemerisik pepohonan sesekali mengusik suasana yang aku dan Rani nikmati dalam diam.
Rani tersenyum kecil, menjalankan kembali waktu yang sempat terhenti beberapa saat. Senyuman yang tulus, senyuman yang meluluhlantahkan hatiku yang dulu kaku.
"Senyumanmu adalah hal termanis yang pernah kurasakan," ucapku pelan hampir berbisik saat kupeluk bibirnya dengan bibirku. Sebuah kecupan kilat. Kulihat sebelah alis matanya naik. Pertanda penjelasan. "Tidak apa. Kamu manis, kataku barusan. Bagaimana pun kondisimu, kau tetap yang termanis yang pernah kumiliki" Kugenggam erat jemari Rani. Kulewati waktu sore ini bersama dirinya, sebelum proses kemoterapinya dilaksanakan nanti malam.
"Raka, tadi kamu mengucapkan sesuatu?" Rani berujar pelan.
Lamunanku terputus. Kutatap lekat kedua bola mata Rani. Bening matanya mampu bangkitkan diriku dari kegelapan. Cerianya mampu usir kelabu yang selama ini menglingkupi diriku. Dia... adalah cahaya yang menerangi sudut-sudut tergelap yang pernah kupelihara. aku hanya tersenyum. Tak ada sepatah kata yang mampu kuucapkan.
"Oh begitu, ya sudah. Aku pikir kau mengucapkan sesuatu barusan."
Kudekati Rani yang membelakangiku. Kurengkuh dirinya dari belakang. Kubalikkan kursi rodanya, lalu kuberlutut. Kugenggam lembut jemarinya lalu kukecup pelan. Hening. Aku diam, begitu pun dengan Rani. Sesaat kita nikmati angin yang bertiup mesra, gemerisik pepohonan sesekali mengusik suasana yang aku dan Rani nikmati dalam diam.
Rani tersenyum kecil, menjalankan kembali waktu yang sempat terhenti beberapa saat. Senyuman yang tulus, senyuman yang meluluhlantahkan hatiku yang dulu kaku.
"Senyumanmu adalah hal termanis yang pernah kurasakan," ucapku pelan hampir berbisik saat kupeluk bibirnya dengan bibirku. Sebuah kecupan kilat. Kulihat sebelah alis matanya naik. Pertanda penjelasan. "Tidak apa. Kamu manis, kataku barusan. Bagaimana pun kondisimu, kau tetap yang termanis yang pernah kumiliki" Kugenggam erat jemari Rani. Kulewati waktu sore ini bersama dirinya, sebelum proses kemoterapinya dilaksanakan nanti malam.
Satu... Dua... Tiga...
Kutatap bola matamu yang bening. Terkilatkan keceriaan disana. Tawamu selalu terpampang di lucunya wajahmu. Ingin kucubit dan kusimpan sebagai kenangan.
Sejak tadi kuperhatikan kau berlari-larian kecil. Semangatmu menyematkan senyum di wajahku. Kamu, terus berbicara sambil berlari. Seperti tak ada habisnya tenangamu berceloteh kepadaku -meski aku tak paham apa yang kubicarakan.
Kutatap lekat beningnya bola matamu, aku senang. Namun ketika kupendarkan ke arah lain, seperti ada luka yang digoreskan oleh pandangan. Membuat hati terenyuh dan lunglai tak dapat menahan air mata.
"Aku mau nyanyi," ucapmu dengan suara melengking khas dirimu.
Aku mengangguk pelan seraya memaksakan senyum. "Mau nyanyi apa? Kakak mau dengar dong."
"Satu-satu, aku sayang ibu. Dua-dua, aku sayang ayah. Tiga-tiga, sayang adik kakak. Satu, dua, tiga, sayang semuanya."
Aku tertegun. Nyanyianmu menyadarkanku akan arti bersyukur. Membuatku mengerti arti dari semua yg masih kumiliki.
"Tapi, Kak. Dimana ya, Ayah, Ibu, dan Kakakku?" tanya gadis kecil berusia 7 tahun tersebut dengan polosnya.
Airmataku melesak keluar, tak mampu lagi tertahan haru yang dirasa. Hati lelah menahan isak yang tertahan. "Nanti Ayah, Ibu dan Kakakmu akan ditemukan," ucapku mengusap kepala gadis kecil tersebut. Gadis kecil itu adalah satu-satunya korban yang ditemukan dari bencana banjir bandang yang melanda desanya.
Sejak tadi kuperhatikan kau berlari-larian kecil. Semangatmu menyematkan senyum di wajahku. Kamu, terus berbicara sambil berlari. Seperti tak ada habisnya tenangamu berceloteh kepadaku -meski aku tak paham apa yang kubicarakan.
Kutatap lekat beningnya bola matamu, aku senang. Namun ketika kupendarkan ke arah lain, seperti ada luka yang digoreskan oleh pandangan. Membuat hati terenyuh dan lunglai tak dapat menahan air mata.
"Aku mau nyanyi," ucapmu dengan suara melengking khas dirimu.
Aku mengangguk pelan seraya memaksakan senyum. "Mau nyanyi apa? Kakak mau dengar dong."
"Satu-satu, aku sayang ibu. Dua-dua, aku sayang ayah. Tiga-tiga, sayang adik kakak. Satu, dua, tiga, sayang semuanya."
Aku tertegun. Nyanyianmu menyadarkanku akan arti bersyukur. Membuatku mengerti arti dari semua yg masih kumiliki.
"Tapi, Kak. Dimana ya, Ayah, Ibu, dan Kakakku?" tanya gadis kecil berusia 7 tahun tersebut dengan polosnya.
Airmataku melesak keluar, tak mampu lagi tertahan haru yang dirasa. Hati lelah menahan isak yang tertahan. "Nanti Ayah, Ibu dan Kakakmu akan ditemukan," ucapku mengusap kepala gadis kecil tersebut. Gadis kecil itu adalah satu-satunya korban yang ditemukan dari bencana banjir bandang yang melanda desanya.
Langganan:
Postingan (Atom)