Kamis, 25 Desember 2014

Bagaimana Jika Aku Tak Lagi Dapat Menjumpaimu Esok Hari

Kekasih, aku bahkan tak paham, esok, masihkah ada yang dapat kupijak.
Hari ini aku selalu risau;
mampukah aku tetap berdiri tegak.

Esok bagiku, ialah bagimana hari ini.
Begitulah kehidupan.
Selalu ada kejutan.
Celakanya, aku selalu berkawan dengan kesialan.

Kaki-kaki yang getar.
Bibir terkatup
Lidah yang tak lagi fasih menyemangati hati.
Dan rasa percaya diri yang mulai kehabisan nafas.

Kekasih, yakinkan kepada dirimu.
Jika esok itu tak kunjung juga datang kepadaku, teruslah kau berjalan.
Temui esokmu sendiri;
yang bukan denganku.

Rabu, 10 Desember 2014

Di Suatu Hari Saat Aku Mengingatmu

Aku mencari dirimu di antara jalan yang dulu kita lewati
Kenangan, ialah jejak sepatu
Di antara debu yang menyimpan jejak-jejakmu

Waktu ialah yang paling tabah menghadapi keheningan
Aku lebih pintar berkata-kata
Alih-alih bersuara
Dan kamu ialah pemenang dari sunyi yang kita lombakan

Suatu hari, di suatu kota turun hujan
Di sana aku membayangkanmu
Mengadah ke langit, berusaha menampung segala airmata;
termasuk airmaamu sendiri

Cinta tidaklah kekal, kekasih
Yang abadi ialah kenangan
Sebab itu aku selalu mengingatmu
Bahkan setelah cinta itu sudah membunuh dirinya sendiri

Kadang aku membayangkan
Sepasang tangan kita akan dapat menghentikan waktu
Menyisakan sedikit jeda untuk kita sia-siakan bersama
Hanya beradu pandang
Tanpa kata-kata
Tanpa suara
Dan hening menggenapi segala keganjilan diri
Mengisi segala kekosongan dan keomongkosongan
Menjadi suara di antara senyap;
yang ada di hati kita masing-masing

Kamis, 27 November 2014

Wake Me Up When September Ends

Aku memegang tangan kekasihku. Kami duduk di sebuah ruangan yang penuh dengan kaca. Begitu ada banyak kami di dalam ruangan ini, sehingga kami tak merasa kesepian.

“Tahukah kamu hal yang paling menyedihkan?” Aku mendongakkan kepala menatap sepasang mata kekasihku yang basah. “Sebuah perpisahan,” ucapnya lagi.

Tangannya memegang erat lenganku. Aku menepuknya pelan, lalu tersenyum. “Setidaknya tidak semenyedihkan perpisahan yang diam-diam. Perpisahan tanpa ada perayaan, tanpa ada perkataan.”

“Terkadang, aku ingin menggugat keadaan.” Kekasihku kembali berkata. Kulihat dia menggigit bagian bawah bibirnya yang sering kukecup. “Kenapa harus kamu, kenapa bukan orang lain?”

“Karena hanya aku yang bisa, Sayang.” Kubelai lembut helai rambutnya yang kekuningan, kusampirkan di daun telinganya yang selalu kubisiki kata cinta. Aku mendekatkan wajahku dan membisikkan kembali kalimat itu. “…sampai kapan pun. Bahkan jika nanti, ketika aku kembali, kau sudah menjalani kehidupanmu selama kebersamaan kita, dan kamu tak secantik saat ini.”

“Sudah waktunya,” sela seorang berpakaian perawat yang masuk diam-diam dari pintu yang berada di belakangku.

Aku bangkit dan bersiap, namun genggaman kekasihku begitu kuat. Isakan tangisnya perlahan terdengar lebih keras. Siapa pun dia, termasuk kekasihku, tidak ada yang pernah siap menghadapi perpisahan dengan orang dicintainya.

Aku tak tahu kapan lagi akan bertemu Arsailina. “Tunggu sebentar,” ucapku kepada perawat yang sudah berdiri beberapa langkah di depanku.

“Kami tunggu di depan,” ucapnya singkat tak berbasa-basi.

“Arsa,” bisikku kepadanya. Kupegang bahunya yang gemetar dan kupeluk tubuhnya yang sudah khatam kujamahi. “Jika nanti aku kembali, aku akan meminta kepada mereka untuk membangunkanku di bulan September. Agar nanti aku bisa merayakan ulang tahunmu yang entah ke berapa.” Sekali lagi kudaratkan sebuah kecupan untuknya di ubun-ubun kepalanya.

“Berjanjilah,” ucapnya lirih.

“Ya.” Kulepaskan pelukanku dan beranjak menuju pintu. Di sana perawat tadi sudah menungguku.

***

Arsailina berdiri memandangi Zei yang berjalan memunggunginya. Zei adalah seorang sebagai agen rahasia. Arsailina sudah terbiasa melihat punggung suaminya ketika berangkat menjalani misinya, namun kali ini punggung itu terlihat begitu jauh. Arsailina mengangkat lengannya, mencoba menggapai punggung semakin menjauh, ke tempat yang tak akan pernah bisa dia gapai.


Di tangannya digenggam sebuah surat dari sebuah organisasi rahasia milik pemerintah yang menyatakan suaminya menjadi salah satu dari beberapa orang yang akan ‘ditidurkan’

.
*Dikembangkan dari fiksimini Ahmad Abdul Mu'izzWAKE ME UP WHEN SEPTEMBER ENDS. Aku hanya tak ingin bertambah tua.

Silsilah Luka

Sumber: http://arzuhan.deviantart.com/art/Darkness-100010629
Rumi berdiri menatap cermin yang memantulkan separuh bayang tubuhnya. Dari sebelah kanan, cahaya lampu jalanan masuk sebagian melalui celah jendela yang tak tertutup rapat. Tak banyak cahaya yang dapat masuk ke dalam kamar yang lampunya entah telah mati sejak kapan.

Dia tersenyum menatap wajahnya sendiri, lalu kadang tertawa kecil. Dia mengambil lipstik berwarna semerah darah lalu dioleskan ke bibirnya secara serampangan. Kini, seputar bibir, mulut dan pipinya berwarna merah, dengan sedikit noda merah lainnya yang sudah ada di sana sejak tadi.

“Huahahaha.” Rumi tertawa terbahak saat melihat hasil riasannya sendiri.

Diletakannya lipstik tersebut dan kemudian dia mengambil bedak yang berada tak jauh dari tempat dia meletakkan lipstik. Dipoleskannya pelan-pelan ke pipinya. Tangannya gemetar saat melakukan hal tersebut. Jemarinya yang kemerahan sudah mulai terasa lengket dan sulit untuk digerak-gerakkan. Dengan telaten Rumi merias wajahnya sendiri dengan penerangan seadanya.

Peralatan di meja rias tersebut cukup lengkap, dan Rumi terus mencoba satu per satu dengan cara yang salah. Dirinya yang selama ini tak pernah belajar dan diajarkan cara merias wajah. Jemarinya tak fasih mengenal pelbagai peralatan kecantikan yang ada di hadapannya.

Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kebohongan. Karena di balik hitam kau akan menemukan terang.

“Aku cantik kan, Sayang?” ucap Rumi kepada lelaki yang tertidur di ranjang di belakangnya. Dia terlihat pulas berbaring tanpa busana.

Rumi bangkit dan berjalan ke arah ranjang, dan duduk di tepinya. Tangannya membelai lembut rambut kekasihnya yang kaku dan berbau amis.

“Cantikan mana, Sayang? Aku pakai make up atau aku yang tidak pakai make up?”

Jemari Rumi menyusuri lekuk wajah kekasihnya. Dia mendekatkan wajah dan mencium keningnya.

“Katamu, tanpa make up pun aku sudah cantik. Katamu, ‘tak perlu kamu berias, kamu sudah cantik. Aku cinta kamu.’”

Rumi bangkit dari tepi ranjang, lalu berjalan ke tepi ranjang yang lainnya. Saat melewati meja rias dia mengambil sebuah benda yang ada di atasnya.


“Tapi, kenapa kamu memilih dia!!” pekik Rumi. “Kalau aku lebih cantik, kamu mencintaiku, kenapa kamu berkencan dengannya!!” Dihantamkannya berkali-kali palu yang digenggamnya ke batok kepala perempuan yang tubuhnya telanjang. Dia tergolek di bawah ranjang. Paras wajahnya yang cantik sudah penuh dengan darah yang mengalir dari celah rongga kepalanya.

Rabu, 26 November 2014

Doa Untuk Kekasihku

Aku ingin menjadi cahaya, agar kamu tak tersesat, dan langkahmu aman tanpa takut tersandung, terjatuh atau bahkan terjerembab. Dulu katamu, hal yang paling mengerikan ialah terjebak dalam kegelapan, lalu kita tak tahu ke mana kaki melangkah, apa saja yang sudah kaki kita tapaki, dan tempat apa saja yang sudah kita singgahi.

Kekasih, aku ingin menjadi penerang bagimu, agar langkahmu lebih waspada dan kakimu tak terluka saat menapaki jalan kehidupan yang penuh dengan duri.

Suatu hari aku berdoa kepada Tuhan, Jadikan aku cahaya, agar kekasihku tak lagi berada di dalam kegelapan. Matanya telah menjadi cahaya bagiku, dan kini izinkan aku menjadi cahaya bagi matanya.

“Maaf selalu merepotkanmu,” ucap Gia suatu hari kepadaku.

Aku tersenyum dan mengetukkan jariku sebanyak dua kali ke telapak tangannya. Sesudah itu kami kembali berjalan tanpa peduli tatapan orang lain yang melihat kami. Sepanjang jalan aku menautkan jemariku di sela-sela jemarinya. Mengusir hawa dingin yang diam-diam memeluk sekujur tubuh kita masing-masing.

“Aku memang takut gelap, tapi setidaknya jika bersamamu, aku tidak sendirian saat menghadapinya.” Aku mendengar jelas kata-kata yang kamu ucapkan kepadaku di sore terakhir itu. Lagi-lagi aku tersenyum saat mendengarnya, lalu kuraba pipimu dan kusap pelan.

Sore itu adalah sore terakhirku bersamamu. Setelah sore itu, Tuhan memanggilku dan tidak memperpanjang kontrak roh yang menghuni tubuhku.

Entah selama beberapa hari atau beberapa minggu atau beberapa tahun aku hanyut dalam kegelapaan. Aku tidak bisa menghitung dengan pasti waktu yang sudah terlewati, sebab waktu adalah perihal yang paling tidak pernah dapat dipastikan dengan baik. Selama itu aku tak melihat apa-apa. Gelap. Akhirnya aku paham bagaimana rasanya menjadi kamu.

Kini, setelah sekian lama, aku rindu kekasihku. Tuhan, aku rindu kekasihku, izinkan aku untuk dapat melihatnya kembali. Untuk kedua kalinya aku berdoa.

Kesokan harinya, Tuhan menjawab kedua doaku secara bersamaan. Malam itu aku melihat kekasihku, Gia, baru pulang entah dari mana. Dia terlihat jauh lebih cantik dan juga dewasa. Aku melihat sekelilingku, dan mendapati diriku berada di ruang keluarga rumah kekasihku tersebut.

Tuhan mengabulkan doaku.  Aku kembali melihat kekasihku dengan cukup jelas, dan juga menjadi cahaya.


“Pa, itu chandelier kapan dibelinya? Kok aku baru lihat?” tanya Gia saat melihatku. Aku memekik girang, tubuhku bergoyang. Akhirnya kekasihku dapat melihat cahaya.