Jika ingin menjadi penulis. Menulislah, sebab tidak ada yang akan bisa menjadi penulis tanpa pernah menulis apa pun.
Selasa, 16 April 2013
Untuk Perempuanku
Kamis, 04 April 2013
Cinta Dari Balik Mata
Sore itu, seperti biasa, seperti sore di hari sebelumnya, aku sibuk memandangi langit yang menjadi jingga. Belasan layang-layang serupa bintik yang menghiasi langit yang hampir memerah seutuhnya.
Aku melihatmu berjalan pulang menuju rumahmu yang letaknya hanya beberapa pintu dari rumahku dan berseberangan, dipisahkan oleh sepetak gang kecil yang hanya muat dilalui oleh kendaraan bermotor.
Seperti biasa pula, aku memberikanmu sapaan terhangat dan senyuman terbaik yang kupunya. Dan harusnya, seperti biasa kamu pun akan mengangguk, membalas sapaanku dengan sungging senyumanmu. Seharusnya.
Sore ini, kamu diam saja saat kusapa. Wajahmu tertunduk, seolah enggan untuk menatapku. Langkahmu menjadi lebih cepat saat tubuhmu merapat ke arahku.
Senja terasa menjadi lebih sunyi dari malam yang ada di dalam pikiranku itu. Saat bibir kita diam membeku. Kata-kata mati dilesapkan diam. Hanya ada kamu, aku dan jejak-jejak kesedihan yang tertinggal di belakang.
Kirana, hari ini, aku merasakan cinta sedang sampai pada puncaknya. Dari rona wajahmu yang muram, aku melihat, ada cinta yang tertahan di balik airmata. Kamu, sedang membohongi dirimu sendiri. Dan aku, sedang berpura-pura bahwa luka hanyalah cara cinta menasbihkan dirinya, dalam ketidakrelaan.
Dalam pikiranku, aku masih jelas membayangkannya. Kata-kata menjadi serupa belati yang membunuh asa. Kau jejalkan kata-kata perpisahan yang diiringi oleh ciuman panjang; pengganti pelukan. Aku akan dijodohkan, katamu.
Kamu menerimanya? Tanyaku saat itu. Dan dalam memori pikiranku, kau menjawab dengan anggukan. Serupa ketuk palu hakim yang menjatuhkan vonis terberat dalam hidupku. Kamu sudah menjatuhkan pilihan, yang menjerumuskanku pada jeruji hati.
Dalam pikiranku pun, aku bertanya padamu. Dengan kedua tanganku mencengkeran pundak kecilmu aku memastikan, apakah kamu sudah tak mencintaiku? Dan sebuah anggukan darimu benar-benar mematikan harapanku, hanya harapan, bukan cinta.
Dari mataku, aku melihat cinta di bola matamu. Senyata senja sore ini, dari bening indera penglihatanmu, dirimu menyatakan cinta yang besar, menampakkan kekecewaan yang besar.
Nyatanya, semua yang ada dipikiranku, hanyalah ada dipikiranku saja. Aku tak pernah menjadi kekasihmu, dan malam perpisahan itu tak pernah ada. Hanya saja, kehilangan yang sebenar-benarnya nyata. Aku tahu kau menunggu. Dan kau tahu, bahwa aku tak akan pernah berani melangkah kesana. Hingga akhirnya sore ini aku sadar, bahwa cinta tak pernah cukup untuk membawamu pergi.
Malam itu, dari beranda rumahku aku melihat sebuah perayaan yang membahagiakan keluargamu. Seorang pria sempurna meminangmu, memintamu menjadi pendamping hidupnya. Aku melihat duka di matamu malam itu.
Kau bisa membohongi orang lain, tapi tidak denganku. Matamu adalh mataku. Kesedihanmu pasti terlihat olehku. Dan luka yang kau rasakan, tak pernah dapat kau sembunyikan dari penglihatanku.
Sore ini, akan menjadi sore yang lain dan tak akan pernah lagi sama. Kamu, tak dapat lagi kusapa. Dan senyumanmu tak akan pernah lagi kau berikan kepadaku.
"Semoga kamu bahagia Kirana." Aku berucap kepada perempuan yang sudah berjalan beberapa langkah melewatiku. Dan aku yakin dia tidak mendengarnya. Tak apa, itu lebih baik.
Langit sudah menggelap seutuhnya. Aku memutar roda, menggerakkannya ke dalam rumah. Melepas cinta tak pernah mudah, apalagi cinta yang disembunyikan tapi diketahui oleh orang kita cintai. Aku melepas nafas panjang. "Dek, bantu Abang dong," ucapku kepada adik lelakiku untuk membopongku pindah dari kursi roda ke kasur.
Sabtu, 30 Maret 2013
Pulang
Aku menyapu pandang sekelilingku. Lalu lalang orang-orang dengan gembolan tas dan kardus yang terikat rapi menjejali pandangan mataku. Decit roda yang beradu dengan rel serta deru gemuruh mesin keret terdengar di telingaku. Di pojok selasar stasiun aku melihat beberapa penjual nasi bungkus yang menanti pembeli; penumpang kelaparan yang tak sempat membeli makan.
Aku menghela nafas. Stasiun ini beserta seluruh sensasinya sudah lama sekali tidak kurasakan, entah sudah berapa tahun terlewat.
Bukan artinya aku tidak pernah pergi ke stasiun dan merasakan keramaian orang-orang yang akan berangkat dan pergi ke kampung halaman. Hanya saja, stasiun ini begitu spesial bagiku, bagi masa laluku. Dulu aku pernah pergi dari sini, dan setelah sekian tahun berbilang, baru hari ini aku datang kembali kesini.
Kilas kenangan berkelebat satu per satu di kepalaku. Sore yang gelap, tanpa ada semburat senja yang mengantarkan kepergianku, lalu tangisan dari perempuan yang terkasih. Hanya sepasang duka dan airmata yang dihujankan oleh langit yang menemani langkahku saat memasuki gerbong kereta, yang membawaku pergi hingga tahun berbilang sepuluh.
Kini aku pulang. Hanya ingin pulang. Menemui orangtuaku di pemakaman; tanpa hal lain yang kuharapkan.
Di pintu keluar kulihat orang yang sama dengan orang yang melepaskanku dengan pelukan; yang tak pernah ingin kulepaskan. "Kinanthi?" ujarku saat melihat kekasihku yang dulu berdiri di pintu keluar. Ya, Kinanthi adalah kekasihku, dulu, sebelum keberangkatanku ke Jakarta menjadi tanda perpisahan yang menyakitkan. Tanpa kata-kata, tanpa aba-aba dan tanpa seremah tanda apapun, dia memutuskan untuk menikah dengan lelaki lain; dijodohkan. Dan kabar itu aku terima langsung darinya, melalui sepucuk surat berwarna merah jambu dan huruf-huruf lentik tulisannya menjadi pedang yang menguliti perasaanku. Setelah Kinanthi tidak ada lagi yang tersisa di kota kelahiranku itu. Kedua orangtuaku sudah tak ada dan aku tidak memiliki saudara kandung ataupun keluarga dekat lainnya. Sebab ayah dan ibu juga merupakan anak tunggal.
"Kenapa kau ada disini?" tanyaku tanpa dapat menyembunyikan keterkejutanku.
"Menunggumu." Kinanthi mengucapkannya dengan pelan namun tegas. Dia tidak sedang berbohong.
"Hahaha, kamu sedang bercanda?" ucapku dengan tawa yang kubuat-buat. Berharap dia memang sedang benar-benar bercanda. Dan aku pun tidak tahu dari mana dia tahu kalau aku akan pulang hari ini.
Kinanthi terdiam. Di sampingnya terdapat sebuah koper ukuran sedang. "Tidak."
"Lalu? Kenapa kamu membawa koper? Ingin berangkat kemana?"
"Bersamamu."
Aku mendelik. Kebingunganku semakin bertambah banyak. Kinanthi hanya berbicara sedikit. Hal yang selalu dilakukannya dulu saat dia sedang memendam banyak masalah. "Jangan bercanda. Kamu memiliki keluarga." Kinanthi kembali diam. Namun, jika Kinanthi masih seperti dulu, dia akan menjelaskan semua yang dirasakan dan dipikirkan olehnya; beserta airmata.
"Aku tidak bahagia. Maka dari itu, bawa aku bersamamu. Aku tidak memiliki anak dari lelaki bajingan itu. Aku tahu kamu akan pulang hari ini. Aku mengetahuinya dari Mas Joko. Aku menunggumu kembali. Maka itu, bawalah aku. Kemanapun. Tidak masalah," kata Kinanthi dengan terbata-bata. Seperti yang kuduga, isak airmata menyelingi ucapannya sesekali, dan membasahi pipinya yang dulu selalu kubelai.
Akhirnya kebingunganku terjawab. Mas Joko, tetangga kontrakkanku yang juga masih satu kampung denganku dan Kinanthi yang mengabarkan kepulanganku kepada perempuan yang ada dihadapanku ini. Dari Mas Joko pula aku sesekali mendengar kabar Kinanthi setiap dia mudik 6 bulan sekali.
Aku mendekatkan tubuh Kinanthi ke arahku. Kurasakan tubuhnya mengurus sejak terakhir aku memeluknya sepuluh tahun yang lalu. Sepertinya dia benar-benar tersiksa. Aku memeluknya dan Kinanthi menyambut pelukanku dengan erat. Hatiku menggetir; terasa pedih. "Maafkan aku Kinanthi," ucapku pelan di samping telinganya. "Aku tidak bisa membawamu. Aku pun sudah memiliki keluarga di Jakarta."
Tak ada kata-kata dari Kinanthi. Tangisnya berhenti walau airmata tak bosan mengalir dari sela mata dan membasahi pipinya. "Aku sudah tahu, Mas."
Aku diam memandangi wajah Kinanthi, mencoba menerka apa yang dipikirkannya melalui rona matanya yang menggelap. Kini, dia sudah melepaskan pelukannya. Dia mendesah pelan, jauh lebih tenang, seolah baru saja bebannya sudah ditumpahkan melalui pelukan tadi. "Maaf, Kinanthi." Suaraku melirih.
"Tidak apa, Mas. Itu sudah cukup. Aku pikir cinta itu masih ada, dan kamu masih seperti dulu, berani untuk melakukan apapun, asal bersamaku. Seperti yang kamu ucapkan dulu."
Hatiku memerih. Ucapan Kinanthi memaksaku mengingat kembali momen dimana aku berusaha memperjuangkan hubunganku dengannya. Aku, rakyat biasa yang bermimpi untuk mempersunting perempuan berdarah biru kental. "Ki...," ucapku tak selesai. Bahkan untuk menyebutkan namanya saja lidahku tidak sanggup menahan getir.
"Tidak apa, Mas Wirya. Aku tahu itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Kini aku akan kembali ke suamiku." Kinanthi terdiam sesaat, lalu mendekatkan tubuhnya lagi ke arahku. "Kini biarkan aku mengucapkan salam perpisahan yang tidak sempat aku ucapkan dulu. Kinanthi mengecup bibirku. "Aku mencintaimu, Wirya Gunawan."
Aku tertegun. Bibirku terkunci. Suaraku tertahan di kerongkongan dan lidahku kelu tak mampu menyilatkan kata-kata.
"Sekarang, aku pergi. Selamat tinggal." Kinanthi berbalik dan berjalan menjauhiku. Aku terdiam. Kali ini aku yang melihatnya pergi. Dan sepertinya akan sangat jauh. Mungkin ini adalah kesempatan terakhir aku bisa menemuinya.
Aku berjalan cepat setengah berlari ke arah Kinanthi. "Kinan!" seruku. Dia berhenti dan berbalik. Kali ini dia tersenyun ke arahku. Dadaku terasa sesak, sudah lama sekali aku merindukan senyuman itu. Kupeluk Kinanthi erat, seerat aku tidak ingin melepaskannya. Mataku memanas, dengan sekuat hati aku menahan diri agar tidak terisak.
"Terima kasih sudah dan masih mencintaiku, Mas. Itu sudah cukup bagiku." Kinanthi melepaskan tubuhnya dari pelukanku. Sekali lagi dia merekahkan senyumannya sebelum benar-benar pergi.
Sekali lagi terdengar decit suara roda kereta yang baru saja berhenti. Di riuhnya lalu lalang orang-orang di Stasiun Tugu, aku menjadi satu-satunya yang merasa sendiri. Baru saja, belahan hatiku yang lain, yang kukira sudah mati sejak lama hidup kembali. Namun sekarang dia meninggalkanku. Tidak mati, hanya saja pergi ke tempat yang tidak dapat kujangkau. Cinta saja kadang tidak cukup untuk bersama. Dan lebih menyakitkan saat mengetahui cinta itu masih ada, tapi tidak dapat dimiliki dan bersama kembali.
Kamis, 28 Maret 2013
Doa Dari Jemari Kesepian
Dalam langkah yang tak terasa semakin panjang
Dan kadang, tak disadari apa saja yang sudah dilewati oleh langkah-langkah yang garang
Begitu saja terlewat dan menjadi satu catatan tambahan di bilik kenangan yang semakin usang
Doa dan harapan yang terucapkan semoga menjadi prasasti, bukan buih
Terpahat, tertulis dan terangkai jelas dalam sanubari
Bukan hanya ucapan yang terlontar dan diaminkan. Lalu terlewat dan terhempas begitu saja
Kata adalah doa, dan doa adalah harapan, lalu, harapan adalah sebuah nyawa dalam kehidupan
Malam ini, jari-jari kurus ikut berdoa
Semoga, apa yang terlewat bukanlah hal sia-sia
Yang terlihat bukanlah kegelapan yang pernah terlewati beberapa waktu silam
Bukanlah jejak-jejak kumal yang kadang malu untuk terlihatkan oleh pasang mata ini
Aku pendosa ulung
Kadang lupa dimana 'akar' dimana aku bermula
Harapku;
Semoga Tuhan tak lupa akan diriku.
*PS: Selamat ulang tahun pemilik jari ini. Semoga yang tertuliskan adalah kebaikan
Jika pun bukan kebaikan. Setidaknya yang tertuliskan adalah hal yang membahagiakan dan tidak merugikan
Kamis, 21 Maret 2013
Taman
Di bawah langit senja dua pasang kaki kurus mengayun di ayunan yg berderak. Karat menguasai batang tubuh mainan itu. Usang. Nyaris tak ada lagi anak-anak yang menggunakannya. Benda itu sudah mulai dilupakan, kecuali oleh sepasang bocah yang mulai beranjak dewasa itu.
"Rasanya, sudah lama sekali kita melewatkan yang seperti ini," gumam Hera. Kakinya yang sebenarnya sudah dapat memijak tanah ditekuk, agar dia dapat mengayunkan tubuhnya. Pelan, dengan derak yang menyiratkan sebentar lagi robohnya tempat dia mengayunkan diri.
Gara tidak mengalihkan pandangannya dari arah matahari yang sudah tak lagi terlihat. Dalam pandangannya, mentari seolah melarilan diri dan tidak akan kembali lagi, di esok hari. Remaja lelaki yang sebentar lagi akan mengenakan seragam putih biru itu menelan ludahnya. Terasa pahit. Dia mencengkeram erat rantai ayunan, agar gelisah tidak membuatnya lepas kendali.
"Taman ini adalah kapsul waktu kita. Di sini, sejak 6 tahin lalu, kita banyak menghabiskan waktu untuk tertawa dan hanya tertawa. Seolah tidak asa ruang untuk bersedih." Hera berceloteh banyak saat Gara hanya diam. Perempuan yang lebih tua 2 tahun dari Gara itu seolah tidak ingin menghentikannya tentang celoteh masa lalu, saat mereka berdua sering menghabiskan tawa dan canda di taman ini; taman yang sebentar lagi mati.
Gara menggerakkan bibirnya pelan. Di wajahnya membayang jelas rona kesedihan. Dia adalah lelaki yang tak dapat menyembunyikan ekspresi, walaupun dia lelaki. "Sedih yah." Gara mendesah pelan. "Pertama-tama taman ini, terus nggak lama kemudian kamu."
Lelaki itu tidak melanjutkan ucapannya. Seolah tertiup oleh angin sore dan lenyap ditelan debu. Getar suaranya masih terasa jelas di telinga Hera. "Nggak usah bersedih. Bertemu dan berpisah adalah hal yang lumrah terjadi. Tapi yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita tidak bosan untuk menjaga kenangan yang sudah terjadi, dan kita tidak menjadi asing satu sama lain nantinya." Hera menghembuskan nafas berat sesaat setelah mengucapkan kata-kata itu. Dia menengadahkan kepalanya ke atas agar airmatanya tak tumpah. Bukankah baru saja dia berucap bahwa perpisahan dalah hal yang lumrah. Dilihatnya langit sudah menggelap dan bulan sudah mulai menampakkan wujudnya di sudut langit.
"Kapan kamu pindah?" tanya Gara dengan nada datar. "Mungkin aku bakal kangen suasana ini. Ngobrol berdua sampai suara adzan terdengar dan kita pulang ke rumah masing-masing." Sejenak Gara menjeda ucapannya. Hening menyusup sesaat sebelum dia mengehembuskan nafas kencang dan melanjutkan kata-kata. "Ah, tapi, mulai besok pun kita udah ga bisa lagi ngobrol disini." Suaranya terdengar getir.
Hera hanya mengangguk pelan. Dia beranjak dari bangku ayunannya. Berdiri dan membelai pelan rantai ayunan yang sudah berkarat penuh. "Udah adzan, waktunya pulang. Yuk." Hera berucap pelan. Dia menyulurkan tangan kepada Gara. Lelaki itu menyambutnya. "Aku berangkat lusa. Dan setelah itu aku nggak tahu akan kembali kesini atau nggak."
Gara dan Hera berjalan keluar dari taman dalam diam. Gara berjalan menunduk. Sepertinya kepala berat dipenuhi kesedihan. Saat keluar dari lingkup taman, Gara menolehkan pandangannya kembali ke arah taman. Matanya menatap sebuah papan pengumuman yang ditulis dengan huruf tebal dan jelas. TAMAN INI AKAN DIBONGKAR. Di papan tersebut tertera jelas tanggal pembongkarannya yang jatuh pada hari esok. Hatinya bergemuruh. Kehilangan dua hal yang selalu ada di kesehariannya selama 6 tahun terakhir membuatnya merasakan kesedihan yang besar. Satu kehilangan adalah biasa, bila dua adalah duka.