Jika ingin menjadi penulis. Menulislah, sebab tidak ada yang akan bisa menjadi penulis tanpa pernah menulis apa pun.
Kamis, 28 Maret 2013
Doa Dari Jemari Kesepian
Dalam langkah yang tak terasa semakin panjang
Dan kadang, tak disadari apa saja yang sudah dilewati oleh langkah-langkah yang garang
Begitu saja terlewat dan menjadi satu catatan tambahan di bilik kenangan yang semakin usang
Doa dan harapan yang terucapkan semoga menjadi prasasti, bukan buih
Terpahat, tertulis dan terangkai jelas dalam sanubari
Bukan hanya ucapan yang terlontar dan diaminkan. Lalu terlewat dan terhempas begitu saja
Kata adalah doa, dan doa adalah harapan, lalu, harapan adalah sebuah nyawa dalam kehidupan
Malam ini, jari-jari kurus ikut berdoa
Semoga, apa yang terlewat bukanlah hal sia-sia
Yang terlihat bukanlah kegelapan yang pernah terlewati beberapa waktu silam
Bukanlah jejak-jejak kumal yang kadang malu untuk terlihatkan oleh pasang mata ini
Aku pendosa ulung
Kadang lupa dimana 'akar' dimana aku bermula
Harapku;
Semoga Tuhan tak lupa akan diriku.
*PS: Selamat ulang tahun pemilik jari ini. Semoga yang tertuliskan adalah kebaikan
Jika pun bukan kebaikan. Setidaknya yang tertuliskan adalah hal yang membahagiakan dan tidak merugikan
Kamis, 21 Maret 2013
Taman
Di bawah langit senja dua pasang kaki kurus mengayun di ayunan yg berderak. Karat menguasai batang tubuh mainan itu. Usang. Nyaris tak ada lagi anak-anak yang menggunakannya. Benda itu sudah mulai dilupakan, kecuali oleh sepasang bocah yang mulai beranjak dewasa itu.
"Rasanya, sudah lama sekali kita melewatkan yang seperti ini," gumam Hera. Kakinya yang sebenarnya sudah dapat memijak tanah ditekuk, agar dia dapat mengayunkan tubuhnya. Pelan, dengan derak yang menyiratkan sebentar lagi robohnya tempat dia mengayunkan diri.
Gara tidak mengalihkan pandangannya dari arah matahari yang sudah tak lagi terlihat. Dalam pandangannya, mentari seolah melarilan diri dan tidak akan kembali lagi, di esok hari. Remaja lelaki yang sebentar lagi akan mengenakan seragam putih biru itu menelan ludahnya. Terasa pahit. Dia mencengkeram erat rantai ayunan, agar gelisah tidak membuatnya lepas kendali.
"Taman ini adalah kapsul waktu kita. Di sini, sejak 6 tahin lalu, kita banyak menghabiskan waktu untuk tertawa dan hanya tertawa. Seolah tidak asa ruang untuk bersedih." Hera berceloteh banyak saat Gara hanya diam. Perempuan yang lebih tua 2 tahun dari Gara itu seolah tidak ingin menghentikannya tentang celoteh masa lalu, saat mereka berdua sering menghabiskan tawa dan canda di taman ini; taman yang sebentar lagi mati.
Gara menggerakkan bibirnya pelan. Di wajahnya membayang jelas rona kesedihan. Dia adalah lelaki yang tak dapat menyembunyikan ekspresi, walaupun dia lelaki. "Sedih yah." Gara mendesah pelan. "Pertama-tama taman ini, terus nggak lama kemudian kamu."
Lelaki itu tidak melanjutkan ucapannya. Seolah tertiup oleh angin sore dan lenyap ditelan debu. Getar suaranya masih terasa jelas di telinga Hera. "Nggak usah bersedih. Bertemu dan berpisah adalah hal yang lumrah terjadi. Tapi yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita tidak bosan untuk menjaga kenangan yang sudah terjadi, dan kita tidak menjadi asing satu sama lain nantinya." Hera menghembuskan nafas berat sesaat setelah mengucapkan kata-kata itu. Dia menengadahkan kepalanya ke atas agar airmatanya tak tumpah. Bukankah baru saja dia berucap bahwa perpisahan dalah hal yang lumrah. Dilihatnya langit sudah menggelap dan bulan sudah mulai menampakkan wujudnya di sudut langit.
"Kapan kamu pindah?" tanya Gara dengan nada datar. "Mungkin aku bakal kangen suasana ini. Ngobrol berdua sampai suara adzan terdengar dan kita pulang ke rumah masing-masing." Sejenak Gara menjeda ucapannya. Hening menyusup sesaat sebelum dia mengehembuskan nafas kencang dan melanjutkan kata-kata. "Ah, tapi, mulai besok pun kita udah ga bisa lagi ngobrol disini." Suaranya terdengar getir.
Hera hanya mengangguk pelan. Dia beranjak dari bangku ayunannya. Berdiri dan membelai pelan rantai ayunan yang sudah berkarat penuh. "Udah adzan, waktunya pulang. Yuk." Hera berucap pelan. Dia menyulurkan tangan kepada Gara. Lelaki itu menyambutnya. "Aku berangkat lusa. Dan setelah itu aku nggak tahu akan kembali kesini atau nggak."
Gara dan Hera berjalan keluar dari taman dalam diam. Gara berjalan menunduk. Sepertinya kepala berat dipenuhi kesedihan. Saat keluar dari lingkup taman, Gara menolehkan pandangannya kembali ke arah taman. Matanya menatap sebuah papan pengumuman yang ditulis dengan huruf tebal dan jelas. TAMAN INI AKAN DIBONGKAR. Di papan tersebut tertera jelas tanggal pembongkarannya yang jatuh pada hari esok. Hatinya bergemuruh. Kehilangan dua hal yang selalu ada di kesehariannya selama 6 tahun terakhir membuatnya merasakan kesedihan yang besar. Satu kehilangan adalah biasa, bila dua adalah duka.
Sabtu, 16 Maret 2013
Orang Yang Terlupakan
Di beranda rumah seseorang-yang bahkan tidak kutahu siapa pemiliknya-aku sesekali menengadahkan tangan. Merasakan rintik hujan yang kadang hampir membuatku mati. Selembar kain usang bermotif kotak-yang mungkin kalian sebut sebagai sarung-menemaniku selalu di tiap malam. Kain ini adalah yang terbaik yang kupunya-aku enggan menyebutnya sebagai satu-satunya. Beberapa bagian sobek dan terlihat lusuh, tapi inilah yang aku miliki.
Aku tertawa sesekali, walau tak tahu pasti apa yang aku tertawai. Hanya saja, aku merasa bahagia saat tertawa. Apakah untuk tertawa perlu sebuah alasan? Aku rasa tidak. Orang-orang memandangku aneh sebab kebiasaanku tertawa di saat yang tidak tepat-menurut mereka. Aku tak peduli. Menurutku, malah orang-oranng yang terlihat aneh. Mereka, seperti lupa definisi bahagia, sehingga untuk tertawa pun susah; memerlukan sebuah alasan yang logis. Ah, mungkin mereka juga lupa bahwa tidak semua dapat dilogikakan. Bahagia itu mutlak urusan hati, bukan pikiran. Bila hati tidak bahagia, niscaya, pikiran pun tak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Malam ini hujan terlihat tidak akan berhenti dalam waktu yang sebentar. Itu artinya aku akan lebih lama menemani kesedihan sang malam. Dan waktu akan terasa lebih panjang. Saat merasakan kesedihan, waktu akan terasa melambat, dan saat merasa bahagia, waktu terasa lebih cepat. Selalu seperti itu, seolah, kita diharuskan belajar untuk lebih banyak merasakan kesedihan daripada kebahagiaan. Dahulu, dahulu sekali, aku sering mendengar wejangan 'bahagia itu mahal' dari beberapa motivator yang sering kudatangi acara. Mereka dengan menggebu menjelaskan konsep bahagia dari berbagai sudut pandang dan keadaan. Begitu rumit.
Konsep bahagia itu sederhana, yaitu nikmati apa yang kamu punya dan miliki. Tapi terkadang, apa yang sudah ada terasa tidaklah cukup. Ciri khas manusia pada umumnya.
Aku beranjak, dan berjalan menyusuri jalan yang lengang. Hanya ada lampu jalan yang bersinar redup seolah enggan untuk menyala, beberapa pasang lelaki yang sibuk memproduksi asap dari mulutnya dan wanita yang sibuk mempertebal wajahnya dengan bubuk penggoda, untuk menarik perhatian lelaki kesepian yang tak tahan digoda oleh dingin malam.
Aku tertawa lagi. Hanya tertawa tanpa memikirkan apa yang aku tertawai. Dan seperti biasa, berpasang mata menghujamkan pandangannya padaku; lelaki dengan kain sarung compang camping, baju lusuh dan rambut awut-awutan kering sebab tak pernah dikeramasi sibuk membawa beberapa potong kardus sebagai alas tidurku nanti. Mereka menutup hidung saat aku lewat, dan memandang jijik, seolah aku adalah kotoran berjalan. Aku kembali tertawa. Menertawakan dunia yang sudah mulai tak waras.
Sabtu, 23 Februari 2013
Dusta
1)
Kau pernah berjanji, untuk berjalan beriringan bersama melewati waktu sampai tak ada yang tersisa
Kau pernah berjanji untuk meniti waktu bersama dengan genggaman tangan yang saling mengamit erat; takut terlepas dan terhempas
2)
Tapi, mengapa hati mengingkari?
Mengapa bibir berdusta, menelan kembali ucapan yang serupa duri dan menusuk kerongkongan; menuliskan jejak luka yang terasa amis di lidah
3)
Bagaimana kau lupa, padahal, ingatanku tak pernah berdusta
Kau, dengan janji yang awalnya benih, yang kemudian mati dan membusuk
Menguarkan aroma duka yang tak kunjung hilang
Wewangian yang tak pernah aku lupa
Janjimu memabukkan, bagai sekuntum mawar berduri yang tanpa sadar akan menorehkan luka di hati
4)
Bagaimana aku lupa
Tentang kata-kata perpisahan yang kau hunuskan kepadaku di malam ini; menusuk langsung ke jantung hati, dan aku mati
Sementara, kau masih menebar benih di hati yang lain.
Jumat, 01 Februari 2013
Genggaman Yang Tak Pernah Ingin Dilepaskan
Akhirnya kita sampai juga dibatas terakhir yang kita ciptakan
Garis yang kita buat dan kita inginkan
Perjanjian yang diikrarkan dengan mengguratkannya dalam dada, menjadi janji yang enggan dielakkan
Genggaman kita mengeras
Seolah tak ingin kehilangan satu sama lainnya
Biasanya, kita berbagi rindu melaluinya
Mengapa, cinta lebih egois dari rasionalitas
Membuat kita lupa, bahwa janji sudah di garis tepi
Siap mendorong kita jatuh pada jurang yang tak ingin kita singgahi
Mengapa rindu membuat jantung jadi takut pada sebuah perpisahan
Padahal mati masih jauh dari rengkuhan
Mungkin, kehilangan lebih mengerikan daripada kematian
Kita tahu bahwa kita sudah terlanjur jatuh cinta
Kita sadar bahwa hati kita sudah saling mengaitkan diri
Sebab luka, cinta menjadi semakin erat menggenggam hati kita
Dan kini, kita dipaksa untuk kembali merobeknya
Kata-kata sudah terlanjur kita ucapkan
Janji sudah tertuliskan
Kita, adalah manusia bodoh yang belajar untuk menenangkan duka
Membiarkan luka kembali mengisi hati kita
Tanpa kita sadari, bahwa cinta itu sudah terlanjur ada
Dan kita melepaskan genggaman, hal yang kita sama-sama tak inginkan, tapi kita lakukan.